SENJA

SENJA
Arti Sebuah Nama


__ADS_3

^^^Maafkan ketidak konsisten saya dalam update. ^^^


^^^Semoga suka.^^^


...*HAPPY READING*...


“Ada yang tahu kenapa saya minta kalian untuk membagi satu botol air untuk 10 orang?”


Semua menggelengkan kepala, kecuali Senja. Senja benar-benar ingin menjadi pendengar dan pengamat yang baik hari ini. Wajahnya mantap menatap Arga, karena banyak tanya yang ia simpan di kepalanya. Selama ini ia sudah mencoba bertanya pada kedua kakaknya, namun selalu dijawab 'kalau pengen tahu ya ikut saja.' Dan inilah salah satu motivasi Senja mengikuti olahraga beladiri yang pada umumnya diikuti pria ini.


“Persaudaraan, sangat dipegang teguh pada organisasi kita. Salam persaudaraan menjadi salam pemersatu kita. Setia Hati tak hanya sebatas nama, namun jika kita sudah menjadi bagian di dalamnya, maka seyogyanya lisan kita tak akan pernah berkhianat dengan hati.”


“Hati kita tak pernah bohong. Hati tak pernah membawa kita pada keburukan. Hati selalu menuntun kita pada kebenaran.”


“Saat kita berbuat salah, hati tak akan tenang. Saat ada hal kurang baik, hati kita akan berontak, dan efeknya kita merasa tak tenang, benar?”


Semua mengangguk setuju dengan setiap kata yang Arga lontarkan.


“Untuk itu, jika kalian sudah menjadi bagian dari persaudaraan setia hati, maka sebisa mungkin kalian harus paham akan hal ini.”


“Dan tentang Terate. Apa yang tentang terate?”


“Tanaman yang hidup di air Mas.”


Arga mengangguk. “Ada yang lain?”


“Bunganya cantik Mas, seperti saya.”


Senja mendengus dengan ucapan teman di sampingnya.


Arga tak bereaksi. Ia terus menanti apa lagi yang akan dikatakan adik-adiknya ini.


“Mas…”


Senja mengangkat tangannya.


“Iya Senja.”


Semua perhatian tertuju pada Senja. Karena tanpa Arga sadari, dari sekian siswa, hanya nama Senja yang disebutnya. Sedangkan yang lain hanya dipanggil dik atau kamu jika tengah mengobrol langsung.


“Setahu saya, tumbuhan teratai dapat hidup di air dan di darat juga. Di daerah tropis maupun di daerah dengan suhu rendah.” Senja coba menjelaskan sejauh ia tahu.


“Ada yang lain?”


Suara Arga juga melunak saat berbicara dengan Senja.


Senja menggeleng sebagai jawabannya.


Arga sempat tersenyum saat tatapannya bertemu dengan Senja.


“Yang Senja katakan benar.”


“Terate atau teratai adalah nama bunga yang bila dipandang indah dan megah. Dia dapat hidup di segala tempat, dalam situasi dan kondisi apapun. Jadi kenapa nama perguruan pencak silat kita dinamakan persaudaraan setia hati terate, karena kita mengutamakan persaudaraan yang berlandaskan kesetiaan pada hati yang kuat dan mampu berkembang dimana saja seperti bunga teratai.”


"Apakah penjelasan saya terkait arti dari nama organisasi kita ini dapat kalian mengerti?"


Banyak mata yang mencuri pandang ke arah kawan di kanan kirinya, hingga perlahan sebanyak 20 itu mengangguk semua.


Apakah mereka benar-benar paham?

__ADS_1


Tentu tidak sepenuhnya, karena penjelasan Arga yang begitu panjang terhempas oleh letih ya tubuh mereka.


“Nah, barang kali ada yang tahu hubungan penjelasan saya ini dengan kegiatan minum sebotol untuk sepuluh orang tadi?” lanjut Arga.


Semua siswa saling beradu pandang. Saat itu Wahyu datang bersama siswa putih yang baru saja menyelesaikan latihan. Ke 8 siswa itu menyalami Arga sebelum membuat barisan di paling belakang.


Wahyu duduk bersila di samping Arga kemudian juga turut menyalaminya.


“Agendanya apa ini?” tanya Wahyu.


“Masih sekitar persaudaraan,” jawab Arga singkat.


“Baik, ada yang bisa menerka apa yang menjadi maksud saya meminta kalian membagi rata sebotol minuman untuk 10 orang, padahal idealnya itu baru bisa menuntaskan dahaga untuk 2-3 orang saja.”


Wahyu melayangkan pandangan pada siswa di hadapannya.


“Belajar berbagi Mas…”


Dian coba menjawab.


“Ada yang lain?”


“Belajar adil Mas…” Asti menambahkan.


Arga sekilas mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Baiklah, untuk mempersingkat waktu, Mas Wahyu yang akan menjelaskan pada kalian.”


Wahyu melebarkan senyumnya karena mendapat jackpot dari sahabatnya.


“Baiklah, baiklah…”


Bukannya menjelaskan, Wahyu justru meraih sebuah botol dan menenggaknya.


Suasana langsung terasa berbeda saat Wahyu bergabung ditengahnya.


“Saya tak tahu apa saja yang sudah Mas Arga katakana pada kalian. Yang jelas kalian masih haus kan?”


“Iya Maass…”


“Nah, jika sedang haus dan melihat air, seakan itu adalah oase di gurun pasir. Jika Mas Arga tak meminta kalian untuk membagi dengan saudara-saudara kalian, pasti air minum itu ingin langsung kalian habiskan, benar?”


“Benar Maaasss…”


“Tahu nggak tujuannya?”


Semua saling memandang dan menggeleng dalam diam.


“Tujuannya adalah agar kalian lebih menghargai persaudaraan.”


“Yang ada di kanan kalian, kiri kalian, depan kalian, belakang kalian, itu adalah saudara kalian. Kalian adalah satu, kalian harus saling mendukung dan menguatkan agar bisa menyelesaikan latihan, lolos setiap tes kenaikan tingkat dan akhirnya disahkan.”


“Setelah disahkan, saudara kalian tidak hanya yang sedang bersama kalian, tapi di semua yang ada di seluruh penjuru dunia. Jika yang dalam jumlah ini saja kalian tak mampu menjaga persaudaraan, bagaimana nantinya jika kalian sampai disahkan.”


“Nah…”


Wahyu langsung menoleh saat Arga tiba-tiba bersuara.


“Kenapa Mas?”

__ADS_1


“Ehm, begini.”


“Saudara itu ibarat bagian tubuh kalian. Jika kalian pilek, maka mulut kalian juga ikut tak enak makan padahal yang bermasalah kan hidung, bukan mulut kalian. Begitu pula dengan saudara. Saat hanya ada sebotol minuman, tapi saudara kalian ada sepuluh orang, maka semua harus kebagihan. Percuma kalian ikut latihan jika tak bisa menghargai persaudaraan.”


Asti menunduk tepat setelah Arga menyelesaikan ucapan. Samar-samar sudut bibir Arga tertarik sebelah. Sepertinya umpannya kali ini tepat sasaran.


“Baiklah, karena saya yakin kalian masih kehausan, maka adik-adik siswa putih tolong bantu adik-adiknya mengambil minuman.”


Indra, Tito, Angga, Han, Rayi, dan Galang bangkit dan melaksanakan apa yang Arga katakan.


“Kali ini kalian bisa minum sepuas kalian, karena kita tak dalam kondisi kekurangan air minum.”


Ekor mata Arga menangkap pergerakan Senja. Nampak ia meminta Asti untuk terlebih dahulu minum dari botolnya, karena diantara tiga siswa putri yang ada hanya Asti yang merupakan murid kelas VIII.


“Ada apaan?” tanya Wahyu yang merasa Arga begitu berbeda pada latihan kali ini. Ia penasaran, Arga yang biasanya tak terlalu suka bicara kali ini harus berusaha menyusun kata panjang lebar, bahkan hingga harus menggunakan perumpamaan.


Arga hanya menggeleng dan sekali lagi mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Ada masalah?”


Sekali lagi Wahyu bertanya saat melihat wajah Arga yang gelisah.


Arga kemudian menunjukkan apa yang dilihatnya.


“Jam tangan kamu baru?”


“Ck…” Arga berdecak dan meningkirkan tangannya segera.


“Fokus jamnya,” lanjut Arga kemudian.


“Baru juga jam setengah 3…”


“Buat kamu baru, buat Senja udah.”


“Maksudnya?”


“Dia jam 3 harus sudah sampai di rumah.”


“Kenapa nggak kamu anter aja.”


Arga mendesah. “Kamu tahu kan ortu Senja gimana?”


“Takut?”


“Ya bukannya takut. Tapi…”


“Mereka sudah tahu kan ada kamu saat latihan?”


Arga mengangguk.


“Cukup antar sebagai wujud tanggung jawab kamu.”


“Apakah cara ini benar?”


“Tak ada apapun di dunia ini yang nilai kebenarannya bernilai mutlak.”


Arga tak menjawab dan justru menatap Senja. Tanpa di sangka, Senja ternyata juga tengah menatapnya.


“Jam berapa?” tanya Senja tanpa suara. Dia seakan telah menunggu momen Arga menatapnya untuk menanyakan hal ini.

__ADS_1


Arga tak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepala.


TBC


__ADS_2