SENJA

SENJA
127


__ADS_3

Sudah hampir sebulan Zia menjadi pengawal dan asisten pribadi Marko. Hari ini Zia ikut Marko pergi ke Jogja bersama Anita dan Johan untuk menghadiri sebuah peresmian anak perusahaan Actmedia.


Usai acara potong pita dan ramah tamah, Marko sibuk dengan beberapa orang penting. Anita selalu berada di samping Marko. Zia dan Johan hanya mengawasi mereka dari jauh.


"Zi, "kamu ngerasa gak kalo Mbak Anita sama Den Marko cocok." Bisik Johan.


Zia menggeleng, "Enggak. Aku gak suka Mbak Anita, dia gak terlalu baik." Zia teringat beberapa kejadian antara Senja dan Anita.


"Ih, Masa sih? Tau darimana kamu?" Johan penasaran, Ia menyenggol bahu Zia dengan bahunya.


"Han!" Zia tak suka Johan bercanda disaat sedang bekerja.


"Serius amat, Zi." Johan semakin menggoda.


Tingkah Johan pada Zia membuat Marko menatap kearah mereka. buru-buru Zia menginjak kaki Johan, mengingatkan jika bosnya sedang memperhatikan mereka.


"Astaga!" Johan terkejut. Ia langsung memperbaiki sikapnya.


Marko kembali lagi berbincang dengan orang-orang penting itu.


Dari jauh Zia memperhatikan gelagat Anita yang selalu mencuri-curi kesempatan untuk berdekatan dengan Marko. Ingin sekali dia menjauhkan Anita dari Marko, mengingat Anita bukan orang yang terlalu baik.


Jam makan siang Marko habiskan bersama rekan-rekan bisnisnya dan Anita. Sedangkan Zia dan Johan makan siang di rumah makan pinggir jalan yang tak jauh dari tempat Marko makan siang.


Tiba-tiba saja ponsel Zia berdering, muncul nama Marko disana.


"Ya, Tuan."


"Selesai lo makan siang langsung balik ke hotel, istirahat jangan kemana-mana. Jam lima sore datang ke kamar gue." Terdengar Marko memberikan perintah.


"Baik tuan." Zia menutup telponnya.


"Kenapa Zi? Udah disuruh jemput?" Tanya Johan.


Zia menggeleng, "habis makan aku disuruh langsung balik ke hotel." Jawab Zia


"Trus, mereka balik sama siapa?" Tanya Johan.


"Han. Tuan Marko cuma nyuruh aku. Ya kamu tetep nungguin mereka sampai acaranya selesai." Kata Zia.


Seketika wajah Johan berubah masam, "Ku kira aku juga, Zi."


Zia tertawa kecil dan melanjutkan makannya. Walau dalam benaknya ia sedang bertanya-tanya kenapa ia harus istirahat dan harus ke kamar Marko jam lima sore.


Usai makan siang, Zia pergi kembali ke hotel tempatnya menginap. Sesuai dengan perintah Marko, Ia menghabiskan waktu sesantai mungkin. Ia menghubungi kedua orang tuanya, berlama-lama telpon dengan mereka. Tidur siang sesuka hatinya dan berendam di bathub senyaman mungkin.


Semua kegiatan siang hari yang jarang ia lakukan sudah ia lakukan. Masih sisa setengah jam lagi hingga waktunya mengunjungi Marko.


Ia berganti pakaian dan mengeringkan rambutnya yang masih basah. Ia hanya mengenakan celana panjang dan kemeja biasa. Wajah cantiknya hanya ia bubuhi pelembap dan bedak tipis serta lipstik warna peach untuk bibirnya.


Zia bergegas menuju ke kamar Marko. Masih kurang lima menit dari waktu yang ditetapkan Marko. Ia menunggu didepan kamar Marko. Barulah jam lima tepat Zia menekan tombol bel kamar Marko.


Marko membuka pintu kamar dengan hanya memakai handuk kimono, rambut Marko masih basah. Zia menjadi ragu untuk masuk.

__ADS_1


"Lo ngapain gak masuk?" Tanya Marko.


Zia akhirnya memutuskan untuk masuk, Toh dia masih bisa melindungi diri jika Marko berbuat hal tak senonoh.


"Gue mau ganti dulu, lo duduk dimana aja yang lo suka." Marko kembali masuk ke kamar mandi.


Zia melihat sebuah box berpita besar dan sebuah box peralatan make up ada diatas tempat tidur. Zia tak berani menyentuhnya walau penasaran. Ia memutuskan untuk menunggu Marko di balkon.


Tak lama Zia mendengar suara pintu terbuka. Marko memakai celana hitam dan kemeja putih yang masih berantakan.


"Sini, Zi." Marko menunjuk tempat tidur.


Zia mengernyitkan keningnya, Ia tak berani masuk ke dalam kamar.


"Jangan mikir macem-macem. Gue cuma mau make up in lo doank."


Zia masuk, "Kenapa saya harus di make up tuan?" Tanya Zia, ia duduk di tempat yang ditunjuk Marko tadi.


"Ikut gue makan malam" Jawab Marko, Ia mengambil kursi yang sediakan hotel dan duduk tepat didepan Zia.


Marko membuka box make up miliknya yang mungkin sudah beberapa waktu tak tersentuh.


"Kenapa tidak dengan Mbak Anita, Tuan?" Tanya Zia.


"Ngikut aja, bawel amat sih?" Protes Marko.


Zia diam, dan Marko mengenakan sebuah hairband dikepala Zia agar rambut depannya tak jatuh ke wajahnya.


"Hmm, Ganteng-ganteng gini skill make up gue masih bagus gak ya?" Marko bergumam.


Marko tersenyum ketika melihat Zia memejamkan matanya. Zia terlihat cantik seperti itu, wajah tegasnya sama sekali tak terlihat.


Zia pasrah membiarkan Marko menyentuh wajahnya, Ia hanya membuka mata ketika Marko menyuruhnya. Walau ragu bagaimana penampilannya nanti, ia pasrah juga karena ia tahu Marko tak akan membuatnya terlihat buruk dengan make up.


Lama Zia menunggu akhirnya Marko mengakhirinya. "Oke, tinggal rambut aja."


Zia menghela nafas panjang.


"Kenapa? Deg-deg an ya deket cowok ganteng?" Goda Marko lagi.


Zia hanya diam saja, ingin menyangkalnya namun jantungnya memang benar-benar sedang tak karu-karuan.


"Ganti baju dulu, Zi." Kata Marko, Ia menunjukkan Box berpita yang sedari tadi membuatnya penasaran.


Zia membawa box itu pergi ke kamar mandi. Sedangkan Marko masih sibuk mencari rekomendasi rambut yang cocok untuk Zia.


Lama Zia dikamar mandi tak keluar-keluar.


"Zi! Lo masih idup kan?" Teriak Marko


"Iya tuan, saya masih hidup." kata Zia.


"Buruan keluar! Lo mau bikin gue telat datang ke acara ini?" Teriak Marko lagi.

__ADS_1


Zia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan mini dress warna hitam selutut tanpa lengan dengan bagian rok yang mengembang. Zia terlihat malu-malu dengan pakaian itu.


"Tuh kan, gue emang paling pinter kalo disuruh pilih-pilih style buat orang." Marko memuji dirinya sendiri.


"Saya merasa aneh, Tuan." Kata Zia, tangannya masih menenteng high heel hitam.


"Lo nyaman kan?" Tanya Marko.


Zia mengangguk, "Hanya aneh saja tuan, karena saya tidak pernah memakai yang semacam ini."


"Sini lo."


Marko menarik Zia duduk kembali di tempatnya semula. Ia tak membuat rambut panjang Zia aneh-aneh, hanya menguncir tinggi ekor kuda tanpa poni.


"Pakai heels lo." Perintah Marko.


Sekarang ia merapikan kemejanya dan memakai tuxedo hitamnya. Ia memberikan pomade dirambutnya dan menyisir rapi kearah belakang.


Zia hanya terdiam mengagumi pria yang sibuk merias diri itu sampai lupa belum memakai heelsnya.


Marko duduk berjongkok tepat didepan kaki Zia dan memakaian hells di kaki Zia secara bergantian.


"Gue tau lo kagum dengan kegantengan gue, tapi jangan sampai lo bikin gue telat datang ke acara ini karena gak dengerin perintah gue."


Zia tersipu malu, "Maaf, Tuan."


Marko mengambil handbag hitam dan memberikannya pada Zia.


"Ayo." Marko berjalan duluan didepan dan Zia menyusul dibelakang.


Marko dan Zia pergi ke ballroom hotel tempat mereka menginap, karena disanalah tempat acara makan malam para petinggi perusahaan perusahaan.


Tepat sebelum pintu lift terbuka, Marko melipat lengan kirinya disamping pinggangnya. Tanpa disuruh, Zia langsung mengaitkan tangannya di lengan Marko.


Pintu lift terbuka tepat didepan pintu masuk ballroom, Marko dan Zia sudah disambut para penerima tamu dengan senyum merekah.


Zia terkejut ketika melihat orang-orang di dalam ballroom, mereka terlihat orang-orang dari kalangan atas. Ia merasa ini bukan tempatnya dan ingin sekali pergi meninggalkan tempat itu.


"Zi." Marko menatap Zia, "Gue butuh lo disini."


Zia melihat tatapan Marko yang serius memohon padanya. Entah apa yang dimaksud Marko namun itu bisa membuatnya mengurungkan diri untuk keluar dari ruangan itu.


-Bersambung-


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2