SENJA

SENJA
Terimakasih


__ADS_3

^^^Happy reading^^^


"Maafin Mas..."


Bu Nani mangajak Arga untuk keluar. Ia ingin memberi ruang untuk kakak beradik itu di sana.


"Gimana Bu?" tanya Pak Min yang sudah menantikan kemunculan bu Nani.


Bu Nani tersenyum. "Hanya kesalah pahaman Pak."


"Apakah tak masalah meninggalkan mereka?" tanya pak Min.


"Dia adik Arwina, saya yakin dia cukup cerdas untuk mengatasi ini semua." Bu Nani beralih manatap Arga. "Ga, kamu sudah boleh keluar sekarang."


"Terimakasih Bu." Arga kemudian mohon diri untuk meninggalkan ruang BP. Dia membungkuk saat melewati kedua gurunya itu.


Cklek!


Baru saja keluar, Arga sudah disambut wajah panik 5 orang di sana. Ada Bambang, Hari, Sita, serta Rivan dan Wahyu yang bahkan meninggalkan rapatnya setelah mendengar kejadian yang melibatkan Arga.


"Gimana Ga? Senja mana?" panik Sita saat melihat Arga yang keluar tanpa Senja.


"Dia masih di dalam," jawab Arga tanpa memandang Sita.


"Ada masalah serius ya?" tanya Rivan.


Arga menggidikkan bahu.


"Gimana sih. Kita panik tahu nggak pas Tito sama Indra keluar tapi kalian masih ditahan di dalam," kata Bambang.


"Iya, katanya kamu dihajar kakaknya Senja. Bener ya?" tanya Hari setelah melihat luka di wajah Arga yang mulai membiru.


"Nggak juga," jawab Arga santai. "Nggak ada apa-apa kok, mending kalian cabut." Arga kemudian menjatuhkan tubuhnya tak jauh dari pintu dan menyadarkan punggungnya di tembok.


"Kamu nyuruh kita cabut tapi kamu malah duduk," heran Wahyu.


"Mau nungguin Senja? Nggak takut sama kakaknya?" imbuh Rivan.


Arga menghela nafas. "Tanggung, dan aku tetep di sini, nggak boleh menghindar apa lahi lari."


"Bentar lagi kayaknya ada yang dapet restu terus jadian nih," goda Bambang.


"Iiihhhjh, nggak sabar deh..." timpal Sita dengan histerianya.


Arga menyugar rambut dan mendongak dengan tatapan menerawang. "Nggak bakal ada skenario kayak gitu deh kayaknya."


"Loh, emang kenapa?" protes Sita.


"Udah, udah. Ayo cabut. All is well." Rivan menarik Sita dari sana sebelum kekasihnya ini mengeluarkan jurus seribu kata andalannya.


"Kalian kalau mau pergi juga nggak apa-apa," ucap Arga pada tiga orang yang masih bertahan di sana.


"Oke, kalau butuh bantuan jangan sungkan sama kita," kata Wahyu sebelum meninggalkan Arga disusul Hari dan Bambang setelahnya.


Selepas kepergian teman-temannya, Arga merasa tak lagi perlu menutupi kegelisahannya. Dia benar-benar gelisah memikirkan Senja yang masih di dalam sana.


Arga baru sadar kalau kini sekolah terlihat sedikit sepi karena sebagian murid yang kurang suka berorganisasi sudah pulang sejak tadi.


Cklek!

__ADS_1


Pintu terbuka menampakkan Senja, Atma, Bu Nani dan pak Min.


"Loh, Arga masih di sini?" tanya Bu Nani.


"Iya Bu," jawab Arga dengan sopan.


Atma berjalan menghampiri Arga. Tegang sebenarnya, namun Arga berusaha bersikap biasa.


"Terimakasih."


Kata-kata itu berhasil menghipnotis Arga. Ia bahkan tak sadar kalau Atma tengah mengulurkan tangannya.


Melihat tak ada respon dari yang diajak bicara, akhirnya Atma menepuk pundak Arga dan berpamitan pada Pak Min dan Bu Nani.


"Sekali lagi saya mohon maaf untuk hari ini Pak, Bu," ucap Atma saat menyalami kedua seniornya ini.


"Sama-sama Pak, kami juga minta maaf atas kejadian yang dialami adik Bapak di sekolah ini."


Atma tersenyum.


"Arga, saya titip adik saya, dan..."


Mendengar ungkapan itu jantung Arga nyaris melompat dari tempatnya, ditambah dengan kalimat yang menggantung itu membuat ia berdebar hingga sulit untuk berdiri tegak.


"Bimbing dia jadi atlet yang hebat." Kembali sebuah kalimat membuat Arga bagai raga tanpa nyawa.


Arga tak mampu berkata. Jangankan mengeluarkan kata, bahkan untuk sekedar berekspresi saja ia tak bisa. Apa aku sedang bermimpi?


Atma melanjutkan langkahnya untuk pergi meninggalkan sekolah Senja.


"Kak..." Senja menarik-narik lengan Arga karena sejak tadi dia hanya diam saja.


Tiba-tiba ide jahil terbesit di pikiran Senja. Ia berjinjit dan menarik kedua telianga Arga.


"Aduh!" Arga mengaduh saat merasa sakit di kedua telinganya.


Mendengar itu bukannya berhenti namun Senja justru kembali menarik telinga itu dengan lebih kencang lagi.


"Kok kamu kurang ajar sih." Arga meraih tangan Senja dan membawa turun dari sana.


"Aku cuma mau ngecek Kak, takutnya ada yang rusak?" jawab Senja dengan wajah jenaka.


"Apanya yang rusak?" tanya Arga.


"Telinga Kakak."


"Siapa yang bilang rusak?"


"Aku kan barusan."


"Kenapa kamu ngatain telinga aku rusak?"


"Ya kan tadi di panggil nggak nyahut, diajakin ngomong mas Atma juga diem. Jadi aku pikir telinga Kakak rusak."


"Oh oke, coba sini. Aku juga mau ngecek telinga kamu."


Senja menghindar. "Telingaku kan nggak ada masalah."


"Coba sini, siapa tahu ada yang nggak beres juga." Arga berusaha meraih telinga Senja.

__ADS_1


"Nggak mau, orang dibilang nggak apa-apa." Senja perlahan mundur untuk menghindari Arga.


"Coba sini bentar." Arga melangkah perlahan untuk menjangkau Senja.


"Nggak mau."


"Sini."


"Nggak mau," Senja mulai berlari.


"Sini nggak," Arga pun mulai ikut berlari.


"Nggaakk mmaauuuu.....!" keduanya pun akhirnya berlari dan kejar-kejaran membelah lapangan dan terus berlanjut ke sembarang arah. Kondisi sekolah yang cukup sepi membuat keduanya merasa leluasa untuk terus berlari. Beberapa pasang mata menatap heran pada mereka, namun mereka yang baru saja memperoleh kemerdekaan tak peduli dan terus larut dalam histeria.


"Eh, stop, stop, stop." Sita menghadang Senja yang akhirnya membuat Senja bersembunyi di belakangnya.


"Sita minggir!" ucap Arga dengan ngos-ngosan.


"Jangan Kak," Senja mencegah Sita agar tak menyingkir darinya.


"Minggir nggak!" ancam Arga.


"Ihhh, Van, tolongin, aku ditarik-tarik nih..."


Rivan dengan jail tiba-tiba menarik Sita hingga gadis itu membentur dadanya. Otomatis Arga langsung bisa menangkap Senja.


1 detik


2 detik


3 detik


4 detik


5 detik


... n detik.


"Kalian tadi kejar-kejaran buat apa sih, begitu ketangkep kok malah jadi patung semua."


Mendengar Rivan yang menggoda mereka, refleks Arga mendorong Senja dan segera menegakkan tubuhnya. Keduanya mendadak salah tingkah yang membuat Rivan dan Sita tertawa.


"Udah, udah. Sini bentar." Sita mengajak Senja duduk di serambi masjid yang diikuti Arga dan Rivan di belakang mereka.


"Jadian?" tanya Sita.


"Apa Kak?" Senja balik bertanya.


"Kalian?"


"Ehm..." Arga yang baru saja duduk kembali bangkit.


"Senja ngisi formulir sekarang ya." Arga meraih tangan Senja dan mengajaknya ke sekretariat.


"Eh, udah pegangan tangan aja," goda Rivan.


Arga tak menghiraukan suara itu. Ia terus membawa Senja lebih dekat bersamanya.


TBC

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya ya.


__ADS_2