SENJA

SENJA
Apel


__ADS_3

Lapangan utama nampak begitu ramai saat ini. Apel pembukaan persami sedang dalam persiapan. Semua peserta nampak sibuk mencari posisi regu mereka masing-masing. Selain itu, bagi peserta yang ditunjuk ambil bagian menjadi petugas pun nampak tengah bersiap. Sedangkan panitia yang bertugas juga sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ditengah lalu-lalang yang padat itu, tiba-tiba microphone berdenging.


"Perhatian, perhatian. Semua harap berbaris sesuai dengan urutan regunya masing. Pinru berbaris paling depan dengan memakai papan dada yang bertuliskan nama regunya. Jangan sampai lupa! Dan wapinru berada pada barisan paling belakang. Apabila ada regu yang anggotanya tidak lengkap dalam apel pembukaan ini, harap segera melapor untuk mendapatkan sanksi dari panitia. Apabila ada yang tidak melapor namun ketahuan anggotanya kurang lengkap, akan dikenakan sanksi tambahan. Mengerti?!"


"Senja, mending kamu ke sana aja deh, neduh," kata Ayu sambil menunjukkan gerombolan petugas upacara pembukaan.


"Enggak ah Yu, lagian nanti kalau waktunya aku ke depan kan lebih luwes kalau aku keluar dari barisan peserta, karena aku adalah perwakilan dari peserta," tolak Senja.


"Tapi di sini panas Senja," bujuk Ayu.


"Nggak apa-apa. Yang lain juga kepanasan kok."


Ayu hanya mampu menghela nafas dan kembali ke posisinya, yaitu di barisan belakang tepat di depan wapinru. Sedangkan Senja dia berada tepat di belakang pinru karena dia merupakan anggota yang paling tinggi dalam regu mereka.


"Regu Dahlia!" teriak salah seorang panitia dengan name tag Anna.


"Siap Kak!" jawab Rini sebagai pinru dengan lantang.


"Anggota regu kamu ada yang namanya Senja?" tanya Anna lagi.


"Siap, ada Kak," jawab Rini tegas.


"Santai aja, acara belum dimulai, kan upacara juga belum dilaksanakan," jawab Anna dengan ramah.


"Hehehe, terlalu bersemangat Kak," jawab Rini yang menanggalkan posisi siapnya.


"Jadi yang namanya Senja?" tanya Anna lagi.


"Saya Kak."


"Wah ternyata kamu disini," kaget Anna karena mendapati Senja berdiri tak jauh darinya ditambah postur Senja yang lebih tinggi darinya membuat Anna harus mendongak untuk dapat melihat wajahnya. Sejurus kemudian Anna tersenyum dan berkata,"tadi kok diem aja?"


"Maaf Kak, takut salah jawab," jawab Senja.


"Yuk ke sana aja. Jadi satu sama petugas yang lain," kata Anna.


"Tapi kata Kak Rosida waktu itu saya gabung sama peserta dan saat nama saya dipanggil saya baru keluar dari barisan peserta. Karena saya kan berperan sebagai wakil dari peserta Kak," kata Senja menjelaskan.

__ADS_1


"Udah, kamu sekarang ikut saya aja, ini tadi atas persetujuan Kak Fajar sebagai ketua pelaksana persami dan Kak Rivan sebagai Ketua OSIS."


"Tapi kalau anggotanya nggak lengkap, temen-temen regu Dahlia nggak kena hukuman kan Kak?" tanya Senja lagi yang kekeh belum juga mau mengikuti Anna.


"Kalau kamu kebanyakan nanya, saya yang akan turun tangan langsung menghukum kamu dan regu Dahlia," kata Anna dengan tatapan tajamnya.


"I, iya Kak," jawab Senja yang kemudian berjalan mengikuti Anna dari belakang.


Anna tersenyum kecil melihat adik kelasnya ini tampak takut terhadapnya. Padahal dia selalu mendapat predikat sebagai kakak paling ramah selama 2 tahun menjabat sebagai anggota OSIS.


Saat berkumpul dengan para petugas, Senja merasa begitu terasingkan, karena dia tak mengenal satupun diantara mereka. Sementara mereka nampak begitu asyik mengobrol satu sama lain.


"Hai, nama kamu siapa?" sapa seorang gadis dengan lesung pipi yang begitu manis sambil mengulurkan tangannya.


"Aku Senja," jawab Senja sambil menjabat uluran tangan dari gadis itu.


"Aku Hajar," kata gadis itu sambil tersenyum manis lengkap dengan lesung di kedua pipinya. "Kamu dapat tugas apa, kayaknya pas latihan kamu nggak pernah ada?" tanya Hajar kepada Senja.


"Aku mewakili peserta untuk sambutan. Aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba di pindah ke sini, karena skenario awal saat namaku dipanggil aku akan muncul dari barisan peserta," kata Senja menjelaskan.


"Oh. Ya udah aku ke sana dulu ya."


Dan Hajar pun segera kembali ke posisinya.


Kini tiba saatnya apel pembukaan persami dalam rangka penerimaan siswa baru di SMP negeri 1 dimulai. Semua tampak begitu serius mengikutinya. Seluruh pengurus OSIS dan dewan Galang menjadi panitia dalam pelaksanaan kegiatan kali ini.


Senja POV


Masih jam 9 pagi, tapi matahari terasa begitu terik. Untung aku tadi ada di barisan ini, setidaknya 2 pohon ini bisa menyelamatkanku aku dari pusing yang kerap kali mendera ketika aku berdiri dalam waktu lama di bawah teriknya sinar matahari. Tapi kenapa ya tiba-tiba kakak-kakak itu menyuruhku pindah ke sini? Masa iya karena permintaan dari kak Arga karena peristiwa tadi.


Kini tibalah giliran ku untuk menunaikan tugas. Aku pun maju menuju podium. Ku awali dengan basmalah, selanjutnya ku ucapkan salam.


Aku menyampaikan semua yang harus kusampaikan hingga akhirnya aku mengakhirinya dengan salam. Aku berjalan kembali ke tempat semula. Sebelum aku kembali ke posisi semula, entah mengapa ingin sekali aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru lapangan ini.


Degh!


Aku melihat senyum itu. Senyum yang selalu membuatku gelisah akhir-akhir ini. Tapi, untuk siapa dia tersenyum? Kucoba menatap matanya meski dari jarak yang cukup jauh. Mata itu nampak menatapku, dan kembali melayangkan senyum kala mata kami bertemu. Aku tak mau GR, jangan-jangan dia tengah tersenyum dengan orang lain di sekitarku. Akupun berusaha menemukan orang itu, namun sepertinya hanya aku yang tengah beradu pandang dengan pemilik senyum itu.

__ADS_1


Tanpa ragu aku memandang nya dengan menguntai senyum tulus untuknya. Dan dia pun sepertinya melakukan hal yang sama.


Ada rasa tenang saat dia berada di sekitarku meskipun dia tak melakukan apa-apa. Dan entah mengapa disetiap kesulitan ku, aku merasa dia selalu datang di saat yang tepat.


Entah mengapa, aku merasa wajahku tiba-tiba memanas. Aku segera menunduk dan meraba pipiku cepat.


"Kenapa tiba-tiba panas sih," lirihku.


Aku mengipas-ngipas wajahku dengan tanganku.


"Kamu kenapa?" tanya seseorang di depanku yang tiba-tiba menoleh karena aktivitas ku.


Aku hanya tersenyum sambil menggeleng, dan dia pun yang semula menoleh akhirnya kembali menghadap ke depan.


Setelah kurasa wajahku tak lagi terasa panas, aku segera mencari sosok dengan senyum menawan itu. Berharap aku masih bisa menatapnya meskipun dari jauh. Namun ternyata dia sudah tidak berada di sana, dia tak lagi berada di balkon lantai 2 dekat gudang alat-alat olahraga.


Aku pun sering kesana kemari mencarinya, entah mengapa aku begitu kecewa kala mendapatinya pergi begitu saja menghilang dari jangkauan mataku. Lengkungan di sudut bibir ku pun pudar begitu saja. Aku menarik nafas dan menghembuskannya kuat berharap akan mengusir sesak yang dengan lancangnya hinggap di dada.


"Kak Arga kemana sih?" gerutuku lirih. Saking lirihnya hingga aku merasa jika hanya aku yang mampu mendengar.


"Aku di sini."


Seseorang tiba-tiba berbisik dari belakangku.


Degh!


Jantungku rasanya nyaris melompat dari tempatnya. Suaranya mirip, tapi masa iya?


TBC.


Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.


Makasih ya yang udah bersedia mampir.


Semoga suka sama ceritanya.


Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.

__ADS_1


Happy reading, love you all.


__ADS_2