
^^^Ketemu jodoh saat nonton pertandingan silat.^^^
^^^Tapi sayang saya bukan Senja dan suami saya bukan Arga.^^^
^^^By the way author sudah mamak-mamak saudara.^^^
^^^Maafkan ya kalau mamak suka ngehalu dan masih suka tema anak muda, 🤣🤣🤣^^^
^^^-Happy reading-^^^
Hai Senja menyapa
Arga lagi ngeliat siapa sih?
***
Senja masih memegangi lengannya yang baru saja menabrak daun pintu saat salah seorang teman sekelasnya tak sengaja menyenggolnya.
“Kamu, nggak apa-apa?” tanya Arga yang tiba-tiba muncul dari dalam kelasnya.
Senja terjingkat karena kemunculan Arga yang begitu tiba-tiba. “Nggak Mas. Tadi sih rada berasa tapi lihat Mas muncul…”
“Jadi ilang sakitnya.” Ucap Ifa cepat sebelum Senja menyelesaikan ucapannya.
“Ih…,” Senja geram dengan pipi bersemu merah. “Maksudnya tu langsung kaget.”
“Hati-hati.” Arga menyugar rambutnya yang tak sengaja membuat daun pintu sedikit terbuka karena tersenggol lengannya.
Senja tersenyum dan mengangguk.
“Ealah, ada Senja to… pantesan langsung lompat kayak orang kesetanan…!”
Mendengar celetuk Bambang yang tak lirih itu membuat seluruh isi kelas menengok penasaran.
“Mas permisi…” pamit Senja cepat sebelum ia benar-benar menjadi pusat pehatian.
Arga tersenyum sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju tempat duduknya dengan santai.
“Kalau udah nggak jomblo itu PJ dong, teriak seorang teman Arga yang duduk di pojokan.”
Dengan santai Arga duduk di tempatnya meski beberapa teman masih menyorakinya.
“Kamu udah resmi sama dia?” todong Bambang.
“Resmi apa?” Arga balik bertanya.
Dok dok dok
Suara ketukan di papan tulis berhasil menyita perhatian mereka. “Sudah bisa dimulai?”
__ADS_1
“Bisa Buuuu…” serempak kelas IX c.
“Baiklah, assalamu alaikum warahmutullahi wabarakatuh…”
Dan salam itu menjadi awal dimulainya pelajaran tambahan di kelas IX c ini.
Tanpa ada yang tahu, dalam kelas itu ada yang tengah merasa pilu. Dia adalah Dewi. Gadis yang sejak tahun pertama sudah tertarik pada Arga. Saat kebanyakan teman-temannya mengidolakan Rivan dan Wahyu, Dewi justru merasa Arga lebih menarik dari pada mereka.
Bahkan hingga tahun kedua saat Rivan dan Wahyu makin popular karena menjabat sebagai ketua OSIS dan DEGA, Dewi masih setia menatap Arga. Arga yang kalem dan dingin baginya sungguh menarik. Hingga menginjak tahun ketiga mereka sekelas, belum sekalipun ia berhasil mengajak Arga sekedar bercanda secara pribadi.
Namun kini ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Arga begitu berubah saat kemunculan gadis kecil bernama Senja. Arga yang biasanya tenang dan kalem kapan saja dan dimana saja kini tak lagi begitu. Arga kini kadang nampak bersemangat, kadang terlihat emosi, di kesempatan lain ia sesekali terlihat cemas.
“Emangnya apa sih kelebihan dia?” lirih Dewi tiba-tiba.
“Kamu ngomong sama siapa Dew?” tanya Reni yang merupakan teman sebangkunya.
Dewi menggeleng.
“Aku tadi jelas banget denger kamu ngomong loh.”
Dewi menghela nafas. “Arga sekarang nggak kayak dulu…”
Reni terkekeh. “Kirain apa Dew…”
“Iya,” Dewi meringis, berharap tak ada yang tahu kalau dia tengah kecewa.
“Namanya juga orang jatuh cinta, jadi wajar kan ya kayak gitu.” Reni menjentikkan jarinya agar Dewi mendekat. “Kanebo kering kayak Arga aja bisa jatuh cinta, masak kamu nggak bisa?” bisik Reni dengan diakhiri tawa kecil setelahnya.
Dewi mendesah, kemudian menatap depan seolah memperhatikan gurunya yang tengah menjelaskan. Udah lama jatuh cintanya, cuma nggak terungkap aja. Bahkan sekarang aku harus patah hati sebelum cintaku tersampaikan.
***
Tepat di gerbang, ekor mata Senja menangkap keberadaan Arga yang tengah duduk di atas motornya. Di saat yang sama, ternyata Arga juga tengah menatapnya. Entah sejak kapan, saling memandang dan melempar senyuman saat pulang sekolah menjadi kebiasaan keduanya. Tak ada sapaan ataupun tawaran untuk mengantar pulang, namun hanya dengan memandang jantung mereka sudah dibuat berdecak begitu kencang.
Setelah melewati Arga, Senja terus berjalan bersama kawan-kawannya. Hingga tiba di pertigaan, Arga lewat dan mendahului Senja. Hanya dengan menatap punggungnya saja, Senja sudah berbunga-bunga.
Tiba-tiba di sebelah kanan jalan Arga berhenti. Tiba-tiba perasaan Senja acak-acakan tak karuan. Terlebih ketika Arga kemudian menoleh dan menatapnya.
“Aku duluan…” ucap Arga tanpa suara, kemudian ia kembali menjalankan motornya.
“Arga tadi ngapain sih?” tanya Maya yang sedang berjalan beriringan dengan Senja. Ia memang tak melihat interaksi teman seangkatannya ini dengan adik kelasnya.
Semua menggeleng, termasuk Senja. Ya Tuhan, rasanya aku pengen pingsan. Batin Senja yang sudah diaduk-aduk perasaannya oleh semua tingkah polah Arga.
Semua menlanjutkan perjalanan, tanpa ada yang tahu jika ada sepasang remaja yang tengah berbunga-bunga.
***
Malam hari di rumah Senja. Semua sedang bersantai sambil menonton TV.
“Kamu mulai latihan kapan Ay…?” tanya Atma yang baru saja mengupaskan mangga untuk istrinya.
“Belum tahu Mas…”
__ADS_1
“Emang kamu belum dihubungi buat ngabarin apa gitu?” tanya Atma lagi.
“Belum Mas, aku cuma tahu kalau nggak lama lagi mau ada porkab.”
“Kamu mau ikut?” tanya ayah.
“Kalau Aya mampu why not Yah…”
“Kamu nggak takut?” tanya ayah lagi.
“Enggak lah Yah, kata Mas Atma kita belajar silat itu bukan hanya diajari mukul, tapi juga diajari gimana caranya biar nggak kena pukul, ya kan Mas…?” tanya Senja sambil menatap Atma.
Atma tersenyum lebar saat mendapat tatapan maut dari ibunya. “Udah ngomong apa aja kamu sama Aya?” tanya ibu dengan galak pada Atma.
“Ya kan kita tu nggak boleh setengah-setengah Bu dalam hal apapun, jadi apa yang selama ini Atma tahu ya Atma sampaikan sama Aya, biar Aya siap dan bisa ngasih yang terbaik. Lagian pertandingan dalam silat itu nggak hanya laga lo Bu, ada juga seninya. Jadi Senja bisa pilih seni kalau dirasa laga terlalu berat.” Terang Atma panjang lebar karena ia paham betul dengan kekhawatiran ibunya.
“Ibu jangan cemas gitu lah, nanti anak kita ngga tenang pas latihan…” kata ayah menasehati.
“Namanya juga khawatir Yah…”
“Iya, iya, kita ngerti kok….”
“Ibu tenang ya…” imbuh Senja.
“Pesan Ayah, selain kamu harus hati-hati dan sungguh-sungguh dalam latihan, kamu juga nggak boleh lupa kalau kamu kewajiban utamanya adalah belajar, mengerti?”
“Mengerti Yah…”
“Dan satu lagi, kamu juga harus tetap mengaji di sore hari.”
Senja tiba-tiba ingat sesuatu. “Yah, kalau dalam seminggu latihannya ada yang malam hari boleh nggak?” tanya Senja.
“Loh Ayah kira latihannya memang malam?”
Atma juga mengangguk. “Emang jadwal latihannya gimana?”
“Latihannya kan tiga kali. Biasanya sih malam, tapi karena ada siswa putri jadi kemungkinan di geser siang sepulang sekolah, atau sore gitu. Tapi kalau sore kan Aya ngaji, dan yang satu lagi rencananya Minggu pagi.”
“Setahu Ayah, Masmu dulu latihannya emang selalu malam.”
“Tapi emang nggak ada ceweknya Yah…” sambung Atma.
“Intinya Ayah nggak masalah mau siang atau malam, yang jelas kalau sore Aya kudu tetep ngaji.”
“Iya Yah, nanti kalau pas ngumpul Aya bilang gitu.”
“Selain kamu apa ada ceweknya?”
“Kalau nggak salah ada 6 Yah…”
“Intinya kamu hati-hati dan jangan salah membagi porsi antara belajar, latihan, dan mengaji.”
“Siap Yah…”
__ADS_1
Mereka kemudian mulai mengobrol dan membicarakan banyak hal sambil menonton televisi.
TBC