
^^^Hai hai hai.^^^
^^^Makasih ya yang udah ngikutin Senja sampai di sini.^^^
^^^Happy reading.^^^
Dengan berat Senja menerima uluran tangan itu. "Aku Senja Kak..." Senja tak tahu harus berkata apa selanjutnya.
"Aku antar ke kelas." Arga menarik Senja hingga tangan yang berjabatan itu lepas.
"Eh mau kemana? Nggak mau nyambut aku gitu?!" Teriak Sita saat Arga pergi begitu saja dengan membawa Senja.
Wahyu menekan bahu Sita memaksanya untuk duduk. "Udah biarin. Kamu sini aja sama kita." Wahyu kembali melahap makanannya.
Sita beringsut mendekati Rivan. "Yayang Rivan apa kabar? Nggak kangen sama Sita?"
"Jangan deket-deket. Jaga jarak aman!" Rivan bergeser menjauh.
"Ih kamu nggak asik!" gerutu Sita. Dia kemudian meraih keripik singkong dan keripik talas yang sudah ditinggal pemiliknya. "Arga masih suka aja sama beginian." Sita kemudian menyuapkan keripik itu ke mulutnya.
"Iya, Arga masih suka beginian, tapi kamu nggak boleh masih nganggep Arga pacar kecil lagi!" ketus Rivan.
"Kenapa emang?" Sita ganti meraih keripik singkong milik Senja. "Apa karena gadis kecil yang punya keripik singkong ini?"
"Emm, aku nggak yakin, tapi mungkin iya," jawab Wahyu.
"Kok mungkin sih?" tanya Sita.
"Kamu dateng-dateng jangan bikin mumet dong!"
"Yayang Rivan kok gitu sih. Masa iya masa depannya Sita nyolotan..." Sita bergelayut manja di lengan Rivan.
"Udah dibilang jaga jarak masih ngeyel aja!" bentak Rivan.
Sita yang ceria mendadak muram dengan mata berkaca-kaca. "Maafin aku. Aku terlalu percaya diri kalau kamu bakal welcome kalau aku balik dan bareng-bareng sama kalian lagi. Maaf." Sita bangkit meninggalkan Rivan dan Wahyu begitu saja.
"Eh Van itu anak orang nangis Van!" Wahyu mencoba memperingatkan Rivan.
Rivan acuh dan kembali asik dengan makanannya.
"Et dah, punya temen 2 aja nggak ada yang bener. Satunya bucin satunya beg*."
"Siapa yang b*go?!"
"Sengerasanya aja."
"Siapa yang ngerasa be*o!?"
"Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang. Wahyu tampan mau balik dulu." Wahyu kemudian bangkit meninggalkan Rivan sendirian.
Rivan termenung, ia cukup terganggu dengan ucapan Wahyu barusan. Apa iya aku keterlaluan. Bukannya Sita yang keterlaluan, menganggap kami bertiga miliknya dan tak boleh dekat dengan cewek lain selain dirinya.
Sementara itu Arga kini telah tiba di depan kelas Senja. Karena bel belum berbunyi, dia memutuskan untuk mengajak ngobrol Senja di samping kelas.
"Tadi itu namanya Sita." Arga tiba-tiba berbicara pada Senja. "Kami kami berempat berteman dari kecil."
"Berempat?"
__ADS_1
Arga mengangguk. "Aku, Wahyu, Rivan, sama Sita. Gara-gara rumah Deket sih awalnya, kota selalu bareng-bareng sejak TK, SD, TPA barengan terus. Sampai kelas 1 SMP malah."
Senja diam memperhatikan Arga bercerita.
"Kelas VII semester 2 dia pindah ngikut Ayahnya di kota sebelah. Aku udah denger sih beberapa waktu yang lalu kalau ayahnya Sita mutasi dan balik ke kota ini, tapi Sita nggak nempatin rumahnya yang lama, jadi kita emang bener-bener baru ketemu hari ini."
"Terus?"
"Apanya?"
"Ceritanya Kak..." Senja geram karena saat ia bertanya serius Arga malah menanggapinya dengan canda.
"Ceritanya dulu pas masih kecil kita semacem bikin perjanjian kalau kita bakal bareng-bareng selamanya. Sita nggak boleh punya temen cowok selain kita dan kita nggak boleh punya cowok selain Sita."
"Teerruuuusss....!!!" Senja mulai geregetan karena Arga seperti mengulur-ulur ceritanya.
"Iihhh," Arga mencubit gemas hidung Sita. "Cakep banget kalau cemberut gini." Arga kini beralih mencubit kedua pipi Senja.
"Kak, mending nggak usah cerita daripada nanggung gini." Senja mewek tanpa ada niat untuk melepaskan diri dari Arga.
Arga merubah cubitan itu menjadi elusan lembut. "Makanya Sita seenaknya kayak tadi memperkenalkan diri." Arga tiba-tiba menyodorkan sebuah Choki-choki pada Senja.
"Waahhh, Kak Arga punya kantong ajaib ya, kok bisa tiba-tiba muncul ini," kata Senja sambil meraih coklat pasta dari tangan Arga.
"Iya, munculnya kalau sama kamu doang." Arga tersenyum melihat Senja yang langsung membuka bungkus Choki-choki di tangannya.
"Lanjutin Kak..." ucap Senja yang asik dengan coklat kesukaannya.
"Ogah!"
"Udah kayak radio dong, aku ngomong terus kamu cuma diem dengerin."
"Hehehe, iya ya. Terus berarti Kakak yang tadi murid baru dong sekarang?"
"Lebih tepatnya murid lama yang baru balik."
"Oh..." Senja menjawab dengan mengigit ujung Choki-choki di mulutnya.
"Kamu jadi ikut Pramuka?" tanya Arga.
"Sementara sih iya. Karena nggak sesibuk OSIS atau PMR deh kayaknya."
"Siapa bilang?"
"Emang enggak ya?" Senja mendadak bimbang.
"Dewan Galang, OSIS maupun PMR itu sama repotnya kalau udah ada event. Yang nggak sibuk tu pencak silat."
"Yah, promosi ternyata."
"Nggak juga," elak Arga.
"Terus itu apa?" tuding Senja.
"Ini dalam rangka rekruitment calon anggota baru. Siapa tahu turnamen yang akan datang bakal ada atlit putri yang mewakili sekolah ini. Peluang menangnya besar loh kalau tingkat kabupaten kota aja, soalnya masih jarang banget ada cewek yang terjun ke gelanggang."
"Iya kah?"
__ADS_1
"Iya."
"Latihannya berat nggak?"
"Emm, berat nggaknya kan relatif."
"Maksudnya Kak?"
"Ya tiap orang kan nggak sama kapasitas fisiknya, kemampuan juga gitu. Jadi tiap individu nggak sama." Arga kemudian menginstruksi Senja untuk mengikuti arah pandangnya.
Senja menoleh dan nampaklah Ucik, Ifa dan Ayu yang berjalan menuju kelas mereka.
"Panggil gih."
"Ha?!"
"Udah panggil aja."
"Hei sini." Panggil Senja saat ketiga kawannya hendak memasuki kelas.
"Nggak ah, nanti ganggu," jawab Ayu.
"Nggak ada pengganggu dan terganggu. Kalian sini aja," ucap Arga dengan santai.
Mendengar itu ketiganya urung memasuki kelas dan bergabung dengan Senja di sana.
"Ada apa Kak?" tanya Ayu.
"Nggak apa-apa, cuma mau minta maaf temennya aku pinjem tadi," ucap Arga dengan tersenyum menatap Senja.
Dan yang ditatap spontan menunduk malu dengan wajah memerah.
Ketiga sahabat Senja ini hanya saling sikut.
"Dah, aku balik dulu ya. Nitip dia, jangan sampai ilang." Arga bangkit setelahnya.
"Siap Kakak." Jawab Ayu antusias.
Arga kemudian melenggang menuju kelasnya. Saat hendak berbelok, tiba-tiba Arga begitu ingin menoleh dan menatap Senja di sana. Akhirnya dia berhenti dan menengok ke belakang. Tepat saat itu Senja tertangkap basah sedang memandang punggungnya yang bergera menjauh.
Spontan Senja berdiri dan berlari menuju kelasnya dengan memeluk satu set penggaris yang sebelumnya di bawa dari kelas Arga.
Arga meneruskan langkahnya setelah Senja hilang dari pandangannya.
Saat Ayu gencar menggoda Senja, Ifa justru sejak tadi diam tanpa kata.
Ucik sadar sejak tadi sahabat nya yang satu ini tampak berbeda. Ifa kenapa mendadak diam. Biasanya dia sama Ayu yang hobi berisik sana sini. "Fa, kamu kenapa?" tanya Ucik akhirnya.
Ifa hanya menatap Ucik dengan tatapan yang sulit diartikan.
TBC
Nah kan.
Udah author bilang, insyaallah nggak akan ada pelakor berkibar.
Tunggu part selanjutnya ya.
__ADS_1