SENJA

SENJA
135


__ADS_3

Langit membawa Senja masuk ke dalam kamar di susul Ella yang sudah membawakan kotak P3K. Sapu tangan yang diberikan Hengky sudah basah terkena darah yang keluar dari telapak tangan Senja.


Langit membukanya perlahan, ada beberapa luka robek ditelapak tangan Senja. Senja memejamkan matanya, takut melihat darahnya sendiri.


"Apa gak sebaiknya di panggil dokter Prast atau dokter Marsya, tuan?" tanya Ella yang melihat ada beberapa luka yang cukup dalam.


"Sepertinya iya, Bu Ella."


Langit mengambil ponselnya dan melakukan panggilan keluar.


"Sya! Lo cepet ke rumah sekarang!" Ucap Langit. Tak menunggu jawaban Langit menutup panggilan telponnya.


Senja menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, tubuhnya terasa lemas. "Sayang, kamu kenapa?" Tanya Langit khawatir.


"Aku lemes banget mas." Kata Senja.


"Jangan-jangan Nona Senja kehilangan banyak darah, tuan?" Tebak Bu Ella


"Sebaiknya kita ke rumah sakit aja."


Senja menahan tangan Langit yang ingin membopongnya, "Aku lapar mas, sarapanku tadi udah hilang dibuat mondar-mandir."


Langit menghela nafas, "Kamu nih bikin takut aja."


"Saya akan segera ambilkan makanan, Nona." Bu Ella pergi meninggalkan kamar.


Langit mengusap keringat di kening Senja dan merapikan rambut Senja kemudian ia membalut telapak tangan Senja dengan kain kassa.


"Sakit ya sayang?" Tanya Langit yang melihat istrinya menahan sakit.


Senja mengangguk.


"Berani-beraninya dia membuat kamu seperti ini." Ucap Langit kesal. "Kamu mau aku berbuat apa padanya?" tanya Langit


"Sebenarnya aku ingin memberi mereka pelajaran. Dengan Harta yang mereka miliki membuat mereka menjadi sok-sokan mas. Kemarin aku punya niat ajak kamu ke acara itu, kalau kamu lebih kaya dari dia." Senja tersipu malu mengungkapkan niatnya. "Maaf, ya. Aku memanfaatkan kekayaan kamu."


"Hahahahaha. Kamu nih ngapain malu-malu gitu. Kekayaanku juga punya kamu juga sayang. Kenapa kamu harus minta maaf." Langit tertawa melihat tingkah Senja.


Senja masih malu dengan tingkahnya yang kekanak-kanakan.


"Kalau pria itu datang ke kantor kamu, bilang aja suruh istrinya menemuiku ya mas." Pinta Senja.


Langit mengangguk. "Memang mau kamu apakan dia?" tanya Langit penasaran.


Senja mengangkat kedua bahunya, "Entah, Mas. Aku hanya ingin melihat ekspresinya saja."


Langit gemas mengusap kepala Senja.


"Setelah Marsya mengobati lukamu, kamu harus istirahat ya. Nanti malam kita harus terbang ke Solo." Langit mengingatkan.


"Oiya! Aku belum siap-siap, Mas." Senja melupakan hari penting Marko.


"Udah, Aku gak mau lihat kamu aktifitas hari ini. Biar mbak-mbak nanti yang masak dan nyiapin keperluan anak-anak. Nanti aku siapin keperluan kita. Oke?"


"Memangnya bisa?" Senja menatap Langit ragu.


"Bisa donk, cuma masuk-masukin baju aja. Kamu nih meragukanku." Langit menekan hidung Senja.


Tok tok


Ella masuk membawakan nampan berisi nasi, lauk pauk dan segelas air minum.


"Makasih ya, Bu Ella." Ucap Senja.


"Sama-sama, Nona. Saya permisi dulu tuan." Ella beranjak meninggalkan kamar.


Langit mengambil piring yang dibawakan Ella, dan mulai menyuapi Senja.


"Maaf ya mas, Aku ngerepotin kamu." Ucap Senja.


"Banget!" Goda Langit.


"Ih, Jahatnya."


Langit hanya tertawa.

__ADS_1


Dalam waktu singkat Senja menghabiskan makanan di piringnya tak tersisa. Membuat Langit selalu berdecak keheranan dengan apa yang dimakan istrinya itu.


Tak lama kemudian Marsya tiba dengan seorang asisten wanita yang membawa kotak peralatan medis.


"Lama banget, sih?" Protes Langit.


"Lo kira dari tempat praktek gue kesini pake pintu ajaibnya doraemon?" Balas Marsya. "Hai, Apa kabar?" Marsa bercipika cipiki dengan Senja.


"Kurang baik, Mbak." Senja menunjukkan tangannya yang terbalut kassa.


"Minggir, Lo." Marsya mengusir Langit.


Langit menurut saja dan pindah ke sofa yang lain dan Marsya membuka kassa yang membalut Luka Senja.


"Aduh, sakit banget nih pastinya." Marsya melihat beberapa luka yang cukup dalam, "Kenapa gak langsung lo bawa ke klinik gue sih!" Marsya memaki Langit.


"Gak kepikiran, tadi otak gue lagi diselimuti amarah." Jawab Langit.


"Gue harus jahit beberapa luka ini." Kata Marsya.


"Tapi di bius kan?" Tanya Senja.


"Iya lah." Marsya mengamati wajah Senja, "Lo lagi mens?" Tanya Marsya


Senja menggeleng.


"Kok, pucet banget? Banyak darah yang keluar?" Tanya Marsya lagi.


Senja menunjuk sapu tangan yang tadi dibuat menutup lukanya.


"Seharusnya gak bikin lo sepucet ini sih?" Marsya keheranan.


Asisten Marsya memberikan beberapa peralatan untuk mengecek tekananan darah Senja. Ia melakukan beberapa pemeriksaan terhadap Senja.


Marsya merasa ada yang aneh. Ia menatap Senja ragu. "Gue suntik anestesi gak bisa sebanyak biasanya. Nanti kalau gue jahit lo masih bisa ngerasain sedikit sakit. Gak apa kan?" Tanya Marsya.


Senja mengangguk saja, Langit pindah posisi duduk di samping kiri Senja.


Senja langsung berpaling ke Langit ketika Marsya akan menyuntik tangannya. Ia membenamkan wajahnya di dada Langit dan kirinya mencengkram pinggang Langit kuat-kuat.


"Kalian bikin gue baper tau!" Protes Marsya


Marsya menunggu beberapa detik agar anestesinya mulai berfungsi. Ia menekan-nekan telapak Senja.


"Masih kerasa Nja?" Tanya Marsya


"Agak kebal sih rasanya, tapi masih kerasa." Jawab Senja tanpa memalingkan wajahnya.


"Gue mulai ya, Kalo sakit jangan sampai ditarik ya, Nja. Cuma Tiga sampai empat jahitan aja, kamu pasti bisa nahannya."


Senja mengangguk ketakutan, Langit terus memeluknya. Langit yang melihat luka Senja di jahit juga merasa ngilu. Tangan Senja mencekram pinggang Langit erat-erat ketika ia merasakan sakit ditangannya.


Tidak terlalu lama Marsya menyelesaikan jahitannya. ia membersihkan telapak Senja dan membalutnya dengan plester anti air.


"Jangan kena air selama tiga hari." Kata Marsya.


"Makasih ya, Mbak." Ucap Senja.


Marsya mengangguk, "Gue gak bisa kasih lo obat, jadi lo tahan ya kalau anestesinya mulai hilang. Rasanya panas-panas sakit gitu."


"Kenapa gitu, Sya? Lo mau nyiksa istri gue?" Protes Langit.


"Lo terakhir mens kapan?" Tanya Marsya.


"Bulan lalu sih." Jawab Senja.


"Gue ragu aja, tapi coba Lo ke Spesialis kandungan. Kayanya lo hamil deh." Kata Marsya.


"Hamil!!" Langit dan Senja kompak terkejut


"Kamu telat sayang?" Tanya Langit.


Senja mengangguk, "Baru telat beberapa hari aja, Mas."


"Yes!!" Langit memeluk Senja erat. "Kita punya anak lagi, sayang."

__ADS_1


"Periksa dulu ke S.Pog sana. Jangan girang dulu." Marsya memukul kepala Langit dengan Stetoskop di tangannya.


"Setelah ini kita pergi ke rumah sakit, sayang." Ajak Langit.


Senja hanya tersenyum melihat suaminya sedang kegirangan.


"Aku mau ke kliniknya Aira saja, Mas." Kata Senja.


Langit mengangguk saja.


"Udah, gue balik dulu ya. Cepet Sehat, Nja." Marsya dan asistennya pergi meninggalkan kamar Langit.


"Makasih ya, Mbak." Ucap Senja, hanya dibalas acungan jempol dari Marsya.


Langit mengabaikan kepergian Marsya, Ia sedang kegirangan menciumi perut Senja.


"Aku coba hubungi Aira dulu ya, Mas." Senja ingin beranjak berdiri.


"Udah, kamu disini aja. Aku ambilin ponsel kamu." Kata Langit.


"Yaelah mas, Orang itu ponsel diatas meja aja masih mau kamu ambilin." Senja keheranan.


Langit mengambil ponsel Senja diatas meja, "Kamu kan gak boleh capek sayang."


"Idih, lebay banget ih. Waktu hamil Sky dan Sora aku kerja dari pagi sampai malam mas. Alhamdulillah gak kenapa-kenapa tuh." Ucap Senja.


"Uuuh, kasian kamu harus banting tulang sendirian. Emang dasar suami mu itu laki-laki gak bertanggung jawab." Langit sedang mengutuk dirinya sendiri.


Senja hanya menggelengkan kepalanya keheranan. Ia mencari nomer Aira di ponselnya dan melakukan panggilan keluar.


"Hallo? Apa kabar Aira?" Sapa Senja ketika sambungan mulai terhubung.


"Hai, Nja? Aku baik, bagimana dengan kamu? Aku dengar dari mas Farhan kamu sudah di Jakarta?" Balas Aira.


"Iya, Ra. Aku di Jakarta. Aku rencana mau ke klinik kamu. Kamu praktek jam berapa ya?"


"Wah, udah ada adeknya Sky dan Sora ya?" Aira terdengar antusias.


"Masih belum tau, Ra. Makanya mau cek kesana." Jawab Senja.


"Aku praktek Sore, Nja. Jam empat sore. Nanti aku share location klinik baru ku ya." Kata Aira.


"Oke, Makasih ya Ra. Nanti aku kesana." jawab Senja.


"Sama-sama, Nja."


Senja menutup sambungan telpon.


"Ayo berangkat sayang!" Ajak Langit.


Senja menarik tangan Langit, "Aira praktek jam empat sore mas."


"Kenapa gak sekarang aja sih." Protes Langit


"Sabar, Mas. sekalian nanti ajak anak-anak ya."


Langit terpaksa duduk lagi dengan mayun. Senja hanya tersenyum melihat suaminya sama seperti Sky jika ngambek.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2