SENJA

SENJA
106


__ADS_3

Pagi ini Langit terbangun lebih awal dari Senja, jauh sebelum alarmnya berbunyi. Ia menatap istrinya yang masih tertidur pulas.


Langit menutup bahu Senja yang terbuka dengan selimut, Ia tahu bahwa Senja tidak memakai sehelai kainpun ditubuhnya.


Ingatannya kembali ke beberapa waktu lalu, ketika dirinya dan Senja sedang menggila diatas tempat tidur. Berapa kalipun melakukannya masih juga belum ada rasa puas dibenak mereka.


Langit mengecup kening Senja yang terlihat lelah. Ia tertawa kecil mengingat dirinya yang terlalu memaksa istrinya. Bagaimana tidak, tubuh Senja selalu membuatnya candu.


Langit beranjak pelan meninggalkan tempat tidur dan berganti pakaian mengenakan celana training dan kaos oblong.


Ia berencana untuk lari pagi sambil menunggu Senja bangun. Sebelum keluar kamar, ia sengaja Langit mematikan alarmnya agar tidak mengganggu tidur Senja.


Hingga mentari sudah mulai tinggi dan Hengky sudah tiba dirumahnya, Langit masih melihat Senja terlelap dibawah selimut. Ia tak tega membangunkannya.


Ia menyiapkan keperluannya sendiri dan sangat berhati-hati agar kegiatannya tak sampai membangunkan Senja.


Setelah mandi dan berpakaian rapi, Langit beranjak keluar kamar untuk sarapan dan segera pergi ke kantor.


"Bu Ella, tolong jangan bangunkan istriku. Sepertinya dia terlalu lelah." Kata Langit sebelum Hengky menutup pintu mobil untuknya.


Ella mengangguk, "Baik tuan."


Hengky tersenyum tipis, menebak apa yang terjadi semalam dikamar Langit. Ia menutup pintu mobil dan segera menyusul masuk di bangku depan.


"Lo ngetawain apa!?" Sentak Langit yang melihat bahu hengky dari belakang bergerak-gerak seakan menahan tawa.


"Saya tidak tertawa, pak." jawab Hengky.


"Gue tahu apa yang lo pikirin!! Contoh nih gue, bisa bikin istri gue tidur sepulas itu." Langit membanggakan diri.


Hengky hanya manggut-manggut saja, tak mau mendengar kesombongan Langit.


"Lo dengerin gak sih!?" Protes Langit karena Hengky tak memberi tanggapan.


"Dengar pak, telinga saya masih aktif." Jawab Hengky, "hanya saja saya tidak mau menanggapi, karena ada yang lebih pengalaman disini." Hengky menunjuk Bambang dengam ibu jarinya.


'Ah, iya..'


Langit baru menyadari jika Bambang lebih pengalaman darinya, kini ia malu pada dirinya sendiri.


Sementara itu di kamar Langit


Senja sudah terbangun ketika mentari sudah tinggi, suasana kamar juga cenderung hangat karena cahaya matahari yang masuk terlalu banyak.


Ia terkejut melihat jam di dinding yang menunjuk hampir ke angka sepuluh siang.


Buru-buru ia berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai mandi ia mengenakan pakaian santainya dan segera menyiapkan makan siang yang akan ia bawa untuk Langit.


"Bu Ella, kenapa tidak bangunkan saya?" Protes Senja ketika bertemu Ella di dapur.


"Tuan Lagit menyuruh saya untuk tidak membangunkan anda, Nona." Jawab Ella, ia membantu Senja memakai apron.


"Apa yang ingin anda masak siang ini Nona?" tanya salah seorang asisten dapur.


Senja membuka isi kulkas dan mengambil beberapa daging dan sayuran dari sana.


"saya ingin buat sup daging kacang merah, pak. tolong bantu masak dagingnya dulu ya." ucap Senja.


Dibantu asisten lainnya Senja menyiapkan keperluan memasaknya.


Dan dalam waktu singkat Senja menyelesaikan masakan utk Langit. Dengan hati-hati ia masukkan dalam rantang kecil dan ia masukkan dalam coolerbag. Ella membantu membawanya, sedangkan Senja berganti pakaian dulu sebelum keluar rumah.


Tepat ketika ia membuka pintu, sudah ada driver ojek online di belakang mobil.


"Nona berangkat dengan motor?" tanya Ella


"Iya bu Ella, biar aku bisa tepat waktu." Jawab Senja, ia mengambil coolerbag darj tangan Ella dan menghampiri driver.


"Silahkan, mbak." Driver Ojol memberikan helm pada Senja.


Senja segera memakainya dan naik ke atas motor, "Sudah mas." ucap Senja.


"Saya berangkat ya bu Ella." Senja berpamitan tepat setelah motor mulai bergerak maju.

__ADS_1


"Hati-hati nona."


Senja mengangguk dan tersenyum.


Seperti biasa, jalanan Ibu Kota selalu padat. Dengan gesit driver Ojol melewati antrian kendaraan yang ingin segera terbebas dari kemacetan.


Senja tiba di gedung Actmedia tepat sebelum jam makan siang.


Kali ini ia mendapat respon yang berbeda dari kemarin, para pegawai menyapanya dengan lebih hormat. Ia membalas sapaan pegawainya dengan senyuman.


Senja langsung masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai dua belas.


"Selamat siang, Bu." sapa dua orang wanita dari balik meja sekretaris.


"Selamat siang." Sapa Senja, Ia melanjutkan langkahnya menuju ruangan Langit yang letaknya lebih ke dalam.


Wanda, Sekretaris Langit berdiri dibalik meja kerjanya ketika melihat Senja dari kejauhan.


"Selamat siang, Bu." Sapa Wanda ketika Senja sudah berdiri didepannya.


"Selamat siang, Pak Langit ada didalam?" tanya Senja


"Beliau masih ada tamu, Bu." Jawab Wanda.


Senja berfikir sejenak, "aku tunggu disana saja, ya." ucap Senja sambil menuju ke Sofa kecil yang tak jauh dari pintu ruangan Langit.


Wanda mengikuti Senja, "Anda mau minum apa, Bu? akan saya siapkan."


"Gak usah, mbak. Terimakasih." Jawab Senja.


"Jika butuh apa-apa silahkan panggil saya ya, bu." Wanda beranjak kembali ke mejanya setelah mendapatkan anggukan dari Senja.


Senja mengirim pesan ke Hengky menanyakan apa Langit akan lama?


Tak lama pesannya terkirim, ia melihat Hengky keluar ruangan dan menghampirinya.


"Apa anda sudah lama menunggu Nona?" tanya Hengky.


"Enggak, Mas. Aku barusan sampai." Jawab Senja.


"Jangan, mas. Aku gak mau ganggu kerjaannya." Senja memberikan coolerbag yang ia bawa, "Pastikan dia menghabiskan ini ya, Mas." pinta Senja.


Hengky menerima coolerbag dari Senja.


"Tolong sampaikan padanya kalau aku akan berjalan-jalan ke Mall cari kebutuhan Sky dan sora"


"Baik, Nona. Hati-hati di jalan."


Senja beranjak pergi dan Hengky masuk ke dalam.


Langit melihat Hengky membawa coolerbag, membuatnya menghentikan pembicaraan dengan tamu dan menghampiri Hengky.


Hengky meletakkan coolerbag dari Senja di meja kerja Langit.


"Dari Senja Ky?" Tanya Langit


"Iya, Pak." Jawab Hengky.


Langit menghampiri tamunya, "Maaf, saya tinggal sebentar." Ucap Langit lalu meninggalkan ruangannya.


Langit mengejar Senja ke depan lift, terlihat Senja baru saja memasuki lift.


"Sayang!!"


Panggilan Langit membuat Senja menahan pintu lift yang akan tertutup. Langit langsung menyelip masuk mendorong tubuh Senja ke dinding lift dan pintu lift langsung tertutup rapat.


"Mas, kenapa kesini?" Tanya Senja keheranan.


Tak ada seorang pun di dalam lift selain Langit dan Senja, membuat Langit langsung mencium bibir Senja dengan agresif.


Senja mendorong pelan tubuh Langit, khawatir jika tiba-tiba pintu lift terbuka mengingat ini sudah masuk jam istirahat.


"Mas, kenapa tiba-tiba gini sih?"

__ADS_1


Langit memeluk tubuh Senja dengan erat, "Entahlah. Hanya beberapa jam berpisah denganmu sudah membuatku sangat merindukanmu." jawabnya.


Senja tersenyum dan melepaskan pelukan Langit.


"Maaf ya, mas. Kamu berangkat kerja aku belum bangun."


Langit menggeleng, "Gak apa, sayang. Aku tahu kamu kecapekan. Maafin aku juga ya udah terlalu maksa kamu semalam." Ia mengusap kedua pipi Senja.


Tring.


Pintu lift tiba-tiba terbuka, membuat Senja reflek mendorong tubuh Langit menjauh darinya.


Beberapa karyawan terlihat canggung melihat kejadian barusan.


"Kalian turun dengan lift sebelah saja ya." Pinta Langit lalu menutup pintu lift.


"Mas, kok gitu? gak enak kan sama mereka."


"Biarin lah." Langit kembali mendekatkan dirinya ke tubuh Senja.


Senja kembali mendorong tubuh Langit, Ia menatap panel layar lift yang sudah menunjukkan angka empat.


Senja mendekati Langit, berjinjit dan mengalungkan tangannya di leher Langit. Sedikit menariknya lalu memberi kecupan dibibir Langit.


"Jangan sekarang ya, mas." Bisik Senja, Ia melapaskan tangannya.


Sedikit raut kecewa tergambar diwajah Langit.


Tring


Pintu lift sudah terbuka di lantai satu, beberapa orang sudah antri didepan lift. Mereka menyapa Langit dan Senja dengan senyuman, membiarkan Bos mereka keluar lift lebih dulu.


Langit mengacuhkan mereka seperti biasa, namun Senja membalasnya dengan senyuman.


"Aku mau ke Mall dulu ya, Mas. Aku mau cari perlengkapan untuk di kamar anak-anak." ucap Senja sambil berjalan pelan.


"Kenapa gak nanti malam aja, sayang? Aku juga mau pilihkan buat mereka. Sekarang aku masih ada tamu." Rengek Langit.


Senja berhenti didepan pintu Loby. "Aku harus cepat-cepat jemput mereka mas, sedangkan kamar anak-anak belum siap. Kasihan ibuk jika harus ku tinggal lama-lama." Senja memberi alasan


"Kamu tunggu di Mall sambil makan siang, aku selesaikan pekerjaanku trus nyusul kamu kesana, ya?" pinta Langit.


Senja mengangguk setuju.


Langit mengeluarkan ponselnya dan menelpon Bambang untuk mengantar Senja.


Tak cukup lama Langit dan Senja menunggu, akhirnya mobil yang dikendarai Bambang berhenti tepat didepan teras loby tempat Langit dan Senja berdiri.


"Aku pergi dulu ya, Mas." pamit Senja.


Langit menarik Senja ke pelukannya lalu mengecup kening Senja. Hal itu menyita perhatian orang-orang disekitar mereka.


"Hati-hati ya, sayang." Langit mengusap pipi Senja.


"Iyaaa maaas." Ia malu menjadi pusat perhatian.


Langit membukakan pintu belakang mobil untuk Senja dan Senja segera masuk lalu menutup pintu mobil.


Langit melambaikan tangan menatap kepergian mobil yang ditumpangi istrinya tersebut.


Dengan cuek Langit kembali masuk ke dalam gedung, membiarkan mata wanita-wanita di sekitarnya berimajinasi dengan pikiran mereka masing-masing.


-Bersambung-


***Dear Readersku tersayang.


Author ingin minta tolong nih.


Bagi siapa aja yang baca novel ini, jangan kasih like aja tapi juga komentar kalian ya.


Aku lagi penasaran banget nih sama siapa orang yang pertama kali baca novel ini.


Kadang udah lulus review, trus gak sampai lima menit udah ada beberapa like tp gak ada komentar.

__ADS_1


Kasih komentar kalian yaaa.. aku penasaran.


Maaf merepotkan dan Terimakasih***.


__ADS_2