
"Kak, kita mau lewat," kata Senja dengan suara bergetar dan wajah pucatnya.
"Ya ampun Adik Kecil. Jangan nangis dong, Kakak lagi nggak ada permen nih," kata anak laki-laki dengan name tag Anandito itu.
Segerombolan anak itupun pecah tawanya ketika mendengar hal yang menurut mereka adalah sebuah lelucon itu.
"Kakak maunya apa sih?" tanya Ayu geram.
"Mau kita? Kan udah jelas, kita maunya kamu ninggalin temen kamu yang cengeng ini di sini. Nggak mungkin dong peserta kegiatannya Rivan cengeng kayak gini," kata anak laki-laki ini dengan penuh penekanan dan tatapan tajam kearah Senja.
"Tapi Kak..."
"Tito! Nggak capek ya kamu bikin ulah!" ucap seseorang tiba-tiba yang datang membuat Ayu menghentikan ucapannya.
"Kak Arga," lirih Ayu disela keterkejutannya
akan kehadiran Arga yang baru saja memanggil anak laki-laki dihadapannya itu dengan sebutan Tito.
"Wah, lu mau jadi pahlawan lagi ya buat bocah ini?" ucap Tito dengan nada mengejek.
"Udah deh biarin mereka pergi, nggak ada untungnya kamu nahan mereka disini," kata Arga kemudian.
Akhirnya Senja pun mengingat siapa sosok yang tengah menghadang mereka ini. Sebelum Arga datang tadi, Senja memang sudah tahu bahwa sosok yang menghadangnya ini adalah orang yang sama dengan yang dulu sempat menjegal kakinya ketika ia disuruh Pak Umar untuk mengantarkan buku ke kelas IX b. Tapi ia sama sekali tak mengingat siapa namanya. (Ada di part 11 judulnya penyelamat).
"Aku emang enggak mau nahan mereka, tapi aku cuma ada perlu sama dia," kata Tito sambil menunjuk Senja
"Ada urusan apa kamu sama Senja?" tanya Arga.
"Kamu kenal sama dia?" bukannya menjawab Tito malah balik bertanya kepada Arga.
"Iya, dan aku pengen kamu segera ngelepasin dia," jawab Arga.
Tito mengernyit. Kenapa Arga nampak begitu emosi hanya karena membela bocah ini? Batin Tito.
"Oke, dia siapa kamu sehingga aku harus ngebiarin dia pergi saat ini juga?" tanya Tito dengan tatapan penuh tanya kepada Arga.
Melihat Arga yang enggan menjawab, akhirnya Tito kembali berkata, "oke, kasih aku satu alasan kenapa aku nggak boleh main-main sama dia?" Setelah menyelesaikan ucapannya, Tito kemudian menegakkan tubuhnya, dan berjalan mendekati Arga. Tepat di depan Arga, dia segera memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku dan sedikit mendongak kan kepalanya agar bisa beradu tatap dengan Arga yang memiliki postur lebih tinggi darinya.
"Alasannya cuma satu, aku nggak suka bullying, dan sekolah ini pun sepertinya akan memberikan sanksi pada pelaku bullying." Arga menjeda sebentar ucapannya, kemudian berkata, "atau kamu mau pihak sekolah aja yang turun tangan atas tindakan kamu kali ini."
"Sialan," desis Tito. "Cabut!" ucap Tito sambil berlalu diikuti segerombolan anak buahnya. Setelah Tito pergi, Ayu segera mendekat kepada Arga.
"Kak, makasih ya," kata Ayu kemudian.
Arga hanya mengangguk dan tersenyum simpul, sejurus kemudian dia beralih menatap Senja yang wajahnya masih pucat. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Arga sambil mengangkat dagu Senja.
Senja hanya menggeleng.
"Ayo aku antar kalian balik," kata Arga mempersilahkan Ayu dan Senja berjalan terlebih dahulu menuju tempat yang disediakan khusus untuk peserta persami.
"Habis ini apel deh kayaknya, Aya yakin bisa ikut?" tanya Arga dari belakang.
Namun Senja tak menjawab. Dia terus berjalan dengan kepala menunduk.
__ADS_1
Karena temannya tak juga menjawab pertanyaan dari Arga, akhirnya Ayu pun berkata, "aku nggak yakin deh Kak. Ngelihat dia kayak gini, takutnya malah pingsan di tengah acara kalau maksa ikut apel."
"Ntar biar aku ngomong sama panitianya," ucap Arga kalem.
"Makasih Kak," kata Ayu.
Mereka pun berjalan bersama hingga tiba di Camp putri.
"Sampai sini aja ya," kata Arga pada Ayu dan Senja.
"Iya Kak, makasih banyak," jawab Ayu.
Sementara Senja hanya diam sambil mengangguk hormat.
"Udah, jangan takut," kata Ayu sambil berjalan menggandeng tangan Senja.
Arga terus memperhatikan dua adik kelas yang berjalan kian menjauh darinya itu.
"Kayaknya aku kudu menerima tawaran Rivan deh," gumam Arga.
Arga pun berjalan memutar menuju kelasnya, karena saat ini dia tengah ada jam pelajaran.
"Assalamualaikum," ucap Arga sebelum memasuki kelasnya.
"Wa'alaikum salam," jawab Pak Bayu dan beberapa teman Arga yang lainnya. Pak Bayu adalah guru seni budaya yang kini tengah mengajar di kelas Arga.
"Toiletnya sekarang pindah di mana, buang air aja lama bener," bisik Bambang pada Arga.
"Tck," Bambang berdecak karena sindirannya pun masih bisa dijawab santai oleh Arga.
Saat tengah asyik berkutat dengan cat minyaknya, Tito dan kawanannya tiba-tiba lewat di samping kelas Arga. Entah sengaja atau tidak, Arga merasa Tito terus menatapnya tajam hingga di jendela terakhir di mana ia tak dapat melihat sosok Tito lagi.
"Tuh Si Tito kenapa, kayaknya dari depan pintu sampai jendela terakhir dia jalannya sambil mandangin elu deh," kata Bambang.
"Dia abis ngerjain Senja di toilet," jawab Arga datar.
"Lah terus nasibnya Si Bocah gimana?" tanya Bambang.
"Tunggu deh," kata Bambang sambil merebut kuas cat yang kini dipegang Arga.
"Apa?!" tanya Arga sambil mendongak dan menatap Bambang dengan tatapan tajamnya.
"Ampun Bang Jago, lihatnya biasa aja kali, hehe," kata Bambang sambil nyengir karena tiba-tiba ciut ditatap tajam oleh Arga seperti itu.
"Makanya jangan suka gangguin orang," jawab Arga sambil kembali berkutat dengan alat lukisnya.
"Tadi Senja gimana? Terus kamu kok bisa tahu? Senja ngadu ke kamu?" tanya Bambang bertubi-tubi kepada Arga.
"Cari itu temanmu Dora, biar bisa tahu semuanya," jawab Arga.
"Dora? Dora siapa ya? Kok aku enggak ingat kalau punya teman namanya Dora?" kata Bambang sambil menatap langit-langit kelasnya. Bambang terdiam dan sepertinya dia tengah berpikir keras.
"Siapa sih Ga, kok aku nggak inget sama sekali kalau punya teman yang namanya Dora," ucap Bambang penasaran karena dia tak juga mengingat siapa Dora yang Arga maksud.
__ADS_1
"Tunggu bentar, aku selesain ini dulu, nanti aku kasih tahu siapa Dora teman kamu itu," kata Arga yang nampak serius memoles bagian demi bagian pada kertas di hadapannya.
"Yaahh, kok nanti sih, sekarang aja," kata Bambang sambil merengek dan menggoyang-goyangkan tangan Arga.
"Ih!" Arga bergidik dan segera menarik tangannya dari Bambang. "Jijik gua sama kelakuan lu," lanjut Arga masih sambil bergidik ngeri.
"Makanya..."
"Tunggu gua kelar atau jangan tanya sama sekali!" potong Arga sebelum Bambang menyelesaikan ucapannya lengkap dengan tatapan tajam andalannya.
Bambang hanya mendesah pasrah dan turut melanjutkan tugas dari Pak Bayu yang harus dikumpulkan di akhir jam pelajaran ini. Tak lama kemudian Arga nampak membereskan alat lukisnya.
"Siapa tadi Dora?" tanya Bambang penasaran karena dia melihat Arga sudah menyelesaikan lukisannya.
"Bentar gua masukin ini dulu," kata Arga.
"Iya sambil ngasih tahu kan bisa," bujuk Bambang.
"Diam atau..." Arga nampak sengaja menggantungkan ucapannya.
"Jangan tanya sama sekali. Ya ya, udah apal gua," pasrah Bambang.
"Pinter," gumam Arga.
"Pinter," ucap Bambang sambil mencebikkan bibirnya ke arah Arga.
Tak beberapa lama Arga pun bangkit dan menyampirkan tas ransel di bahunya. Dia memegang selembar tugas untuk dikumpulkan di depan sebelum ia meninggalkan kelas.
"Mau langsung balik lu?" tanya Bambang.
Arga hanya menggerakkan jari telunjuknya menginterupsi Bambang agar sedikit mendekat ke arahnya. Arga yang sudah berdiri pun nampak menunduk untuk mensejajarkan tingginya dengan Bambang yang tengah duduk. "Dora sama Diego itu dua berkawan yang sama tingkat kekepoannya. Kalau lu temennya Dora berarti lu itu Diego," ucapkan Arga yang kemudian menegakkan tubuhnya dan berjalan menjauh meninggalkan Bambang yang masih dengan wajah bingung nya.
"Dora, Diego?" beo Bambang. Dora sama Diego kan tokoh kartun yang suka dilihat ponakan gua. Batin Bambang. "Arga kampret!" Bambang meneriakkan umpatan terhadap sahabatnya.
Yang diumpat pun hanya melambaikan tangan tanpa menoleh menatapnya.
"Ehm, Bambang sudah selesai?" tanya Pak Bayu dengan suara beratnya.
"Be, belum Pak," jawaban Bambang tergagap karena dia lupa kalau masih ada Pak Bayu di kelasnya.
"Arga sialan!" desis Bambang kala melihat Arga tertawa mengejek dirinya dari balik jendela.
TBC.
Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.
Makasih ya yang udah bersedia mampir.
Semoga suka sama ceritanya.
Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.
Happy reading, love you all.
__ADS_1