SENJA

SENJA
Sakit


__ADS_3

Siang berganti petang, petang pun telah pergi berganti malam. Ada yang sedikit berbeda dengan Senja malam ini. Jika sedang belajar, biasanya Senja lebih suka membiarkan pintu kamarnya tertutup. Namun kini, pintu kamarnya dibiarkan terbuka begitu saja.


"Aya lagi ngapain?" tanya Arti saat melihat adiknya menggelar tikar di kamar dengan banyak kertas di atasnya.


"Lagi ada tugas nih Mbak," jawab Senja.


"Oh, ya udah deh lanjutin aja. Ini pintunya ditutup nggak?" tanya Arti.


"Nggak usah Mbak, biarin gitu aja," kata Senja.


"Oke," jawab Arti.


Senja pun kembali berkutat dengan kertas dan penggaris nya untuk mengerjakan tugas matematika dari gurunya. "Kok pusing ya, tulisan juga kayak begini," gumam Senja. "Istirahat bentar nggak apa-apa kali ya?" Senja kemudian merebahkan tubuhnya di atas tikar, berharap pusing di kepalanya juga akan segera menghilang.


"Ay, kamu kok tidur di bawah sih Nak," tegur Ibu pada Senja sambil membereskan kertas yang berantakan. "Ini juga kok nggak diberesin dulu sih." Ibu kemudian mendekat untuk membangunkan Senja agar anak bungsunya itu tidur di atas kasur. "Ya Alloh, panas," gumam Ibu.


Ibu kemudian berniat untuk mengangkat Senja, namun sepertinya tenaganya tak cukup kuat. Saat itu Atma tiba-tiba lewat didepan kamar Senja. "Cahaya kenapa Bu," tanya Atma saat melihat Sang Ibu tengah berusaha mengangkat tubuh adiknya.


"Ini loh, adikmu badannya kok panas, dibangunin juga nggak bangun-bangun. Bantuin Ibu angkat Aya ke atas kasur ya," pinta Ibu.


Atma kemudian membopong tubuh adiknya dan meletakkannya di atas tempat tidur. "Iya lho Bu kok panas ya? Perasaan tadi sore nggak apa-apa deh," kata Atma.


Ibu nampak berpikir sejenak. "Bisa tolong ambilin termometer nggak Nak."


"Bentar ya Bu," jawab Atma.


"Kamu kok tiba-tiba panas ini kenapa to Nak," lirih ibu sambil memasang selimut di tubuh Senja.


"Bu," kata Atma yang datang dan menyerahkan sebuah termometer digital kepada Ibunya.


"Makasih Nak ya."


"Ada yang perlu Atma bantu lagi nggak?"


"Kamu tadi kayaknya lagi repot deh kamu lanjutin aja, Ibu bisa kok," kata Ibu sambil mulai memasangkan termometer di ketiak Senja.


"Atma di ruang tv kalau Ibu butuh sesuatu," kata Atma.


Ibu hanya mengangguk dengan senyum. Merasa tidurnya terganggu, Senja kemudian menggeliat. "Bu."


"Diam dulu, kamu panas. Ini Ibu cek suhunya."


Senja mengangguk dengan mata terpejam. Sesekali ia merintih.


"Pusing ya?" tanya Ibu sambil mengelus surai Putri bungsunya.


"Meriang Bu," lirih Senja.

__ADS_1


"Tadi siang kayaknya kamu masih baik-baik saja Nak," kata Ibu sambil melihat termometer yang baru saja berbunyi.


"38 derajat," gumam Ibu sambil memperhatikan termometer digital di tangannya. "Ibu ambilkan dan Paracetamol bentar," lanjut Ibu kemudian.


Senja diam saja dan tidak bereaksi. Dia menarik selimut ke ujung kepalanya. Meskipun suhunya tinggi tapi kini dia tengah menggigil kedinginan.


"Nak diminum nih," kata Ibu yang datang sambil membawa 1 butir pil Paracetamol dan segelas air putih.


Senja mengangkat kepalanya dan segera meminumnya.


"Kamu tidur gih," kata Ibu kemudian.


Senja hanya mengangguk. Saat hendak memejamkan mata, dia merasa Ibu masih ada di sampingnya. "Bu..."


"Iya Nak, Ibu di sini," jawab Ibu.


"Ibu istirahat aja, Aya nggak apa-apa kok," kata Senja. "Beneran," kata Senja meyakinkan Ibunya.


"Nanti kalau butuh apa-apa panggil Ibu ya."


Senja mengangguk pasti.


Ibu pun akhirnya keluar meninggalkan Senja di kamarnya seorang diri. Entah karena pengaruh obat atau karena memang Senja sedang butuh istirahat, tak lama sesudahnya saja sudah berlayar ke alam mimpinya.


"Cahaya gimana Bu?" tanya Atma yang sedang berkutat dengan laptop dan setumpuk kertas nya.


"Kayaknya lagi di teras Bu sama Pak Edi," jawab Atma.


"Kamu lanjutin gih kerjanya," kata Ibu dengan senyum lembutnya.


"Ya Bu," jawab Atma kembali mengalihkan pandangannya pada tumpukan pekerjaannya.


Ibu beranjak ke dapur dan membuat 2 cangkir teh untuk suami dan tamunya. Tak lama kemudian Ibu sudah tiba di teras dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh. "Pak Edi sudah lama?" sapa Ibu sambil menyuguhkan teh yang dia bawa.


"Wah, Bu Ami kok repot-repot segala. Belum lama Bu."


"Cuma air anget kok. Silakan diminum." Ibu kemudian bergabung dengan duduk di samping Ayah.


"Cahaya kata Atma panas?" tanya Ayah.


"Iya tadi udah tak kasih obat terus sekarang anaknya tidur," terang Ibu.


"Cahaya sudah dibawa ke dokter?" tanya Pak Edi.


"Belum Pak, panasnya juga barusan. Lha wong tadi siang juga masih baik-baik saja," kata Ibu.


"Ovi juga lagi sakit ini, udah dua hari ini dia nggak sekolah," kata Pak Edi.

__ADS_1


"Ovi juga sakit Pak, sakit apa?" tanya Ibu.


"Radangnya kambuh Bu, biasa dia abis jajan sembarangan," kata pak Edi.


"Jangan-jangan Cahaya juga tipesnya kambuh, tadi siang kan pas tak suruh makan katanya sudah kenyang makan cilok," kata Ibu pada Ayah.


"Masa sih Bu cilok bisa bikin tipes kumat," kata Pak Edi.


"Ya nggak juga, tapi tingkat kebersihannya kan kita enggak bisa jamin Pak. Kalaupun bersih Aya itu suka banget pakai saus merah, nah sausnya itu kan kita nggak tahu gimana kualitasnya. Ibu sekarang jadi suka ngeri sama saos yang beredar di pasaran gara-gara ada acara investigasi di berita itu."


"Semoga Cahaya cuma kelelahan, bukan karena tipesnya kambuh. Kalau besok pagi masih panas kita langsung bawa ke dokter," kata Ayah.


"Ya Yah. Ibu masuk dulu ya mau coba ngecek Cahaya," kata Ibu. "Pak Edi maaf ya, saya tinggal ke belakang," pamit Ibu pada Pak Edi.


"Ya Bu Ami, silakan," kata Pak Edi.


Ibu pun berjalan memasuki rumahnya dan meninggalkan Sang Suami bersama Pak Edi di teras rumah. Ibu membuka pintu kamar Senja dengan, berharap putri bungsunya tidur dan tak terusik dengan kedatangannya.


"Penggarisnya, ini penggaris..." gumam Senja dalam tidurnya.


"Iya Nak, Ibu beresin Nak," kata Ibu sambil memegang dahi Senja untuk mengecek suhu tubuhnya. Ibu pun bergerak ke atas tikar di mana sebelumnya Senja tengah belajar. "Kok inisialnya AS?" lirih Ibu sambil membereskan satu set penggaris Senja. "Bukannya penggaris Cahaya inisialnya CS?" monolog Ibu seorang diri. Meskipun tengah dilanda penasaran, Ibu tetap melanjutkan aktifitas beres-beresnya. Tak mungkin rasanya saat ini dia membangunkan tidur Senja hanya untuk mengkonfirmasi terkait inisial yang yang berubah ini. Setelah selesai membereskan peralatan sekolah anaknya, Ibu kembali meninggalkan Senja seorang diri dan kembali untuk beristirahat di kamarnya.


Hingga akhirnya malam pun berganti pagi.


"Ya ampun, tugasku!" panik Senja saat dia terbangun pagi ini.


"Jam 4.30," gumamnya saat melihat jam di dinding kamarnya. Saat ini adzan subuh sedang berkumandang. Dia ingin segera bangkit dan mengambil air wudhu. Selanjutnya dia bertekad untuk menyelesaikan tugasnya. "Ya ampun, kok pusing sih," kata Senja sambil berjalan menyusuri tembok menuju kamar mandi di rumahnya.


"Ay, sudah baikan kamu?" tanya Ibu yang kini tengah memasak di dapur.


"Iya Bu, Aya mau ambil wudhu. Habis sholat Aya mau ngelanjutin tugas."


Setelah selesai wudhu, Senja duduk di meja makan sambil menuangkan segelas air putih untuk diminumnya saat itu juga. Dia kemudian berjalan ke kamar untuk segera melaksanakan salat subuh. Selesai melaksanakan salat subuh, badan Senja terasa makin lemas, bahkan tanpa melepas mukena akhirnya dia meringkuk di atas sajadah. Badannya terasa lemas, kepalanya terasa begitu berat, hingga tanpa terasa matanya pun ikut terpejam.


TBC.


Alhamdulillah, part ini selesai juga dear.


Yang udah mampir makasih banget ya.


Semoga pada suka.


Kritik dan saran sangat author harapkan.


Yang udah mampir jangan lupa tinggalkan jejak sebagai dukungan buat author.


Thank you so much, love you all.

__ADS_1


__ADS_2