
^^^Second part hari ini.^^^
...*HAPPY READING*...
Senja terisak di dalam toilet. Mengapa saat ia mulai nyaman harus langsung berbalas kecewa.
“Kenapa? Mana bisa aku lanjut latihan? Sedangkan di sana selalu ada dia,” gumam Senja disela isaknya.
Senja menatap pantulan dirinya di dalam kaca. Kenapa aku harus dibuat melayang kalau kemudian dijatuhkan. Ini hanya membuatku terhempas semakin kencang.
Senja menyemburkan tangisnya. “Astagfirulloh…” gumamnya di tengah tangis.
Tok tok tok
Senja mendengar seseorang mengetuk pintu dari luar. Ia memejamkan mata berusaha acuh karena ia yakin Arga adalah orang yang sedang mengetuk pintu itu sekarang.
“Di dalam ada orang nggak, kok pintunya di tutup?”
Buru-buru Senja membasuh wajahnya karena yang barusan mengetuk pintu bukan Arga melainkan seorang perempuan yang belum ia tahu siapa.
Cklek!
Senja membuka pintu dan menemukan Sita bersama seorang siswi lainnya.
“Senja, kamu kenapa?” tanya Sita yang bepata kacaunya Senja.
“Abis cuci muka Kak. Aku permisi ya…” buru-buru Senja pergi dari sana sebelum Sita menyadari mata sembab dan hidung merahnya.
“Eh, tunggu!”
Senja pura-pura tak mendengar dan berusaha secepat mungkin pergi dari sana. Tepat saat ia tiba di tempat duduknya, bel pun berdering.
“Kamu kenapa?” tanya Ifa yang pertama menyadari ketidak beresan pada Senja.
Senja hanya mampu berusaha agar tak bertatapan langsung dengan teman-temannya.
“Nggak apa-apa,” ujar Senja dengan mengurai senyum terpaksanya.
“Yakin?” tanya Ifa lagi yang meragukan kejujuran Senja kali ini.
“Yakin. Tuh tuh tuh, Pak Fisika udah datang.”
Senja menunjuk guru pelajaran mereka yang tengah berjalan mendekat ke kelasnya. Memang kebiasaan buruk kebanyakan murid adalah mengganti nama guru mereka dengan mata pelajarang yag diampunya. Tak baik memang, tapi itulah faktanya.
Selepas salam, dimulailah pelajaran fisika di kelas VII f. Kelas berubah hening saat soal ulangan dadakan diberikan pada mereka. Semua fokus mengerjakan masing-masing soal dihadapannya.
Termasuk Senja. Dia berusa mengusir Arga beserta pasukan penggalau yang menyertainya. Ia harus fokus dan tak boleh hingga turun prestasinya.
Di sisi lain, Arga tengah terduduk lesu dengan bersandar tembok di bagian belakang kelasnya. Bel sudah berdering sejak tadi dan telinga normalnya juga dengan jelas mendengarnya. Namun kata-kata Rivan berhasil menghantamnya begitu kuat. Rasanya ia telah kalah telak. Kekalahan yang tak pernah dialaminya di gelanggang.
Flashback On setengah jam yang lalu.
__ADS_1
“Aya…!” Arga menahan Senja agar tak pergi darinya. Baru saja Arga menyatakan perasaan yang terbalas dengan indah oleh Senja namun Arga langsung mencekokkan kenyataan pahit bahwa mereka belum bisa bersama dan harus terlebih dahulu menahan rasa hingga batas waktu yang mereka sendiri tak tahu.
“Maaf Mas…” Senja menghempaskan tangan Arga dan segera meninggalkannya.
Arga hendak mengejar Senja sebelum seseorang menahannya.
“Ikut gue.”
Arga terbelalak tanpa kata. Ia terkejut dengan kemunculan Rivan yang tiba-tiba menyeretnya. Dengan tertatih ia berjalan mengikuti kemana Rivan membawanya.
Bugh!
Rivan menghempaskan tubuh Arga ke tembok belakang kelas keduanya.
Ssrrkk!
Tubuh Arga merosot hingga terduduk dengan punggung bergeseksn dengan tembok. Arga sama sekali tak melakukan perlawanan dan hanya diam tanpa ada niat mengubah posisi.
“Lu punya o*ak nggak sih! Lu udah hancurin Senja go**ok!”
Dada Rivan naik turun saking geramnya dengan kelakuan Arga.
“Ga, Senja itu masih mau masuk Ga, masih mau mulai latihan, kudunya lu mikir dong!”
Arga menatap kosong. Ia juga sadar betapa salahnya dia.
“Lu kan yang narik dia buat ikut latihan. Oke mungkin nggak secara langsung, tapi gue berani bertaruh, Senja ikut latihan karena ia nyaman sama elu, argh!”
Dugh!
“Van, aku sayang sama Senja…”
“Lu nggak sayang sama dia, lu cuma bikin sulit posisi dia.”
Rivan menyugar rambutnya.
“Abis ini, lu bisa lihat, apa Senja masih akan datang untuk latihan? Dan satu lagi, dia introvert Arga, masa lu nggak nyadar sih?”
Arga nampak berfikir. Senja memang tampak seperti ketakutan setiap kali tak sengaja bertemu dengannya pada masa awal perkenalan mereka. Dia lebih senang menyendiri dan hanya sesekali terlihat bersama dengan temannya.
Hingga akhirnya mereka selalu dipertemukan oleh takdir, dengan segala kejadian tanpa sebuah kesengajaan.
Arga yang biasanya tak begitu peduli dengan sekitar, merasa Senja begitu menarik dan membuatnya penasaran. Hingga tanpa ada orang yang tahu, ia pernah melakukan hal konyol hanya untuk sekedar tahu rumahnya.
***
Hari-hari berlalu dan kini bel pulang sekolah sudah berdering. Senja segera menuju kamar mandi setelah sebelumnya ia sudah melaksanakan sholat dzuhur.
Senja mengganti seragamnya dengan setelan training dan kaos panjang berwarna hitam. Selama 2 hari semenjak komunikasi terakhirnya dengan Arga, Senja berusaha menyingkirkan jauh-jauh nama itu dari fikirannya. Apa pun yang terjadi, ia harus fokus pada tujuan utamanya.
Dari jauh Senja melihat barisan manusia dengan pakaian serba hitam. Dia berlari karena tak mau terlambat di latihan pertamanya.
__ADS_1
Senja meletakkan tasnya di tepi lapangan dan segera bergabung ke dalam barisan.
“Sudah mulai ya?” tanya Senja pada sesama siswa yang ia lupa namanya. Dalam barisan ini hanya ada 3 siswa putri.
Sementara itu Arga baru muncul dari arah mushola dengan baju seragam mereka yang biasa di sebut sakral. Di tangannya ada selembar kain putih yang panjang.
Tak lama berselang Wahyu datang dengan baju yang sama namun bedanya ia mengenakan sabuk yang berwarna putih yang nampaknya merupakan kain putih panjang yang dikatakan di pinggang.
Arga menyerahkan satu ujung kainnya kepada Wahyu dan satu ujung lagi ia kenakan dipinggang, ia memutar tubuhnya dan mengikat kain yang semula ia pegang di pinggang sebelah kiri. Ternyata yang dijadikan sabuk oleh para warga adalah selembar kain putih yang panjangnya disesuaikan dengan tinggi badan yang punya.
“Apa semua sudah berkumpul?” tanya Arga pada Angga.
“Sudah Mas.”
“Yang putri hanya tiga?” tanya Arga setelah sekilas melihat ke barisan siswa.
“Iya Mas, yang lain sudah dipastikan mengundurkan diri.”
“Baik, perhatian semua. Silahkan membentuk dua baris lurus.”
Semua siswa mengikuti aba-aba Arga.
“Sebelum kita mulai latihan, mari kita berdoa agar diberikan kelancaran dan keselamatan oleh Allah SWT. Berdoa dimulai.”
Semua menangkup tangan di depan dada dan merapatkan ibu jari yang tertaut di depan ulu hati. Semua kemudian bermunajat dalam hati, memohon keselamatan pada Ilahi.
“Berdoa selesai.”
Semua melepaskan tangannya dan membiarkan bebas di samping badan.
“Silahkan semua siswa sabuk putih untuk maju dua langkah dan memimpin pemanasan.”
Semua siswa dengan sabuk kecil berwarna putih segera melaksanakan interupsi Arga, termasuk Indra, Tito dan Angga. Pemanasan pun dimulai.
“Rivan nggak ke sini?” tanya Arga pada Wahyu.
Wahyu menggidikkan bahu. Sepertinya dia lagi seleksi ODEGA.
“Lha kenapa elu di sini? Sebagai ketua Dewan Galang kamu kan kudunya ada di sana?”
“Di sana keberadaan aku nggak begitu di butuhkan, tapi kalau di sini sepertinya aku akan lebih berguna.”
“Ck, kamu pikir aku nggak bisa ngehandle mereka semua?”
“Dah lah, aku juga mau ikut pemanasan.”
Wahyu berjalan dan mengambil posisi di belakang barisan siswa polos yaitu Senja bersama sekitar 40 rekannya. Dengan ragu Arga juga berjalan dan mengikuti Wahyu. Namun ia tak ikut pemanasan, ia justru lebih memilih membantu adik-adiknya untuk membenahi gerakan.
Saat mengecek dari samping, tak sengaja pandangannya bertemu dengan Senja, namun Senja segera berpaling dan memperhatikan ke depan. Senja, apa aku boleh merasa rindu?
TBC
__ADS_1
Udah segini aja atau mau tambah part lagi?
Komen ya,🤗🤗🤗