SENJA

SENJA
Calon Pesaing


__ADS_3

HAPPY READING


“Baik, perkenalkan nama saya Norma. Saya adalah warga yang disahkan dua tahun lalu. Setahun lebih dulu daripada Arga, pelatih kalian ini,” papar Norma dengan bangganya setelah Arga persilahkan untuk memulainya.


“Karena kalian sudah tahu nama saya, sekarang saya ingin tahu siapa nama kalian satu-persatu dan motivasi kalian ikut . Mulai dari kanan belakang,” lanjut Norma


Dan Dian yang duduk di belakang Senja pun segera tanggap.


“Nama saya Dian. Saya murid kelas tujuh. Motivasi saya ikut pencak silat adalah ingin menjadi manusia yang berbudi luhur tahu benar dan salah,” papar Dian.


“Dapat kalimat itu kapan? Setelah latihan apa sebelum latihan?” tanya Norma lagi.


“Setelah latihan Mbak,” jujur Dian.


“Nah, yang saya pengen tahu itu niat kalian sebelum memutuskan untuk ikut latihan,” jelas Norma akan maksudnya.


Dian nampak berfikir. “Saya ingin bisa bela diri Mbak,” ujarnya lagi.


“Buat apa, buat berantem? Biar jadi jagoan?” sarkas Norma


Arga memperingatkan agar Norma tak berlebihan.


“Oke, oke. Selanjutnya.” Norma mengikuti saran Aega sekarang.


Satu persatu mulai memperkenalkan diri, hingga akhirnya tiba giliran Senja.


“Nama saya Senja, motivasi…”


“Tunggu, tunggu,” potong Norma cepat. “Karena kamu satu-satunya siswa putri di sini, coba deh deketan sini…”


Senja sempat bimbang. Tapi Arga yang hendak ia mintai pertimbangan justru enggan menatapnya sekarang.


“Sini… kok pakai minta dibujuk sih. Manja bener…”


Ucapan Norma mulai tak enak didengar. Tapi aku harus sabar. Batin Arga


Senja menghela nafas. Perasaan dengan yang lain nggak gini-gini amat.


Meski ragu Senja perlahan melangkah.


“Klemar-klemer! Mana ada pendekar yang modelan gini!” bentak Norma dengan nada meninggi.

__ADS_1


Arga hanya mampu menghela nafas. Kesamber apa gadis ini. Ini yang aku takutkan.


“Siapa tadi nama kamu?” tanya Norma begitu Senja berdiri di dekatnya. Ia bahkan harus mendongak karena selain dasar Senjanya bongsor, Norma yang mungil melihatnya dari posisi duduk bersila.


“Senja Mbak,” jawab Senja berusaha tegas.


“Apa motivasi kamu ikut silat?” tanya Norma.


“Motivasi saya…”


“Biar bisa TP-TP? Kan banyak cowoknya,” sela Norma tanpa menunggu Senja menyelesaikan ucapannya.


Arga menepuk bahu Norma. “Ini materi kerohanian bukan tes mental,” lirih Arga mengingatkan kala Norma menoleh terhadapnya.


Norma enggan menjawab. Ia hanya mengisyaratkan bahwa ia paham.


Arga mengalah. Semoga saja Norma tak bertindak di luar batas kewajaran seperti yang aku khawatirkan.


“Kalau ditanya itu jawab!” bentak Norma dengan tangan terkepal dan mata melebar.


“Tidak Mbak,” jawab Senja lagi. Sebenarnya tadi ia sudah menjawab. Hanya saja karena Arga mengajak Norma bicara jadi gadis mungil ini tak mendengarnya.


Senja yang mulai tak karuan hanya dapat menghela nafas.  Ia takut tapi juga kesal di waktu yang sama. Mentalnya yang lembek benar-benar diuji saat ini.


“Tidak Mbak!!!” ulang Senja dengan keras. Terdengar bergetar, namun berusaha tegar.


Arga melihat ini. Dengan jelas ia tahu ini. Gadis kecil penakutnya kini sedang berusaha menjadi versi lain. Di satu sisi ia tak rela, namun ia juga tak bisa membela.


“Lha bisa gitu lo ngomong keras, tapi kok seperti terpaksa?”


Emang terpaksa beg.* Umpat Arga dalam hati, sementara Senja yang dikatai enggan menanggapi.


“Dan satu lagi. Kalau ada orang ngomong itu dilihat, bukan malah jelalatan ke sembarang arah,” ketus Norma seakan belum puas menekan Senja.


“Kamu kembali,” titah Arga tanpa minta persetujuan Norma. Ia bahkan membuang muka meski sadar Norma tengah mendelik terhadapnya.


Tanpa basa-basi Senja segera bergerak untuk kembali ke tempatnya. Mati-matian ia menahan, jangan sampai ada air yang keluarkan. Senja memang belum sekuat itu mentalnya. Ia bisa saja menangis kalau saja Arga tak segera menyelamatkannya.


Norma yang sebenarnya belum puas terpaksa harus menghentikan aksinya dengan segera. Bagaimana pun juga, ia adalah tamu yang tak bisa seenaknya. Ia datang karena penasaran, setelah tahu ada gadis yang masih bertahan untuk latihan sementara rekan seperjuangannya telah berguguran. Jika sampai akhir ia bertahan, dapat dipastikan Norma akan meredup sinarnya karena ada gadis selain ia dikomunitas yang didominasi para pria.


Norma membiarkan Arga mengambil kendali untuk menyampaikan materi kerohanian dan falafah-falsafah perguruan. Sementara Arga bicara, Norma sendiri masih terus fokus terhadap Senja. Ia penasaran kenapa gadis itu dengan mudah menumbangkannya padahal ia masih siswa tingkat pertama. Memang ia tak punya prestasi di arena laga, tapi seharusnya membereskan siswa yang baru beberapa bulan latihan bukan jadi persoalan untuknya.

__ADS_1


“Sudah merasa cukupkah istirahatnya?” tanya Arga.


“Sudah Mas!!” serempak para siswa.


“Sekarang berkumpul ke lapangan, Mbak Norma akan memberikan materi tambahan.”


Norma membulatkan mata. Ni Arga apaan sih. Seenaknya saja dia bicara. Konfirmasi kek dulu sebelumnya, jadi kan aku bisa siap-siap.


Untuk beberapa saat lamanya Norma diam di tampat. Ia bingung tak tahu materi apa yang bisa ia berikan. Jurus nggak ada yang hafal, teknik tanding jelas tadi saj kalah sama Senja, kuncian dia tidak bisa.


“Gimana ini,” gumam Norma yang saat tinggal Sendiri.


Arga sudah bergabung dengan yang lain, sementara siswa sudah kembali lagi ke lapangan untuk persiapan menerima materi.


Norma menatap sekeliling. Aku nggak boleh diam. Aku harus cari cara biar tidak memalukan.


“Hey, hey, Ga!!!” panggil Norma pada Arga.


Arga memelankan langkah saat terdengar namanya di teriakkan.


“Ga, nanti materinya apa?” tanya Norma basa-basi.


“Terserah. Kamu bisa cek materi mana yang mereka belum bisa. Kalau sudah semua bisa kamu tambah,” jelas Arga yang segera setelahnya melanjutkan langkah tanpa memperdulikan Norma.


“Tapi Ga… ahhh…”


Norma ingin menghilang rasanya sekarang. Ia latihan kurang dari setahun. Bahkan Arga yang sekarang menjadi juniornya sudah memulai latihan jauh sebelum ia.


Dalam latihan, norma sering kali main curang. Berlindung dibawah kata lemah perempuan dan mengikuti latihan dengan banyak keringanan.


Berawal dari mengidolakan alit pencak silat yang sering kali tampil di acara sekolah, Norma jadi nekat untuk berjuang menjadi bagian di dalam perguruan. Keberadaan perempuan dalam dunia persilatan sangatlah jarang. Untuk itu dia begitu senang karena selalu nampak bersinar saat berkumpul di event perguruan. Meski sang idola tak berhasil ia dapatkan, tapi dia populer dan menjadi incaran.


Dengan gemetar Norma berusalah melangkah ke depan. Mengambil posisi di antara puluhan siswa berbeda tingkat yang sadang latihan. Ia lupa akan Senja yang sejak tadi ia targetkan. Ia kini fokus kepada bagaimana caranya agar tidak melakukan tindakan yang memalukan. Norma tak mau rusak reputasinya. Terlebih di depan Senja yang mungkin saja akan menjadi pesaingnya kelak.


“Persiapan jurus 2…” ujar Norma memberi aba-aba.


Norma berusaha menjaga wibawa sambil memperhatikan barisan para siswa yang memasang kuda-kuda.


“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sikap!”


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2