SENJA

SENJA
Main Kalem


__ADS_3

^^^Ada yang nanya :^^^


^^^-Senja itu author ya?^^^


^^^Bukan, 😁^^^


^^^-Senja itu kisah pribadi author ya?^^^


^^^Maunya sih iya, tapi sayang bukan, 🤭^^^


^^^-Tulisannya ringan tapi berasa nyata, diangkat dari kisah ya?^^^


^^^Iya, tapi nggak semua. ^^^


^^^Itu adalah pertanyaan yang paling berkesan buat author. Makasih banyak *support***nya**. ^^^


^^^-Happy reading-^^^


“Senja, nanti istirahat ke sekretariat kan?” tanya Dian yang menjadi satu-satunya teman Senja di kelas ini yang mengikuti ekstrakurikuler pencak silat.


Senja mendongak. “Iya…” jawab Senja dengan senyum khasnya.


“Barengan ya…”


“Oke,” jawab Senja.


Sekarang pelajaran tengah berlangsung, sehingga Dian tidak bisa berlama-lama mengobrol dengan Senja.


“Yakin nanti kamu mau bareng Dian?” tanya Ifa pada Senja ditengah kesibukan mereka mengerjakan tugas.


Senja mengangguk.


“Kak Arga emang nggak jemput kamu?”


Senja meletakkan pulpennya dan menatap Ifa. Namun tak lama karena ia segera kembali fokus dengan kertas di hadapannya. “Entahlah…”


“Kamu kok gitu…?”


“Gitu gimana sih? Udah lah, cepet kerjain tugas kamu?” Senja berusaha mengusir Arga dari pikirannya, pasalnya sampai sekarang ia belum memiliki kontaknya sama sekali. Yang mengabarkan bahwa hari ini calon anggota baru berkumpul pun bukan Arga melainkan Angga. Terakhir bertemu pulang sekolah kemaren dan sampai sekarang belum ada komunikasi sama sekali. Aku juga berharap kamu jemput aku dan kita bisa jalan bareng ke sekretariat Mas.


Bel istirahat pun berdering. Setelah sempat meminum air dari botol yang ia bawa dari rumah, Senja berjalan menuju sekertariat pencak silat dengan jargon persaudaraan bersimbol bunga teratai itu bersama Dian. Dian adalah teman sekelas Senja yang saat seleksi masuk berada pada urutan pertama dengan nilai nyaris sempurna. Namun entah mengapa selama 3 bulan berjalan, prestasinya kian tenggelam bahkan tak termasuk ke dalam jajaran siswa yang prestasinya diperhitungkan.


“Orang tua kamu ngizinin kamu ikut beginian?” tanya Dian.


Senja mengangguk. “Kalau nggak diizinin mana mungkin aku bisa daftar, kan di formulir pendaftaran kudu ada tanda tangan persetujuan orang tua.”

__ADS_1


“Oh iya ya…” Dian menggaruk kepalanya yang tertutup topi biru khas anak SMP. Jangan salah, Dian ini adalah anak laki-laki. Berbadan kurus dengan tinggi hanya setelinga Senja.


“Masih sepi…” gumam Senja saat mereka hampir tiba di sekertariat.


“Kita nunggu di serambi masjid aja apa langsung masuk?” tanya Dian.


“Langsung masuk aja kali ya, tuh pintunya udah di buka…” usul Senja.


Keduanya pun akhirnya berjalan memasuki sekertariat.


“Assalamualaikum…” ucap Dian dan Senja di depan pintu. Di sana sudah ada Angga yang sedang menyiapkan daftar hadir dan Arga yang tampak sibuk dengan berbagai berkas di balik layak komputer.


“Wa’alaikum salam.” Serempak Angga bersama semua yang ada di sana.


Arga sempat melirik kedatangan Senja, namun ia kembali sibuk dengan kegiatannya sendiri.


Sedikit kecewa dengan perubahan Arga yang tiba-tiba, namun Senja berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia ke sini bukan semata untuk Arga.


“Isi ini dulu ya Dik…” Angga menyodorkan daftar hadir kepada Senja dan Dian.


Dian yang kebetulan lebih dekat dengan Angga segera menerima uluran kertas itu. “Terimakasih Mas.”


“Sama-sama…” jawab Angga dengan ramah.


Dian segera mengisi identitas sesuai kolom yang ada kemudian segera menyerahkan pada Senja. Setelah Senja selesai mengisi, ia segera memberikan kertas itu pada calon anggota lain di sebelahnya. Begitu seterusnya hingga 15 menit berlalu dan ruangan yang semula sepi pun terasa penuh.


Arga menyapukan pandangannya pada semua orang yang ada di sana. Sempat pandangannya berhenti sejenak pada Senja namun melewatinya tanpa menyapa. Senja menyadari itu, namun ia tak berani bersuara apa lagi melayangkan protes padanya.


“Kita ke lapangan aja, sekalian pemanasan…” Arga berjalan keluar tanpa menunggu persetujuan dari siapa pun, karena saat ini dialah yang mengambil keputusan.


Semua bangkit mengikuti Arga termasuk Senja. Mereka duduk melingkar di lapangan utara, karena yang selatan sedang dipakai main bola.


“Baiklah, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…” Arga menyapa semua yang ada di sana. Ia duduk bersila di sebelah barat dengan jajaran pengurus yang bisa hadir pada momen ini.


“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh…” serempak semua yang ada di sana.


“Apa saya perlu memperkenalkan diri?” tanya Arga setelah salamnya dijawab oleh semua yang ada di sana.


“Perlu Kak,” jawab seorang calon anggota perempuan yang jika dilihat dari betnya dia sudah kelas VIII.


“Nama saya Arga, saya adalah ketua organisasi ini. Pertama, di sini panggilan untuk anggota yang sudah disahkan adalah Mas dan Mbak, sedangkan bagi anggota yang belum disahkan akan dipanggil Dik berapapun usia kalian. Mengerti?”


“Mengerti…!”


“Salam persaudaraan.” Arga menangkupkan tangannya di depan dada.

__ADS_1


“Salam persaudaraan,” jawab beberapa orang di sana dengan tangan tertangkup di dada seperti yang Arga lakukan.


Arga tersenyum menatap para calon anggota baru yang masih bingung dengan tradisi dalam organisasinya. “Jadi kalau ada yang bilang salam persaudaraan, jawabnya salam persaudaraan juga ya…” terang Arga lengkap dengan tangan tertangkup di dada.


“Iya Kak…”


Kembali Arga tersenyum, “Sekali lagi saya ingatkan, panggilnya Mas ya…”


Senja hanya mampu mendengus. Kenapa harus senyam senyum kaya gitu sih? Geram Senja dalam hati karena sekarang Arga nampak beberapa kali tersenyum padahal tadi tak sekalipun menyapanya.


“Latihan perdana insya’allah kita laksanakan minggu ini. Jadwal latihan kita seminggu tiga kali. Selama ini latihan dilakukan pada malam hari kecuali ada event khusus akan dilakukan pagi hari hingga selesai. Karena tahun ini Alhamdulillah ada calon anggota putri, untuk latihan sepakatnya gimana? Apa dari pihak orang tua ada yang memberikan syarat khusus. Jika ada, sebisa mungkin akan kami kondisikan.”


“Saya ngikut aja Mas, yang penting Mas-masnya ada yang nganterin kalau pulangnya malam.”


Ada rasa tak senang di hati Senja saat kakak kelasnya ini kembali melakukan komunikasi dengan Arga. Yang baru berbicara barusan adalah Asti. Senja sekilas melihat namanya saat ia mengisi daftar hadir tadi.


Arga menyapukan pandangannya pada para calon peserta putri. Karena dari 6 pendaftar, hanya ada 4 yang hadir dan itu termasuk Senja. Senja, kenapa kamu diam saja? Batin Arga saat melihat Senja menunduk tanpa suara.


“Baiklah, bagaimana kalau kita putuskan latihan dilakukan setiap hari Selasa dan Kamis sepulang sekolah. Untuk hari yang ketiga enaknya sabtu siang saat jam ekskul atau minggu pagi?”


“Sabtu aja Mas, Minggunya biar bisa jalan-jalan.” Kembali Asti bersuara. Sepertinya niat sekali ia menarik perhatian Arga.


Arga menghela nafas. Entah mengapa ia merasa cemas saat Senja sama sekali tak bersuara. Tak mungkin aku langsung bertanya padanya. Bagaimanapun juga aku tak boleh menunjukkan kedekatanku dengannya. Aku takut nantinya aku disangka pilih-pilih dalam melatih. Arga diam sejenak. Ia harus cepat memutar otak agar menemukan cara untuk menanyai Senja.


Ide muncul saat Arga melihat daftar hadir yang kini dipegang Angga. “Angga, bisa pinjam daftar hadirnya.”


Tanpa menjawab, Angga langsung menyerahkan apa yang Arga minta. “Asti Widia, Yunia Arsita, Rahma Dina…”


“Ya Mas…” jawab ketiganya sambil mengangkat tangan.


“Rumah kalian daerah sini kan?”


“Iya Mas…” ketiganya lagi-lagi serempak menjawab.


“Jadi tak ada masalah kan untuk jadwal?”


“Tidak Mas…” jawab ketiganya.


“Yang terakhir Cahaya Senja….”


Merasa namanya dipanggil, Senja perlahan mengangkat wajahnya. “Iya Mas…”


Tito yang juga di sana menyenggol bahu Indra yang kebetulan duduk di sampingnya. “Kalem banget mainnya Arga, sejauh ini aku salut sama dia,” lirih Tito di dekat telinga Indra.


Indra hanya mengangguk dan kembali memperhatikan Arga.

__ADS_1


TBC


__ADS_2