SENJA

SENJA
Tragedi


__ADS_3

Aryo panik saat mendengar kondisi Ina yang buruk. Dia tak peduli lagi anak siapa yang dikandungnya, namun hati kecilnya yakin kalau itu adalah buah cintanya dengan Ina. Dia yakin kalau wanita yang sudah lama mengisi hatinya itu adalah wanita yang baik.


Hingga saat Aryo tiba di rumah sakit bersama kedua orang tuanya, Pak Sam adalah orang pertama di carinya. Dia berlutut mohon ampun, namun Pak Sam sama sekali tak bereaksi.


"Pak saya yakin ini semua hanya salah paham. Saya mohon Bapak bersedia memberi kesempatan pada Aryo untuk menebus kesalahannya." Pak Yadi mencoba berbicara pada Pak Sam, namun hasilnya sama. Pak Sam sama sekali tak bersuara. Atma nampak menenangkan Ibunya yang tak berhenti menangis, sementara Anton yang sudah memasuki bangku kuliah belum di kabari perihal kondisi Kakaknya.


Dua keluarga sama-sama kalut menunggu Ina yang tengah menjalani operasi darurat.


Hingga akhirnya pintu operasi terbuka di susul dengan petugas yang mendorong brangkar yang sudah berselimutkan kain putih. Semua syok. Ibu Ami langsung pingsan seketika. Atma yang di sampingnya tak lagi mampu membendung air matanya. Dia memeluk tubuh Ibunya dengan berderai air mata. Pak Sam yang sebenarnya juga begitu terpukul mengumpulkan seluruh tenaganya untuk mendekati sang putri. Di bukanya kain itu dan di tatapnya wajah damai Ina.


"Ayah ikhlas Nak. Semoga kamu tenang di alam sana," usai membisikkan kalimat itu. Pak Sam bersama petugas bersama-sama mengantarkan jenazah Ina untuk di proses sebagaimana mestinya.


Aryo tak mampu menopang tubuhnya. Tak lama setelah jasad Ina keluar, di susul jasad bayi yang Aryo yakini itu adalah anaknya. Dia bangkit untuk menatap wajah bayi yang juga telah tak bernyawa itu bersama kedua orang tuanya. Pak Yadi menitikkan air mata begitu juga dengan Bu Yadi yang sudah sejak tadi pecah tangisnya. Aryo meraih jasad tak bernyawa itu dan memeluknya.


"Maafkan Ayah Nak, maafkan Ayah." Aryo menangis tersedu-sedu sambil menggendong putranya untuk di bawa ke tempat Bundanya. Hatinya begitu teriris melihat bayi tampan itu tak sempat melihat dunia. Dia seolah tertampar oleh kenyataan. Bayi yang di lahirkan Ina berwajah begitu mirip dengan dirinya. Matanya, hidungnya bibirnya, semua seakan di buat persis dengan dirinya. Hanya rambutnya saja yang beda, dia berambut ikal sementara bayi ini rambutan lurus seperti Ina.


Aryo berusaha berjalan tegap meskipun dengan langkah gontai. Saat di depan kamar jenazah, Aryo berhenti di samping ayah mertuanya. Tak ada suara yang mampu ia keluarkan, hanya isak tangis dengan derai air mata yang keluar di sana.


Pak Sam menepuk bahu Aryo. "Temui lah Ina. Bagaimanapun juga dia adalah istrimu. Ikhlaskan dia Nak."


Aryo hanya menganggukkan. Dia melangkah menuju ruangan dimana wanita yang dicintainya terbujur kaku.


"Maafin Mas Dik, maafin." Tangis Aryo pecah. Dia meraung-raung di dekat jasad istri dan anaknya. Ia tak peduli lagi bagaimana orang memandangnya. Dia benar-benar menyesal dan sayangnya sesal ini datangnya benar-benar terlambat.


Akhirnya untuk terakhir kalinya dia menjalankan kewajibannya sebagai suami dan ayah mengantarkan jasad istri dan anaknya ke tempat peristirahatan terakhir.


Hingga 7 hari selepas kepergian Ina dan bayinya, Aryo tak pernah absen sekalipun untuk datang tahlilan di rumah Pak Sam. Setiap hari pula ia mengunjungi Ina dan putranya yang di makamkan secara berdampingan. Meskipun ini tak dapat merubah takdir, setidaknya ia dapat mengurangi sedikit beban di setiap penyesalannya.


Sepeninggal Ina, kabar tak baik juga menghampiri Umar. Tanpa ada tahu sebabnya, Umar mendadak mengalami depresi. Dia sering menangis, marah-marah, atau diam tanpa orang lain tahu jelas penyebabnya.


Flashback Off

__ADS_1


Atma menyandarkan punggungnya di kursi dengan wajah pilu terkenang masa lalu. Arti yang duduk di sebelahnya sejak tadi tanpa sadar terus meneteskan air mata mendengar penuturan mertuanya. Ini kali pertama ia tahu kisah tragis yang pernah dialami keluarga ini.


"Makanya sejak kecil kita ngelarang Cahaya dekat dengan laki-laki demi alasan apapun."


Arti menatap suaminya.


"Ibu takut akan ada Umar lain di kehidupan Cahaya jika kami lengah dan tak bisa mengawasinya. Jadi biarlah kelak suaminya menjadi laki-laki pertama yang dekat dengannya setelah Ayah dan Kakak-kakaknya," ucap Ibu dengan mengusap sudut matanya.


Arti menghela nafas pasrah. Ini memang tak sesederhana kelihatannya. Walaupun nampak tak adil bagi Cahaya.


"Tunggu deh, Umar yang dimaksud jangan-jangan?" Arti segera melayangkan pandangannya pada suami dan mertuanya.


"Umar guru Cahaya," jawab Ibu Ami.


"Astaga!" Arti segera membekab mulutnya kala kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutnya.


"Semoga depresinya nggak kumat kalau lihat adikmu." Setelah mengucapkan itu, Ibu bangkit untuk menyusul Ayah di teras depan rumah.


"Terlambat gimana?"


Arti menghela nafas. "Mas, Cahaya itu remaja. Dan remaja itu masa transisi dimana mereka menjadi begitu labil karena rasa ingin tahu yang begitu tinggi."


Atma mengernyit menatap istrinya.


Arti menghela nafas kala menyadari Atma belum juga paham maksudnya. "Gini loh Mas, ini Aya kan masuk masa remaja awal, selain perubahan pada tubuh juga pada pikiran dan perasaan dimana pada masa ini akan mulai timbul ketertarikan sama lawan jenis. Dari sini udah paham belum maksudku?"


Atma hanya menggeleng.


Lagi-lagi Arti mendesah lelah. "Gini loh Pak Guru, selama ini Cahaya kan sama sekali nggak boleh Deket sama laki-laki kan?"


Atma mengangguk.

__ADS_1


"Nah menginjak masa remaja ini, normalnya akan tumbuh rasa tertarik pada lawan jenis. Nggak mau dong punya adik nggak normal?"


Atma kembali mengangguk.


"Nah, rasa tertarik ditambah rasa penasaran yang begitu besar karena jarang berinteraksi itu bisa bikin Cahaya lepas kendali kalau kita nggak segera hati-hati."


"Terus?"


Kini Arti yang geleng-geleng karena suaminya belum juga mengerti apa maksud pembicaraannya. "Intinya ya Mas ya, remaja itu masa-masa rentan. Masa remaja itu serentan telur, di lepas bisa pecah, kalau megangnya kekencengan juga tetep pecah."


Atma nampak berfikir, bermaksud mencerna maksud dari ucapan istrinya. Namun berkat telur yang gampang pecah, akhirnya dia manggut-manggut.


"Alhamdulillah...." ucap Arti sambil mengurut dadanya.


Atma mendelik melihat tingkah istrinya. "Jangan gitu banget napa. Gini-gini aku Pak Guru loh."


"Iya dek iya, Pak Guru ganteng. Tapi dah punya istri," ucap Arti sambil terkikik geli.


"Ke kamar yuk, kayaknya aku udah lama deh nggak dipijitin."


Arti nampak berfikir sejenak. "Wani Piro?" ucapnya kemudian yang disusul gelak tawa dari keduanya. Mereka kemudian beriringan masuk ke kamar untuk beristirahat.


Tanpa ada yang tahu, Senja yang semula dikira sudah ternyata masih terjaga, bahkan mendengarkan secara lengkap cerita masa lalu Ina, almarhumah kakaknya. Ya Tuhan, ternyata ada cerita seperih ini saat aku bayi. Namun bolehkah aku meminta untuk tetap merengkuh indahnya masa remaja seperti yang lainnya?


TBC


Alhamdulillah, selesai juga part ini.


Entah author yang lebay apa gimana, tapi pas nulisnya sempet menitikkan air mata.


Bagi yang sudah berkenan mampir, terimakasih banyak ya.

__ADS_1


__ADS_2