SENJA

SENJA
Superhero


__ADS_3

^^^Jangan lupa jempolnya dear.^^^


^^^Kritik saran boleh banget tuh.^^^


^^^Itu yang bikin author girang dan makin semangat buat nulis.^^^


^^^Happy reading ya.^^^


"Siap grak! Maju jalan!"


Ke-11 petugas pembaca Dasa Darma itu berlari mengelilingi setumpuk kayu yang akan dibakar nanti dengan obor yang yang kini mereka bawa.


"Lapor, pembacaan darma Pramuka dan penyalaan api unggun siap!" ucap Yulian dengan lantang kepada Pak Adi selaku pembina Pramuka.


"Laksanakan!"


"Siap laksanakan!"


Yulian kemudian mencondongkan obor di tangannya untuk dinyalakan oleh pak Adi. Dia kemudian balik kanan menghadap ke-10 petugas yang berada dibawah komando nya.


"Formasi!"


Senja dan ke-10 rekannya mengambil posisinya masing-masing dengan gerakan serempak.


Yulian maju selangkah, kemudian mengucapkan, "Dasa darma Pramuka!" dengan lantang.


Yulian mundur selangkah dan serong kiri bersamaan dengan Senja yang serong kanan. Senja kemudian mencondongkan obor yang di pegang nya untuk di sulut menggunakan obor Yulian yang sebelumnya sudah menyala. Setelah itu, mereka kembali ke posisi semula. Senja kemudian maju selangkah dan mengucap, "Pramuka itu, satu, Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa!"


Senja kemudian melakukan hal yang sama dengan petugas ke-3 seperti yang dilakukan Yulian padanya.


"Dua, cinta alam dan kasih sayang sesama manusia!"


"Tiga, patriot yang sopan dan kesatria!"


"Empat, patuh dan suka bermusyawarah!"


"Lima, rela menolong dan tabah!"


"Enam, rajin terampil dan gembira!"


"Tujuh, hemat cermat dan bersahaja!"


"Delapan, disiplin berani dan setia!"


"Sembilan, bertanggung jawab dan dapat dipercaya!"


"Sepuluh, suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan!"


Yulian menatap ke-10 pasukannya.


"Satu langkah ke depan, jalan!"


Senja dan petugas lainnya melangkah ke depannya kemudian berjongkok dan meletakkan obor yang mereka bawa bersamaan. Dan saat itulah api unggun pun menyala.


"Tiga kali tepuk Pramuka!" teriak Wahyu dari tepi.


Prok 3x, prok3x, prok 7x.


Prok 3x, prok3x, prok 7x.

__ADS_1


Dan pesta malam ini benar-benar dimulai. Semua larut dalam suka cita. Ditengah kegiatan, Ifa dan Ucik menghampiri Senja.


"Kok kamu di sini sih," kata Ifa yang kemudian duduk bergabung dengan Senja.


"Hai Fa. Iya, mau di mana lagi," jawab Senja yang asik menikmati pertunjukan pentas seni dari setiap regu yang dilakukan di depan api unggun.


"Kamu kan nggak boleh banyak terlibat di kegiatan outdoor," kata Ifa mengingatkan.


"Biarin ah, lagian dari siang sendiri mulu bikin bt tauk, nggak bisa gabung seru-seruan sama kalian," jawab Senja.


"Ya tapi kan demi kesehatan kamu juga," lanjut Ifa.


Senja hanya nyengir dan kembali menikmati pertunjukan.


"Aku juga gedeg sama ni bocah," sambung Ayu yang sejak tadi bersama Senja.


"Nggak enak tahu sendirian tuh. Udah sepi, disindir-sindir melulu sama yang lain. Lagian aku juga udah sehat kok."


"By the way, Kak Arga kemana yak, dari tadi kok belum muncul lagi. Sebelumnya kan selalu muncul tiba-tiba jadi superhero nya Senja," ucap Ayu dengan santainya.


"Superhero gimana!?" tanya Ifa antusias.


Sementara Senja hanya mendelik menatap sahabat mungil nya ini.


"Ya iya. Coba bayangin deh, pas Senja pingsan, dia yang nolong. Pas di UKS, Kak Arga juga yang jagain. Pas Senja keselek, Kak Arga juga yang ngelap dia pakai tisu, dengan lembut penuh kasih sayang, iiiiiii, geeemmmeesshhhh, melting gue lihat keuwuan mereka," ucap Ayu dengan ekspresi gemas yang tak mampu disembunyikannya.


"Terus, terus, terus," ucap Ifa penasaran.


"Dan tadi pas makan malam, tiba-tiba Kak Arga lewat tuh, kayaknya dia sengaja deh numpahin air di makanan Senja, biar Senja nggak makan pake orek tempe sama balado telur. Terus tuh ya dia pergi, bisa tebak nggak dia balik bawa apa?"


Ketara sekali kalau Ayu ini sengaja memancing rasa penasaran teman-temannya.


"Bisa nggak sih ngomong nggak usah belibet."


"Wohohoho, ternyata Miss Ucik juga penasaran saudara," ucap Ayu dengan memasang wajah jahilnya.


"Lanjut ih!" ucap Ifa tak sabar.


"Kak Arga balik bawa bubur buat Senja, Iiihhhhh, sweet banget nggak sih!!!"


Saking gemasnya Ayu sampai bergidik dengan mata terpejam.


"Ya ampun....! Biar Senja nggak makan yang kasar gitu maksudnya?!"


Ayu hanya mengangguk dengan tatapan menggoda Senja.


"Ya ampuuunn!!!"


Ifa pun tak kalah heboh. Iya meremas kuat pundak Ucik, dan Ucik nampak tersenyum geli sambil melirik Senja.


"Tuh tuh lihat tuh, bentuknya kayak trenggiling, tapi mukanya kayak kepiting rebus," ucap Ucik dengan datar.


Mendengar dua nama hewan tak semarga itu, Ifa dan ayu menanggalkan tawanya untuk mencarinya.


"Trenggiling sama kepitingnya mana Cik, kayaknya aku nggak nemu deh?" tanya Ifa dengan wajah polosnya.


Sementara Ayu masih sibuk mencari kesana-kemari. Ucik segera meraih puncak kepala Ayu dan Ifa kemudian memutarnya untuk menghadap ke arah Senja.


"Ucik apaan sih?!" protes Ayu tak terima karena kepalanya diputar-putar. Tak lupa ia juga melepaskan tangan Ucik dengan kasar.

__ADS_1


Sedangkan Ifa yang sudah paham maksud dari sahabatnya hanya mengangguk-angguk sambil menatap Senja.


"Iya," ucap Ifa sambil merangsek mendekati Senja.


"Iya iya apaan sih kamu?!" ucap Ayu masih dengan nada tingginya sambil merapikan rambut yang berantakan karena ulah Ucik.


"Senja, kamu jujur deh sama kita," kata Ifa dengan memegang bahu Senja.


"Jujur apa?" tanya Senja dengan menatap wajah Ifa.


"Kamu pacaran sama Kak Arga?"


Senja bengong.


Ucik turut merapat diikuti Ayu yang sudah tak lagi peduli dengan trenggiling dan kepitingnya.


"Jawab kek," bujuk Ayu tak sabar.


Senja menarik lutut dan memeluknya, ia kemudian menenggelamkan wajahnya di sana. Sejurus kemudian ia menggeleng.


Melihat reaksi Senja, ketiganya kemudian beradu pandang.


Greb!


Ketiganya kembali dibuat terpana. Saat Ayu hendak bersuara, seseorang menginterupsi mereka agar kembali diam, membiarkan euforia api unggun mendominasi suasana.


Senja POV


"Kamu pacaran sama Kak Arga?"


Glek


Menelan ludah pun rasanya susah. Apakah untuk dekat harus pacaran dulu? Pacaran itu sebenarnya gimana sih?


"Jawab kek," desak Ayu.


Ketiga sahabatku menunjukkan ekspresi yang sama, yaitu ekspresi penasaran. Entah mengapa kecewa tiba-tiba menyusup di hatiku. Aku selalu ingin dekat dengan dia, tapi kalau berada di dekatnya aku tak tahu harus berbuat apa. Pacaran? Setahuku orang bisa pacaran itu kalau mereka saling suka. Apakah selalu ingin dekat itu bisa diartikan suka? Lalu, apakah dia juga suka denganku?


Aku yang semula bersila tiba-tiba merasa butuh sandaran. Tak mungkin rasanya aku telentang atau tengkurap di lapangan berumput malam-malam begini. Kutarik lutut ku dan kutenggelamkan wajahku di sana. Nyanyian, sorak-sorai, tepukan, gurauan tak mampu menghalau sepi yang dengan lancang menyusup di hati. Sejak acara makan malam selepas isya' tadi hingga kini, aku sama sekali tak melihat wajahnya lagi. Mungkinkah hanya karena itu bisa membuatku tiba-tiba merasa kecewa?


Kecewa untuk apa? Kecewa karena dia tak lagi menjagaku.


Aku menghela nafas pasrah. Kenapa aku harus berharap? Mungkin dia sudah pulang, aku kan bukan pacarnya.


Pacar?


Jangan-jangan dia sudah punya pacar.


Greb


Aku merasa ada kehangatan yang tiba-tiba membalut tubuhku.


TBC.


Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.


Makasih ya yang udah bersedia mampir.


Semoga suka sama ceritanya.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.


Happy reading, love you all.


__ADS_2