SENJA

SENJA
Salah Sangka


__ADS_3

^^^Jangan lupa jempolnya ya.^^^


^^^Happy reading.^^^


Mendapat dispensasi tak sepenuhnya menenangkan hati. Setidaknya itulah yang dirasakan Senja. Apalagi Senja sempat mendengar dari kawannya, kalau awalnya tak semua panitia persami menerima keputusan Rivan dengan alasan Senja terlihat sehat dan ini tak adil bagi peserta yang lain. Baru setelah Arga datang dan mengabarkan kondisi Senja yang baru saja pingsan, seluruh panitia akhirnya menyatakan sepakat atas keputusan Rivan untuk membebaskan Senja dari kegiatan outdoor, dengan catatan Senja harus menggantikan tugas 1 dari sepuluh pembaca Dasa Dharma pada acara api unggun nanti malam, yang mana petugas aslinya mengalami kecelakaan saat berangkat ke sekolah pagi ini.


Sore menjelang, kegiatan jelajah pun telah usai. Kini semua peserta tengah antri untuk membersihkan diri di kamar mandi warga sekitar sesuai yang ditetapkan panitia.


"Senja mau mandi juga?" tanya Dwi teman seregu Senja.


Senja hanya mengangguk dengan senyum di bibirnya.


"Padahal nggak ikut jelajah kan ya, ngapain pake repot-repot antri mandi," timpal Mia, teman seregu Senja yang lain.


Senyum di wajah manis itu memudar, berganti dengan raut sedih. Coba kalau Kak Arga ngebiarin aku ikut jelajah, pasti nggak gini ceritanya. Batin Senja.


Senja membiarkan kedua temannya itu berjalan mendahuluinya. Jika dia mandi paling akhir, mungkin itu akan membuat perasaannya lebih tenang.


Malam pun tiba. Senja memaksakan dirinya untuk bergabung bersama teman-temannya di lapangan. Meskipun Arga sudah mengatur agar ia hanya perlu keluar saat api unggun, namun dia merasa tak nyaman jika dianggap mendapatkan perlakuan istimewa oleh kawan-kawannya.


"Eh kamu kok kesini?" tanya Ayu yang melihat Senja mengendap-endap mendahuluinya.


Senja hanya mengacungkan telunjuknya di depan mulut dan merangsek ke depan mengisi posisinya telat di belakang Rini selaku pinru.


"Loh, kamu kok ke sini?" tanya Rini.


"Iya," jawab Senja dengan senyumnya.


"Enak ya deket sama Kak Rivan, yang lain capek, kotor, kepanasan, kamu bisa istirahat neduh di sekolah," kata Rini dengan nada sinisnya.


"Iya. Aku dulu kok nggak kepikiran buat kenalan sama Kakak OSIS ya, biar bisa kayak gitu juga," timpal Dwi dengan menatap remeh Senja.


"Ehm, sepertinya ada yang baru saja manggil saya."


Semua menoleh mendengar suara yang cukup akrab ditelinga mereka sejak mereka resmi menjadi siswa SMP negeri 1. Tak hanya Senja, Rini, Dwi semua yang ada di sana segera menunduk. Berbeda dengan sosok tinggi menjulang yang berdiri di tepian lapangan. Dia memicingkan matanya, mempertajam penglihatannya, berusaha memperoleh informasi seakurat mungkin tentang apa yang terjadi di sana, di tempat Senja berada.


Sejak kebersamaan mereka di UKS tadi siang, Arga berusaha menjaga jarak dengan Senja. Meskipun demikian, ia tak benar-benar mengabaikan Senja. Rivan bisa berada di dekat Senja saat ini pun atas permintaan Arga, karena ia tahu Senja di-bully oleh teman-temannya. Sebenarnya bisa saja Arga datang, namun ia tak ingin semua beranggapan kalau ia menjadi tim kesehatan dalam acara ini hanya untuk Senja. Meskipun nyatanya iya.


"Jadi Adik-adik, ada yang bisa saya bantu," tanya Rivan memandang mereka satu persatu.


Semua diam, hingga akhirnya Senja menepuk bahu Rini yang berdiri di depannya.

__ADS_1


"Apa sih," sinis Rini.


"Kamu jawab, kamu kan pintu," bisik Senja.


Rini baru sadar kalau Senja tak bermaksud buruk menepuk bahunya. Bahkan Senja berusaha mengingatkan perannya. Dengan tak enak hati akhirnya Rini berbisik pada Senja, "Kak Rivan tadi ngomong apa?"


"Dia tanya, apa kita butuh bantuan," jawab Senja dengan berbisik.


Rini mengangguk dan menegakkan tubuhnya menghadap depan. "Tidak Kak," ucapnya tegas.


"Kalau begitu, cepat baris yang rapi, dan ikuti instruksi dari Kakak panitia," ucap Rivan.


"Siap Kak," jawab Rini lagi.


"Perhatian untuk seluruh peserta persami, regu dengan urutan ganjil hadap kiri, dan regu dengan urutan genap hadap kanan, sekali lagi regu dengan urutan ganjil hadap kiri, dan regu dengan urutan genap hadap kanan. Jangan ada yang berusaha merubah posisi, sampai ada instruksi lagi. Mengerti?!" ucap salah seorang panitia yang diketahui bernama Wahyu.


Wahyu cukup populer, meskipun tak mampu menyamai kepopuleran Rivan. Dia merupakan ketua Dewan Galang yang aktif saat ini.


"Mengerti Kak!" serempak seluruh peserta persami.


"Silahkan kalian duduk di tempat masing-masing."


Seluruh peserta pun melaksanakan instruksi yang baru saja mereka dengar. Tak lama setelahnya, datanglah panitia dengan membawa nasi bungkus yang dibagikan kepada segenap peserta. Dan makan malam pun dimulai. Beberapa panitia nampak menyebar untuk memastikan semua peserta mendapat bagian.


"Astaga!" pekik Senja kala ada air yang tiba-tiba mengenai makanan yang baru saja dia buka.


"Maaf, maaf. Kena Dik ya?" tanya seseorang yang tiba-tiba jongkok di samping Senja.


Jika kalian bertanya dimana Rini berada, jawabannya adalah Rini mendatangi panggilan pemimpin regu untuk persiapan acara selanjutnya. Sehingga Senja yang berada tepat di belakang Rini, kini duduk di paling tepi.


Suaranya kok kayak dia? Batin Senja. Senja pun perlahan menoleh. Senja menggigit bibir bawahnya untuk meredakan gugup yang tiba-tiba datang mendera. Meskipun sudah digigit, bibir itu masih dengan kurang ajarnya tertarik di kedua ujungnya.


Melihat Senja tak juga membuka suara, akhirnya Arga segera mengambil makanan di hadapan Senja. "Bentar ya, aku ambil gantinya," kata Arga hendak bangkit.


"Nggak usah Kak, ini masih bisa dimakan kok," cegah Senja dengan memegangi tangan Arga.


"Aku ganti ya. Kamu tunggu di sini," kata Arga yang kemudian melepaskan tangan Senja.


"Tu Kakak minumnya susu apa ya, kok tinggi bener?" ucap salah seorang peserta yang duduk berhadapan dengan Senja.


"Yang jelas bukan susu kucing," timpal seorang lagi di sampingnya.

__ADS_1


"Hwahahahahaha!"


Dan pecah lah tawa dua regu yang saling berhadapan itu.


Hingga akhirnya yang manjadi objek pun datang. Dia pun berjongkok, "maaf ya, makanan yang kayak tadi udah habis dibagikan." Arga kemudian menyodorkan kotak bekal pada Senja, "nih, Ibu tadi nyuruh aku bawa ini, katanya orang yang kena tipes harus makan yang kayak gini."


"Tapi ini kan punya Kakak," tolak Senja karena merasa tak enak hati.


"Udah, buruan makan. Nanti acara keburu dimulai," ucap Arga yang langsung berdiri tanpa menghiraukan Senja yang masih akan melayangkan protes lanjutan.


Merasa diacuhkan, Senja menatap kotak bekal di tangannya dengan bibir melengkung.


"Awalnya aku pikir Senja deket sama Kak Rivan, ternyata sama kakak tiang bendera. Syukurlah," ucap Dwi tiba-tiba sambil mengusap dadanya lega.


Senja membulatkan matanya mendengar ucapan Dwi. Dia segera mengedarkan pandangannya. Ternyata seluruh anggota regu yang sedang berhadapan ini tengah memperhatikannya. Dan jangan lupakan ekspresi Ayu yang tertawa geli di ujung barisan yang sama dengan Senja.


Senja merasakan hawa panas menjalar tiba-tiba di wajah hingga telinganya. Untung mereka kini berada pada tempat dengan pencahayaan yang kurang baik, sehingga wajah merah padam Senja mampu tersamarkan. Namun cuitan menggoda dari rekan-rekannya membuat ia salah tingkah dan tak tahu harus berkata apa. Mendapat serangan yang tak ada hentinya, tiba-tiba sosok menjulang itu kembali muncul tanpa diundang.


"Makan yang bener," ucapnya tanpa memandang Senja.


Melihat sosok yang semula ramah dalam waktu kurang dari 5 menit berubah tegas, suasana mendadak senyap dan mereka melanjutkan acara makan malam dalam diam.


Ada rasa kecewa di hati Senja melihat Arga melaluinya begitu saja tanpa sedikitpun menatapnya. Dia terus memandangi punggung yang tinggi menjulang itu berjalan semakin jauh darinya.


Senja baru sadar kalau Arga sejak tadi siang mengenakan rompi dengan simbol palang merah dan bertuliskan PMR di sampingnya. Hingga sosok itu berhenti, Senja belum juga mengalihkan pandangannya. Dan saat Arga tiba-tiba berbalik, pandangan Senja pun terkunci padanya. "Cepat dimakan. Ibu bikin khusus buat kamu," ucap Arga melalui gerakan bibirnya.


Meskipun tanpa suara, tapi Senja tahu betul apa maksudnya. Pertama dibuat terbang, setelah itu dibuat jatuh ke jurang paling dasar, dan kini Senja merasa terpental jauh hingga ke awan. Buru-buru ia menyumpal mulutnya dengan bubur yang tadi diberikan Arga. Jika tidak, mungkin Senja akan berteriak histeris karenanya saat ini juga.


"Senja nggak apa-apa?" tanya Rena.


Senja hanya menggeleng dan kembali menjejalkan bubur walau mulutnya belum kosong. Melihat Senja yang tiba-tiba bersemangat makan, Rena yang duduk di sampingnya nampak heran dibuatnya.


Ayu yang duduk di ujung hanya bisa geleng kepala dengan sikap ajaib sahabatnya ini.


TBC.


Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.


Makasih ya yang udah bersedia mampir.


Semoga suka sama ceritanya.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.


Happy reading, love you all.


__ADS_2