
Senja ditemani Hengky dan Enna sudah berdiri di depan ruang pemeriksaan dimana Langit sedang ditangani oleh beberapa dokter.
"Nja, tenang Nja. Ingat kandungan, Nja." Enna mencoba menenangkan Senja yang sedari tadi tak henti mondar mandir menggigit kuku ibu jarinya menunggu dokter yang tidak keluar-keluar.
"Lebih baik anda duduk saja, Nona." Pinta Hengky.
"Apa yang sebenarnya terjadi padanya, Mas?" Senja mencoba mencari tahu keadaan Langit hari ini pada Hengky.
Hengky mencoba mengingat semua kegiatan Langit hari ini. "Apa mungkin karena Pak Langit tidak makan seharian?"
Senja mengernyitkan dahinya, "Tidak makan?"
"Pak Langit terus memikirkan anda sejak pagi tadi."
Ceklek
Pintu ruang pemeriksaan Langit terbuka, dokter Prast keluar dan membuka maskernya.
"Tuan Langit sudah kami pindahkan ke ruang perawatan. Beliau hanya perlu istirahat dan tolong tidak mengkonsumsi obat-obatan yang tidak perlu. Saya melihat ginjal Tuan Langit tidak sebaik biasanya."
"Obat?" Senja memperjelas perkataan dokter Prast, lalu ia menatap Hengky. "Apa mas Langit sedang sakit?"
"Tidak, Nona. Setahu saya Pak Langit tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan sejak anda kembali."
"Dia hanya susah tidur beberapa minggu terakhir ini, dokter." Kata Senja, "Tapi setahu saya dia tidak pernah mengkonsumsi obat."
dokter Prast mengangguk, "Kita tunggu saja hasil lab besok pagi, Nona. Anda bisa pergi menemui tuan Langit sekarang."
"Ah, iya. Terimakasih dokter."
Senja, Hengky dan Enna pergi dengan diantar seorang suster menuju ke kamar Langit.
Setelah naik lift dan melewati beberapa lorong akhirnya Senja, Enna dan Hengky tiba dikamar Langit.
Senja langsung menghampiri Langit yang sedang terbaring lemah dengan selang infus menancap ditangannya. Ia duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Lagit dan memegangi tangan Langit. Ia sudah melupakan sakit hatinya, kini ia sedang sangat khawatir dengan suaminya.
"Nja, sebaiknya kamu pulang aja. Kamu harus memikirkan kesehatanmu juga. Biar mas Hengky yang berjaga disini." Kata Enna
"Iya, Nona. Sebaiknya anda pulang dan beristirahat. anda bisa kemari besok pagi." Tambah Hengky
Senja menggeleng, "Aku ingin menjaganya."
"Kamu harus memikirkan anak dalam kandunganmu juga, Nja." Enna masih memaksa Senja.
Senja melihat perutnya yang sudah besar, "Baiklah." Ia berdiri dari duduknya. "Tolong jaga mas Langit ya, mas." pinta Senja pada Hengky.
"Baik, Nona."
"Mas, Aku pulang dulu ya." Pamit Enna pada Hengky.
"Hati-hati sayang."
Senja dan Enna pun beranjak meninggalkan rumah sakit. Senja lebih dulu mengantar Enna pulang, barulah ia pulang kerumahnya.
Walau sudah malam, Ella tetap menyambut kedatangannya.
"Bu Ella, apa bu Ella tahu jika mas Langit sedang mengkonsumsi obat beberapa bulan ini?" tanya Senja.
"Tidak, Nona. Setahu saya Tuan sudah tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan sejak Nona disini." Ella memberikan jawaban yang sama seperti yang Hengky sampaikan.
"Apa kondisi tuan Langit sedang tidak baik, Nona?" Tanya Ella.
Senja mengangguk, "Kondisi ginjalnya sedang tidak bagus."
Ella teringat akan sesuatu, "Beberapa hari lalu saat saya membersihkan sampah di kamar anda, didalamnya ada satu botol bekas obat, Nona."
__ADS_1
"Oya? Obat apa bu Ella?" Tanya Senja.
Ella menggeleng, "Maafkan saya, Saya tidak terlalu memperhatikannya, Nona."
Senja menghela nafas kecewa. "Tidak apa-apa bu Ella, saya bisa menanyakannya saat mas Langit sudah sadar."
Ella mengangguk membiarkan Senja beranjak pergi.
"Nona,"
Panggilan Ella membuat langkah Senja terhenti, "Ya bu Ella?"
"Saya juga beberapa kali melihat botol obat itu di sisa pembakaran sampah belakang, Nona."
Senja mengernyit, "Sepertinya saya harus tanya sendiri pada mas Langit, Bu."
"Iya, Nona. sebaiknya begitu."
"Saya ke kamar dulu, Bu Ella."
"Baik, Nona. Selamar beristirahat." Ucap Ella.
Senja melanjutkan langkahnya pergi kembali ke kamarnya.
Ia mencoba memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya agar bisa segera beristirahat, namun semua itu tidak berguna. Senja masih saja memikirkan apa yang sedang terjadi dengan suaminya, apa ada yang sedang suaminya sembunyikan darinya.
**********
Usai mengantar kedua anaknya ke sekolah, Senja segera mengunjungi Langit. Ia lebih dulu mendapat kabar sejak subuh tadi jika Langit sudah sadar.
Langit sangat senang melihat kedatangan Senja, sejak tadi ia sudah berfikir bahwa Senja sudah tidak mempedulikannya.
"Gimana keadaan kamu, mas?" Tanya Senja.
Langit mengangguk, "Aku udah lebih baik sekarang."
Langit terlihat kebingungan, "Aku tidak pernah minum obat apapun, sayang."
"Bu Ella pernah menemukan bekas botol obat di sampah kamar kita, Juga beberapa di tempat pembakaran. Apa kamu bisa jelaskan itu?"
"Ooh, beberapa hari yang lalu aku menemukan beberapa obat tidur di kamar Clara. Aku sempat mau menanyakannya pada Clara, karena Clara tidak bisa mengkonsumsi obat tidur. Sangat bahaya untuk kesehatannya."
Senja kini sudah tahu jawabannya, ia menatap Hengky. Hengky terlihat mempunyai pemikiran yang sama dengan apa yang sedang senja pikirkan.
"Aku akan bicara satu hal apa yang ada dipikiranku. Aku tidak memaksamu untuk percaya padaku, mas. Tapi kamu bisa buktikan sendiri."
"Ya, Apa itu sayang" tanya Langit.
"Aku sedang menduga Clara yang setiap malam memberikan obat tidur padamu untuk membuatmu selalu tidur bersamanya."
"Hahahahaha, Itu sangat konyol, Nja." Langit menertawakan dugaan Senja.
"Apa lo percaya itu, Ky? Bukankan itu gak masuk akal." Tanya Langit pada Hengky
Hengky mengangguk, "Saya juga sepemikiran dengan nona Senja, Pak."
Jawaban Hengky membuat tawa Langit berubah menjadi marah. "Untuk apa Clara berbuat hal yang akan merugikanku?"
"Dia menyukaimu mas." Jawab Senja.
"Jelas! Dia adikku. Sudah pasti dia menyukaiku."
"Menyukaimu sebagai seorang pria mas, bukan seorang saudara." Senja memperjelas.
Langit terdiam, ia sama sekali tidak bisa menerima dengan baik pernyataan Senja.
__ADS_1
"Aku tidak memaksamu untuk percaya padaku, kelak kamu bisa buktikan sendiri. Jangan pernah minum atau makan apapun yang ada disekitarnya saat kamu sedang menunggunya tidur."
Langit masih diam dan hanya menatap wajah dingin Senja.
"Kaaaak!!"
Keheningan ruangan terpecah dengan kedatangan Clara yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Langit dan memeluk Langit tanpa mempedulikan keberadaan Senja. Marko dan Zia menyusul masuk kemudian.
"Kenapa lo bisa sampai sakit kaya gini sih, Kak?" Clara masih memeluk tubuh Langit.
Langit segera mendorong tubuh Clara menjauh dari tubuhnya, ia merasa dia tidak enak pada Senja.
"Gue udah baik-baik aja, Ra." Jawab Langit.
"Aku balik dulu, mas."
Senja hendak melangkah pergi namun dengan segera Langit meraih tangan Senja untuk menahannya agar tidak pergi.
"Aku butuh kamu disini, Nja." kata Langit
Senja Langit yang sedang mengiba padanya, lalu ia pindah menatap Clara yang sedang menatapnya. Tak raut wajah kebencian disana, masih seperti Clara yang baik dan ceria sebelum Senja mengetahui kebusukannya.
"Ra, Sebaiknya lo pulang dulu. Kakak akan temui lo kalau sudah keluar dari rumah sakit." pinta Langit pada Clara.
"Di rumah Lo usir gue, bahkan disini lo juga usir gue kak?" Protes Clara.
"Ngertiin kakak ya, Ra." pinta Langit lagi.
Clara menatap kesal Langit dan Senja kemudian dia pergi meninggalkan kamar Langit.
Sepeninggalnya Clara, dokter Prast masuk ke dalam ruangan Langit dengan beberapa dokter lainnya. Ia membawakan sebuah papan berdiri untuk meletakkam hasil rontgen Langit. Secara bergantian dokter prast dan dokter spesialis lainnya menjelaskan tentang hasil pemeriksaan pada tubuh Langit.
Dan seperti dugaan Senja, memang Langit sedang ketergantungan obat tidur. Jadi ia harus mulai melakukan teraphi untuk kembali normal.
Langit benar-benar dibuat bingung saat ini, Semua fakta sedang menunjukkan jika Clara memang sudah membuatnya seperti ini, namun ia masih berkeyakinan jika adiknya tidak akan melakukan hal ini.
**********
Sudah hampir seminggu Langit menjalani teraphi untuk lepas dari ketergantungan obat tidur. Senja sangat mensuportnya hingga Langit mengalami perkembangan yang bagus.
Hengky dan Marko sedang berkumpul di ruangan Langit, Hengky sudah mengumpulkan bukti-bukti untuk membukakan mata Langit bahwa Clara tak sebaik yang ia kira.
"Ini beberpaa transaksi pembelian obat tidur dosis tinggi lewat toko online dan ini bukti transaksi pembelian obat penggugur kandungan yang dibeli Clara untuk menggugurkan janin Nona Senja."
Pernyataan Hengky membuat Langit mematung, Dia mencoba untuk menyadarkan diri dan menganggap ini hanya mimpi.
"Clara yang sudah membuat Sky terluka di hari pertamanya bertemu dengan Sky, Clara juga yang dengan sengaja mendorong Sora masuk ke kolam renang." Tambah Marko, ia menyerahkan sebuah flasdisk berisi rekaman cctv yang pernah dihapus Clara.
"Dan yang lo harus tau. Clara tidak benar-benar sedang mengalami trauma tidur sendirian. Lo bisa cek beberapa teman asrama Clara di London." Tambah Hengky.
"Apa maksud kalian memberikan semua ini ke gue?" Tanya Langit menahan marah.
"Clara terobsesi ke lo, Lang. Dia suka sama lo bukan sebagai kakak. Dia sudah memanfaatkan rasa sayang lo ke dia." Hengky mencoba menyadarkan Langit.
"Tuan besar sudah menyadari ini dari awal. Karena gak ingin nyakitin perasaan Lo, makanya kalian sengaja dipisahkan. Itu alasan kenapa tuan besar menyuruh dia tinggal di asrama daripada bersama kita di Apartemen."
"Cukup, Ky! Lo terusin ngomong gue gak segan buat nonjok muka Lo!" Teriak Langit, tangannya sudah mengepal keras dan siap untuk memukul siapapun.
"Gue ngomong kaya gini karena gue peduli dengan lo, gue peduli dengan rumah tangga dan masa depan lo! Pikirin perasaan Senja, Lang! Dia sudah banyak berkorban buat Lo. Walau dia sakit ada disamping lo, tapi dia masih bertahan sampai sekarang. Gue harap lo cepet sadar, Lang. Jangan sampai Lo kehilangan dia untuk kedua kalinya."
Langit membenarkan perkataan Hengky, dia benar sudah membuat Senja berkorban banyak untuknya namun dia selalu membuat Senja tersakiti. Namun ia masih tidak bisa membenarkan bukti-bukti yang sudah Hengky dan Marko berikan padanya.
"Pergi dan cari tahu sendiri kebenarannya, Lang." Tambah Marko.
-Bersambung-
__ADS_1
*Masih mau ngumpulin penghujat Langit*