SENJA

SENJA
144


__ADS_3

***Hallo hallo readers ku tersayank, maaf aku gak bisa balas komentar kalian satu per satu. Yang jelas author juga lagi sebel banget sama Langit.


Untuk episode selanjutnya siap-siap greget juga ya!


Jangan lupa buat like, komen, vote dan kasih bintang 5 buat karya ku***.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Pagi ini dimeja makan Senja dan Langit tak bertegur sapa, namun Senja tetap melakukan kewajibannya melayani Langit. Clara yang tidak tahu apa-apa tetap bersikap biasa saja, bercanda dengan semua orang di meja makan.


"Sayang, kalau selesai makannya kita segera berangkat ya." Ajak Senja, ia ingin segera meninggalkan meja makan itu.


"Sky sudah, Ma." Kata Sky.


"Sora juga." Sora memasukkan suapan terakhirnya ke dalam mulutnya.


Senja mengambil piring miliknya dan milik anak-anaknya untuk dibawa ke dapur kotor, "Pamit dulu sama papa dan tante Clara, tunggu Mama di luar ya." Ucap Senja sebelum meninggalkan meja makan.


Sky dan Sora bergantian berpamitan dengan Langit dan Clara lalu menunggu Senja di teras depan.


Usai dari dapur kotor, Senja pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Langit dan Clara. Namun Langit mengacuhkan Senja juga, ia juga kesal dengan sifat senja yang menurutnya kekanak-kanakan.


"Pagi, Nona." Sapa Hengky ketika Senja keluar rumah.


Hengky bisa menebak jika Senja baru saja menangis melihat mata Senja yang sembab dan Ia keluar tak bersama Langit.


"Pagi, Mas." Balas Senja, Ia langsung masuk ke dalam Mobil.


"Mas Hengky." Senja membuka kaca mobil.


"Ya, Nona."


"Enna dirumah mana?" tanya Senja.


Hengky tersenyum, "Di rumah saya, Nona."


"Iya, mas. Makasih ya. Saya pergi dulu." Senja menutup pintu mobil.


Hengky mengangguk melihat kepergian mobil yang ditumpangi Senja.


"Udah berangkat dia?"


Pertanyaan Langit sedikit membuat Langit terkejut.


"Nona Senja baru saja berangkat, Pak." Jawab Hengky, Ia melihat Clara membawakan Jas dan Tas Langit.


"Lo lihat apa?" Tanya Langit yang tak suka cara Hengky memandang Clara.


Hengky menggeleng dan lebih memilih membukakan pintu mobil untuk Langit.


Clara membantu Langit memakaikan jasnya. "Hati-hati ya, Kak."


"Iya, Lo jangan kluyuran aja. Kalo butuh apa-apa telpon kakak." Pesan Langit.


"Oke."


Hengky menutup pintu mobil, berpamitan dengan Clara kemudian masuk ke dalam mobil.


Sementara itu. Usai mengantar Sky dan Sora ke sekolah, Senja memutuskan untuk menemui Enna. Ia sudah harus melepaskan kegelisahannya, ia tak mau kegelisahannya berdampak buruk ke psikis hingga menganggu kehamilannya.


Senja sudah sampai di rumah Hengky, Enna terlihat usai olahraga pagi.


"Hai, En. Apa kabar?" Tanya Senja ketika turun mobil. "Masih mual-mual?"


"Kok tumbenan kesini? Ada apa?" Enna mengabaikan pertanyaan Senja, ia memegang kedua pipi sahabatnya itu. "Kamu habis nangis?"


Senja berusaha menahan air matanya, namun tidak bisa. Kepedihannya yang selama ini terpendam ia tumpahkan saat itu juga.


Enna tak membiarkan Senja begitu saja, ia segera memeluknya memberikan tempat bersandar untuk Senja.


"Ayo ke dalam, kita cerita di dalam." Enna mengajak Senja masuk.


Enna memberikan segelas air putih untuk Senja agar ia lebih tenang.


"Aku sudah mencoba menahannya selama ini, En. Tapi tidak untuk sekarang. Istri mana yang tidak marah ketika melihat suami yang dicintainya tidur dengan wanita lain. Istri mana yang tidak tersakiti perasaannya ketika dibanding-bandingkan dengan wanita lain?" Senja cerita dengan sesenggukan.


"Aku sudah bersabar dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan Clara daripada aku. Setiap hari aku membiarkan dia pergi ke kamar orang lain, Aku sendirian dikamar melakukan perang batin. Mencoba untuk membodohi diriku sendiri bahwa aku tidak terluka.

__ADS_1


Sekarang aku benar-benar terluka, Ena. Hatiku sakit! dan dia mengabaikannya. Mengacuhkan luka ku."


Enna kembali memeluk Senja mencoba memberi sedikit ketenangan. Ia tak berani memberi pendapat, karena ia tak pernah ada di posisi Senja saat ini. Ia juga bukan orang bijak yang bisa memberikan quotes penyemangat


Enna mendengarkan semua keluh kesah Senja, hingga Senja mulai merasa tenang. Air matanya sudah tak menetes, nafasnya mulai teratur, hanya sisa sesenggukannya.


"Sebenarnya kami pun juga merasa Pak Langit sudah terlampau memanjakan Clara, Mas Hengky dan Pak Marko juga berniat untuk memberitahu suamimu. Tapi mereka masih menunggu waktu yang tepat." Ujar Enna.


"Aku harap pendapat sahabatnya bisa merubah suamiku, En."


"Apa kamu tidak mencoba untuk bicara dengan Clara?" Tanya Enna.


"Aku bisa apa ketika dia membicarakan tentang traumanya yang belum hilang Hingga sekarang?"


"Bagaimana dia mengatasi traumanya selama dia tinggal di London?" Tanya Enna lagi


"Dia tinggal di asrama, satu kamarnya berisi 10 siswa. Mereka yang menemani Clara hingga tertidur, barulah mereka semua bisa tidur."


"Oya, setia sekali mereka?"


"Mas Langit membayar teman-temannya itu."


Enna mengangguk-angguk, "Ternyata uang yang berbicara."


"Makasih ya En, kamu sudah mau mendengar keluh kesahku."


"Emang baru pertama ini kamu cerita tentang keluh kesahmu?" Enna mencoba bercanda.


Senja hanya tersenyum.


"Sebaiknya kamu acuhkan saja masalah ini, Nja. Hibur dirimu sendiri, kasihan anak kamu yang di dalam ini." Enna mengusap perut Senja. "Masih satu setengah bulan lagi."


Senja mengangguk, "Aku pasti kuat En."


Enna senang melihat Senja sudah terlihat tegar. Mereka melanjutkan obrolan dengan santai.


***********


Malam ini Senja berniat turun ke dapur mengambil air putih untuk meminum vitaminnya sebelum tidur. Sky dan Sora masih terlihat berlarian di sekitar Senja.


"Sky, Sora! Sudah malam, ayo tidur sayang." Pinta Senja


"Hati-hati, sayang."


PYAR!


Baru Senja meneguk air putih, Sora menabraknya hingga gelas itu terjatuh.


"Sky! Sora! Hati-hati!" Teriak Senja khawatir kaki anak-anaknya terkena pecahan gelas.


"Ada apa, Nona?" Ella yang baru saja datang terkejut melihat pecahan gelas di lantai.


"Bu Ella, tolong bantu anak-anak pergi." pinta Senja.


Tanpa diminta Kartika dan Amel segera menggendong Sky dan Sora menjauh dari pecahan kaca.


Ella membantu menuntun Senja dengan hati-hati keluar lantai yang licin dan bertebaran pecahan kaca.


"Mama, maafin Sora kurang hati-hati." Ucap Sora menyesal.


"Iya, lain kali harus hati-hati ya." Kata Senja, "Mama temenin dikamar yuk."


"Iya, Ma."


Senja menuntun Sky dan Sora ke kamarnya dan bersiap untuk tidur.


"Argh!" Senja memekik kesakitan dan memegang perutnya.


"Mama kenapa?" Sky dan Sora terkejut melihat mamanya kesakitan.


"Aaargggghhhh!!"


Senja semakin memekik kesakitan, tubuhnya sudah terjatuh di lantai.


"Bu Ella!!!" Sky keluar kamar dan memanggil Ella.


Tak lama Ella, Kartika dan Amel menghampiri kamar Sky dan Sora.

__ADS_1


"Astaga, Nona!" Ella terkejut, "Tika, Amel. Cepat angkat Nona ke mobil, kita harus segera membawanya ke rumah sakit." kata Ella.


Dengan segera Senja dibawa keluar kamar, Ella mencoba menenangkan Sky dan Sora agar tinggal di rumah saja.


Ella pergi mengantar Senja ke rumah sakit dan mencoba terus menghubungi Langit.


**********


"Papa!!" Teriakan Sky dan Sora yang diiringi tangisan membuat Langit yang baru saja masuk rumah bersama Clara terkejut.


"Kalian kenapa menangis?" Langit terlihat panik.


"Mama tadi kesakitan dan pingsan, sekarang Mama dibawa bu Ella ke rumah Sakit."


"Mama Pingsan!" Langit lebih terkejut, ia melihat ponselnya namun mati. "Mama dibawa kerumah sakit mana sayang?" tanya Langit.


"Ke rumah sakitnya tante Aira, Pa."


"Kalian dirumah dengan tante Clara ya, Papa susul Mama dulu."


Tak menunggu Jawaban, Langit segera berlari meninggalkan rumah. Ia mengendarai mobilnya yang masih terparkir di halaman depan dan segera menuju ke rumah sakit Aira.


Tak sampai lima belas menit Langit tiba di depan ruang IGD rumah sakit, Ia memarkirkan asal mobilnya dan berbekal tanya di bagian Informasi ia mengetahui keberadaan Senja.


Terlihat Aira sedang menjelaskan sesuatu pada Ella dan yang lainnya.


"Ra! Gimana keadaan Senja?" Tanya Langit ketika sampai didepan brankar Senja.


Langit menghampiri Senja yang sedang tak sadarkan diri dengan selang infus di tangannya dan selang oksigen di hidungnya.


"Saya baru saja mengambil sampel darah, kita akan tahu hasilnya dua jam ke depan. Dugaan saya dia meminum obat perangsang kandungan. Gejalanya persis seperti orang yang akan melahirkan." Ujar Aira


"Bagaimana kondisi bayiku, Ra?"


"Kita lihat hasilnya ke depan ya, kami sudah melakukan tindakan yang terbaik."


Langit terlihat pilu melihat keadaan Senja.


"Apa yang Senja minum hari ini bu Ella? Apa dia lupa meminum obatnya?" tanya Langit.


"Setahu saya, sebelum nona seperti ini beliau minum air putih yang ada diatas meja makan, tuan. Tapi nona Sora tak sengaja menabrak nona Senja hingga Gelasnya terjatuh."


Penjelasan Ella mebuat Langit naik pitam, "Pinjam HP kalian!"


Kartika dan Amel memberikan ponsel mereka, Langit mengambil salah satu ponsel itu dan melakukan panggilan keluar.


"Ky, Gue mau lo kerumah gue! Selidiki siap yang menyiapkan air minum diatas meja makan. Ambil air itu dan periksa ke lab. Pastikan semua orang yang Ada dirumah kau periksa."


Langit mengakhiri panggilannya, "aku pinjam ponsel ini. Beritahu Hengky jika ada apa-apa hubungi aku di nomer ini."


"Baik, tuan. "


"Kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan." Ucap Aira.


Langit mengangguk, "Berikan Senja kamar terbaik disini." Kata Langit.


Aira mengangguk.


Dibantu perawat pria, Senja segera pindah kamar.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2