SENJA

SENJA
Bingkisan Cinta


__ADS_3

"Aya, kok temennya nggak diajak masuk sih Nak!" teriak Ibu dari dalam rumah.


"Ya Buuu!!" jawab Senja dengan sedikit berteriak. "Masuk aja yuk," lanjut Senja pada kedua sahabatnya.


"Lho ini teman Aya yang tadi kan?" tanya Ibu yang datang dengan membawa sepiring pisang goreng dan sirup.


"Hehe, iya Bu. Maaf ya ganggu," kata Ifa.


"Enggak kok, silakan dicicipi, mumpung masih hangat," kata Ibu.


"Jadi ngerepotin Bu," kata Ucik.


"Enggak kok," jawab Ibu sambil ikut duduk lesehan di depan TV bergabung bersama Senja dan kedua sahabatnya.


"Kalian rumahnya mana?" tanya Ibu lagi.


"Kita rumahnya desa Palem Bu," jawab Ifa.


"Wah, lumayan ya. Tadi ke sini naik apa?" tanya Ibu lagi.


"Naik sepeda Bu," jawab Ifa.


"Berapa lama perjalanan tuh, kalian udah sholat Dzuhur apa belum?" tanya Ibu.


"Udah Bu," serempak Ifa dan Ucik.


"Ya udah kalian ngobrol aja dulu, Ibu ke belakang lagi ya," pamit Ibu pada ketiganya. Namun baru saja bangkit, Ibu segera membalikkan badannya ke arah mereka bertiga dan berkata," Atau mending ngobrol di dalam aja, biar enak."


"Ke kamar aku aja yuk," kata Senja sambil menatap kedua temannya. Namun tiba-tiba dia menoleh kearah Sang Ibu, "boleh kan Bu?"


Ibu hanya mengangguk tanda setuju.


"Ya udah yuk, sekalian gladi bersih buat acara besok," kata Senja sambil menarik kedua kawannya.


"Permisi Bu," kata Ifa dan Ucik ketika berjalan melewati ibu Ami. Mereka pun berjalan beriringan menuju kamar Senja.


"Maaf ya, agak berantakan, hehehe," kata Senja sambil memungut beberapa barang yang tergeletak tak pada tempatnya.


"Ini di tutup apa dibiarkan terbuka aja?" tanya Ifa yang jalan paling akhir.


"Tutup aja deh. Tolong ya," jawab Senja. Senja menggelar sebuah tikar agar mereka dapat duduk lesehan di sana. Setelah itu Senja bergerak mengambil paper bag dari Indra dan segera membukanya di sana.


"Isinya apaan?" tanya Ifa yang kepo sambil melongokkan kepalanya kearah paper bag yang terbuka itu.


Mendapat pertanyaan itu, Senja segera menghentikan aktivitasnya dan berkata, "belum tahu, kan ini masih mau dibuka."


"Nggak sabaran banget," cibir Ucik.


Ucik dan Ifa memperhatikan dengan seksama kala Senja mulai memasukkan tangannya ke dalam paper bag itu.


"Sling bag, kalung, gelang, bando," gumam Senja sambil mengeluarkan satu-persatu benda dari paper bag itu.

__ADS_1


"Ya ampun!" pekik Ifa tertahan kala dia melihat sebuah kalung yang menurutnya begitu cantik. "Ini juga, ya ampun, cantiknya," lagi-lagi Ifa histeris kala melihat benda-benda cantik dihadapannya itu.


Senja masih diam namun tangannya tergerak untuk membuka sebuah amplop berwarna pink yang terselip di dalam tas itu.


Ifa begitu tertarik dan meneliti satu-persatu barang-barang dari Indra untuk Senja itu. Di saat Ifa begitu asik memperhatikan barang-barang cantik itu, Ucik tampak lebih tertarik untuk mengetahui isi dari sebuah amplop berwarna pink yang kini Senja pegang. "Buka dong, pengen tahu isinya aku," kata Ucik.


Bukannya segera membuka amplop itu, Senja malah menyodorkannya kepada Ucik.


"Maksudnya?" tanya Ucik yang tidak paham dengan maksud Senja menyodorkan amplop itu kepadanya.


"Bacain," ucap Senja kemudian.


^^^Dear Senja.^^^


^^^Aku nggak tahu dan nggak ngerti selera kamu seperti apa.^^^


^^^Aku nggak tahu apa yang lagi kamu suka.^^^


^^^Aku juga nggak ngerti apa mau dan ingin kamu.^^^


^^^Aku cuma tahu satu hal, yaitu aku suka sama kamu.^^^


^^^Aku harap kamu berkenan untuk menerima dan memakai seenggaknya satu dari barang-barang itu.^^^


^^^Kalau kamu nggak suka kamu buang aja nggak apa-apa.^^^


^^^Cepat sembuh Senja.^^^


^^^From Indra.^^^


"Fa," panggil Ucik pada Ifa.


Namun sepertinya yang dipanggil tak bereaksi sedikitpun. Dia masih asyik mengamati benda-benda cantik di tangannya.


"Ifa!"


Ifa terkejut hingga tak sengaja menjatuhkan benda-benda itu dari tangannya.


"Astaga Ucik, bisa nggak sih manggilnya biasa aja. Aku nggak budeg kali," gerutu Ifa sambil memunguti benda-benda yang baru saja dijatuhkannya.


"Aku udah panggil baik-baik Hanifa, tapi kamu nggak nyaut-nyaut," kata Ucik.


"Masa sih?" tanya Ifa sambil menatap Senja.


Senja pun segera menganggukkan kepala.


"Oke oke, sorry," kata Ifa sambil meletakkan benda-benda itu di hadapannya. "Jadi gimana?" lanjutnya kemudian.


"Nih," kata Ucik sambil menyodorkan surat dari Indra untuk Senja.


Ifa segera menerimanya dan membaca isi di dalamnya. Matanya membulat sebelum akhirnya dia berkata, "ini maksudnya?" kata Ifa sambil mengangkat surat itu dan mengharapkannya pada Ucik dan Senja.

__ADS_1


"Menurut kamu?" bukannya menjawab Ucik malah balik bertanya.


Ifa menjatuhkan tangan beserta surat itu di pangkuannya, kemudian dia nampak tertunduk lesu. "Itu Si Indra nembak nggak sih?"


"Kayaknya itu bukan nembak tapi pemberitahuan," sambung Ucik.


"Senja, kamu gimana?" tanya Ifa pada Senja dengan wajah memelas.


"Gimana apa maksudnya?" tanya Senja.


"Indra kayaknya pengen kamu jadi pacarnya deh," kata Ifa lesu.


Senja tak lagi menjawabnya. Dia hanya menggelengkan kepala.


"Aaaaaaa, Bundaaa, gimana nasib Ifa," rengek Ifa sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Ucik dan Senja hanya menatap sahabatnya tanpa ada niat untuk berkata-kata.


Di sisi lain sepasang mata tampak mengamati mereka dari kejauhan melalui jendela kamar Senja yang terbuka. Pemilik dari sepasang mata itu segera merogoh sesuatu dari kantong celananya. Setelah mendial nomor seseorang, dia nampak melakukan sebuah percakapan. "Mission clear, bingkisan elu udah nyampe di Senja."


^^^"Lu tahu dari mana?" jawab seseorang di seberang sana.^^^


"Bukan cuma tahu kalau bingkisan itu sudah sampai ditangan Senja, tapi aku juga tahu rumah Senja."


^^^"Ok, kasih tahu aku kalau ada kabar apapun tentang Senja."^^^


"Siap bos."


^^^"Oke, lanjutin. Gua masih ada urusan."^^^


Bip


Seseorang itu akhirnya mengakhiri percakapan via teleponnya dan segera memasukkan benda kotak itu ke dalam tempat semula. "Tck... kenapa harus cewek macem elu sih. Cari susah aja si bos ini," gumamnya sambil menyalakan mesin motornya dan melajukan nya bergerak memutar arah.


"Rayi," lirih Ifa.


"Apa Fa," tanya Ucik yang tak sengaja mendengar gumaman Ifa.


"Enggak," jawab Ifa karena merasa tak yakin dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Jelas-jelas aku tadi dengar kamu sebutin nama Rayi. Rayi kenapa? Dia Rayi temannya Indra kah?" tanya Ucik penasaran.


Mendengar nama Rayi dan Indra disebutkan secara beruntun, Senja yang semula tengah sibuk membaca ulang teks sambutannya untuk besok, refleks menoleh dan menatap Ucik. Namun tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dia hanya akan menjadi pendengar terkait hal yang tengah dibicarakan kedua sahabatnya. Mendapat sorot ingin tahu dari Uci dan tatapan menanti dari Senja, Ifa pun nampak menghela nafas dan kemudian berkata, "aku tadi sekilas kayak ngelihat Rayi di sana," kata Ifa sambil menunjuk ke arah luar jendela.


TBC.


Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.


Makasih ya yang udah bersedia mampir.


Semoga suka sama ceritanya.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.


Happy reading, love you all.


__ADS_2