
Cuaca di kota Solo tidak terlalu terik. Sekitar pukul sepuluh pagi, rombongan keluarga Marko mulai menuju ke rumah Zia yang letaknya di daerah kabupaten sehingga memakan waktu yang lumayan lama.
Tiga mobil MVP mewah mengantarkan perjalanan mereka, desak-desakan kendaraan di jalanan kota mulai tak dirasakan. Jalanan mulai lenggang, gedung-gedung tinggi sudah tergantikan persawahan dan perkebunan.
"Lo yakin sama jalan ini, Ko?" Tanya Langit yang ragu dengan jalannya.
"Lo pikir gue cuma sekali kesini?" Marko tak terima diremehkan.
Semakin lama masuk ke dalam, jalan aspal sudah berganti dengan jalan berbatu yang padat.
"Sky, Durian!" Sora menunjuk keluar cendela.
"Wah, Iya. Enak banget dirumahnya punya pohon durian." Sky terlihat iri.
"Anak papa mau durian?" tanya Langit.
"Mau mau mau!!" Jawab Sky dan Sora kompak.
"Nanti papa beliin ya. Sekalian sama kebonnya. Tenang aja." Ucap Langit.
"Yey, Horeee! Punya kebun durian. Kaya Tok Dalang." Teriak Sora.
"Papa bercanda, Sora." Senja langsung meralat perkataan Langit.
"Yaaaah" Keluh Sora
"Sky. Jangan-jangan kita sedang ada di kampung durian runtuh." Sora teringat salah satu film kartun favoritnya.
"Ngayal aja kamu." Ucap Sky yang masih melihat ke luar cendela.
"Rumah yang ada tendanya itu pak." Marko memberitahu sopir harus berhenti dimana.
Mobil berhenti tepat didepan rumah Zia, Sudah terlihat banyak sekali orang disana yang siap menyambut kedatangan keluarga Marko.
"Lang, kok rame banget ya?" Marko merasa tidak percaya diri. "Mau lamaran apa mau nikahan nih?"
"Kalau di desa ya memang kaya gini mas." Sahut Senja.
Marko menatap kaca spion dalam untuk merapikan rambutnya, "Pak, Udah ganteng kan?" tanya Marko ke sopir di sampingnya.
"Sudah, Mas. Tumpah-tumpah gantengnya."
"Ayo pak, ikut turun." Ajak Langit yang sudah membuka pintu untuk keluar.
"Sky, Harus ramah ya. Main bareng sama teman-teman yang ada disini." Senja mengingatkan putranya yang memang memiliki sifat seperti papanya.
Sky hanya mengangguk.
Semua rombongan Marko sudah turun, Bapak dan Ibu Zia yang mengekan batik seragam menghampiri Irawan dan Nensi.
"Selamat datang di rumah mewah kami Pak, Buk." Sapaan khas dari Karwo-Bapak Zia yang selalu dipenuhi candaan.
Irawan dan Nensi bergantian menyalami Karwo dan Astutik-Ibu Zia, disusul Marko dan yang lainnya.
__ADS_1
"Duh, bakal mantu bapak. Lama gak kesini tambah cakep aja." Karwo menepuk-nepuk lengan Langit.
"Pak, Marko yang ini pak. Yang hendsem ini loh pak." Marko melepaskan tangan Karwo dari tangan Langit.
"Loh, bapak maunya yang ini aja. Tukar tambah bisa? itu ada empat sapi bapak buat nambahi."
"Trus aku mau nikah sama siapa pak?"
"Ada, nanti bapak carikan Sapi."
Candaan Karwo membuat tawa semua orang.
"Mari masuk, maaf bapak ini suka bercanda." Astutik mengajak tamunya untuk masuk ke dalam.
Beberapa kerabat Zia saling berbisik melihat Langit dan Hengky, sudah bisa dipastikan mereka sedang menggunjingkan ketampanan Langit dan Hengky. Sky dan Sora pun tak luput dari gunjingan.
Di dalam ruang tamu sudah digelar karpet yang menutupi seluruh lantai ruang tamu. Kerabat yang tadinya ramai bergerombol kini tinggal kedua orangtua, saudara-saudara kandung Zia dan kepala desa dan jajarannya.
Irawan sudah membuka pembicaraan penting tentang maksud kedatangannya menemui keluarga Zia. pertemuan formal yang diselingi candaan itu berlangsung cukup lama.
Selesai pembicaraan penting, Astutik pergi ke dalam dan kembali ke ruang tamu bersama gadis cantik yang memakai kebaya simple warna gold pilihan Senja dan Enna.
Senyum terus merekah dari bibir Marko, pandangannya tak henti terlepas dari sosok anggun didepannya.
"Senyum teruuus, pasang tuh cincin." Hengky mendorong bahu Marko dari belakang.
"Haduh, berisik lo! Gue lagi nikmati pemandangan indah nih." Protes Marko di sambut tawa seisi ruangan.
"Heh! Bikin kata-kata dulu buat ngelamar." Tambah Langit.
"Kamu itu piye to, Le? Mau ngelamar kok gak nyiapin apa-apa. Tak batalin lho ini." Canda Karwo.
Marko terkejut, "Lho, Sudah ada pak."
Marko duduk berhadapan dengan Zia, ia meraih Kedua tangan Zia. Wajah Zia yang tersipu malu mendapat sorakan dari saudara-saudaranya.
"Zi, Aku datang jauh-jauh dari Jakarta ke Solo tujuan untamaku untuk melamar kamu. Maukah kamu menikah dengan ku dan menciptakan bibit-bibit unggul untuk keluarga kita?"
Zia tak kuat menahan tawanya, "Iya, saya terima." Jawab Zia dengan tawa kecil.
"Yes!" Marko Langsung memeluk Zia.
"Lho lho, Belum sah kok main peluk-peluk." Karwo menarik Marko.
"Kalo gitu di Sah-in sekarang aja pak, biar aku bisa halal peluk-peluk."
"Lho, Ayo kalau kamu mau!"
"Lho! Ya Ayo pak! Mau banget aku."
Candaan Marko dan Karwo berakhir dengan keseriusan.
"Zi, Kita nikah sekalian aja hari ini." Ucap Marko.
__ADS_1
Zia terkejut, namun tak bisa berkata apa-apa.
"Ibuk, setuju kan?" Marko merangkul Astutik dan bergelayut dipundak calon mertua itu.
"Iya wes le, ibuk setuju aja." Astutik pasrah dengan kemauan calon mantunya itu.
"Yes! Yes!"
"Kok gue malu ada disini ya, Ky?" Bisik Langit ke Hengky.
"Sama, nyesel gue ikut kesini." Hengky menimpali.
"Om juga setuju sih kalau kalian mau nikah sekarang, yang penting kan sah dulu menurut agama." Ucap Irawan.
"Makasih ya, Om." Marko menyilangkan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk luv ala-ala abang korea.
"Sayang, banyak-banyak nyebut. Aku gak mau anak kita kaya dia." Langit mengusap perut Senja.
"Jahat banget lo, Lang. Justru Lo bakal beruntung punya anak mirip kakak Lo ini." Marko memasang wajah gantengnya.
"Ayo ayo, acara berubah. Bapak mau manggil pak kades sama ustad." Karwo berdiri dari duduk bersilanya, "Le, Mahar mu opo? wes kamu siapin?" tanya Karwo ke Marko.
Marko menatap Zia, "Kamu mau mahar apa, Zi? Aku siapin sekarang." kata Marko.
"Cincin ini saja sudah cukup." Jawab Zia.
"Hah! Beneran?" Marko kurang setuju.
"Iya, itu aja. Yang penting jatah bulanannya triliunan." Goda Karwo.
"Wah, itu sih maunya bapak."
Karwo dan beberapa saudara Zia meninggalkan ruangan. Ibu dan Zia menemani keluarga Marko mengobrol untuk saling mengenal. Sedangkan Sky dan Sora sudah sibuk bermain bersama anak-anak lainnya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.