SENJA

SENJA
129


__ADS_3

Zia hendak pergi ke kamar Marko untuk membangunkannya seperti biasanya, namun sudah ada Anita disana. Ia tetap pergi menghampiri kamar Marko.


"Terimakasih sudah membantu membangunkan tuan Marko." Ucap Zia.


"Iya." Jawab Anita Singkat.


Marko membuka pintu kamarnya. "Kok kalian berdua?"


Rambut Marko masih berantakan dan ada bekas bantal di pipinya namun tak mengurangi ketampanan wajahnya.


"Masuk-masuk." Kata Marko.


"Tuan."


Panggilan Zia mengurungkan niat Marko masuk ke dalam, "Kenapa?"


"Karena hari ini semua acara anda ada di hotel ini, Jika diijinkan apakah boleh hari ini saya pergi menemui keluarga saya di Solo? Hanya satu setengah jam dari sini. Saya pastikan sebelum makan malam saya sudah kembali." Pinta Zia.


"Masuk dulu, An." Marko meminta Anita untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Baik, Pak." Anita masuk ke dalam kamar Marko.


Zia menatap setiap langkah Anita dan Marko melihat itu.


"Kenapa? Lo mikir gue sama Anita mau morning sex?"


"Hah!" Zia terbelalak sampai menutup mulutnya.


Marko tersenyum jail dan menyentil pelan kening Zia.


"Biar Johan yang anter lo." Kata Marko.


"Tidak, tuan. Saya bisa naik bis saja." Kata Zia


Marko menatap Zia agar tidak berani membantah.


"Bagaimana jika anda membutuhkan Johan?" Tanya Zia.


"Gue gak akan keluar hotel ini, kan pengawal gue gak ada. Gue takut diculik." Marko menyilanglan kedua tangannya di dada.


Zia hanya tersenyum acuh.


"Udah sana, gue yang kabarin Johan."


Zia mengangguk, "Terimakasih pak. Saya pamit dulu." Zia meninggalkan Marko dan kembali ke kamarnya.


Setelah berberes Zia pergi ke Basement menemui Johan yang sudah menunggunya di Mobil. Baru Zia keluar dari pintu hotel, Sebuah mobil SUV sudah menghampirinya.


"Ayo, Zi." Ajak Johan ketika kaca mobil terbuka.


Zia langsung masuk ke dalam mobil dan Johan melajukan kendaraannya. Zia memberikan panduan menuju ke desanya. Johan lebih memilih lewat jalan tol untuk mempersingkat waktu.


Zia berulang kali mengingatkan Johan agar jaga mulutnya jika siapa saja menanyakan hubungan antara dia dan Zia. Karena pasti orang-orang desanya akan mengira Johan adalah calon suami Zia.


Sesuai perkiraan Zia, tak sampai dua jam perjalanan Mobil yang dikendarai Johan sudah memasuki desa jalanan desa.


"Rumah ku yang ada pohon duriannya itu, Han." Zia menunjukkan rumah dengan halaman yang luas.


"Seumur hidup aku belum tahu pohon durian Zi." Protes Johan. "Warna apa rumahnya?"


"Itu lho, kiri jalan warna putih."


Johan langsung memarkirkan mobilnya di halaman rumah Zia. Belum Zia dan Johan keluar mobil, tetangga mereka sudah keluar duluan melihat penasaran.


Seorang wanita paruh baya keluar dari rumah Zia.


"Ibuuk!" Zia turun dari mobil dan memeluk wanita itu.


"Ya Allah anak Ibuk pulaaang." Ibu Zia memeluk erat anaknya.


Zia melepaskan pelukan Ibunya, "Bapak mana buk?" Tanya Zia.


"Ya di sawah Nduk, mau dimana lagi."

__ADS_1


"No! Panggilin paklek Darmaji di sawah bilangin genduk ayu pulang." Ibu Zia berteriak ke salah satu tetangganya.


"Inggih bulek!" Sahut tetangganya.


"Ayo masuk ayo masuk." Ajak Ibu Zia.


Zia dan Ibunya masuk ke dalam rumah, melupakan Johan yang masih diluar.


"Permisi, masih ada saya disini." Kata Johan di depan pintu.


"Kamu siapa Le?" tanya Ibu Zia.


"Oiya, Han. Lupa aku sama kamu. Masuk sini Han." Zia merasa bersalah.


Johan melepas sepatunya dan masuk ke dalam rumah Zia. Tak lupa ia mencium tangan Ibu Zia.


"Ini Johan, Sopirnya bos Zia buk. Kebetulan dia disuruh nganter Zia kesini."


"Oooh, Makasih ya udah nganter anak Ibuk kesini." Kata Ibu Zia. "Ayo duduk."


Johan duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu bersama Zia dan Ibunya.


Tiba-tiba ponsel Zia berdering, ada panggilan masuk dari Marko.


"Ya, Tuan?"


"Lo dah sampai mana? gue whatshapp gak cuma centang doank."


"Baru sampai rumah tuan, disini sinyal internet susah." kata Zia


"Yaudah kalo gitu."


Sambungan telpon terputus.


"Siapa, Nduk?" Tanya Ibu Zia


"Tuan Marko buk, Bos Zia. Nanyain udah sampai mana?"


"Suka kali buk sama Zia." Ceplos Johan, mendapat lirikan tajam dari Zia.


"Masih muda apa udah tua? Udah punya istri apa belum?" Tanya Ibu Zia.


"Buuuk." Zia kesal Ibunya menganggap perkataan Johan serius.


Ibu Zia hanya tertawa melihat anaknya kesal.


"Ibuk bikinin minum dulu, ya." Ibu Zia meninggalkan Johan dan Zia.


"Udah dibilangin jaga mulut kamu itu, masih aja gak bisa jaga." Kata Zia marah.


"Bercanda doang, Zi." Johan masih bisa cengengesan.


"Sepi amat rumah lo, Zi?" Johan mengalihkan perhatian.


"Kakak-kakakku udah berkeluarga semua, tinggalnya ada yang di kota ada yang di luar kota. Disini cuma Bapak ama Ibukku aja." Zia menjelaskan.


Johan mengangguk angguk saja.


Lama Zia, Ibunya dan Johan bicara akhirnya sebuah motor berhenti di depan rumah Zia. Seorang pria paruh baya tinggi dan sedikit gemuk turun dari motor. Lumpur kering menjadi hiasan di baju dan celananya.


"Assalamu'alaikum!" Teriaknya dari luar, "Genduk Ayuku manaaaa?"


"Taaaraaa! Zia disini Bapak." Zia meloncat ke depan pintu rumahnya lalu memeluk Bapaknya.


Anak dan bapak berpelukan sambil meloncat-loncat, membuat Johan sampai terheran-heran. Jadi dibalik sikap Zia yang tegas dan jarang suka bercanda ada sifat yang seperti ini.


Diam-diam Johan merekam aksi Zia dan bapaknya, walau susah sinyal ia tetap membuatnya menjadi story whatshapp.


Zia dan Bapaknya masuk ke dalam rumah, Bapak terkejut dengan kehadiran Johan.


"Siapa kamu? Calon mantuku?" Tanya Bapak Zia


Johan berdiri, "Lho, Kalo Boleh ya hayuuuk aja Om."

__ADS_1


Zia menonjok lengan atas Johan.


"Sakit, Zi." Keluh Johan.


Bapak memperhatikan Johan, "Gak masuk kamu Le kalau mau jadi mantuku. Di pukul gitu aja nangis, mau jadi suami genduk ayuku."


"Hehe, bercanda tadi pak." Johan meringis


"Ini Johan pak, Sopirnya Bos Zia. Tadi sama pak Marko disuruh nganter Zia kesini. " Zia menjelaskan.


"Kirain calon mantuku? Kaget bapak kalo calon mantu bapak kurus gak ganteng kaya gini."


"Ya Allah pak, jujur amat ngomongnya. Terluka hati saya." keluh Marko.


"Jadi cowok kok rapuh! Sleding dikit ambyar kamu." Ucap bapak Zia dengan tertawa


"Sudah pak, anak orang kok dikerjain terus. Di bilangin bapaknya mampus kamu nanti." Ujar Ibu Zia, "Udah sini duduk, makan gorengan."


Bapak, Zia dan Johan duduk di kursi dan mengobrol santai.


Beberapa tetangga juga ada yang mampir kerumah Zia hanya sekedar penasaran dengan pria yang bersama Zia.


Mentari mulai condong ke arah barat, Zia sedang menunggu Johan yang mandi. Zia sudah bersih dan membereskan beberapa barangnya dan oleh-oleh dari Ibunya untuk ia makan di hotel.


"Nduk, ini ada durian mateng. Nanti kamu kasih ke bos kamu ya." kata Ibu, menenteng empat buah durian.


"Aduh, nanti kalau di taroh mobil satu mobil bisa bau durian buk. Gak enak sama Bos Zia."


"Den Marko suka durian kok Zi." Kata Johan yang baru selesai mandi


"Yaudah kalo gitu Zia bawa, Buk."


Setelah Johan siap. Zia dan Johan berpamitan ke Bapak dan Ibu Zia.


Johan memutuskan untuk kembali lewat tol agar bisa tiba dihotel sebelum jam makan malam.


Berulang kali Marko menelpon Zia menanyakan sudah sampai mana.


"masih setengah perjalanan dia udah nelpon kamu empat kali lho Zi." Johan sampai terheran-heran. "Jangan-jangan emang den Marko beneran suka ke kamu, Zi."


"Mulutmu, Han." Protes Zia.


Belum ada setengah jam perjalanan, Ponsel Zia berdering lagi.


"Ya, Tuan?"


"Nyampe mana Zi?"


"Barusan masuk wilayah Jogja, tuan."


"Han Han!! Awas Han!!" Teriak Zia.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2