
^^^Update 2 hari sekali ya dear.^^^
^^^Say everything ya biar author lancar ngehalu.^^^
^^^-Happy reading-^^^
"Senjaaaaaaa....!"
Senja tak berani berbalik saat suara itu meneriakkan namanya dengan nyaring. Ya Alloh, jangan-jangan itu mereka.
Senja ingin segera menghilang dari sana. Tanpa ancang-ancang, Senja nyelonong ke sebelah kanan tanpa melihat sikon saat ini.
Ssrrkkk!!!
Tiba-tiba sebuah motor lewat di sebelah kanan Senja.
Senja merasa tubuhnya terdorong hingga menabrak tembok ruang musik.
"Ga, kamu nggak apa-apa."
Suara itu mampu menyadarkan Senja yang masih syok dengan kejadian yang baru saja menimpa dirinya.
"Senja gimana? Tolong bantuin dia."
Lagi-lagi Senja mendengar suara itu. Suara yang selama ini sering mengisi hari-harinya di sekolah.
"Kak Sita..." Tiba-tiba Sita muncul di hadapannya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Sita sambil mengecek kondisi Senja.
"Nggak apa-apa Kak, cuma kaget."
"Ya udah aku bantuin Arga ya."
Sita hendak berbalik namun Senja terlebih dahulu menahannya. "Kak Arga kenapa?"
"Kamu tadi hampir keserempet motor, terus Arga ngedorong kamu biar nggak kena. Eh, malah dia jadinya yang ketabrak."
Senja langsung berjalan mendahului Sita. "Kak..." Senja mengambil tas Arga yang terlempar.
"Ada apa ini...?"
Semua menyingkir saat ada seseorang dengan setelan kemeja dan celana bahan mendekat ke sana.
Arga dan Rivan membulatkan mata tak percaya. Sedangkan Senja membawa kepalanya menunduk dalam.
"Ini Pak, ada yang ketabrak." Sita muncul dan langsung menjawab pertanyaan itu.
"Kak Arga nolongin Aya, Pak."
"Aya?" tanya Sita yang tak paham dengan ucapan Senja.
Rivan langsung menarik mundur Sita sebelum ia bicara lebih banyak. "Siapa?" bisik Sita pada Rivan.
"Kamu diem dulu. Pokoknya diem, jangan banyak ngomong."
"Cahaya cepat ke kelas." Titah pria ini dengan nada dingin.
"Tapi Mas..." Senja bahkan lupa kalau di sekolah dia seharusnya memanggil Atma dengan sebutan Pak.
"Saya yang akan membantu Arga mengobati lukanya."
Semua yang di sana tak ada yang berani bersuara karena merinding dengan aura Atma. Tito yang tadi tak sengaja menabrak Arga pun masih diam di tempat dengan duduk di atas motor yang telah turun standarnya.
"Anter Senja ke kelas." Rivan berbisik pada Sita.
Sita pun menurut tanpa protes. Dia kembali menghampiri Senja, mengambil tas Arga dan menyerahkan pada Rivan. "Yuk ke kelas."
__ADS_1
Senja pasrah saat Sita menuntunnya.
"Biar kami saja Pak," Rivan muncul dengan membawa tas Arga bersama Wahyu tak jauh darinya.
"Dimana UKSnya." Atma tak menjawab, justru ia bertanya letak UKS pada Rivan.
"Saya nggak apa-apa Pak," Arga yang diam sejak Atma datang akhirnya bersuara.
"Bisa berdiri." Kembali Atma tak menghiraukan orang yang berbicara dengannya. Dia membantu Arga untuk bangkit dan membantunya berjalan menuju UKS.
Rivan dan Wahyu pun mengikuti keduanya. Sebenarnya tak ada luka serius yang dialami Arga, hanya lengan yang berdarah dan kaki yang lecet.
"Gimana ceritanya kamu bisa tertabrak?" tanya Atma dingin.
"Saya lihat Cahaya nyelonong saat motor Tito lewat di sebelahnya."
Wahyu mengernyit. "Bukannya tadi Senja yang ia tolong?" lirih Wahyu yang berjalan di belakang Arga dan Atma.
"Sstt." Rivan menyuruhnya diam.
"Kok pas banget."
Arga menghela nafas. Bahkan luka ditubuhnya pun tak terasa perih karena kalah oleh aura intimidasi yang Atma berikan. "Ini kan memang jam berangkat sekolah Pak, jadi nggak hanya saya dan Aya yang ada di sana."
"Kenapa harus kamu?"
Kembali Arga menghela nafas. "Karena kalau bukan saya, Cahaya akan terluka, karena dari jarak anda, berlari pun tak dapat menyelamatkan dia."
Atma terdiam mendengar ucapan Arga. Dua orang yang mengikuti mereka pun tak kalah tegang.
"Jadi bahkan kamu sudah mengetahui keberadaan saya?"
Tenggorokan Arga tercekat. Karena pandangan saya akan selalu mengarah pada Senja selama ia berada dalam jangkauan mata.
"Kamu ada perhatian lebih sama adik saya?"
"Saya..." Arga menelan ludah karena bingung harus berkata apa.
Saat mereka tiba di depan pintu UKS, terdengar suara bel berbunyi dengan nyaring.
"Kalian bisa tinggalkan kami." Kata Atma pada Rivan dan Wahyu tanpa menatap keduanya.
"Tapi Pak..."
Hanya dengan ditatap, Wahyu sudah tak dapat melanjutkan ucapannya.
"Nggak ada niat untuk bolos kan?"
"Kami permisi dulu Pak." Rivan berjalan masuk UKS dan meletakkan tas Arga di sana. Setelahnya ia bersama Wahyu berjalan meninggalkan Arga bersama Atma di UKS.
Mereka berjalan dalam diam, hingga akhirnya mereka merasa sudah dalam jarak aman untuk berbicara.
"Itu tadi siapa sih Van...?" Wahyu sempat menoleh ke belakang, namun sudah tak terlihat yang dimaksud ada di sana. "Gila, tegang banget gua."
"Dia kakaknya Senja."
"Terus Cahaya dan Aya yang di maksud Arga tadi siapa?"
"Kamu tadi denger?" bukannya menjawab, Rivan justru balik bertanya.
"Nggak lihat ini ada kuping."
Rivan terkekeh.
"Ellah, ditanya bukannya jawab malah ketawa-ketawa nggak jelas."
"Bentar-bentar, gue juga deg-degan dodol!" Rivan menjelaskan kondisi dirinya setelah mendapat protes dari sahabatnya.
__ADS_1
Wahyu mendengus kesal.
"Di rumah Senja dipanggil Aya, atau Cahaya."
"Kok Arga tahu."
Rivan menggidikkan bahu. "Aku dulu juga sempet bingung kayak kamu."
"Jadi diem-diem Arga udah tahu banyak tentang Senja?" Wahyu berdecak tak percaya. "Wah, gercep juga tuh kanebo kering. Bentar lagi tinggal gua dong yang jomblo."
"Nggak semudah itu Yu."
"Maksudnya?"
"Lihat sendiri kan Kakaknya Senja tadi."
"Iya juga sih, serem gitu ya? Kok bisa tiba-tiba dia di sekolah kita sih."
"Nggak tahu, kan tadi kita bareng-bareng."
"Arga aman nggak ya kita tinggal?"
"Nggak bakal mati kok." Rivan terkekeh dengan ucapannya.
"Elu mah. Eh tadi lihat Tito nggak? Mukanya lucu banget."
"Brandalan kayak dia bisa juga keder."
Keduanya tertawa hingga tak terasa mereka sudah ada di depan kelas masing-masing. Rivan di kelas D sementara Wahyu di kelas E bersama Sita.
"Elah, tuker kelas napa?" Wahyu mendadak berhenti di depan kelas Rivan.
"Kenapa?"
"Mak Lampir pasti ngintrogasi gua habis-habisan."
"Sampe lu macem-macem sama cewek gue." Rivan mengacungkan kepalan tangan di depan wajah Wahyu.
"Ellah. Berubah banget lu semenjak nggak jomblo."
"Makanya cari cewek biar nggak jomblo," cibir Rivan."
"Aku nyarinya yang high quality, bukan yang macem Sita."
"Sialan."
Keduanya kembali tertawa dan masuk di kelas masing-masing. Beberapa saat kemudian, semua kelas sudah dimasuki guru pelajaran. Tak ada satupun kelas yang kosong. Setelah menghabiskan waktu 15 menit untuk mengobati lukanya, Arga pun kini berjalan untuk kembali ke kelasnya.
"Kelas kamu di mana?" tanya Atma.
"Di tengah Pak."
"Saya antar."
"Terimakasih Pak, saya bisa sendiri." Arga menolaknya dengan sopan.
"Nggak apa-apa sekalian saya ijinkan sama guru kamu."
"Atma!"
Arga dan Atma serempak menoleh saat ada suara yang memanggil salah satunya.
"Wah, saya harus belajar menyebut Pak di depan nama anda."
TBC.
Say something dear.
__ADS_1