
***Makasih banget yaa untuk readers yang mau nurutin kemauan author.. terimakasih banget untuk kalian yang selalu kasih Like, coment, vote dan bintang 5 untuk novel ini. Kalian sangat berarti buat akuuuuuuuh.
Sepanjang Novel ini ku buat memang gak terlalu banyak yang baca novel ini, tapi aku senang sekali bisa dapat pembaca yang baik seperti kalian. komentar kalian selalu memberikan suport buat aku dan gak pernah ngehujat aku seperti readers novel novel sebelah yang sadis sadis. I Love you All.
walau tantangan author belum terpenuhi, author gak sabar sendiri pengen cepet up.
Selamat menikmati*
Langit melangkah cepat setelah turun dari mobil, tujuannya hanya mencari Senja. Ia berharap istrinya masih belum pergi mengantar anak-anaknya ke sekolah.
"Nona baru saja berangkat, Tuan." Ucap Ella.
Wajah Langit terlihat menyesal mengetahui Senja telah berangkat.
"Ky, Mundurin jadwal gue. Gue mau nunggu Senja pulang." Kata Langit pada Hengky
"Maaf, Pak. Pagi ini pertemuan anda dengan tuan Sanjaya, anda tidak bisa menundanya."
Langit terduduk lemas di sofa ruang tamu, ia memegangi kepalanya menyesali apa yang sudah ia lakukan semalam.
"Apa Senja kemarin pulang dengan menangis, bu Ella?" Tanya Langit.
"Tidak, Tuan." Jawab Ella
Langit menarik nafas panjang dan memejamkan matanya sejenak sebelum ia menghembuskan nafasnya. "Dia pasti sedang sangat terluka, Ky." Ucapnya pada Hengky.
Hengky hanya diam, dia ingin sekali membela Senja dan mengatai pria bodoh didepannya itu. Namun ia sedang menahannya, ia ingin berbicara dengan bukti-bukti yang akan ia temukan.
"Sebaiknya anda segera bergegas, pertemuan dengan Tuan Sanjaya akan berlangsung satu jam lagi."
Dengan malas Langit berdiri dan beranjak pergi ke kamarnya.
Pagi ini pikiran Langit kacau sekacau-kacaunya. Niatnya yang hanya ingin menemani Clara malah membuatnya tertidur nyenyak. Dia sama sekali tak ingat bagaimana bisa ia berada di tempat tidur, yang ia ingat hanya duduk di sofa menunggu Clara. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Senja saat ini.
Berulangkali Hengky harus menyadarkan Langit ketika meeting, karena otaknya saat ini hanya memikirkan istrinya. Kalimat Marko yang mengulang kata-kata yang di ucapkan Senja terus menerus bergeming di pikirannya.
Tepat sebelum jam makan siang meeting sudah selesai, Langit meminta Hengky untuk membatalkan jadwalnya sore ini karena ia ingin segera pulang menemui Senja.
"Senja!"
Langit terkejut ketika baru masuk ke ruanganya melihat Senja sedang meletakkan Coolerbag diatas meja kerjanya.
Mengetahui hal itu Hengky langsung mundur meninggalkan Langit dan Senja.
"Aku anter makan siang kamu, mas." Kata Senja.
Langit berlari kecil menghampiri Senja.
"Sayang, Aku..."
Baru saja Langit ingin memegang tangan Senja, Senja sudah menari tanganngnya lebih dulu.
Langit terdiam melihat perlakuan Senja padanya. Ia memberanikan diri menatap Senja.
"Aku pergi dulu, Mas. Kasian anak-anak nunggu di mobil." kata Senja.
"Aku juga akan pulang, kita pulang sama-sama ya." Langit bergegas mengambil tas dan ponselnya.
"Kamu bisa pulang dengan mas Hengky saja, karena kami mau pergi ke playground."
"Kalau gitu kita ke playground aja." Kata Langit semangat.
"Aku bilang Kami, Mas. Bukan Kita."
Senja mempertegas ucapannya, ia menatap dingin mata Langit. Terlihat jelas jika Senja sedang menahan kebencian pada Langit.
__ADS_1
Senja meninggalkan ruangan Langit begitu saja, Membiarkan Langit yang mematung dan kebingungan harus berbuat apa.
Sepeninggalnya Senja, Hengky kembali menghampiri Langit. Bisa dilihat dengan jelas jika Langit sedang kecewa.
"Saya sudah membatalkan semua jadwal anda, pak." kata Hengky.
"Gue udah nyakitin dia terlalu dalam, Ky. Apa yang harus gue lakuin?"
Hengky hanya diam menatap sahabatnya yang sedang menatap kosong ke pintu ruangan.
**********
Senja baru saja tiba dirumah setelah jam makan malam. Sengaja ia mengulur waktu untuk tidak bertemu dengan Langit. Hatinya masih terlalu sakit untuk menatap suaminya tersebut.
"Papa!!!!"
Teriakan gembira saat Sky dan Sora melihat Langit sedang menuruni anak tangga.
"Waaah, anak papa main-main sampai jam segini? Papanya di lupain nih." Pelukan Langit menyambut kedua buah hatinya.
"Mainnya seru gak tadi?" Tanya Langit.
"Seruuuu dooonk."
"Sky berebut mainan sama anak cewek. memalukan!"
"Dia merebut mainanku."
"Harusnya cowok ngalah sama cewek tauuu!"
Langit tersenyum mendengar perdebatan buah hatinya.
"Ayo buruan ke kamar, mandi air hangat trus ganti baju." Ajak Senja.
"Tapi masih mau sama, Papa." Rengek Sora
"Janji ya!" Sora mengacungkan jari kelingkingnya.
"Janji, sayang." Langit mengunci jari kelingking Sora dengan jari Kelingkingnya.
"Lariiii..." Teriak Sky dan Sora berlari meninggalkan Papa dan Mamanya.
"Nja."
Lagi-lagi Senja menghindari tangan Langit yang akan menyentuhnya, Ia menaiki anak tangga dan meninggalkan Langit.
Senja pergi ke kamar Sky dan Sora, Langit juga mengikutinya karena sudah berjanji pada Sky dan Sora untuk menemani mereka tidur.
Langit membantu Sky dan Sora untuk mandi sedangkan Senja menyiapkan baju tidur untuk anak-anaknya.
"Aku dulu." Sky yang baru keluar kamar mandi mendahului Sora untuk menghampiri mamanya.
"Aaaah, Sky! Aku yang keluar lebih dulu." Sora menari tubuh Sky agar menjauh dari mamanya.
"Hei hei, ayo sini. Sora papa yang gantiin." Langit melerai Sky dan Sora.
Dengan kesal Sora menurut dan pindah ke papanya, Langit mengambil baju Sora dan segera memakaikannya.
Setelah semua memakai baju, Sky dan Sora bergantian menceritakan apa saja yang mereka lewati hari ini pada Langit.
Melihat kedua anaknya sudah sibuk dengan papanya, Senja memilih pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Dari kamar mandi Senja bisa mendengar samar suara deringan ponsel Langit yang tak kunjung berhenti. Dia sudah bisa menebak siapa orang yang sedang mengharapkan kehadiran suaminya.
ceklek!
__ADS_1
Senja keluar dari ruang ganti tepat dengan Langit yang baru saja masuk kamar.
Pandangan Senja tertuju pada ponsel Langit yang masih saja berdering.
"Bukannya sudah waktunya kamu pergi, mas?" Tanya Senja. "Tinggalkan saja anak-anak, aku akan bilang kamu ada kerjaan."
"Anak-anak udah tidur, Nja."
Langit tak menghiraukan ponselnya yang terus berdering, ia pergi menghampiri Senja namun Senja terus menghindarinya.
"Tolong jangan berkata apapun, aku sedang tidak ingin mendengar apapun darimu, Mas. Lebih baik angkat saja telpon itu atau segera pergi saja temui adikmu." Kata Senja.
"Sampai kapan kamu akan terus menghindariku, Nja?"
Senja diam tak berkata apapun.
"Aku tahu sudah sangat menyakitimu. Maafkan aku, Nja."
Senja tersenyum sinis meremehkan permintamaafan Langit, "Maaf? Bukankah seharusnya dibalik kata maaf itu ada sebuah penyesalan agar menjadi lebih baik lagi dan sebuah janji untuk tak mengulanginya lagi?"
"Nja.."
Lagi lagi Senja menepis tangan Langit yang ingin memegangnya.
"Pergilah, Mas. Aku tidak akan menahanmu, Aku tidak akan menunggumu lagi."
"Apa kamu sedang mencoba meninggalkaku, Nja?"
Senja menggeleng, "Enggak, Mas. Aku selalu ada disini." Senja menyentuh tepat ditengah dada Langit, "Hanya saja aku sedang tersisihkan."
Nadanya bergetar di akhir kalimat. Senja tak kuat lagi menahan air matanya, namun mulutnya masih terkatup rapat menahan luapan kesedihannya.
Langit tak kuasa lagi melihat wanita yang dicintainya berkata seperti itu padanya. Ia menarik tubuh Senja dan memeluknya erat.
Kini dipelukan suaminya, Senja menumpahkan kesedihannya. Ia menangis sekeras-kerasnnya tak memperdulikan siapapun yang akan mendengarnya.
"Maafkan aku, Nja. Maafkan aku." Langit tak kuasa melihat kesedihan Senja. "Tolong maafkan pria bodoh ini, Nja."
BUG!!
Senja sangat terkejut melihat tubuh Langit terjatuh ke lantai tak sadarkan diri.
"Mas!! Mas Langit!!!" Senja menepuk-nepuk pipi Langit namun tak ada respon.
"Bu Ellaaaa!!!"
-Bersambung-
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.