
Setiap orang pasti akan mengalami sebuah perubahan didalam kehidupan. Dari waktu ke waktu perubahan akan selalu tampak pada diri setiap orang. Disaat itu lah seseorang mulai menemukan dan mengenal jati diri yang sesungguhnya. Maka perubahan akan menjadi hal yang lumrah untuk seseorang lakukan. Dibalik tiap-tiap perubahan yang dilakukan oleh seseorang pasti akan ada pengorbanan yang harus ia dilakukan. Ketika seseorang ingin mencapai suatu tujuan didalam kehidupannya maka ia akan melakukan begitu banyak perubahan pada dirinya. Dan kini diriku akan memulainya.
Dikala hati kini tengah merasakan getaran yang begitu hebat. Ada sebuah arah tujuan yang ingin aku hampiri. Namun, untuk mencapai suatu tujuan didalam kehidupan ada sebuah aturan mutlak yang tertulis didalam takdir. Yaitu sebuah pengorbanan. Tentu bukanlah sebuah hal yang mudah. Melakukan pengorbanan untuk merubah kehidupan seseorang. Namun, tidaklah ada sesuatu yang tidak mungkin didunia ini jika Sang Pencipta telah mengkehendaki. Walau begitu rumit tuk dilakukan.Tetapi, harus aku lakukan.
Memantaskan diri.
Gerbang kehidupanku yang berikutnya kini telah terbuka. Kini diriku akan kembali melangkah dan menyusuri jalan kehidupan. Memantaskan diri. Ketika seseorang ingin mencapai titik puncak, maka ia harus melewati berbagai rintangan. Dan diriku harus melewati rintangan tersebut untuk mencapai titik tertinggi dan merasakan keindahan diakhir perjalanan ini.
***
Pagi yang indah, mentari tersenyum ceria, tetesan embun masih tersisa. Kesejukan memang memiliki kekuatan yang dapat membuat diriku terlena. Kelopak mata tak sanggup lagi tuk terbuka. Pepohonan rindang berhasil membuatku merasakan ketenangan dan mulai terlelap kedalam dunia mimpi. Namun tiba-tiba sesuatu membasahi wajahku.
"Astagfirullah hujan? perasaan teh tadi terang benderang." gumam ku.
"Hehe, iyaaa hujan dari ember mushola." saut mamat.
"Pantesan, rupanya teh kamu yang bikin ulah."
"Hehe, kamu teh enak-enakan ya tidur disini orang pada bersih-bersih."
"Eh denger ya aku teh tadi udah selesai bersihin mushola, kamu aja tuh yang lelet kalo kerja."
"Ah beneran?"
"Ya bener atuh Mat, kalo kamu ga percaya teh liat aja sendiri sana udah kinclong."
"Hehe iya iya, percaya!"
"Terus nih aku tanya sama kamu ya, kamu teh gak bisa gitu sehari aja duduk diem gak ngusilin orang?"
"Hehe, gak bisa."
"Hmm, terserah kamu lah mau ngapain."
"Hehe."
"Udah ah minggir aku teh mau cuci muka, etss tapi kamu teh awas kemana-mana aku belum bikin perhitungan sama kamu ya."
"Hehe, iya iya gak kabur deh."
"Kalo kabur dobel nih balas dendamnya."
"Hahaha, ampun bos."
"Makanya diem disini!"
"iya iya diem."
Ternyata hari ini adalah hari kesialan untuk ku. Karena menjadi salah satu korban keusilan Mamat. Setelah pergi untuk mencuci muka, aku kembali menghampiri Mamat.
"Heh Mat, kamu teh kurang kerjaan ya?" tanya ku.
"Hehe, tau aja kamu Dan." saut Mamat bercanda.
"Hmm pantes."
"Hahaha maap atuh dan, ngomong-ngomong kamu teh udah siapin barang untuk besok kan." tanya Mamat.
"Barang apaan?"
"Yaelahhh, kamu teh Dan udah lah budek, pikun lagi, tau gak udah kayak kakek kakek panti jompo." ledek Mamat.
"Bodo amat deh."
__ADS_1
"Hahaha." tawa Mamat.
"Awas aja ya kalo kedengeran lagi." Ancam ku.
"Iya iyaa, pokoknya kamu teh harus siapin tuh barang yang aku bilang semalem."
"Udah, kamu teh tenang aja."
"Okee bos."
Perbincangan siang itu berakhir dengan kesepakatan kami berdua untuk mulai beraksi esok hari.
***
Pertempuran dimulai.
Perubahan akan membawa berbagai hal-hal baru yang akan mewarnai hari-hariku. Menjelajahi episode kehidupan ku yang baru. Kini diriku telah memasukinya. Mulai menggapai satu persatu mimpi-mimpiku. Kini diriku akan terus berjalan walaupun halang rintangan tepat berada dihadapanku.
Kehidupan adalah milik Sang Pencipta. Apapun yang akan aku jalani pada saat ini telah ku pasrah kan kepada-Nya. Jalan mana yang akan Ia tentukan untukku akan aku lalui dengan segenap kekuatan yang aku miliki. Hingga detik ini aku masih ingin mengetahui rencana apa yang telah Ia persiapkan.
Waktu berlalu begitu cepat. Tepat dihadapanku sebuah gerbang tuk melewati kehidupan yang berikutnya. Menapakkan kaki dan memulai perubahan dengan keyakinan besar dihati.
"Mat, udah rapi kan?" Tanya ku.
"Udah!!! Mantep pokoknya." Tutur Mamat sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Bismillah...."
Dengan keyakinan penuh aku telah mengambil langkah untuk kembali melaju bersama sang waktu melewati jalan kehidupan. Memulainya dan berharap ketika diriku telah sampai di penghujung jalan ini aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan.
"Kamu teh masih inget kan yang aku omongin tadi pagi, kamu teh harus aktif dikelas dan organisasi disekolah ini." Jelas Mamat.
"Iya aman, kamu teh tenang aja aku udah bikin strategi." saut ku.
"Oke."
Adzan telah berkumandang. Jam telah menunjukkan waktu dzuhur. Lalu kewajiban ditunaikan. Beberapa siswa termasuk aku dan Mamat ikut melaksanakan sholat berjamaah di mushola. Mushola Ar-Rahman namanya. Tepat berada dibelakang gedung sekolah. Keberuntungan kini berpihak kepadaku. Setelah selesai melaksanakan sholat berjamaah, aku mendapatkan kesempatan untuk menemui ketua organisasi rohis, Kang Adi namanya dan berhasil mendaftarkan diri.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumussalam, kunaon?"
"Begini kang, saya teh mau ikut rohis."
"Wah yang bener?"
"iya kang."
"Alhamdulillah, kalo begitu tunggu sebentar biar saya ambilin formulirnya."
"hatur nuwun kang."
"Iya sama-sama, nih."
menyodorkan kertas formulir.
"Sekali lagi terimakasih ya kang."
"iya, semoga kalian teh betah di organisasi ini dan bisa menjadi orang yang lebih baik."
"Aamiin.."
__ADS_1
"Yaudah entar di isi abis itu kasi ke akang lagi yah."
"Siap kang."
"Oh iya, jangan lupa jam 2 kalian balik lagi ke sini ikut kajian rutin."
"oke kang."
Akhirnya aku dan Mamat berhasil mendaftar di organisasi rohis seperti yang telah kami rencanakan. Setelah mendaftar kami mengikuti kajian rutin yang dilaksanakan oleh anggota rohis seperti yang telah dijadwalkan setiap hari rabu. Memang benar yang dikatakan Mamat, Ica juga mengikuti organisasi ini. Betapa semangat nya diriku bisa selalu melihat diri nya. Pancaran cahaya dari wajahnya seakan menerangi hatiku. Kelembutan nya selalu menciptakan ketenangan didalam jiwaku. Sungguh dirimu memang memiliki energi yang begitu hebat untuk membuatku terus ingin melihatmu dan meraihmu.
Misi pertama selesai. Kali ini aku mencoba untuk bergabung kedalam keanggotaan OSIS. Mamat tidak ikut, dengan alasan ribet katanya. Akhirnya aku memutuskan untuk berani melangkah maju sendiri. Dengan mengikuti beberapa prosedur pendaftaran dan wawancara singkat, akhirnya aku berhasil menjadi salah satu anggota kepengurusan OSIS di sekolah ini. Dan misi kali ini telah sukses dilaksanakan.
***
Tidak terasa hari-hari berganti begitu cepat. Satu tahun dibangku SMA kini akan segera usai. Beberapa hari ini perasaan ku sungguh tidak tenang. Sampai pada waktunya hari itu tiba. Hari yang ku tunggu-tunggu. Sebuah akhir dari pertempuran sengit yang aku lalui selama satu minggu ini. Masa-masa dimana seluruh kemampuan akal ataupun tenaga harus dikerahkan sebesar-besarnya. Ujian itu telah berlalu. Dengan segala upaya telah aku kerahkan untuk memenangkan pertempuran ini. Karena pada semester pertama aku hanya berhasil mendapatkan peringkat ke dua. Kali ini aku ingin kursi singgahsana menjadi milik ku. Dan detik ini jantungku masih berdetak kencang menunggu akankah aku mendapatkannya atau berakhir dengan kekecawaan yang sama seperti sebelumnya.
Tak selang beberapa saat akhirnya wali kelas kami memasuki ruangan untuk melakukan pembagian raport.
"Assalamualaikum anak anak, semuanya diharapkan duduk ditempat nya masing-masing. Sebelumnya ibu sangat berterimakasih kepada kalian semua karena telah bekerja keras dan belajar dengan giat dalam mengikuti ujian pada semester ini. Semoga kalian mendapatkan hasil yang maksimal sesuai dengan usaha yang telah kalian lakukan. Tetap semangat untuk terus belajar dan jangan pernah putus asa. Beri tepukan untuk kita semua." Jelas Bu Lia
prok prok prok prok......
"Oke, sekarang waktunya yang kita tunggu-tunggu siapa sih yang bakal menjadi yang paling terbaik dikelas ini. Dan dai adalah....."
Jantungku berdetak kencang, lidah ku tak henti hentinya berucap dan berharap agar nama ku yang disebutkan.
"Reza Ardana."
Dan akhirnya nama ku disebutkan. Jantungku yang tadinya berdetak sangat kencang kini seakan ingin berhenti berdetak dan diriku ingin melayang keudara. Kebahagian yang sesungguhnya kini diriku telah menemukan nya. Sangking bahagianya tanpa sadar aku memeluk erat Mamat dan mengucapkan "Terimakasih" kepadanya. Kini aku benar-benar percaya sebuah pengorbanan yang dilakukan seseorang akan selalu ada balasan yang menantinya.
"Terimakasih Tuhan, terimakasih Mamat, terimakasih Ica, kekuatan yang Kalian berikan mampu membawaku menuju apa yang aku inginkan."
Semua teman-teman ku bertepuk tangan dan mengucapkan selamat atas keberhasilan ku. Dan aku bersyukur masih memiliki kesempatan untuk merasakan kebahagiaan hingga detik ini bersama mereka semua.
Episode kali ini telah usai. Walau kisah yang sesungguhnya belumlah usai. Ini hanya permulaan dan awal perubahan ku menuju mimpi-mimpiku. Dan aku yakin Ayah, Ibu, mereka bangga melihat keberhasilan ku. Dan aku telah membuktikan bahwa diriku benar-benar ingin mereka tersenyum dan beristirahat dengan tenang di syurga.
Ayah, Ibu, aku tahu kebahagiaan itu kalian juga merasakannya.
***
Memantaskan Diri
Kini diriku tengah berlari
Mengejar angan dibalik mimpi
Menggapai semu diatas mentari
Selalu ingin aku miliki
Langkah ku kini kian melaju
Mengikuti arus waktu
Yang akan terus berlalu
Dan tak akan pernah menunggu
Hingga diriku sampai pada sebuah titik
Dimana diriku kini tengah menapakkan kaki
Dan disaat itu diriku telah mengetahui
__ADS_1
Bahwa diatas titik itu adalah sesuatu
Yang telah lama aku cari