
"Aku yang mengurus suami selama ini?"
Senja terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut wanita yang bernama Marsya itu.
Senja menatap Langit, "Apa itu benar mas?" tanya Senja.
Langit diam, ia ragu menjawab.
"Jawab aja kenapa sih? Emang gitu kenyataannya kan." Marsya menyenggol lengan Langit.
"Kamu jangan salah paham dulu, Nja. Kita bicarain ini baik-baik." ucap Langit.
"kamu belum jawab boertanyaanku, mas." kata senja, ia mengusap air mata dipipinya.
"Iya, Marsya yang selama ini mengurusku." jawab Langit. "Tapi ini gak seperti yang kamu pikirkan, Nja."
Senja menatap Langit, "Aku pulang dulu, mas. Tolong jangan kejar aku." Ucap Senja, Ia membalikkan badannya dan melangkah keluar ruangan Langit.
"Nja!!"
Langit ingin mengejar Senja, namun Marsya menarik tangan Langit.
"Lo gak denger dia tadi bilang apa?" tanya Marsya.
"Gila lo, Sya. Kalau dia sampai balik ke Malang gimana?" Langit bingung.
"Udah, itu urusan nanti. Lo masih ada urusan ama gue!!"
"Ah, udah gak mood gue!!"
Marsya menarik tubuh Langit dan menghempaskannya ke atas sofa.
**********
Senja melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan Langit. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak keluar dari singgasananya.
Hingga ia tiba didepan lift, ia tak mendapati Langit mengejarnya. Hatinya benar-benar sakit melihat Langit sudah tak memperdulikannya.
Senja masuk ke dalam lift, sepi tidak ada siapapun disana. Ia masih menahan air matanya agar tidak jatuh, ia tak mau membuat orang lain menerka-nerka terhadap dirinya.
Tiba di lantai satu Senja berjalan cepat keluar dari gedung, ia mencari-cari mobil pak Agung di tempat parkir.
"Nona Senja." Agung terlihat berlari menghampiri Senja. "Kog cepat, Non?"
"Ayo pak, antar saya kembali." Ajak Senja agak buru-buru.
"Mobilnya disana Nona." Agung menunjukkan jalan.
Senja mengikuti dibelakangnya.
"Nja!!"
Senja menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Enna memanggilnya, Senja menoleh ke belakang. Enna berdiri di depan loby bersama Hengky.
"Maaf En, aku buru buru. Nanti ku telpon." Kata Senja.
Tak menunggu jawaban Enna, Senja kembali meneruskan langkahnya menyusul Agung dan segera masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Belum juga Agung melajukan mobilnya, Senja sudah menumpahkan tangisannya.
Agung terkejut dan penasaran, namun ia tak berani bertanya. Ia memutuskan untuk mengendarai mobilnya saja.
Sampai dirumah, Ella sudah menyambut Senja. Ella bisa melihat jelas jika Senja barusaja menangis.
"Bu Ella, tolong jawab jujur pertanyaan saya." Tanya Senja.
"Ya, Nona. Silahkan."
"Apa pak Langit pernah membawa wanita lain ke rumah ini?" tanya Senja
"Tidak pernah, Nona?"
"Apa Bu Ella pernah mendengar dia mencintai wanita lain?" tanya Senja lagi.
"Yang saya tahu pak Langit hanya mencintai anda, Nona." jawab Ella
"Bu Ella tidak berbohong?"
"Iya Nona, saya bicara sesuai apa yang saya ketahui."
Senja kembali masuk ke dalam mobil, "Pak, tolong antar kembali saya ke kantor."
"Baik, Nona."
Agung kembali melajukan kendaraannya menuju ke kantor. Jalanan lebih padat dari sebelum ia berangkat tadi.
"Pak, saya turun sini saja. Saya naik Ojol aja ya." Senja membuka pintu mobil yang terhenti di tengah kemacetan.
"Mas, minta tolong agak cepat ya." pinta Senja saat naik keatas motor.
"Baik, mbak."
Sesuai permintaan Senja, driver Ojol dengan gesit melewati beberapa titik kemacetan.
Sekitar Dua puluh menitan Senja tiba di gedung Actmedia. Ia berjalan cepat kembali ke ruangan Langit.
Ketika sampai di lantai dua belas, sudah ada dua orang wanita disana. Senja mengabaikan keberadaan dua wanita itu.
"Maaf, Mbak!! Anda tidak diperkenankan masuk sembarangan disini." Salah seorang wanita mengejar Senja, namun ia mengabaikannya dan tetap masuk.
"Mbak!!"
Tangan Senja coba ditarik, namun Senja menampiknya kasar.
Seorang wanita yang Berad didepan ruangan Langit menghadang Senja.
"Biarkan aku masuk!!" Teriak Senja marah.
"Maaf, Anda tidak bisa masuk. Anda harus membuat janji jika ingin bertemu pak Langit."
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Hengky keluar dari sana.
"Nona Senja!!??" Hengky terkejut. "Lepaskan tangan kalian, beliau istri pak Langit."
"Maafkan saya."
__ADS_1
Senja langsung masuk kedalam ruangan Langit dan dia masih melihat Marsya ada disana. Langit sedang merebahkan diri di Sofa.
"Kamu jahat banget sama aku, Mas!!" Teriak Senja.
Langit membuka matanya, Ia terkejut Senja datang Lagi.
"Kenapa kamu tega lakuin ini sama aku?"
Langit berdiri menghampiri Senja. "Aku akan jelaskan semua, ini gak seperti yang kamu pikirkan."
"Kalau memang gak seperti yang aku pikirkan, kenapa wanita ini masih disini!?" Senja menunjuk tepat di wajah Marsya.
"Hei hei, biasa aja kali." Marsya menampik telunjuk Senja.
"Marsya ini dokterku, Nja."
"Dokter?" Senja memperjelas.
"Iya, dia memang yang merawatku selama ini. Dia anak dari dokter Prast." Jelas Langit.
"Kenapa bisa dia diatasmu dengan posisi seperti itu?" Senja masih terusik.
"Salahkan suami lo ini, gue mau suntik infus aja susah banget." Marsya ikut menjelaskan. Lalu ia menunjukkan cincin di jari tangannya, "Nih, gue juga udah nikah. Dari kecil gue gak minat sama nih bocah."
"Kamu sakit mas?" tanya Senja khawatir.
Langit mengangguk, "Jauh dari kamu membuat ku sakit." ucap Langit.
"Hadeeeeeeeeh!!" Marsya terlihat muak. "Udah deh, Lo jangan jauh-jauh lagi sama dia. Ni bocah bikin banyak orang susah."
"Maaf, ya. Aku udah salah paham ke kamu." Ucap Senja ke Marsya.
"Gue balik dulu, Lo puas-puasin manja-manjaan sama istri Lo." Marsya mengambil tasnya dan meninggalkan ruangan Langit.
"Saya akan mengosongkan jadwal anda selanjutnya, Pak." Ucap Hengky, kemudian ia mengikuti Marsya keluar ruangan.
Langit menarik tangan Senja untuk duduk di Sofa, "Kamu jangan selalu bikin kesimpulan sendiri. Aku gak mau kisah lama kita terulang kembali. Kalau kamu merasa gak nyaman, ada yang membuat kamu terbebani, tolong jangan memutuskan semuanya sendiri. Kita satu keluarga, ajak aku bicara apa yang kamu rasakan, Nja. Kita selesaikan semua sama-sama."
Senja mengangguk, Ia tahu dia terlalu cepat mengambil kesimpulan. "Maafin aku ya, mas. Aku tahu semua ini memang berawal dari keegoisanku. Seharusnya aku belajar dari masalalu kita, bukan menyimpulkan semuanya sendiri."
Langit tersenyum, ia mengecup lembut kening Senja.
"Aku lagi gak bertenaga, sayang." Ucap Langit. "Butuh asupan nutrisi."
Senja mengernyit.
Langit menatap wajah Senja, kemudian turun ke bawah.
Senja menggeleng dan mencubit kecil lengan Langit, "Bisa-bisanya kamu mikir yang enggak-enggak disaat seperti ini mas."
Langit tersenyum, Ia memeluk Senja erat-erat. "Makasih ya, udah datang kesini." ucap Langit.
"Udah kangen berat sama kamu."
Langit tersenyum, berulang kali ia mengecup kening Senja.
-Bersambung-
__ADS_1