SENJA

SENJA
131


__ADS_3

Sesampainya di hotel, Marko dan Zia langsung masuk ke kamar masing-masing. Mereka harus segera berkemas karena besok mereka sudah harus kembali ke Jakarta dengan penerbangan pagi.


Lampu kamar Zia sudah mati, tinggal lampu kecil di samping tempat tidurnya yang masih menyala. Matanya belum terpejam, pikirannya sedang kembali teringat kejadian tak masuk akal ketika Marko menyentuh bibirnya.


"Tidak! Menebak-nebak perasaannya saja tak pantas ku lakukan!"


Zia mengutuk dirinya sendiri dengan menepuk-nepuk dahi dan kedua pipinya. Berharap apa yang dia pikirkan hilang.


Namun ia kembali diam, mencoba berdamai dengan hati dan pikirannya.


Tak bisa dipungkiri, jantungnya berdetak begitu cepat. Walau sangat menegangkan baginya perlakuan Marko cukup membuat hatinya sangat tersentuh.


"Enggak, Zi! Jangan berfikir berlebihan! perasaanmu ini hanya mengantarkanmu ke luka yang belum tentu bisa kamu obati."


Zia pun berusaha membuang pikirannya dan mulai memejamkan matanya untuk tidur.


***********


Sejak pagi hingga sampai rumah di Jakarta, tiba-tiba saja Marko menjadi pribadi yang lain. Biasanya ia selalu banyak omong ataupun bercanda, namun berbeda dengan hari ini.


Bukan hanya Zia yang merasakan hal itu, tetapi Johan pun juga merasakannya.


"Bu Idah, tuan Marko gak makan siang?" tanya Zia, karena ia tak melihat Marko di meja makan.


"Sudah saya ketuk tapi gak ada jawaban, mbak. Coba mbak Zia lihat ke dalam kamar den Marko."


"Ah, mana berani saya bu. Biasanya saya bangunin tuan Marko dari pintu aja." Tolak Zia. "Apa mungkin kecapekan ya Bu? jadi tidurnya nyenyak banget."


"Mungkin aja Mbak. Kita biarin dulu aja mbak, nanti kalau laper pasti den Marko akan minta ke dapur."


"Iya, Bu Idah. Kalau gitu saya mau istirahat sebentar ya bu." Zia meninggalkan Idah untuk kembali ke kamarnya.


Zia merebahkan diri diatas kasurnya, semalam ia hanya tidur beberapa jam saja. Baru ia ingin memejamkan matanya, ponselnya berdering singkat. Ada pesan whatshapp masuk dari Marko.


'Zi, tolong bawakan makan siangku ke kamar.'


Walau mengeluh Zia berdiri dan keluar kamar menuju ke dapur. Bu Idah baru saja membereskan meja makan.


"Bu Idah, Tuan Marko minta dibawakan makan siangnya ke kamar." Zia menyampaikan pesan Marko.


"Baik, mbak. Saya siapkan dulu." Kata Bu Idah.


Zia menunggu Bu Idah meracikkan makan siang Marko diatas piring.


"Mbak Zia yang bawakan ini ke kamar den Marko?" Tanya Idah.


"iya Bu." Jawab Zia dengan bibir cemberut.


Idah terlihat sedang tersenyum sebentar


"Kenapa Bu Idah tersenyum?" Tanya Zia.


"Kapan saya tersenyum, mbak?" Idah mengelak.


Zia diam saja tak mau berdebat


"Ini mbak, sudah."


Zia mengambil nampan berisi sepiring nasi dan segelas air putih untuk ia bawa ke kamar Marko. "Makasih ya, Bu Idah."


Zia meninggalkan dapur dan pergi ke kamar Marko, ia bingung tak bisa mengetuk pintunya.


"Tuan, saya Zia membawakan makan siang anda." Ucap Zia.


"Masuk, Zi." Terdengar suara lirih dari dalam kamar.


Zia membuka pintu dengan hati-hati dan perlahan masuk ke dalam kamar Marko. Terlihat Marko masih rebahan dibawah selimutnya dan Zia pun menghampirinya.


Marko tak membuka matanya walau Zia sudah ada disampingnya. Di sekitar kening marko terdapat banyak keringat dingin.


"Tuan, Apa anda sedang tidak enak badan?" Zia memastikan.


Marko hanya diam saja.


Zia meletakkan nampan berisi makan siang Marko diatas meja kecil samping tempat tidur Marko.

__ADS_1


"Tuan?"


Zia ragu ingin menyentuh Marko, namun Marko juga tak menjawab pertanyaannya.


"Tuan maafkan ketidaksopanan saya." Ucap Zia kemudian menyentuh kening Marko.


"Astaga! Panas banget!" Pekik Zia


"Zi!" Marko memanggil Zia lirih.


"Iya, tuan?"


"Gue sakit." Ucapnya.


"Iya, saya tahu. Saya akan minta bu Idah panggilkan dokter anda, tuan."


Marko menggeleng, Ia membuka matanya kemudian memicing karena silau dengan cahaya matahari yang masuk lewat cendela kamarnya. Zia sigap menutup Sebagian gorden cendela kamar Marko.


"Tolong ambilin gue obat flu sama teh anget aja." pinta Marko.


Zia memgangguk dan pergi ke dapur. Tak ada orang di dapur, ia membuat teh sendiri. Usai membuat teh, Zia tak lupa mengambil obat flu di kotak obat dan sebuah handuk kecil kemudian membawanya kembali ke Marko.


Marko sudah duduk dan bersandar di headboard tempat tidur. Zia meletakkan bawaannya disamping nampan.


"Sebaiknya anda makan terlebih dulu, tuan." kata Zia.


Marko mengangguk dan mengambil piring disampingnya. sedikit demi sedikit ia makan nasi dan lauk pauk yang dibawakan Zia.


"Udah, Zi." Marko meletekkan kembali piringnya.


Zia tak bisa memaksa, dirinya pun jika sakit juga tak berselera makan.


Marko segera mengambil obat yang sudah disediakan Zia dan meminumnya. Marko tersenyum melihat ekspresi wajah Zia yang sangat tegang sedang menatapnya.


"Lo kenapa?" Tanya Marko.


"Maafkan saya, karena saya anda harus hujan-hujanan semalam dan sakit seperti ini." Jawab Zia menyesal.


"Lo mau nebus rasa bersalah lo?" Marko membaringkan tubuhnya kembali.


"duduk disana, Jaga gue sampai gue bangun." Marko menunjuk ke meja dan dua kursi yang ada tepat di cendela kamarnya.


"Baik tuan. Silahkan beristirahat." Zia segera duduk di kursi yang ditunjuk Marko.


Zia melihat Marko sudah memejamkan matanya, Ia juga menikmati duduk ditempatnya saat ini. Cendela besar disampingnya bisa membuatnya melihat halaman depan rumah dan jalananan kompleks perumahan.


Cuaca diluar sangat cerah, Suara burung saling bersautan satu dengan yang lainnya. Suara gesekan daun daun yang diterpa angin menjadi suara alam pengantar tidur yang sangat tepat saat ini.


Zia mulai terbawa suasana, rasa kantuknya benar-benar tak bisa ditahan. Sentuhan lembut dari angin angin kecil membawanya kedalam alam bawah sadarnya.


Zia merasa sangat tenang dan nyaman. Namun kenyamanan itu terusik ketika pantulan cahaya menembus kedalam matanya, dan beberapa kali sekelebat hitam menghalangi cahaya itu. Mau tak mau Zia membuka matanya.


Ia menguap kecil, namun tak membuatnya segera mengangkat kepalanya dari atas meja. Ia mengangkat tangannya untuk menghalau cahaya mentari sore yang menyorot wajahnya. Ia memainkan jemari-jemari tangannya.


"Santai banget hidup lo?"


Zia terkejut dengan suara itu, Ia mengangkat kepalanya dan melihat Marko sudah duduk bersandar di kursi depannya.


Ia baru sadar kalau sedang ada di kamar Marko dan parahnya bisa bisanya ia tertidur.


"Bisa bisanya lo tidur di kamar cowok? Untung gue cowok baik-baik."


"Maafkan saya tuan. Saya tidak berniat untuk ketiduran." Zia sangat malu dan menyesal.


"Lo yang suruh jaga gue, eh jadi gue yang ngejagain elo." Protes Marko.


Zia diam tertunduk tak berani menjawab.


"Lama banget pula kalo tidur" Protes Marko lagi.


Zia melihat jam di tangannya, Ia terbelalak ketika melihat jarum jam hampir menunjuk angka lima.


"Gue sampai udah selesai mandi, Zi. Elo masih kucel." Marko menarik baju bagian bahu Zia.


"Apa anda sudah baikan tuan?" Tanya Zia.

__ADS_1


Marko mengangguk. "Udah."


"Kalau begitu, saya permisi keluar dulu tuan."


"Eit! Siapa yang nyuruh lo pergi?" Tanya Marko.


Zia meletakkan kembali pantatnya ke kursi.


Marko menatap Zia tajam, "Zi, Lo gak kasihan lihat gue?" Tanya Marko.


"Kasian?" Zia memperjelas pertanyaan Marko.


Marko mengangguk dan Zia menggeleng.


"Wah, parah Lo Zi. Gak kasian sama gue." Marko sewot.


"Menurut saya hidup anda lebih sempurna dari saya, tuan. Jadi saya bingung mencari letak dimana saya harus mengasiani anda?" Ujar Zia.


Marko mendengus kesal.


"Lebih sempurna pala lo!?" Cetus Marko. "Kedua orang tua gue udah gak ada, gue gak punya saudara kandung, punya sahabat satu di penjara, satu lagi bucin satunya lagi broken heart. Tiap hari gue ngurusin diri gue sendiri, waktu gue sakit gini gak ada yang ngurusin gue. Gue sendirian lagi, Zi. Lo gak kasihan?"


"Oooh, Iya tuan. Maaf saya baru menyadari jika kehidupan anda kurang seberuntung saya." Kata Zia.


Marko menatap malas Zia, "Ya gak usah lo perjelas gitu Zi. Bilang Aja lo kasihan gitu juga udah."


"Maaf, tuan. Ya, saya kasihan dengan anda."


Marko menegakkan duduknya, ia meletakkan kedua tangannya diatas meja.


"Kalo lo kasihan, mau gak lo ngurusin gue tiap hari?" Tanya Marko.


Zia mengernyitkan keningnya, "Bukannya kami semua disini memang bertugas untuk mengurus semua keperluan anda tuan?"


Marko berfikir sejenak, "Iya juga sih? Tapi bukan itu maksud gue. Lo ngurusin gue luar dalam?"


"Hah! Maaf tuan, saya bukan perempuan seperti itu!" Tolak Zia, Ia berdiri dari duduknya. "Tolong jangan salah artikan tugas saya."


Marko berdiri dan menarik kedua tangan Zia dan Zia mencoba melepaskannya namun tidak bisa.


"Zi! Lo mikir apa-an sih?"


Seketika Zia diam dan menatap Marko. Sepertinya dia salah mengartikan sesuatu.


"lalu apa maksud anda tuan?" tanya Zia.


"Gue lagi ngelamar lo jadi istri gue, Zi! Otak lo sih kemana-mana." Jawab Marko kesal.


Zia hanya terdiam


Terdiam


Dan terdiam


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2