SENJA

SENJA
Aku bukan Masa Lalu


__ADS_3

Hello dear.


Senja mungkin bentar lagi end nih.


Untuk Ending kalian lebih suka happy apa sad?


Happy reading.


Datang terlambat sudah tak lagi menjadi kebiasaan Senja kini. Drama saat berangkat sekolah juga tak pernah terjadi. Jika sesekali dia diantar atau jemput Sang Kakak, itu murni karena Atma yang menawarkan bukannya Senja yang meminta. Namun pagi ini dia nyaris telat karena angkot yang ia tumpangi pecah ban, sehingga harus menunggu angkot pengganti. Arga yang melihat Senja yang berjalan tergesa di gerbang segera menghentikan motornya.


"Ayuk, bareng sampek parkiran biar deket ke kelasnya."


Senja pun segera naik tanpa ba-bi-bu. Sampai di parkiran, Senja segera turun dari motor.


"Kamu jalan aja dulu."


Senja menggeleng. "Parkirnya cepetan ya, aku tungguin."


Arga segera memarkirkan motornya. Setelah itu ia segera menghampiri Senja. "Harusnya duluan aja," ucap Arga sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Masih beberapa menit," jawab Senja kemudian keduanya mulai berjalan beriringan.


"Ke kelas sendiri berani nggak?" tanya Arga begitu mereka tiba di persimpangan.


Senja terkekeh. "Ya berani lah Kak. Aku ke kelas dulu ya." Senja kemudian berlari dengan riang menuju kelasnya.


Arga tersenyum menatap gadis kecil yang akhir-akhir ini sering mengganggu hidupnya. Ralat, bukan mengganggu namun lebih tepatnya membuat hidupnya lebih berwarna. Setelah merasa cukup dengan lamunannya, Arga kembali melanjutkan langkah.


Dengan kaki panjangnya, Arga berhasil menyusul 2 orang yang semula berjalan cukup jauh darinya. Saat ia ingin mendahului mereka, tiba-tiba tali sepatunya lepas. Jadi terpaksa Arga berhenti untuk mengikatnya.


"Iya, berhasil kayaknya."


Arga dapat mendengar jelas apa yang mereka katakan. Sama, aku juga berhasil boncengin bocah. Arga terkekeh dengan pikirannya.


"Wah, Bang Tito emang the best. Bikin rencana pagi, eh sore dah goal aja."


Arga menautkan alisnya. Tito? Punya rencana apa lagi dia? Setelah selesai mengikat sepatu pun Arga tetap bertahan di belakang mereka.


"Btw pengen deh kayak Indra, soal cewek aja semua pada turun tangan?"


Cewek? Jangan-jangan? Perasaan Arga mulai tak tenang.

__ADS_1


"Makanya tajir dong kayak Indra, hehehe."


Sial! Arga mengumpat dalam hati saat ia terpaksa berhenti karena kini ia sudah sampai di area kelasnya. Dengan langkah berat Arga berjalan menuju kelasnya, lengkap dengan pikiran yang berkecamuk dan berbagai spekulasi terkait pembicaraan yang tanpa sengaja ia dengar barusan.


Bel masuk pun berdering. Arga mempercepat langkah untuk segera sampai di kelas.


Ddrrkk


Brak


"Anj**g! Santai dong!" Bambang mengumpat kala Arga dengan tak sabar menyeret kursi dan meletakkan tasnya dengan kasar di atas meja.


Arga tak membalas umpatan Bambang. Dia masih setia dengan wajah tegang menahan emosi.


Hari yang baru masuk kelas langsung menyadari ada yang tak biasa dengan kawannya ini. "Dia kenapa?" tanya Hari pada Bambang sebelum ia menuju tempat duduknya.


Bambang menggidikkan bahu. "Tahu, baru dateng tampangnya udah kayak orang ngajak ribut."


Tak lama berselang, Guru mata pelajaran mereka pun datang. Dan pelajaran pun di mulai saat itu juga.


Sementara itu di kelas Senja. Sejak masuk kelas sampai sekarang, Senja sama sekali belum menyapa Ucik dan Ayu. Ifa terus mengajaknya ngobrol sampai-sampai ia tak bisa menoleh ke belakang sedikitpun.


Dari luar, nampak Pak Umar berjalan dengan langkah cepat dan berhenti di meja guru. "Selamat pagi anak-anak. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Pak Bayu berhalangan hadir hari ini, jadi saya akan memberikan tugas kepada kalian." Pak Umar diam sejenak memperhatikan reaksi siswa-siswi kelas ini. Setelah menyapu seluruh kelas, pandangannya bertemu dengan 1 titik, dimana titik ini menjadi pengingat lukanya di masa lalu. Bocah ini sudah berani ya menatapku.


Bocah yang dimaksud adalah Senja. Cerita yang dia dengar beberapa hari yang lalu membuatku tahu, apa penyebab Gurunya ini sering kali bersikap tak adil padanya. Dia memberanikan diri untuk mengangkat wajah dan menatap sosok yang sebenarnya berwajah kalem itu. Lihat aku baik-baik Pak. Aku ini orang yang berbeda dengan yang ada di masa lalumu. Batin Senja saat pandangan keduanya bertemu.


Pak Umar lebih dahulu memutus kontak. "Tolong kalian membentuk kelompok, satu kelompok terdiri dari dua orang. Ini saya tawarkan, perlu diundi atau cukup dengan teman sebangku saja?"


"Teman sebangku saja Pak!" jawab sebagian siswa siswi di kelas ini.


"Baiklah. Tugasnya, kalian cari kerikil, ranting, daun kering atau apapun yang bisa kalian kreasikan di atas kertas. Ditempel ya? Selanjutnya diakhir jam pelajaran ini, tolong ketua kelas mengumpulkan di meja Pak Bayu. Ada yang perlu ditanyakan?"


"Tidak Pak!!"


"Kerjakan dengan serius, jangan bikin gaduh. Saya akan mengawasi kalian. Silahkan keluarga untuk mencari bahan. wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Setelah mengucapkan salam Pak Umar mulai berjalan keluar diiringi jawaban salam dari semua siswa.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh."


"Senja..." Baru saja Ayu ingin menyapa Senja, namun yang disapa sudah di tarik begitu saja oleh Ifa untuk meninggalkan kelas.

__ADS_1


Ucik menepuk bahu Ayu. "Udah biarin aja."


Ayu mengangguk lesu.


Di luar, Senja dan Ifa terus berjalan menuju deretan gedung kelas VIII dan IX.


"Ifa mau kemana sih ini?" tanya Senja yang sadar kalau kini mereka akan tiba di area kelas Arga.


"Kamu belum pernah ke sini kan? Di belakang situ ada sungai, kali aja kita nemu sesuatu yang bagus sambil jalan-jalan mumpung sepi." Ucap Ifa riang dengan sesekali menatap kelas Rayi. For your information ya dear, kelas Arga dan kelas Rayi plus Indra itu berdekatan, dan keduanya sama-sama kelas C, Arga IX c dan Indra VIII c.


Senja tiba-tiba berhenti, dia hendak berbalik namun Ifa menahannya.


"Ihh, Senja ngga asik ih."


"Ifa jangan aneh-aneh deh. Yang lain nggak ada yang jalan ke sini. Mereka pada nyari bahan di sekitar kelas!"


"Ya makanya kita nyari ke sini, di sana pasti udah habis di serbu anak-anak!" Ifa tetep kekeh menarik Senja.


Akhirnya Senja pasrah Saja.


"Kalian mau kemana?" Suara Pak Umar ini berhasil menghentikan langkah mereka.


Senja dan Ifa menghentikan langkah. "Mau cari bahan di sana Pak," jawab Ifa sambil menunjuk sebuah sudut yang terdapat ilalang lengkap dengan bunganya.


"Alasan. Pasti kalian mau main kan? Siapa yang mau kamu cari, Senja!" tanya Pak Umar dengan menatap tajam gadis dengan wajah yang begitu mirip dengan cinta masa lalunya.


Senja hanya menggeleng, karena pada kenyataannya dia hanya di seret Ifa, bahkan dia kekeh untuk kembali ke sekitar kelas.


Bu Nani yang sedang mengajar di salah satu kelas mendengan ada suara tak jauh dari kelasnya. Spontan Bu Nani segera menghampiri ketiganya saat tahu siapa yang ada di sana.


Tanpa ada yang tahu, terdapat beberapa pasang mata yang tanpa sengaja menyaksikan kejadian itu.


Senja, sebenarnya ada masalah apa kamu sama Pak Umar.


TBC


Say something dear.


Sepertinya Senja sudah menuju babak akhir ini.


Satu persatu misteri sudah terjawab, tinggal bagaimana Senja kecil menghadapinya.

__ADS_1


Ikuti terus ya ceritanya ya.


__ADS_2