
...*HAPPY READING*...
Senja kini berdiri di hadapan teman-temannya yang duduk dengan menyelonjorkan kaki sebanyak dua baris memanjang. Dia berdiri di samping Arga yang tengah duduk bersila di hadapan barisan para siswa.
“Saya sebenarnya tak mau terlalu keras terhadap kalian, hanya saja saya sangat membenci ketidak disiplinan.”
Arga menatap tajam adik-adik siswa di hadapannya.
Jika tak memikirkan malu, mungkin Senja sudah menangis saat ini juga. Ia merasa menjadi terdakwa atas kelasalah yang sama sekali tak ia lakukan di latihan perdananya.
“Kalian wajib membawa air minum, karena aktifitas yang kalian lakukan adalah aktifitas fisik yang menguras tenaga dan bercucur keringat. Kalian akan gampang haus dan jika tak lekas minum, kalian akan dehidrasi. Sejauh ini mengerti?!”
“Tapi Mas, saya tadi yakin kalau bawa,” ucap Senja tiba-tiba karena merasa perkataan Arga menyinggungnya.
“Alasan."
Tak keras namun masih bisa didengar oleh semua yang ada di sana.
Senja menatap singkat siapa yang baru saja bersuara, kemudian ia kembali menunduk di tempatnya. Kenapa dia seperti tak suka denganku? Batin Senja.
“Saya tak ingin menghakimi Senja karena ini adalah latihan perdana. Saya hanya berharap tak lagi ada kejadian serupa selanjutnya, atau kalian semua harus siap dengan konsekuensinya.”
Suara Arga terdengan dingin. Hal ini membuat siapa pun befikir ulang untuk menjawabnya.
“Baiklah, sebagai hukuman, Senja silahkan skotjam sebanyak 8 kali, silahkan adik-adik yang lain menghitung.”
Tak ada gunanya membantah, toh nyatanya tak ada botol minum bersama dengan Senja saat ini.
Senja segera mengambil posisi.
“Satu, dua, tiga, empat, lima…”
Senja tampak mulai kehabisan nafas.
“Enam…”
Kaki Senja gemetar. Pergelangan kakinya terasa begitu nyeri.
“Segera tuntaskan hukuman, baru setelah itu kamu bisa bergabung dengan saudara-saudara kamu.”
Senja memejamkan mata dan meyakinkan diri bahwa ia bisa. Senja bersiap untuk lompatan terakhirnya.
“Delapan…”
Senja terduduk seketika saat rasa nyeri menyerang kakinya.
“Silahkan kamu bergabung bersama saudara-saudara kamu.”
Senja masih diam di tempat meskipun ia sudah mendengar dengan jelas instruksi dari Arga. Arga pun merasa aneh karena Senja masih belum beranjak dari tempatnya, bahkan posisinya pun masih sama.
Rasa penasaran dan khawatir menjamah pikiran Arga namun sekuat tenaga ia berusaha acuh agar tak membuat dirinya nampak memberi perhatian lebih pada Senja.
“Dia kenapa?”
Wahyu datang karena ingin mengembalikan sesuatu yang ia rasa milik Senja.
“Dia nggak bawa minum Mas,” jawab Arga sambil menatap Wahyu yang langsung duduk di sebelahnya.
“Senja…?!”
Arga langsung menatap Senja saat Wahyu menyebut namanya dengan nada tak biasa.
Wahyu langsung membenarkan posisi Senja.
__ADS_1
“Aw…”
Ringis Senja saat Wahyu tak sengaja menyentuh pergelangan kakinya.
“Kenapa?” tanya Arga yang berusaha sekuat tenaga bertahan di tempatnya.
“Kamu kenapa?” ulang Wahyu saat Senja enggan menjawab pertanyaan Arga.
“Kaki aku sakit Kak,” jawab Senja akhirnya.
Senja bahkan lupa jika harus menanggalkan panggilan kak dan menggantinya dengan mas atau mbak.
“Tunggu sebentar.”
Wahyu bangkit dan meminta Arga untuk mengikutinya. Keduanya berhenti ketika merasa sudah berada dalam jarak aman untuk berbicara berdua.
“Kamu apain Senja, perasaan dia tadi baik-baik saja?”
“Dia nggak bawa minum jadi aku ngehukum dia.”
“Ya ampun.”
Wahyu menepuk jidatnya karena merasa kedatangannya cukup terlambat.
“Kenapa?”
“Nih lihat.”
Wahyu mengangkat sebuah botol minum yang sedari tadi ingin dikembalikannya.
“Baca nih baca!”
Wahyu menunjukkan sebuah botol bertuliskan 'CS' di salah satu sisinya.
Arga memejamkan mata dengan tangan terkepal kuat. CS, Cahaya Senja. Astaga, kenapa aku tak mempercayaimu sejak awal. Racau Arga dalam hati.
“Ingat posisi. Tahan sampai mereka semua pulang.”
“Kamu…” ucapan Arga menggantung.
“Aku udah tahu semua, aku nggak bisa maksa, namun satu pesan aku, kalian harus tahu situasi dan kondisi…”
Arga mengangguk. Entahlah bagaimana perasaannya kini. Harus bahagia karena ada yang memaklumi perasaannya atau harus bersedih karena tak mampu menjaga amanah.
Setibanya di tempat semula, Arga langsung berjongkok di hadapan Senja. Ia memegang pergelangan kaki Senja dan melihat cideranya.
“Maaf…,” lirih Arga.
Senja tak bergeming, antara sakit hati dan sakit kaki.
“Kamu tahan ya…” pinta Arga.
Senja mengangguk mesti enggan. Ia mengeratkan giginya agar nanti tak ada suara yang lolos saat Arga menarik kakinya. Senja mengangguk saat Arga menatapnya.
Krkk
Sebuah tarikan di kakinya membuat gigi Senja bergemeletuk menahan nyeri di sana.
“Tahan lagi ya…”
Senja melakukan apa yang Arga interupsikan.
“Sekali lagi ya…”
__ADS_1
Kembali Senja mengengguk.
Klekk
Tak keras memang, tapi terdengar suara tulang yang kembali ke tempatnya. Arga segera melepaskan kaki Senja yang dipegangnya.
“Bisa bangun?” tanya Arga kemudian.
“Bisa Mas.”
Entah untuk apa Arga bertanya, karena akhirnya ia tetap membantu Senja untuk berdiri dan kembali ke tempatnya.
Jika tak ada rasa segan pastilah sudah banyak siswa yang mengomentari perlakuan Arga terhadap Senja. Terkesan tegas di awal, namun begitu lembut dan sarat perhatian akhirnya.
Arga kembali duduk dan bersila, ia menerima botol yang diulurkan Wahyu.
“Saya minta maaf, khususnya pada Senja.”
Bisik-bisik yang tak jelas intinya berhenti seketika.
Arga sadar itu dan ia perlahan mengangkat botol di tangannya.
“Ini adalah botol Senja, yang tak sengaja di ambil oleh mas Wahyu karena tadi 3 siswa putri yang nyaris pingsan saat lari mengelilingi lapangan.”
Arga menaruh botol yang sudah tak berisi itu bersama botol minum lainnya. Arga kemudian mengambil 2 buah botol dan meletakkan 1 di barisan depan dan 1 lagi di barisan belakangnya.
“1 botol itu harus cukup untuk satu baris, dan harus kebagihan semua, paham?”
“Pahaammm…!”
“Mas…”
Senja langsung menoleh pada sumber suara. Kenapa lagi sih dia? Batin Senja.
“Iya,” jawab Arga.
“1 botol untuk 10 orang, mana cukup. Kami kan capek, kami kan haus. Mestinya kami bisa minum dari masing-masing botol kami.”
“Lakukan atau jangan minum sama sekali.”
Jawaban Arga membuat semua diam.
“Silahkan dimulai dari sisi paling kanan.”
Akhirnya dua siswa di sisi paling kanan mulai minum. Hanya seteguk karena jika mereka ingin menuntaskan dahaga, satu botol paling hanya cukup untuk 2-3 orang saja.
Senja yang berada di barisan depan paling kiri hanya kebagihan sisa yang seteguk pun tak ada. Jika ditakar mungkin dapatnya hanya kisaran sesendok saja. Berbeda dengan Yulian yang duduk di belakangnya. Ia masih mendapat dengan kisaran jumlah hampir sama dengan teman di sisi paling kanan.
Asti yang berada di sambaing Senja tersenyum miring menatap teman latihannya ini. Senja tahu sekali ia sengaja, namun ia lebih memilih diam.
“Sudah?” tanya Arga saat melihat botol yang sudah berada di ujung kiri.
“Sudah Mas….” Serempak semua yang ada di sana.
“Apa semua kebagihan?”
Kembali jawaban iya yang Arga dengar. Sebenarnya Arga hanya pura-pura tanya. Nyatanya ia tahu ada yang tak fair hingga Senja tak kebagihan air.
“Persaudaraan dalam organisasi kita dimaknai suatu ikatan batin antara manusia dengan manusia yang tak dapat dipisahkan oleh apapun.”
Arga menekankan setiap kata yang dia ucapkan. Mata tajamnya menatap satu-persatu adik-adik siswa di hadapannya. Perlahan semua wajah itu menunduk, kecuali Senja. Ia memang sudah banyak mendengar istilah saudara dan persaudaraan dari kedua kakaknya, hingga akhirnya kini ia sangat menantikan makna persaudaraan yang mungkin akan dibahas Arga.
TBC
__ADS_1
Mau satu lagi nggak?
Komen ya.