
^^^Hai dear, maaf ngilang lama. ^^^
^^^I'am back. ^^^
...*HAPPY READING*...
“Van…!”
Mendengar namanya disebut, Rivan segera berjalan menghampiri gadis cantik yang selalu ceria itu di salah satu meja.
Drrkkk!
Rivan menarik sebuah kursi dan duduk di sana.
“Napa sih Yang mukanya kok ditekuk gitu?”
Rivan menggeleng.
“Yang lain ke mana? Kok kamu ke sininya sendiri?” tanya Sita saat tak melihat orang lain yang datang bersama pacarnya.
“Iya,” jawab Rivan sambil mencomot cilok milik Sita.
“Kenapa sih Van? Aku ada salah?” tanya Sita yang sama sekali tak paham dengan sifat tak biasa Rivan.
Kembali Rivan tak menjawab. Ia justru menatap Arga yang datang ke kantin sendirian.
“Ga!!!” panggil Sita yang juga melihat kedatangan Arga.
Namun Arga yang terlihat buru-buru segera pergi setelah membeli sesuatu.
“Kalian pada kenapa sih?” gumam Sita sambil menatap Arga yang baru pergi dan Rivan yang kini berada di hadapannya secara bergantian. “Kalian nggak lagi marahan kan?”
“Enggak. Kamu mau aku bawain apa gitu? Aku mau beli mi ayam,” tawar Rivan sambil bangkit.
“Enggak deh…” tolak Sita.
Rivan beranjak meninggalkan Sita untuk membeli makanan.
***
Senja dan Arga kini berada di samping kelas Senja dengan dua cup cilok serta sebotol air mineral di hadapan mereka.
“Sebenernya aku tadi bisa ke kantin sendiri, dan makan di kelas kalau temen-temen udah nggak di sana,” ucap Senja yang merasa tak enak dengan Arga.
“Kenapa emangnya?” Kamu nggak suka di sini sama aku?”
“Nggak gitu Maaaass…” Senja mendesah setelah melihat reaksi Arga.
“Terus gimana, hmm?”
“Ya kan Mas Arga jadi bolak-balik sendiri sementara aku kudu ngumpet di sini…” ucap Senja dengan wajah cemberut.
Arga meletakkan cilok di tangannya. Dia menatap wajah manis yang tengah cemberut di hadapannya. Perlahan sebelah tangannya naik dan mengusap lembut pipi gadis yang tengah cemberut itu. “Kamu nggak nyaman kalau aku deket sama kamu?” tanya Arga lembut.
Senja menggeleng.
__ADS_1
“Terus?” tanya Arga dengan menggerakkan ibu jarinya meraba dengan lembut permukaan wajah Senja.
Senja menghela nafas. “Kita bakal terus ngumpet-ngumpet gini?”
Arga menurunkan tangannya dan perlahan meraih tangan Senja. “Tell me Senja, apa yang sebenarnya pengen kamu bilang?”
Senja perlahan menatap Arga. Dia jarang sekali menatap Arga secara langsung seperti ini meskipun mereka kerap kali mengobrol bersama.
“Aku…”
Senja tak mampu melanjutkan kata-katanya. Ia ragu. Pantaskah ia mengatakan yang sesungguhnya bahwa ia tak ingin sembunyi-sembunyi saat bersama Arga.
“Kamu mau aku pergi?”
Senja menggeleng cepat.
“Atau..., kamu nggak suka sembunyi-sembunyi?”
Tepat sekali tembakan Arga. Senja dengan cepat menatap mata Arga dan perlahan menganggukan kepala.
Arga meraih sebelah tangan Senja ke dalam genggamannya dan menggenggam erat keduanya. “Senja, aku juga tak nyaman. Tapi kamu sabar ya. Setahun. Hanya setahun.”
“Maksud Mas Arga?”
Arga menghela nafas masih dengan menggenggam tangan Senja.
“Aku sayang kamu.”
Degh!
“Aku sayang sama kamu…” ulang Arga.
Senja tak mampu berkata-kata. Ribuan kupu-kupu terasa beterbangan diperutnya. Begitu menggelitik hingga mendesak di dadanya. Hal ini begitu mengganggu kerja jantungnya, yang semula dapat bekerja dengan tenang kini harus berpacu memompa darah sebelum Senja benar-benar pingsan.
Arga memejamkan mata dengan tangan yang masih menggenggam. Astagfirulloh. Kenapa kata-kata ini harus kuungkap sekarang?
“Mas…”
Arga membuka mata saat mendengar Senja memanggil namanya.
“Aku suka ngobrol sama Mas Arga, aku suka deket Mas Arga, aku suka…”
Kerja jantung dua remaja ini sedang sama-sama dalam masalah. Detaknya kencang dan tak biasa. Terasa berdebar hingga seakan ingin melompat ke luar dada.
“Aku hari ini nggak nyaman saat Mas Arga tiba-tiba diam dan tak langsung menyapa saat berjumpa. Tak tersenyum bahkan memandang pun enggan. Aku nggak suka Mas…” Senja menunduk di akhir kalimatnya.
“Apa kamu juga suka sama aku?”
Senja tak menjawab. Dia masih diam dan menunduk dalam.
Arga melepaskan sebelah genggamannya. “Apa Aya sayang sama Arga?” Arga bertanya setelah berhasil membuat Senja menatap wajahnya.
“Aku…, aku…”
Senja tak mampu berkata. Apa aku memang sayang sama dia? Apa mas Arga sedang menyatakan perasaannya? Tapi dia tak memintaku menjadi pacarnya.
__ADS_1
Pikiran Senja masih kacau. Dia tahu ada rasa namun tak tahu ini rasa macam apa?
“Arga suka sama Aya, Arga sayang sama Aya? Apa Aya juga?” Sekali lagi Arga bertanya, kali ini dia berusaha menggunakan kata-kata yang meminimalisir kemungkinan adik kelasnya ini tak memahaminya.
Senja masih menatap lekat Arga. Ya Alloh, apa yang harus aku katakan.
“Cukup bilang iya atau tidak.” Tangan Arga kembali turun dan menyatu dengan sebelah tangannya yang saling menggenggam dengan kedua tangan Senja.
Spontan Arga menarik Senja ke dalam pelukannya sesaat setelah Senja menganggukkan kepalanya. Namun hanya sedetik sebelum ia kembali menjauhkan tubuh keduanya.
“Astagfirulloh…”
Arga meraih sebotol air mineral di hadapannya dan membuka tutupnya yang masih tersegel dengan tak sabar. Dia menenggaknya hingga hanya tersisa setengah.
Sementara itu, Senja masih berusaha mencerna kejadian kilat yang baru saja dialaminya.
Arga mengatur nafasnya yang turut menggila seperti detak jantungnya. Bagaimanapun ini tak boleh dilanjutkan.
“Senja…” nada suara Arga terdengan berbeda. Jika tadi begitu lembut, kini terdengar serius.
“Iya…”
“Kita nggak bisa pacaran?”
Senja menatap tak percaya. Untuk apa scene barusan dilakukan jika tak ada adegan pacaran setelahnya. Sama-sama suka artinya jadian kan?
Arga menghembuskan nafasnya dengan kasar. “Aku senang, sangat senang saat kamu merasakan hal yang sama denganku, tapi…”
“Tapi apa?” tanya Senja yang sedikit tak terima dengan sikap Arga.
Baru saja Senja dibuat melambung tinggi, begitu tinggi bahkan hingga ia sempat takut lupa caranya mendarat di bumi. Namun hanya dalam hitungan detik, dia sudah di tenggelamkan ke dalam bagian bumi yang paling dalam.
“Aku sudah terlanjut berjanji sama Mas Atma kalau aku tak akan mengganggu kamu dengan cinta sebelum waktunya tiba.”
Senja begitu kecewa, hingga rasanya seluruh otot di wajahnya mati semua.
“Dan, satu hal lagi yang perlu kita pahami, yaitu siswa dilarang pacaran, baik itu dengan sesama siswa, warga ataupun yang tak ada hubungannya dengan organisasi kita. Kamu paham kan?”
“Terus tadi itu maksudnya apa?” tanya Senja dengan suara bergetar. Ia mulai tak bisa menahan dirinya untuk tak melayangkan protes. Matanya mulai memanas.
“Aya, aku mau minta kamu sabar. Aku nggak suka ngumpet-ngumpet dan aku nggak suka ngelanggar aturan selama aku bisa. Setahun, hanya setahun. Begitu kamu disahkan, aku pengen coba ngomong sama mas Atma, aku pengen minta ijin buat deket sama kamu.”
Senja menggeleng pasrah. “Nggak bakal diijinin Mas, nggak bakal.”
Senja mendongak saat merasa ada yang mendesak dan ingin keluar dari matanya. Dia segera bangkit sebelum Arga menyadarinya.
“Aya…!” Arga menahan Senja agar tak menjauh darinya.
“Maaf Mas…” Senja menghempaskan tangan Arga dan berlari meninggalkannya.
Arga hendak berlari mengerjar Senja sebelum seseorang menahannya.
“Ikut gue.”
TBC
__ADS_1