SENJA

SENJA
Dua Lawan Satu


__ADS_3

^^^Masalah itu ada buat dihadapi nggak melulu dihindari.^^^


^^^Kejujuran dan niat tulus adalah kunci dan akan menjadi solusi.^^^


^^^-Happy reading-^^^


Atma bangkit dan buru-buru berjalan ke kamarnya. Tak lama kemudian ia keluar dengan membawa sebuah kertas besar berukuran A5 dan berdiri di depan ayah.


“Namanya sama.” Atma membandingkan kedua nama yang tertera pada lukisan yang ia pegang dan formulir pendaftaran yang berada di tangan ayah.


“Kamu kenal?” Tanya ayah yang belum juga menggoreskan tanda tangannya di sana.


Atma menggeleng.


“Itu kak Arga?” kata Senja tiba-tiba.


“Ha?!” serempak ayah, ibu dan Atma menoleh menatap Senja.


Sebenarnya Arti sama saja, namun tangan yang masih berada di depan mulut membuat suaranya tertahan tak ikut keluar seperti yang lainnya. Dia masih tak habis pikir ketika adik iparnya mengungkap dengan gamblang siapa sosok di balik nama Arbi Sumarga.


“Nggak nyangka ya anak itu multi talenta…” Atma memperlihatkan lukisan hasil karya Arga kepada semua yang ada di sana.


“Arga…,” Ayah tampak tengah mengingat sesuatu. ”Apa yang tempo hari mengantarkan Aya dengan ibunya?” Tanya ayah kepada Atma.


Atma mengangguk.


Arti tak paham dengan perubahan suaminya yang cukup tiba-tiba. Atma begitu santai saat membicarakan3 laki-laki yang berteman dengan Senja. Kemana arah pembicaraan mereka ini?


Sementara Senja dibuat dag dig dug karena terlalu banyak kejutan yang diterimanya akhir-akhir ini.


“Kenapa wajah kamu seperti itu Nak?” Tanya ibu yang sebenarnya juga cukup di kejutkan dengan perubahan sikap suami dan anak laki-lakinya ini.


“Aaaa, Aya cuma, emmm….” Aya takut kalau semua marah sama Aya. Arrgghh!!! Kenapa susah sekali ngomong begitu saja. Senja hanya mampu menumpahkan kesal dalam hati.


“Sini…” Atma memanggil Senja untuk duduk di sampingnya. “Kamu mikir apa sih Dik? Tadi mendadak girang, sekarang jadi kayak ngelihat setan. Emang setan mana yang udah bikin kamu takut?”


Setannya ada di samping aku mas. Batin Senja.


“Nih…” ayah menyerahkan formulir yang sudah ditanda tanganinya.


Agak ragu, namun Senja meraihnya.


“Ini mau disimpan juga?” Atma menyodorkan lukisan Arga pada Senja.


Senja menggeleng cepat.


“Hahahahaa….!!!!” Serempak ayah dan Atma tertawa. Ibu dan Arti juga tersenyum melihat Senja yang terlihat bingung saat diperlakukan demikian. Mereka tak mengerti apa yang tengah mereka tertawakan, namun setidaknya tak ada ketegangan dan tekanan yang diberikan pada Senja saat ini.


“Ay, sini,” panggil Arti.


Senja mendekat tanpa suara. Inginnya rasanya ia berbahagia karena ia tak lagi menjadi bulan-bulanan Atma, namun begitu aneh rasanya saat semua berlalu dengan mudah dan biasa saja.

__ADS_1


Perasaan yang tadi kepalanya kena pukul tu aku, tapi kok malah mas Atma sama ayah yang tingkahnya aneh, batin Senja.


Tiba-tiba Senja merasa ada benda manis dan berair yang bersarang ke dalam mulutnya. Ia kemudian menoleh menatap Arti yang tersenyum geli karena melihat mulut Senja yang penuh karena dijejali sepotong besar buah mangga oleh. Bukan hanya itu, ekspresi Senja yang masih terlihat kebingungan mengundang yang melihat untuk langsung tertawa.


***


“Kamu udah nyerah Ndra?” Tanya Tito yang kini tengah berlari bersama Indra di stadion.


“Entahlah Bang…”


“Lagian cewek lain masih banyak kok, nggak cuma si Senja.”


Indra tak menanggapi ucapan kakak kelasnya ini. Dia terus memacu langkahnya untuk berlari. Indra terus berlari meski peluh sudah membanjiri.


“Ndra, gue udahan dulu…!” Tito memelankan langkahnya saat berada tak jauh dari tempat ia memarkirkan motornya.


Indra terus berlari hingga ia tak tahu kapan akan berhenti.


“Gila tuh anak…” Tito meraih da segera membuka botol air mineral yang dibawanya. “Gila tuh anak. Lagian apa sih yang dia lihat dari Senja.”


Tanpa Tito sadari, seseorang sejak tadi telah memperhatikannya. Dan kini orang itu kini tengah berjalan ke arahnya.


Tito tersentak saat seseorang menepuk bahunya dari belakang. Dia menoleh dan mendapati sosok yang tinggi menjulang berdiri di sebelahnya.


“Elu Ga…”


“Iya, ini aku.” Arga kemudian ikut selonjoran di samping Tito.


“Ngapain kamu ke sini?” Tanya Tito yang masih tidak mengira Arga akan menghampirinya di sini.


“Kamu nggal terima soal tadi?” Tito yang mulai siaga jika sewaktu-waktu Arga menyerangnya.


Melihat Tito seperti itu, Arga justru merogoh kantong trainingnya dan melemparkan benda kecil yang diambil dari sana.


“Buat apa?” Tito kembali terkejut saat melihat permen karet yang baru di lempar Arga padanya.


“Buat kamu.”


“Tujuan kamu sebenarnya apa sih Ga?” Tito mulai tak sabar menghadapi Arga.


“Tujuan aku adalah ngajak sparring kamu…”


“Oke, nggak masalah.” Tito menerima begitu saja ajakan Arga yang baginya itu adalah sebuah tantangan. Namun sesungguhnya dia tengah ketar-ketir mengingat bagaimana babak belurnya ia saat menghadapi Arga dalam momen malam persami waktu itu.


Arga bangkit dan mengulurkan tangannya untuk membantu Tito berdiri.


“Nggak usah, aku bisa sendiri.” Tito bangkit dan hendak melangkah mendahului Arga. Namun sayang beribu sayang, Tito justru menginjak tali sepatunya yang lepas dan membuatnya harus rela mencium tanah.


Arga tertawa. Dia jadi ingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Senja. “Udah jangan gengsi.” Arga membantu Tito untuk bangkit segera.


“Ck…,”

__ADS_1


Mrrasa diremehkan, Tito segera melayangkan pukulan namun Arga dengan mudah bisa menghindarinya. Tangan kanan gagal, Tito menghantam Arga dengan tangan kirinya. Arga menangkisnya dari dalam menggunakan tangan kanannya dan langsung membalas pukulan dengan tangan kirinya.


Bugh!


Pukulan Arga tepat mengenai rahang Tito.


Saat itu juga Indra datang. Tangannya terkepal melihat Tito berkelahi dengan orang yang beberapa kali menjatuhkan harga dirinya di hadapan Senja.


Indra menarik bahu Arga dan melayangkan sebuah pukulan.


Bugh!


Arga meraba hidungnya yang berdarah karena serangan tiba-tiba dari Indra. Arga harus mundur beberapa langkah untuk menghindari serangan beruntun dari Tito dan Indra.


“Apa mau kamu, ha!” teriak Indra dengan terengah-engah dan tatapan penuh emosi.


Dada Arga naik turun. Bagaimanapun juga, ia belum sempat pemanasan dan berkelahi dua lawan satu seperti ini cukup melelahkan. Dia menggeleng, “aku hanya ingin mengajak Tito sparring, tak masalah bukan?” Arga masih berjuang mengatur nafasnya. Ia tahu bagaimana kondisi Indra terlebih pasca kedekatannya dengan Senja. Jadi sangat mungkin Indra akan kembali menyerangnya.


Tito menyadari kondisi Arga yang kurang menguntungkan, berbeda dengan dirinya yang Indra yang sudah dalam keadaan panas.


"Hallah, jangan banyak bac*t!”


Tak ingin membuang kesempatan untuk mengalahkan Arga, akhirnya Tito kembali merangsek untuk menyerang. Tito menyerang dengan jarak dekat. Dengan postur yang setinggi itu, ia yakin Arga akan kesulitan menghadapi serangan jarak dekat.


Sementara Tito menyerang dari depan, Indra menyerang dari samping dan coba melumpuhkan dari belakang.


“Mas, Mas, ada yang berantem…”


Seseorang yang tak sengaja lewat panik melihat ada seorang yang tengah dikeroyok oleh dua orang lainnya.


Atma menepikan motornya.


“Kak Arga.” Senja menutup mulutnya saat menyadari yang tengah di keroyok itu adalah Arga. Dia turun begitu saja dari motor dan hendak memisahkan mereka.


“Mau kemana kamu.” Atma menahan tubuh Senja.


“Itu kasihan Mas…” Senja merengek karena Atma menahannya.


“Kamu mau kena pukul lagi?”


“Ya setidaknya kak Arga nggak sendiri.”


“Ay, dalam silat itu kita nggak cuma diajari buat mukul, tapi juga bagaimana cara agar nggak kena pukul.”


“Maksud Mas?”


“Udah, kamu tunggu aja di sini, diem-diem, baik-baik.”


“Tapi Mas…”


“Udah…” potong Atma cepat.

__ADS_1


Senja menatap Arga dengan khawatir. Kak, kamu harus menang dan jangan sampai terluka.


TBC


__ADS_2