
Mobil sudah memasuki perumahan mewah dimana rumah Langit berdiri. Sky dan Sora masih dibuat kagum dengan rumah-rumah besar yang mereka lewati.
"Rumahnya besar-besar ya Sky?" Ucap Sora.
"Iya. Rumah papa pasti besar juga." Sahut Sky, "Rumah Papa dimana?" tanya Sky.
"Rumah Papa masih dibelakang sendiri sana sayang." jawab Langit.
Sky dan Sora diam dan saling memandang.
"Sky, kalau di perumahan kita kan rumah yang dibelakang sendiri itu rumah kecil-kecil ya. Pasti rumah papa gak sebesar rumah-rumah tadi." Bisik Sora di telinga Sky, namun cukup bisa didengar orang satu mobil.
"Soraaaaa." Senja menoleh ke belakang mengingatkan anaknya.
"Hehe, maaf Ma." Sora tersenyum lebar.
Laju mobil mulai mulai melambat di depan sebuah gerbang yang besar. Dua orang satpam terlihat membuka pintu gerbang.
"Woaaaaaaah"
Sky dan Sora menganga kagum melihat bangunan putih besar yang telihat di ujung halaman, dengan sebuah kolam air mancur ditengah halaman rumah.
Mobil berjalan menyusuri tepian kolam air mancur dan berhenti tepat di depan teras pintu utama.
Terlihat Hengky, Enna, Ella dan beberapa asiste. rumah tangga berjajar menyambut kedatangan mereka.
"Kita sudah sampai sayang." Kata Langit, ia melihat anaknya yang masih menganga.
"Sky, Sora. Ayo turun." Ajak Senja yang sudah turun lebih dulu.
Langit membiarkan anak-anaknya keluar lebih dulu, barulah ia menyusul ke belakang.
"Sky!! Sora!! "
Enna berlari menghampiri Sky dan Sora, bergantian memeluk mereka.
"Tante Enna..." Sora terlihat senang melihat Enna.
"Hei, Sky. Kamu gak senang lihat tante disini?" Tanya Enna.
Sky melirik sinis, "Sedikit."
"Kalian kenal dengannya?" Tanya Langit ke anak-anaknya.
"Iya, Pah. Tante Enna serkng ke Malang bawain kami Mainan." Jawab Sora yang masih dipelukan Enna.
Langit mengernyit kesal dan hanya mendapat balasan senyum lebar dari Enna.
"Dia berisik sekali, Pa." Kata Sky.
"Iya, Papa juga tahu itu."
Senja menatap penuh ancaman ke Langit dan Sky, membuat mereka mengalihkan pandangan dan pura-pura tidak tahu.
Senja mengajak Sky dan Sora berkenalan dengan yang lainnya.
"Ini Om Hengky, sayang. Suaminya tante Enna." Senja mengenalkan Hengky.
"Hallo." Hengky tersenyum dan melambaikan tangannya.
Sora mengulurkan tangannya dan Hengky menyambutnya. Sora mencium tangan Hengky dan Sky mengikutinya.
"Wah, kamu mirip banget sama papamu waktu kecil." Hengky mencubit pelan pipi Sky.
"Jangan lakukan itu, aku bukan anak kecil tau." protes Sky.
"Hah!! Sifat buruknya nurun juga!!" Ucap Hengky disambut tawa yang lainnya.
__ADS_1
"Namanya juga anak gue!!" Protes Langit.
"Ini Bu Ella sayang, Bu Ella disini sebagai kepala Asisten rumah tangga di rumah ini." Senja mengenalkan Ella.
Sky dan Sora juga mencium tangan Ella, mereka tersenyum ramah mengingat Ella seusia nenek mereka.
"Hallo nek Ella. Aku Sora dan ini saudaraku Sky." Sora memperkenalkan dirinya dan Sky.
"Aku bisa memperkenalkan diriku sendiri, kau sedang meniruku??" Protes Sky.
Sora hanya menjulurkan lidahnya mengejek Sky.
"Selamat datang tuan muda Sky dan nona muda Sora" Ucap Ella ramah.
Sky dan Sora tertawa mendengar Ella memanggil mereka tuan dan nona muda.
"Itu aneh di telingaku." Ucap Sky geli.
"Aku merasa seperti Putri, Sky. Panggil aku putri Sora" Sora berlagak seperti putri.
"Baik, putri Sora." Ella menuruti Sora
"Tidak-tidak, aku hanya bercanda nek." Sora malu dan bersembunyi di balik Langit, membuat yang lain tertawa.
"Panggil saja mereka Sky dan Sora, Bu Ella." Kata Senja.
"Maaf, Nona. Itu terlalu lancang untuk kami. Kami akan tetap memanggilnya seperti yang seharusnya." kata Ella.
Senja hanya tersenyum.
"Kami sudah menyiapkan makan siang di meja makan." Ella mempersilahkan semuanya untuk masuk.
"Makasih ya, Bu Ella." Ucap Senja.
Semuanya beranjak masuk ke dalam dan langsung menuju ke meja makan.
Sajian beraneka ragam makanan sudah tertata rapi di meja makan, semuanya duduk dan mulai menyantap.
Langit terlihat sangat senang melihat meja makan yang selama ini sepi, kini akan terus ramai dengan hadirnya Sky dan Sora.
Usai menyantap makan siang mereka, Semuanya berkumpul di gazebo taman belakang rumah.
Sky dan Sora sedang asyik bermain air, sedangkan orang dewasa asyik mengobrol di gazebo.
"Papa!!" Sora menghampiri Langit.
"Ya, sayang?"
"Kenapa dua orang tante itu selalu mengikutiku dan Sky?" Sora menunjuk Zia dan Kartika yang bediri tak jauh dari Sky bermain air.
"Ah, Iya. Mama belum kenalkan ke kalian. " Senja melupakan sesuatu. "Zia, Tika!! Tolong kemari sebentar. Sky sini juga sayang."
Sky berlari mendahului Zia dan Kartika.
"Kenapa, Ma?" Tanya Sky.
"Kak Zia dan Kak Kartika ini nanti yang akan selalu jaga Sky dan Sora. Jadi Kak Zia dan Kak Kartika akan selalu jaga kalian jika ada diluar rumah."
Sky dan Sora menatap Zia dan Kartika.
"ke sekolah juga?" tanya Sora.
"Iya, sayang." Jawab Senja.
"Tapi Sora maunya mama yang anter." Pinta Sora.
"Iya donk, mama tetep yang anter dan jemput kalian. Kak Zia dan Kak Kartika cum jagain aja selama kalian sekolah. Oke?"
__ADS_1
"Oookeee" Sky dan Sora mengangguk saja walau sebenarnya masih bingung.
"Kalian boleh main lagi." pinta Senja.
Sky dan Sora pergi lagi ke tepi kolam renang untuk bermain air.
"Gue geli banget denger Sky panggil Lo 'Papa', Lang." Kata Hengky
"Gak nyangka ya, Bayi lo satu ini udah punya anak. Padahal dianya sendiri masih diurusin." Tambah Marko.
"Iri kan kalian ama gue? makanya cepet punya anak." Balas Langit, "Terutama Lo!! Cari bini sana!!" Langit menendang kaki Marko.
"Iya nih, Pak Marko udah dikasih kenalan siapa aja gak ada yang cocok." timpal Enna.
"Jangan-jangan, Lo udah gak doyan cewek ya?" goda Langit.
"Dideketin sama anaknya bos batu bara juga gak mau dia." Tambah Hengky.
"Enak aja. Gue cuma lagi fokus ke kerjaan aja. Gak sempet mikirin gituan." Balas Marko.
Jawaban Marko hanya mendapat cibiran dari teman-temannya.
"Kalo yang itu?" Senja menatap Zia yang sedari tadi saling mencuri pandang dengan Marko.
Marko dan lainnya melihat ke arah Zia dan Kartika.
"Udah berapa lama mas?" Goda Senja.
"Apa-an sih, Nja?" Marko terlihat salah tingkah.
"Lo serius, Ko?" Langit melihat gelagat Marko yang mencurigakan.
"Gila!! Bener-bener gila!!" Hengky terlihat tidak terima temannya menyembunyikan sesuatu darinya.
"Emangnya kalian mikir apa sih!?" Wajah Marko terlihat merah.
"Aku panggil Zia, Ya?" Tanya Senja.
"Jangan-jangan, nanti dia malu."
Jawaban Marko membuat semua terkejut.
"Jadi, beneran Ko?" Tanya Langit dan Hengky berbarengan.
"Iya Iya, gue ngaku!! Gue punya hubungan dengan Zia." Marko tersipu malu mengakui hubungannya dengan Zia.
"Gila lo baru ngasih tahu!!" Teriak Hengky, Langsung membuat Marko menutup mulut Hengky.
"Sejak kapan!!" Tanya Langit.
Marko diam, berfikir Sejenak. "Lima tahunan kayanya."
Jawaban Marko membuatnya mendapat beberapa pukulan dari Langit dan Hengky. Senja dan Enna buru-buru menarik suami mereka agar tidak lebih menyakiti Marko.
"Brengsek banget nih orang!!" Maki Langit.
"Ngapain lo tega banget nyembunyiin ini dari kita." Tanya Hengky.
"Dia yang minta gaes. Gue nurut aja sama dia." jawab Marko.
"Setidaknya gue seneng, dengan gini gue jadi tahu kalo lo manusia normal." Langit menepuk-nepuk punggung Marko.
"Dari dulu gue normal kali." Ucap Marko di sambut tawa riang teman-temannya.
Siang itu menjadi sangat menyenangkan ketika satu rahasia terbongkar lagi.
-Bersambung-
__ADS_1