
"Berani sekali kalian datang menemuiku? Padahal aku sudah berharap tidak pernah bertemu kalian." Langit terlihat tidak senang dengan kedatangan Casandra.
"Maafkan saya sudah lancang datang kemari." Hito-Suami Casandra menundukkan kepalanya.
"Silahkan duduk."
Ucapan Senja membuat Langit terbelalak, Senja hanya menatap lembut suaminya.
Casandra dan Hito kompak duduk sofa ruang tamu.
"Kedatangan kami berdua kemari ingin memuminta maaf pada anda berdua, terutama kepada bu Senja karena perlakuan saya membuat tangan anda terluka." Hito melihat tangan kanan Senja yang masih dibalut perban.
"Terimakasih anda sudah rela kemari untuk minta maaf, saya sangat menghargainya." Kemudian Senja menatap Casandra yang paras wajahnya masih terlihat angkuh.
"Jika niat anda meminta maaf hanya karena takut perusahaan anda terkena dampak kemarahan suami saya, tolong cabut kembali. Saya hanya ingin kalian, terutama kamu Casandra." Senja memastikan Casandra melihatnya,
"Tolong berhenti menilai seseorang dari kekayaan mereka, jangan merasa kamu yang paling kaya dan kamu bisa bertindak semaumu. Pulanglah, renungi saja kesalahan kalian. Saya pastikan suami saya tidak akan pernah ikut campur masalah ini. Anda tidak perlu menghawatirkan, Tuan."
"Udah ku bilang kan, Pa. Ngapain juga kita kesini." Casandra berdiri menenteng tas mahalnya. "Kami permisi." Casandra menarik tangan suaminya.
"Tolong maafkan kami, saya benar-benar tulus minta maaf." Ucap Hito sebelum meninggalkan ruang tamu.
Senja memberi anggukan, sedangkan Langit hanya menatap dingin kepergian Hito dan Casandra.
"Padahal aku benar-benar ingin menghancurkan mereka, malah kamu bicara seperti itu. Kenapa kamu jadi orang terlalu baik sih, sayang?" Protes Langit.
"Jangan memutuskan rejeki orang lain, mas. Gak bagus itu." Jawab Senja.
Langit meraih tangan Senja yang masih terluka, "Mereka udah nyakitin kamu seperti ini lho."
"Aku marah ke mereka bukan karena ini mas, hanya saja aku tidak suka cara mereka memperlakukan orang lain."
"Makanya aku mau kasih mereka pelajaran sayang."
Senja menggeleng, "Sudalah mas, aku sudah cukup lega. Dengan bengini mereka tidak akan macam-macam denganku." Senja tertawa kecil.
Langit hanya menghela nafas. "Kalau mereka masih macam-macam ke kamu, aku benar-benar gak akan tinggal diam."
Senja mengangguk, "Naik ke atas yuk. Kasian Clara nungguin anak-anak kelamaan nanti."
Langit merangkul istrinya dan kembali ke kamar Sky dan Sora.
**********
Di awal kehamilan ini Senja sering sekali bangun malam karena harus buang air kecil, Begitupun malam ini. Lagi-lagi ia menghela nafas panjang ketika mendapati Langit tidak ada disampingnya.
Sudah Tujuh bulan terakhir ini tidak ada satu malam pun Langit lewati tanpa menemani Clara. Kecuali ketika Ia sedang pergi ke luar kota maupun keluar negeri.
Sebenarnya ia geram, tapi mengingat Clara yang memounyai masalah dengan tidurnya membuat ia tak tega. Apalagi selama ia hamil, Clara banyak sekali membantunya.
__ADS_1
Keluar dari ruang ganti, Senja mendapati Langit baru saja masuk ke kamarnya.
"Kamu ketiduran disana lagi mas?" tanya Senja.
Langit mengangguk sambil menguap, "Iya, sayang. Maaf ya." Ia mengusap perut Senja yang sudah membuncit.
Senja tak menjawab, Ia sudah bosan dengan permintamaafan Langit. Walau sudah ia beritahu tetap saja Langit mengulanginya dan kembali dengan kata maaf.
Senja beranjak kembali ke tempat tidurnya dan mencoba kembali tidur.
Keesokan paginya,
Seperti biasa Senja memasak sarapan pagi untuk keluarganya. Semenjak memasuki trimester dua kehamilannya, ia sudah tidak merasakan morning sickness. Tubuhnya sudah bisa diajak bekerjasama, hanya saja jika lelah sedikit punggungnya terasa sakit.
Usai memasak, Senja pergi ke kamar Sky dan Sora untuk memeriksa persiapan mereka ke sekolah. Ada Kartika dan Amel -pengganti Zia- yang sudah membantu mereka memakai baju seragam. Senja memeriksa ulang buku-buku yang harus mereka bawa.
"Udah siap semua, cepat turun dan sarapan ya sayang." Kata Senja
"Baik. Ma."
Sky dan Sora pergi keluar kamar, sedangkan Kartika dan Amel membawakan tasnya kemudian menyusul Sky dan Sora.
Senja keluar kamar untuk melihat persiapan Langit, namun ia bertemu Langit didepan kamar anak-anaknya.
"Mas mau kemana?" tanya Senja yang penasaran melihat suaminya membawa dua kemeja dengan warna yang berbeda di tangannya.
Senja hanya terdiam melihat kepergian suaminya dan ia memutuskan untuk menemani anak-anaknya sarapan.
Hampir Selesai sarapan Sky dan Sora, barulah Langit dan Clara turun untuk sarapan.
"Pagi, Kak." Sapa Clara pada Senja.
"Pagi, Ra. Rapi banget, mau kemana?" Tanya Senja melihat pakaian formal yang melekat di badan Sora.
"Di ajak kak Langit ikut pertemuan dengan tuan Fedrick." Jawab Clara.
"Oooh." Senja hanya mengangguk dan fokus meletakkan nasi dan lauk pauk dipiring Langit.
"Terimakasih ya sayang." Ucap Langit.
"Sama-sama, mas." Senja kembali duduk dan melanjutkan sarapannya.
"Loh, vitamin kamu mana?" Tanya Langit yang tak melihat vitamin Senja disekitar meja makan.
"Ada dikamar, aku tadi lupa gak bawa turun. Nanti aku minum dikamar aja." Jawab Senja.
"Biar ku ambil, kalau sampai lupa gimana?" Langit berdiri dari duduknya.
Senja ingin mecegahnya, namun Langit sudah keburu pergi.
__ADS_1
"Selalu aja khawatir, padahal aku juga pasti inget." Gumam Senja
Clara terkekeh, "Sampai sekarang aku gak nyangka loh kak, Kalau kak Langit bisa Bucin banget kaya gini. Kayanya dia dulu anti banget sama cewek, kecuali kak Alea dan Itupun gak separah ini. Kayaknya kak Langit bener-bener cinta mati ke kak Senja."
"Kamu nih bisa aja. Tapi emang sih, Ra. Dia dulu cuek, angkuh dan gak banyak bicara. Semakin kesini eeeh cerewetnya minta ampun. Apalagi sudah menyangkut anak-anak. " Senja menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat sikap suaminya.
Clara hanya tertawa mendengar pernyataan kakak Iparnya. "Suka deh lihatnya. Cute banget."
Tak lama obrolan Senja dan Clara terhenti karena Langit sudah datang.
"Ini, Sayang. Jangan sampai telat minum obat. Aku gak mau dedek kecil dan mamanya kenapa-kenapa." Langit mengusap perut Senja."
"Uuuuh, Sweet banget sih. Tiap hari aku dikasih pemandangan kaya gini, jadi pengen nikah." Clara terlihat gemas dengan pasangan didepannya itu.
"Nikah aja tante. Tante kan cantik, pasti banyak yang suka." Kata Sora.
"Tapi kenapa gak ada yang mau nikah sama tante ya sayang?" Clara memanyunkan bibirnya, membuatnya tampak imut.
"Sama Sky aja, dia lumayan ganteng." Sora menunjuk Sky yang ada di depannya.
Sky melirik sinis, "Apa kau sedang menjualku, Sora?"
Pertanyaan Sky membuat yang lain tertawa.
"Ayo lanjutkan makannya, nanti telat ke sekolah." Kata Senja.
Mereka semua melanjutkan Sarapannya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1