SENJA

SENJA
Setan Berhati Malaikat


__ADS_3

Brak!


Seorang gadis dengan perawakan tinggi dan kurus itu menggebrak meja. "Jadi gimana?" tanyanya dengan mata memicing menatap tajam tawanannya.


Gadis kecil yang ditawan itu hanya diam. Dia yang duduk di kursi kayu di pojok sebuah ruang harus mendongak untuk menatap ketiganya.


"Jangan diem aja, ngomong!" teriak seorang lainnya dengan membenahi kacamata yang bertengger di wajahnya.


Gadis itu masih diam. Tak ada sedikitpun guratan rasa takut di wajahnya. Ketiga gadis yang memojokkan gadis kecil itu berjalan mengelilinginya dengan tatapan tajam penuh selidik.


Hingga akhirnya seorang dengan tubuh mungil menjatuhkan tubuhnya di kursi pesakitan bergabung dengan sang gadis kecil. Mengguncangkan tubuh gadis itu berharap ada informasi yang akan jatuh setelah.


Merasa tak nyaman gadis itu berusaha melepaskan diri dari cengkeraman gadis mungil di sampingnya, "Apaan sih?" ucapnya disela usahanya meloloskan diri.


"Jangan pura-pura nggak ngerti Senjaaaa....." Ayu frustasi melihat Senja tak juga mengiyakan kecurigaan mereka.


Ya, yang sedang memainkan drama penculikan ini adalah Ucik, Ifa dan Ayu dengan Senja sebagai korbannya.


"Ya aku kudu jawab apa emang?" tanya Senja dengan wajah innocent-nya.


"Ya tinggal jawab apa adanya, kan beres!" geram Ayu.


"Aku kan juga udah jawab apa adanya. Aku nggak pacaran sama Kak Arga." Senja kemudian bangkit dari kursi 'pesakitan' dan berjalan menjauh dari sahabat-sahabatnya.


"Mau kemana kamu?!" tanya Ifa yang berusaha menyusulnya.


Senja menghentikan langkahnya. "Toilet. Ikut?"


"Ikut, ikut, ikut."


"Ya hayuk."


Akhirnya Senja dan Ifa berjalan beriringan menuju toilet.


"Tumben toilet sepi," kata Ifa.


"Ya sepi lah, kecuali ada acara pipis berjamaah," ucap Senja dengan terkekeh. Akhirnya mereka masuk ke dalam toilet dan menuju ke dua bilik berbeda untuk menuntaskan hajatnya.


"Mau ke kantin?" tanya Ifa pada Senja yang baru keluar dari toilet.


"Emmm...," Senja melirik ke arah kelasnya. Kak Arga kok belum muncul juga sih, terus ngasih penggarisnya gimana? Batin Senja.


"Hey!" Ifa kesal karena Senja tak juga menjawab pertanyaannya.


"Ha?! Enggak deh kayaknya. Aku mau ke kelas aja."


"Oke deh. Mau nitip sesuatu?"


"Makasih, bekal makan sama minum aku juga masih utuh," tolak Senja.


Akhirnya di persimpangan jalan mereka berpisah. Senja menuju kelasnya, sedangkan Ifa berjalan menuju kantin.

__ADS_1


"Senja..."


Senja berhenti sejenak karena sama-samar ia mendengar ada yang memanggil namanya. Lah, kok nggak ada? Batinnya saat ia tak menemukan siapapun yang mungkin memanggilnya. Akhirnya ia kembali berjalan.


"Senja..."


Lagi-lagi Senja mendengar ada yang memanggil namanya. Dia celingak-celinguk mencari orang yang mungkin memanggilnya, bahkan hingga berbalik kalau-kalau orang itu ada di belakangnya. Masa iya setan muncul siang bolong kayak gini. Setelah mengusap tengkuknya yang merinding, Senja bersiap mengambil ancang-ancang berlari menuju kelasnya. Tiba-tiba...


"Ba.....!"


"Aaaaaaa.... hmf!"


Sebuah tangan membekab Senja dan menarik tubuhnya. Sebelumnya, Senja terkejut bukan main ketika sebuah tangan dengan beberapa buah choki-choki muncul tepat di depan wajahnya. Ya Alloh, setan apa yang mau nyulik aku pakai umpan choki-choki ya Alloh. Batin Senja kala dirinya ditarik menuju samping kelas.


"Udah, jangan teriak lagi, oke," bisik setan tepat di telinga Senja.


Senja mengangguk meski ia masih di dera rasa takut. Setan itu perlahan melepaskan tangannya dan langsung memutar tubuh Senja untuk menghadapnya. Setannya kok pakai seragam? Batin Senja yang wajahnya kini menghadap dada bidang yang mengenakan berseragam sama dengannya bertuliskan nama 'Arbi Sumarga'. Kok kayak nggak asing sama namanya? Senja pun mendongak.


"Hai....," sapa sosok yang ternyata bukan setan tapi selalu menghantui Senja itu. "Teriakan kamu kenceng juga," lanjutnya dengan senyum dan mata melengkung.


Kedua sudut bibir Senja tertarik, kemudian dia mengelus dadanya lega. "Aku kira setan, ternyata Kak Arga..."


Arga memutus kontaknya dengan Senja. "Duduk yuk." Arga mengajak Senja untuk duduk di lantai. "Nih..."


Senja menoleh menatap Arga yang duduk di sampingnya. Dia menyodorkan beberapa buah choki-choki. "Buat aku?"


"Iya, spesial dari setan berhati malaikat," ucap Arga dengan senyum yang masih setia menghiasi wajah tirusnya.


"Enggak," jawab Arga datar.


Senja menghentikan aktivitasnya. Senyum yang merekah itupun pudar.


"Anak kecil kok ngambek sih....." Arga terkekeh sambil mencubit hidung Senja. Melihat Senja diam saja, Arga kemudian menangkup wajah manis itu. "Nah, kalau gini kan manis," ucapnya sambil menarik kedua sudut bibir Senja. Namun begitu Arga melepas jarinya, Senyum itu kembali menghilang.


Senja memalingkan wajahnya, memandang sungai yang mengalir di belakang sekolahnya.


"Kamu beneran marah?"


Senja menoleh sejenak kemudian kembali berpaling.


Arga menghela nafas. "Jangan ngambek dong, aku kan cuma bercanda." Arga meraih choki-choki ditangan Senja dan membukanya. "Nih aku bukain, jangan marah ya..."


Senja menyerobotnya cepat dan segera bangkit. "Aku nggak marah kok, pengen ngerjain Kakak aja, wleee." Senja segera berlari hendak memasuki kelasnya. Tiba-tiba....


"Aaaaaa....!"


Brugh!


Sesuatu menghadang langkah Senja dalam larinya. Karena tak siap, dia terpental hingga menimpa Arga yang masih dalam posisi duduk.


"Senja nggak apa-apa?" tanya Arga sambil menahan tubuh Senja.

__ADS_1


Senja menggeleng. "Itu tadi apa Kak?"


Arga membenahi posisi Senja sebelum dirinya berdiri untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi.


"Kalian...?"


"Hehehe, maaf Kak." Empat orang yang bokongnya terpaksa mencium lantai itu hanya bisa tertawa miris menerima nasib mereka. "Tapi kita nggak ngintip kok, suer," kata Ayu sambil mengacungkan jari tengah dan telunjuk nya.


"Kalian ngapain?" tanya Senja yang kini berdiri di samping Arga menatap keempat kawannya yang sedang berusaha berdiri.


"Hehehe....," Ifa, Ucik, Ayu, dan Ira hanya meringis sambil menepuk-nepuk debu yang menempel di pantat mereka. "Kita nggak ngintip kok," kata Ayu.


"Ngintip apaan emang Kak?" tanya Senja sambil mendongak dan menarik-narik baju Arga.


Arga menggeleng sambil menyingkirkan tangan Senja dan spontan menggenggamnya. "Cepet ambil penggarisnya, bentar lagi bel masuk," ucap Arga dengan menunduk mensejajarkan tinggi badannya dengan Senja. Senja mengangguk kemudian berjalan ke dalam kelas melewati keempat temannya.


"Iiiiiiiii...," keempat pasang mata itu hanya mampu menjerit tertahan melihat romantisme di hadapannya.


"Kita masuk dulu ya Kak," pamit Ucik pada Arga diikuti tiga yang lainnya. Begitu memasuki kelas, mereka heboh bahkan hingga lompat-lompat kegirangan, membuat Senja yang berpapasan di pintu merasa terheran-heran.


"Mereka kenapa ya Kak...?" tanya Senja dengan polosnya begitu tiba di depan Arga.


Arga hanya menggeleng. Ditatapnya gadis manis di depannya ini. Apakah hanya aku yang merasakan ini? Apakah hanya aku yang merasa jika kebersamaan ini sungguh berarti.


"Aku masuk dulu ya..." pamit Senja lalu berbalik begitu saja.


"Eh, tunggu." Tiba-tiba Arga menahan tangan Senja. Tangannya terulur untuk membersihkan lelehan coklat di sudut bibir Senja. "Padahal baru gigit ujungnya doang, belum juga dimakan, udah cemong kayak gini."


"Hehehe, maaf Kak, abis aku kaget pas nabrak mereka tadi, jadi nggak sengaja jatuh deh yang satu," cicit Senja malu-malu. "Tapi yang ini masih aman kok," kata Senja sambil menunjuk beberapa bungkus choki-choki disakunya.


Arga menyentuh puncak kepala Senja dan menepuknya pelan. "Masuk sana."


"Ehm!"


Senja dan Arga menoleh.


"Sekolah tempat belajar bukan pacaran."


Arga dan Senja membulatkan matanya. Kenapa harus ada orang ini sih?


TBC.


Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.


Makasih ya yang udah bersedia mampir.


Semoga suka sama ceritanya.


Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.


Happy reading, love you all.

__ADS_1


__ADS_2