
^^^Nunggu jadian ya....?^^^
^^^Xexexe^^^
^^^Spam komen dear, buat amunisi ngehalu.^^^
^^^-Happy reading-^^^
Arga POV
"Atma..."
Aku dan Pak Atma serempak menoleh. Boleh nggak sih kalau aku panggil Kak atau Mas kayak Senja. Ah jangan kejauhan, ngapain juga ikut-ikutan Senja.
Pak Bayu nampak menghampiri kami.
"Wah, saya harus belajar menyebut Pak di depan nama Anda."
"Ah, Pak Bayu jangan gitu."
"Bangga saya sama kamu. Meskipun kamu mampu di mata pelajaran lain, tapi kamu memilih seni rupa."
Aku tahu, memang Senja dan semua saudaranya berotak cerdas. Aku juga tahu kakaknya ini guru. Tapi aku tak mengira kalau seni rupa merupakan pelajaran yang diampunya di sekolah.
"Saya penggemar berat Bapak." Timpal Pak Atma.
"Ini tadi kok bisa sama Arga. Dan lengan kamu itu kenapa Ga?" tanya pak Bayu saat melihat lenganku terbalut kasa dan plaster.
"Tadi jatuh Pak. Nolongin adik saya." Pak Atma menjawab pertanyaan pak Bayu.
Aku hanya tersenyum karena pertanyaan untukku sudah di jawab.
"Adik? Adik kamu ada yang sekolah di sini?"
"Iya Pak."
"Oh iya, Arga. Tolong bawa ini ke kelas ya, saya masih ada perlu sama Bapak Atma." Pak Bayu menyerahkan sebuah buku kepadaku.
"Baik Pak. Saya permisi dulu." Aku kemudian pamit dan berjalan menuju kelasku.
Di persimpangan jalan, tiba-tiba kakiku berbelok menuju kelas Senja. Entah mengapa aku ingin sekali lewat di depan kelasnya. Untuk apa? Aku sendiri tak tahu.
Hingga tiba aku di depan kelas VII f. Ternyata tidak ada guru yang berada di dalamnya. Aku meneruskan langkah, karena tak mungkin aku menemuinya saat jam pelajaran seperti ini.
"Kak..."
Apa aku salah dengar? Apa mungkin Senja seberani itu untuk memanggilku. Saat logikaku berusaha menolak, justru langkah kakiku terhenti.
"Kak Arga."
Derap langkah terdengar kian mendekat saat aku mendengar sekali lagi namaku disebut. Akhirnya aku membalikkan badan. Gadis kecil itu tengah tersenyum dan berjalan mendekat ke arahku.
"Kak Arga nggak apa-apa?" senyum itu hilang terganti dengan gurat khawatir yang jelas dari sorot matanya.
"Nggak apa-apa, cuma gini doang." Aku memperlihatkan lenganku padanya.
"Maksudku, Mas Atma..."
Aku tersenyum menatapnya. "Tenang, aku nggak apa-apa."
"Mas Atma ngomong apa?"
"Emmm, banyak sih. Kamu pengen bolos untuk mendengar ceritaku?" tanyaku pada gadis manis ini.
"Ihh, ya nggak lah." Raut kesal kini menghiasi wajah manisnya.
"Ya udah, aku ke kelas dulu."
Aku berbalik dan berjalan meninggalkan Senja.
"Kak..."
Aku menoleh saat ia memanggil namaku sekali lagi.
__ADS_1
"Ekskul Kakak masih nerima pendaftaran anggota baru nggak?"
Aku mengernyit. "Iya." Aku menjawab singkat.
"Aku mau join."
Kedua sudut bibirku tertarik seketika.
"Aku jemput kamu setelah jam ke dua berakhir."
"Di mana?"
"Di sini."
Tanpa menunggu jawaban, aku segera berbalik dan berlari kencang menuju kelasku. Tubuhku terasa ringan seakan baru saja mendapatkan power tambahan.
"Si*l!" aku mengumpat saat senyum ini tak juga pudar, padahal sedikit lagi aku tiba di kelas. Aku yang kurang suka tersenyum akan membuat semua teman-temanku heran jika senyum ini tak juga hilang.
Arga POV End
Atma berjalan beriringan dengan pak Bayu menuju Ruang seni. Tak ada ruang khusus seni rupa di sekolah ini, adanya hanya satu ruang untuk semua jenis kesenian yang diajarkan.
"Bagaimana persiapan sekolah kamu untuk seleksi bulan depan?" tanya pak Bayu.
"Sejauh ini aman Pak," jawab Atma.
"Wah, pamor saya bisa turun ini kalau perwakilan sekolah kamu yang menang."
"Jangan gitu dong Pak, saya jadi sungkan ini."
Pak Bayu menepuk pundak Atma. "Siapa pun yang terpilih, itu adalah yang terbaik."
Pak Bayu menunjukkan beberapa lukisan hasil karya anak SMP 1. Atma mengamati dengan seksama. Di sana ada satu lukisan yang begitu menarik perhatiannya. Dia mendekat dan mencoba mengamatinya.
"Bagaimana pendapat kamu tentang lukisan ini?"
Atma terkejut karena pak Bayu tiba-tiba berdiri di sampingnya. "Emm, saya merasa ada luka dan kesepian yang tersirat dalam lukisan ini Pak."
Atma mengangguk-angguk. "Berbakat sekali anak ini sepertinya."
"Tidak juga. Tapi saya akui, ini adalah karya terbaiknya selama saya mengajar. Biasanya dia menggambar ya menggambar saja, tapi tak pernah sebagus ini."
"Dia bakal ikut seleksi kah Pak?"
"Sayangnya tidak. Dia sudah kelas 3 dan dia juga sedang ada persiapan pada bidang lain untuk mewakili sekolah ini di tingkat kabupaten kota."
"Sayang ya." Atma mengamati lagi lukisan di hadapannya. Seorang gadis duduk seorang diri di bawah pohon. Dihadapannya terhampar padang rumput. Dia menatap jauh ke depan tanpa ada objek yang menjadi pusat perhatian.
"Kamu suka?" tanya pak Bayu.
"Saya sangat tertarik Pak."
"Nanti bisa kamu bawa pulang." Pak Bayu tiba-tiba meraih ponsel di sakunya. "Sebentar ada telfon." Setelah meminta izin, pak Bayu sedikit menjauh untuk menerima o{panggilan.
Atma melihat ada tulisan di bagian pojok. "Arbi Sumarga, boleh juga lukisan kamu."
Dua jam pelajaran berlalu.
"Kok aneh ya jam segini pulang." Celetuk Ayu saat semua sedang membereskan alat sekolahnya.
"Makanya jangan pulang. Gabung sama ekskul matematika yuk," ajak Ucik.
"Ogah Cik. PR dari pak Umar aja udah bikin mumet pake mau nambah ekskul," timpal Ifa.
"Ikut yang lain aja, kayak silat misalnya," sambung Senja.
"Gile, makin ogah. Bisa remuk badan aku. Lagian kamu ya, ngasih idenya aneh-aneh."
"Nggak aneh kali Fa, ini kan ada di sekolah."
"Oh iya, seingatku kan...."
"Eh, aku duluan. Ada yang mau ikut?ppp" Senja bangkit tiba-tiba tanpa menunggu Ayu menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
Ketiganya kompak menggeleng.
"Ya, udah aku duluan." Senja pergi begitu saja meninggalkan ketiga kawannya.
"Eladalah, baru juga mau bilang, orangnya udah datang."
"Bilang apa?" tanya Ifa penasaran.
"Bilang kalau Kak Arga ketua di ekskul pencak silat."
Ifa dan Ucik kemudian berdiri untuk melihat Senja yang mungkin saja belum jauh dari jelas. Dan benar, di depan kelas ada Senja yang menghampiri Arga.
"Iya..." serempak Ucik dan Ifa.
"Dah lah, aku ikut kamu aja Cik." Putus Ayu akhirnya.
"Ikut apa Yu?"
"Ikut ekskul kamu."
"Aku juga deh," imbuh Ifa.
Mereka bertiga berjalan menuju kelas yang digunakan sebagai kelas ekskul matematika.
Sementara itu Senja kini tengah berjalan mengikuti Arga.
"Kak, jangan lewat ruang seni bisa?"
"Kenapa emangnya?" tanya Arga.
"Emm, Mas Atma di sana," gumam Senja lirih hingga Arga nyaris tak mendengarnya.
"Mas kamu di sana?"
Senja mengangguk.
"Jalannya muter, nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa Kak."
Mereka berjalan beriringan melewati area kelas VIII dan IX.
Ada rasa takut yang tiba-tiba hinggap di hati Senja dan Arga menyadarinya. Sebentar lagi keduanya akan lewat depan kelas IX a sampai e yang kemudian disusul kelas VIII a sampai e juga.
"Kamu pengen lewat belakang kelas VIII?"
Senja mendongak menatap Arga.
"Tapi di pojok sana tempat ngumpul Tito dan gengnya. Kadang Indra juga di sana."
Arga menjelaskan semua seakan tahu apa yang Senja khawatirkan.
"Dan aku nggak tahu, sekarang mereka sudah ngumpul di sana atau masih pada di kelasnya masing-masing," lanjut Arga.
"Sama aja intinya ya Kak?"
Arga mengangguk.
Senja mendadak ragu. Tiba-tiba Arga mengulurkan tangannya.
"Butuh pegangan biar nggak jatuh? "
Sempat ragu namun Senja akhirnya menerima uluran tangan itu.
"Jangan takut ya...." Arga mengeratkan genggamannya.
Senja tersenyum dan keduanya melangkah bersama.
TBC
Penasaran ya.....🤗🤗🤗🤗
Say something dear.
__ADS_1