
^^^Masa remaja kalian gimana dear?^^^
^^^Penuh kekangan atau kebebasan?^^^
^^^-Happy reading-^^^
"Mas..." Senja terkejut melihat Atma yang tiba-tiba muncul di ruang UKS.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Atma khawatir.
"Nggak Mas, cuma ini." Senja menunjukkan sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.
Sita bangkit dan mempersilahkan Atma untuk duduk di tempatnya.
"Terimakasih," ucap Atma saat Sita membungkuk melewatinya.
"Ada yang pengen kamu ceritain sama Mas?"
Senja menunduk dan diam.
"Mas nggak akan marahi kamu."
Senja mendongak mencoba menatap wajah kakaknya.
Atma mengelus puncak kepala Senja seolah berkata semua akan baik-baik saja.
"Senja beberapa kali di bully Mas."
Atma tak mampu lagi menutupi keterkejutannya. Namun ia masih berusaha diam agar adiknya tak takut bercerita.
"Dan hampir selalu Kak Arga yang nolongin?"
"Kamu pacaran?" Pertanyaan itu lolos begitu saja tanpa mampu Atma tahan.
Senja menggeleng cepat. "Yang menyukaiku adalah yang tadi memukulku?"
Atma menatap adiknya seolah tak percaya.
"Terserah Mas percaya apa enggak, yang sebenarnya terjadi adalah Kak Arga ada karena tahu aku tak mungkin pacaran dengan Indra." Mata Senja berkaca-kaca dan ia segera menunduk untuk menyembunyikannya.
Sita menelan ludah melihat kakak beradik di hadapannya. Pantas saja Arga sama Senja cuma jalan di tempat, lha wong kakaknya aja galak kayak gini, terus gimana bapaknya?
"Apa keinginan kamu semalam ada hubungannya dengan hal ini?" tanya Atma.
"Tidak juga Mas, keinginanku pure karena aku tak ingin dianggap hanya meneruskan apa yang Mas Atma dan mas Anton berhasil lakukan."
__ADS_1
Atma mengangguk. "Lukanya sudah?"
"Sudah Mas," jawab Senja.
"Kita ke BP."
Ketiganya kemudian berjalan ke ruang BP. Di sana sudah ada Arga, Indra, Tito, pak Min dan bu Nani.
"Assalamualaikum..." ucap Atma yang berdiri di ambang pintu.
"Waalaikum salam," serempak semua yang mendengarnya.
"Silahkan masuk..." Pak Min mempersilahkan Atma dan Senja untuk duduk, sementara Sita yang merasa tak berkepentingan memilih menunggu di luar.
Senja mematung karena hanya ada satu tempat yang tersisa, yaitu di samping Arga.
"Kamu duduk di sini, saya ke sana," bisik Atma pada adiknya. Atma berjalan ke pojok, dan duduk di sana.
"Baik, Senja. Santai saja nggak usah takut," kata Pak Min saat melihat Senja yang nampak tegang. "Lukanya masih sakit?"
"Sedikit Pak."
"Bisa kamu ceritakan apa yang apa yang terjadi sebelum Indra datang dan memukul kamu?" tanya pak Min pada Senja.
"Saya..." Wajah Senja mendadak pias. Aku memilih berjalan memutar kan untuk menghindari mas Atma. Senja melirik kakaknya yang tengah memperhatikan dari pojok ruang. Setelah itu bukannya tenang, Senja malah makin ketakutan.
Spontan semua menatap Arga. Refleks Senja menutup mulutnya yang menganga. Ya Alloh, Kak Arga mikirnya gimana sih. Rutuk Senja dalam hati.
"Kalian pacaran?!" Pak Min menatap Arga tak percaya, sementara Atma wajahnya memerah menahan amarah.
Baru beberapa saat yang lalu ia ngobrol dengan Arga terkait kedekatannya dengan Senja. Belum lama ia memastikan bahwa adiknya tak melanggar aturan dengan pacaran. Tapi apa, dia kembali mendengar secara langsung Arga berkata, bahwa ia bersama adiknya hingga membuat orang lain tak suka.
Bugh!
Sebuah bogem mentah mengenai tulang pipi Arga. Saat Atma mencengkeram erat kerah baju Arga dan hendak kembali melayangkan pukulan, sebuah teriakan berhasil menghentikannya.
"Hentikan! Ini semua gara-gara Mas, saya seperti ini karena takut sama Mas!" Senja meremat ujung seragamnya.
Semua yang di sana syok dengan kejadian yang barus aja terjadi. Pak Min nampak begitu panik karena ia merasa paling bertanggung jawab di sini.
"Pak Atma, maaf. Sepertinya masalah ini bisa dibicarakan baik-baik."
Dan Indra yang semula nampak begitu emosi mendadak ciut karena kakak dari gadis yang diincarnya ternyata begitu beringas, bahkan nampaknya lebih beringas dari Arga yang sudah beberapa kali ia rasakan kebrutalannya saat berada dalam selimut emosi.
Dan Tito? Ia cengo melihat Arga yang nampak begitu tak berdaya.
__ADS_1
"Maaf Pak Min, bisakah saya membawa mereka ke ruang sebelah," ucap Bu Nani dengan menatap Atma, Senja dan Arga.
"Silahkan, saya akan proses mereka," jawab pak Min menyetujui ide bu Nani.
Tak ada lagi tatapan tak rela di mata Indra saat melihat Senja dan Arga bersama, yang ada adalah wajah takut ketika pandangannya tak sengaja bertemu dengan Atma.
"Silahkan duduk."
Keempatnya duduk pada 4 buah kursi yang mengelilingi sebuah meja bundar.
Bu Nani menghela nafas. "Mohon maaf saya lancang." Bu Nani menatap Senja, karena ia merasa gadis kecil ini tengah berada dalam sebuah tekanan. "Barangkali ada yang ingin berbicara terlebih dahulu?" Bu Nani melempar pertanyaan pada ketiga orang yang ada di sana.
Ketiganya masih diam. Arga yang nampak sesekali mengangkat wajahnya.
"Pak, saya minta maaf..." Arga mencoba memberanikan diri menatap Atma.
"Untuk apa? Untuk kebohongan kamu terhadap saya!"
Arga terbelalak. "Saya tidak melakukan kebohongan apapun."
Atma bangkit dengan tangan terkepal. "Baru tadi pagi kamu bilang kalau kamu tidak ada hubungan khusus dengan adik saya, tapi barusan kamu bilang Cahaya mendapat pukulan karena ada yang tak suka melihat kalian bersama. Jadi kata-kata mana yang harus saya percayai?"
Arga menghela nafas. Astagfirullah, jadi Pak Atma salah paham." Begini Pak, akan saya jelaskan."
"Kamu mau berbohong apa lagi sama saya!"
"Maaf Pak, bisa mohon Bapak sedikit bersabar." Bu Nani menyela sebelum Atma melanjutkan ucapannya.
Atma berusaha meredam emosinya.
"Senja di sukai oleh Indra, dia tadi sebenarnya ingin memukul saya tapi yang kena malah Senja. Maksud saya bersama itu kami bukan pacaran tapi jalan bersama untuk mengantar Senja mendaftarkan diri pada ekstra kurikuler pencak silat." Dengan susah payah, Arga berhasil mengungkap satu kesalah pahaman.
"Lantas kenapa harus lewat sana, bukankan lewat depan ruang seni lebih dekat?" tanya Atma.
"Itu karena Mas Atma." Sejak tadi hanya diam, inilah suara pertama yang dikeluarkan Senja.
Semua menatap Senja. Senja kini berusaha mendongak dengan wajah tertekan dan bibir memucat.
Bu Nani meletakkan sebelah tangannya di pundak Senja. "Senja jangan takut..."
Senja menghela nafas. "Alasan saya ikut pencak silat itu sangat jelas, dan sudah saya katakan sama Mas. Kedua adalah karena saya bersama Kak Arga. Saya takut Mas akan marah dan menyudutkan saya kalau saya ketahuan jalan bersama laki-laki, padahal semua juga tahu olahraga macam ini yang ikut kebanyakan laki-laki. Jadi saya minta Kak Arga untuk berjalan memutar. Tujuannya hanya satu, agar Mas tak melihat kami." Senja menghela nafas." Karena kalau Mas Atma melihat kami, apapun penjelasan saya tidak akan ada gunanya lagi."
Dada Senja hingga naik turun saking besarnya gejolak yang ia tahan saat ini.
"Mas, aku bisa jaga diri, tapi tolong sedikit saja berikan aku kelonggaran dalam berteman. Aku hanya ingin punya teman. Aku sedih saat aku sendiri dan seringkali di bully." Senja tak mampu lagi menahan gejolak di dadanya. Tangisnya pecah.
__ADS_1
Atma bangkit dan merengkuh tubuh adiknya. "Maafin Mas..."
TBC