SENJA

SENJA
130


__ADS_3

"Hallo, Zi!" Marko teriak-teriak di ponselnya, padahal sambungan telponnya sudah terputus.


"Ada apa, pak?" Tanya Anita


"Gue khawatir Zia sama Johan kecelakaan, An." Jawab Marko, Ia mengurungkan niatnya kembali ke kamarnya.


Tangan Marko masih sibuk dengan ponselnya, ia mencoba menghubungi Zia namun sambungan dialihkan. Sedangkan ponsel Johan terhubung namun tidak diangkat.


Marko pergi ke kamar temannya untuk meminjam mobil. Setelah ia mendapatkan kunci mobil, Ia pergi ke basement mencari mobil temannya.


"Pak, biarkan saya ikut." Kata Anita ketika Marko sudah menemukan mobil temannya.


"Gak, An. Lo tunggu disini aja barangkali ada yang menghubungi pihak hotel karena mobil yang mereka pakai mobil hotel." Marko masuk ke dalam mobil dan langsung meninggalkan basement.


Hari sudah gelap, ditengah perjalanan rintik hujan mulai turun. Marko tak mengurangi kecepatan mobil yang ia kendarai.


Ia menuju ke arah luar kota Jogjakarta dimana terakhir Zia mengabarinya. Tak sampai tiga puluh menit perjalanan, Jalanan mulai macet sedangkan arah sebaliknya sangat lenggang. Perasaan Marko sudah mulai tak karuan.


Pelan-pelan kendaraan mulai merambat. dari jauh Marko melihat beberap kendaraan roda dua dan roda empat bergelimpangan ditengah jalan dengan sebagian kendaraan sudah ditepikan.


Perasaan Marko semakin kalut melihat beberapa mobil yang terlihat rusak berat, bagaimana dengan korbannya.


Marko menancap gas ketika jalurnya mulai lenggang, ia mencari tempat untuk putar balik dan ia harus bersabar lagi ditengah kemacetan. Ingin sekali rasanya menghentikan mobilnya dan lari begitu saja ke tempat kecelakaan, namun ia tak bisa bersikap egois begitu saja.


Setelah bersabar, akhirnya Marko menepikan mobilnya. Memarkirkan mobilnya begitu saja dan menghampiri tempat kecelakaan. Ramai polisi dan warga-warga yang membantu evakuasi korban.


Ada empat mobil disana, Marko mencoba mencari tahu mobil yang memiliki stiker hotel tempatnya menginap, karena ia tak tahu jenis mobil apa yang dikendarai Johan dan Zia.


Hujan semakin deras, membuat Marko menepi dan menanyakan keadaan korban pada polisi disana.


"Pak, Korban kecelakaan dimana ya?" Tanya Marko.


"Korban meninggal dan luka berat sudah dibawa ke rumah sakit, sedangkan yang luka ringan ada di dalam sana." Polisi menunjuk sebuah rumah warga.


Marko buru-buru melihat ke dalam rumah warga, berharap Zia dan Johan termasuk dalam korban luka ringan.


Satu per satu orang dia cermati, namun tak ada satupun yang ia kenal.


"Den Marko."


Marko mengenal suara itu dan langsung menoleh ke belakang. Johan berdiri basah kuyub dengan baju yang terkena noda darah.


"Lo gak apa Han?" Marko khawatir.


"Gak apa-apa Den, jangan khawatirkan saya."


"Zia mana? Dia gak kenapa-kenapa kan?"


"Itu tadi ngambil hape di mobil mau ngabarin Den Marko katanya."


Tak buang waktu, Marko keluar rumah menuju ke tempat beberapa mobil yang terpakir di pinggir jalan untuk mencari keberadaan Zia.


Satu per satu mobil ia perhatikan untuk mencari keberadaan Zia. Hingga sampai ke mobil yang ia kendarai tadi juga ia masih belum menemukan Zia. Akhirnya ia memutuskan untuk lewat di bagian kiri mobil.


Ia bisa melihat seseorang sedang membungkuk, setengah badannya masuk di dalam mobil. Marko berlari menghampiri orang tersebut.


"Zia!"

__ADS_1


Mendengar namanya dipanggil, Ia menoleh ke belakang.


"Tuan Marko!?"


Ia melihat Marko basah kuyub, Zia mengambil jaketnya dari dalam mobil dan dengan berjinjit ia menutupi kepala dan bahu Marko dengan jaketnya.


"Kenapa anda bisa disini?" Tanya Zia.


"Entahlah, gue cuma lagi khawatir karena seseorang memutuskan sambungan telponnya dengan teriakan aneh."


Marko menatap Zia dan cukup membuat Zia merasa tak nyaman. Ia menarik tangannya dari jaket yang ia gantungkan di kepala Marko dan perlahan menjauhkan dirinya dari Marko.


Namun tangan Marko dengan cepat menyelip di pinggang Zia dan menariknya hingga tubuh Zia menyentunya.


"Tuan?" Zia menekan kedua dada Marko membuat jeda diantara mereka. "Tolong jangan seperti ini, saya tidak nyaman bicara terlalu dekat dengan anda."


Marko masih menatap Zia tajam. "Kenapa lo bisa bikin gue sekhawatir ini ke lo?" tanya Marko.


Zia terkejut dengan pertanyaan Marko. Ia berusaha menarik diri dan mendorong Marko agar melepaskannya.


"Zi?"


"Ya tuan?"


"Apa gue suka sama lo ya?"


Seketika Zia terdiam mendengar pertanyaan Marko, dia tak lagi memberontak. Tubuhnya terasa kaku dan sulit untuk digerakkan.


Marko mengusap rambut Zia yang basah terkena hujan. Perlahan jari telunjuk kirinya pindah ke kening dan menyusuri hidung Zia. Ibu jari marko mengusap lembut bibir zia yang basah karena air hujan.


Zia memejamkan matanya, mengatupkan bibirnya erat dan mencengkram bagian dada kemeja Marko. Ia tak bisa menggerakkan bagian tubuhnya yang lain walau sebenarnya ia ingin sekali berlari meninggalkan Marko.


Zia perlahan mengatur nafasnya agar irama jantungnya tak memburu. Lalu pelan-pelan Ia membuka matanya. Marko melepaskan tangannya dari pinggangnya.


"Lo lagi deg-degan?" Marko menyentuh bagian atas dada Zia.


PLAK!


Reflek Zia menampar Marko, seketika Zia terkejut dia telah melakukan hal itu pada Marko.


"Maafkan saya tuan. Tapi kenapa anda melakukannya!" Zia menyesal sekaligus marah


Marko masih syock dengan tamparan Zia, Ia masih memegangi pipi kirinya yang panas karena tamparan Zia. "Gue cuma mau mastiin keadaan jantung lo doang, Zi. Gak ada pikiran kemana-mana." Ucap Marko masih dengan ekspresi kagetnya.


Zia hanya memasang wajah antara marah dan merasa bersalah.


"Ayo balik, Lo ikut mobil gue. Biar Johan bawa mobil ini." Marko menarik tangan Zia.


"Tunggu Tuan, Saya ambil tas dulu." Ucap Zia, Ia membuka pintu belakang dan mengambil tasnya. "Silahkan tunggu di mobil tuan, saya akan mengembalikan kunci mobilnya ke Johan."


"Sedan putih belakang sendiri." Marko memberitahu mobil yang sedang ia kendarai.


"Iya, tuan."


Zia dan Marko pergi berlainan arah. Zia pergi mengembalikan Kunci mobil ke Johan.


"Kita balik sekarang, Han. Tuan Marko udah ngajakin pulang." Ajak Zia.

__ADS_1


"Oke. Kita pamit ke orang-orang dulu, Zi." kata Johan.


Zia dan Johan pergi berpamitan dengan beberapa korban kecelakaan, Warga Serta polisi yang masih ditempat.


"Han, aku ikut mobilnya tuan Marko ya?" Ucap Zia ketika sudah sampai didepan mobil yang ia tumpangi dengan Johan tadi.


"Aku sendirian, Zi?" Johan memperjelas.


"Ya kalau mau ku temenin bilang aja sama tuan Marko." Zia memberi penawaran. "Udah Ya, hati-hati Han. Udah gelap, hujan pula." Kata Zia kemudian pergi ke mobil Marko.


Ia membuka pintu depan mobil namun ragu untuk masuk.


"Kenapa?" Tanya Marko.


"Baju saya basah pak, Apa gak apa-apa?" Tanya Zia


"Gue juga basah, udah masuk aja." Kata Marko.


Zia masuk ke dalam mobil dan menutup. Setelah seatbelt Zia terpasang, Marko mulai melajukan mobilnya.


Masih terjadi tumpukan kendaraan disekitar tempat kecelakaan, namun usai TKP jalanan sudah lenggang.


"Lo kenapa teriak-teriak tadi pas gue telpon?" tanya Marko penasaran.


"Di depan saya ada kecelakaan, jadi reflek saya teriak mengingatkan Johan tuan." jawab Zia.


"Tapi kalian gak sampai nabrak?"


"Tidak tuan, Johan bisa menghindar dengan baik." Jawab Zia.


"Trus kenapa itu baju kamu banyak darah? itu sama lengan mu juga." Marko menunjuk darah mengering di lengan Zia.


"Tadi kami berhenti buat nolongin korban-korban, tuan."


Marko menghela nafas panjang lalu diam menatap ke depan, Zia sibuk menggosok lengannya yang terkena noda darah.


"Lain kali jangan pergi jauh-jauh dari jangkauan mata gue." kata Marko tiba-tiba.


"Baik, tuan." Zia menjawab begitu saja walau sebenarnya ingin bertanya alasannya.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2