
^^^Dear, ada yang demen cabor beladiri nggak?^^^
^^^Kalau ada lebih suka yang modern apa tradisional?^^^
^^^Selamat membaca.^^^
Canggung namun terasa nyata gelora di dalam dada.
"Yah, yah, yah." Arga menghentikan motornya tiba-tiba.
"Kenapa Kak?" Refleks Senja turun dari motor dan berdiri di dekatnya.
Arga mengecek motornya sejenak. "Bannya bocor," ucap Arga kemudian dengan tak enak hati.
Senja turut memandang ban motor Arga. "Itu ada paku bukan Kak?" tanya Senja dengan menunjukan benda asing di ban belakang motor Arga.
Arga berjongkok di sana. "Wah, apes banget." Arga segera mencabut paku itu dan memperhatikannya baik-baik. Ini paku masih baru kan? Sesembrono-sembrononya aku kalau pakunya segede ini pasti bisa aku hindarin di jalan.
"Terus gimana Kak?" tanya Senja.
Arga bangkit dengan memegang paku payung di tangannya. "Ya kudu di bawa ke tukang tambal ban." Arga mengernyit. "Kalau mau jalan terus tambal bannya jauh...."
Senja menatap Arga yang sepertinya belum menuntaskan ucapannya.
"Kalau yang dekat kita kudu puter balik ke tambal ban yang di deket sekolah." Arga mendesah setelah menyelesaikan ucapannya.
"Jadi?"
"Kamu keberatan nggak kalau jalan kaki balik ke deket sekolah?" tanya Arga ragu.
"Nggak masalah," ucap Senja riang.
"Beneran nggak apa-apa?" tanya Arga lagi.
Senja mengangguk. "Hu'um."
"Oke deh." Arga segera membawa motorya berputar haluan bersama Senja di sampingnya.
Tin tin
Sebuah motor muncul di samping keduanya. Senja dahinya mengernyit melihat pengendara motor itu tersenyum padanya.
"Senja, kamu kok belum pulang?" tanya anak laki-laki itu.
Senja hanya menggeleng dan melayangkan pandangannya pada Arga.
"Ada perlu apa kamu?" Arga sengaja tak menyebut nama orang yang diajaknya bicara ini. Dia memang tahu namanya namun Arga merasa keduanya tak saling mengenal.
"Aku nanyanya sama dia," ucap anak itu yang menunjuk Senja menggunakan dagunya, "tapi kenapa malah kamu yang jawab."
"Duh Si Bos gimana sih, bukannya diramah-ramahin, dimanis-manisin biar Senja terpikat malah noh muka di sangar-sangarin."
"Tau ah, temen lu tu."
Dua orang yang tengah bersembunyi itu sejak tadi memang bertugas mengawasi Senja dan Arga.
"Percuma dong kita udah susah-susah ngempesin ban Arga biar Si Bos bisa nganter Senja."
__ADS_1
"Akh!!!"
Kedua pengawas itu menoleh mendengar teriakan Senja. Di sana nampak Arga memegangi Senja yang tersungkur karena pukulan Indra. Ya, pengendara motor yang menghampiri Arga dan Senja adalah Indra.
"Gawat, Si Bos kok bisa nonjok Senja sih."
"Ya mana gua tahu. Elu ngajak ngobrol melulu sih jadi nggak lihat gua!" gerutu Rayi yang mulai panik. "Duh samperin nggak ya."
"Samperin sono. Bisa bonyok Indra kalau sendiri."
"Kalau gua kesana gua juga bisa bonyok be*o!" timpal Rayi.
Bugh bugh bugh!
"Samperin, samperin! Bisa mampus Indra!" Edo berlari diikuti Rayi untuk membantu Indra. Meskipun kecil kemungkinan mengalahkan Arga, setidaknya mereka bisa mengurangi jatah Indra.
"Bang, Bang, stop Bang!" teriak Rayi yang berusaha menahan Arga agar menghentikan serangannya pada Indra.
Bugh!
Rayi tersungkur. Sebuah bogem mendarat di rahang kanannya. "Duh Mak! Wajah gantengku ternoda." Dia meringis merasakan ngilu di bagian wajahnya.
"Bang, please Bang." Kini giliran Edo yang memohon pada Arga. Dia berdiri di depan Indra yang sudah tersungkur.
Arga bersiap dengan tangan mengepal kuat.
Edo pasrah dengan mata terpejam.
Krik krik krik
Kok nggak sakit sih. Arga udah mukul kan? Batin Edo. Dia segera membuka matanya. Matanya langsung terbelalak menatap pemandangan di hadapannya. Wah Si Bos bisa gosong kebakaran nih. Dia kemudian menatap Indra yang nampak miris. Bukan hanya karena luka yang dihadiahkan Arga, tapi tatapan sendunya terhadap Senja yang kini memeluk Arga. Ah, Si Bos mah urusan belakangan. Kalau nggak gara-gara tu bocah meluk Arga, pasti aku juga dapet jatah bogem. Tak mau buang-buang waktu, Edo segera membantu Indra untuk berdiri dan segera membawanya pergi dari sana. "Ray, bawa motor Indra!"
"Senja..."
Senja diam dan masih bertahan di tempatnya.
Arga meraih ponsel di saku celananya. Dia mengetik sesuatu dan tak lama kemudian kembali menyimpan ponselnya sesudahnya.
"Duduk yuk." Arga mengajak Senja untuk duduk di atas rumput di pinggir jalan. "Istirahat bentar ya."
Senja mendongak. "Kak..."
"Hmm."
"Kakak nggak apa-apa?" tanya Senja.
Arga tak langsung menjawab. Dia menatap ujung alis kiri Senja yang tadi terkena pukulan Indra dan coba menyentuhnya.
"Aw!"
"Sakit?" tanya Arga.
Senja mengangguk.
Arga sama sekali tak terluka, karena tak satupun pukulan mengenainya. Berbeda dengan Senja yang justru harus merasakan pukulan Indra.
"Kamu tadi kenapa pakai nyelonong di depan aku?" tanya Arga yang kembali memperhatikan wajah Senja.
__ADS_1
"Aku takut Kakak kena pukul," lirih Senja.
Arga tersenyum. "Aku itu selain belajar mukul juga belajar bagaimana caranya biar nggak kena pukul Senja..."
"Maksudnya?" Senja menoleh membalas tatapan Arga yang sejak tadi terarah padanya.
"Kamu udah tahu siapa aku? Maksudku di sekolah tugas aku selain belajar?"
Senja mengangguk.
"Dalam bela diri kita diajarkan teknik-teknik bela diri yang bisa digunakan kalau sedang terdesak. Secara umum, teknik beladiri ada dua yaitu menyerang dan bertahan. Kalau tadi aku menyerang untuk bertahan. Beda lagi kalau lagi di gelanggang, kita harus bertahan untuk menentukan serangan yang bisa menjatuhkan lawan." Arga bercerita dengan tatapan menerawang. Eh, aku ngomong segitu banyak Senja ngerti nggak ya? Arga segera menatap Senja. Dan benar saja, Senja menatapnya dengan tatapan heran.
"Mas, maaf nunggunya lama ya?" Angga baru saja datang dan segera menghampiri Arga. "Eh itu kenapa pelipisnya Dik Senja?" tanya Angga saat melihat luka yang mulai membiru di sudut alis Senja.
Senja menyentuh lukanya, "aw...! Kok sakit sih?" lirihnya.
Arga kembali menatap Senja. "Kamu mau langsung aku antar balik apa mau ke tempat Angga dulu buat ngompres luka kamu?"
"Yang gini sembuhnya lama nggak?" bukannya menjawab Senja malah balik bertanya.
"Lukanya apa sakitnya?" tanya Arga.
"Lukanya," jawab Senja sambil kembali menyentuh lukanya. Namun kali ini dia tak lagi merintih. "Kalau sakitnya masih bisa tahan lah, tapi bekasnya..." Bisa ditanya macem-macem ini di rumah.
"Bekasnya?" ulang Arga.
"Bekasnya kalau kelihatan dan ketahuan pas di rumah..." Senja tak melanjutkan kalimatnya, namun Arga tahu apa maksudnya.
"Ke rumah Angga aja dulu Mas, di kompres terus di kasih salep. Kemaren Ibu baru beli. Biarpun nggak langsung ilang, lumayan ngurangin kok," tawar Angga.
"Boleh tuh dicoba? Kamu mau kan?" tanya Arga pada Senja.
Senja mengangguk.
"Ya udah, Senja duluan ya sama Angga, aku dorong motor ini ke bengkel." Arga kemudian bangkit menuju motornya. Saat dia mulai berjalan, Senja tiba-tiba berlari mensejajarkan langkah dengannya. "Lah, kok malah jalan sih. Kamu di bonceng Angga ya?"
Senja menggeleng.
"Mas, biar aku aja yang ke tambal ban, kayaknya Dik Senja nggak mau tak boncengin," ucap Angga dengan tatapan menggoda. Namun itu tak berlangsung lama karena tatapan tajam Arga yang dilayangkan padanya.
"Sama Angga ya..."
Senja kembali menggeleng.
Arga menghela nafas dan menurunkan standar motornya. "Ya udah."
Senja dan Arga pun berboncengan menggunakan motor Angga meninggalkan Si Empunya motor yang mendorong motornya menuju tukang tambal ban.
TBC.
Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.
Makasih ya yang udah bersedia mampir.
Semoga suka sama ceritanya.
Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.
__ADS_1
Happy reading, love you all.