SENJA

SENJA
Mungkinkah Ini Cinta


__ADS_3

Seorang siswa dengan seragam olahraga berlari membopong seorang gadis kecil.


"Siapa Ga," tanya Mbak Siti saat Arga baru saja membaringkan Senja di atas tempat tidur di UKS.


"Senja Mbk," jawab Arga.


"Senja? Kenapa lagi," tanya Mbak Siti sambil membantu Senja membersihkan darah yang keluar dari hidungnya.


"Mimisan Mbak," jawab Ucik yang baru saja datang sambil meletakkan tas Senja.


Mbak Siti tampak sibuk dengan Senja. Memang Senja tidak mengalami luka serius, hanya saja akan berbuntut panjang jika tidak segera ditangani.


"Dah, kamu rebahan aja," kata mbak Siti kepada Senja. Sejurus kemudian mbak Siti berbalik menghadap Ucik dan Arga.


"Aku keluar dulu ya, tadi mau ada perlu sama anak ekskul PMR."


"Iya Mbak," jawab Ucik, sedangkan Arga mengangguk tanpa ekspresi. Ketiganya hanya diam untuk sekian waktu.


"Cik," panggil Senja.


"Ya," jawab Ucik cepat.


"Aku nggak apa kok, kamu balik aja ke lapangan," tutur Senja.


"Yeh, tega bener kamu ngebiarin aku kepanasan di lapangan," canda Ucik.


Senja tersenyum menanggapinya.


"Kak Arga, makasih ya."


Arga menggeleng dan mendekat.


"Harusnya aku minta maaf, karena aku tadi yang lemparin bola ke kamu," tutur Arga sambil menatap Senja.


"Sengaja ya?"


"Ya nggak lah?"


Senja tersenyum. "Nggak apa-apa Kak, aku aja yang kurang hati-hati," ucap Senja.


"Kakak kalau mau balik ke lapangan juga nggak apa-apa kok."


"Enggak ah, udah hafal aku nggak perlu ngoyo latihannya," jawab Arga sambil nyelonong ke tempat tidur lain yang ada di UKS.


"Aku mau numpang istirahat di sini boleh kan?" ucap Arga dengan mata terpejam.


Senja dan Ucik hanya saling beradu pandang.


"Kayaknya mending aku balik ke lapangan aja deh," ucap Ucik kemudian.


Senja menganggukkan kepala.


"Kabarin ya ada informasi apa?"


Ucik mengacungkan jempolnya dan beranjak dari tempatnya. Saat hendak menutup pintu UKS, tak sengaja pandangan Ucik dan Arga bertemu. "Kak nitip temenku ya," ucap Ucik pada Arga.


Arga hanya mengangguk dan kembali memejamkan matanya.


Senja POV


Tu Kakak benar-benar tidur gak sih? Keluar aja apa gimana ya? Nggak enak banget di sini berdua.


"Kamu mending tidur aja kalau bisa," ucap Kak Arga tiba-tiba.

__ADS_1


"Loh, Kakak nggak tidur?" tanyaku.


"Enggak."


"Kakak kalau mau keluar, aku nggak apa-apa kok."


Aku merasa tak enak kalau Kak Arga harus repot menungguiku. Selain itu, aku merasa canggung jika hanya berdua dengan laki-laki dalam sebuah ruangan seperti ini.


"Aku sengaja mau jagain kamu."


Maksudnya apa coba ngomong gitu? Saat aku ingin bangun, tiba-tiba sebuah tangan menahan jidatku, selanjutnya tubuhku terasa terdorong dan jatuh lagi diatas ranjang.


Blugh!


"Kak."


"Darah dari hidung kamu nggak bakal segera mampet kalau posisi kepala kamu tegak. Udah baring aja," interupsi kak Arga.


Aku kehabisan kata dan menurut begitu saja. Salah tingkah, itulah aku sekarang. Aku berusaha memalingkan wajah agar tak berhadapan langsung dengan Kak Arga. Aku malu, tapi untuk alasan apa malu itu ada. Aku bingung, mau memejamkan mata untuk pura-pura tidur tapi susah rasanya.


"Kakak ikut ekskul voly?" tanya ku.


"Enggak," jawab kak Arga.


"Lha tadi?"


"Cuma iseng aja."


"Iseng?"


Kak Arga hanya menaikkan alisnya.


"Iseng aja lemparannya kenceng banget?"


Setelah ucapan itu, kami terkekeh bersama. Entah kenapa kepalaku bergerak sendiri dan menoleh ke arahnya, dan ya ampun, dia kini tengah tersenyum. Sumpah demi apapun, senyumnya kok gitu banget sih. Mataku nyaman banget mandanginnya.


"Udah, jangan dipandangi terus, aku nggak pengen ada bocah yang naksir. Takutnya dia bakalan nangis histeris kalau aku tolak," ucapnya datar.


Aku segera berpaling. Ya Tuhan, kenapa harus ketahuan sih. Ya ampun, mukaku panas banget. Merah nih pasti.


"Senja, kok muka kamu merah, kamu nggak apa-apa?" tanya Kak Arga sambil menyentuh keningku.


Aku hanya menggeleng cepat. Ah aku takut.


"Kamu kenapa, nggak usah takut gitu dong," ucapnya dengan memandang lekat wajahku.


cklek


"Senjaaa..."


Kami menoleh ke arah pintu. Nampak Ucik, Ayu dan Ifa berada di sana. Kak Arga segera menegakkan tubuhnya. Ya ampun, tinggi banget kalau dilihat dari posisi berbaring gini.


"Karena kalian sudah kesini, aku pergi ya," ucap kak Arga pada ketiga sahabatku.


"Iya Kak," jawab mereka serempak.


"Kamu istirahat," interupsinya padaku.


Aku hanya menatapnya sambil mengangguk patuh. Astaga, aku menjerit dalam hati. Ada sesuatu yang hangat di dadaku. Aku tak mengerti tapi rasanya tarikan di kedua sudut bibirku begitu kuat, hingga tercipta sebuah lengkungan di sana.


Karena ada rasa yang begitu membuncah dan tak mampu aku tahan, akhirnya badanku bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri, kakiku menendang-nendang, tubuhku menggeliat tak karuan. Saat aku nyaris jatuh dari ranjang, barulah aku sadar betapa absurd-nya kelakuanku saat ini.


"Senja nggak apa-apa?" tanya Ayu dengan menatap heran.

__ADS_1


"Kamu kok panas?" tanya Ifa saat menyentuh keningku.


"Muka kamu merah, lagi salting ya?" ucap Ucik dengan nada datarnya yang khas.


Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat. Berharap tidak ada pekikan yang lolos dari mulut ini. Aku tak tahu apa sebabnya, yang jelas hangat rasanya dada ini. Ini perasaan apa ya? Aku benar-benar tak mengerti. Rasa ini sungguh asing untukku.


"Senja..." Ucik memanggilku sekali lagi.


Tubuhku benar-benar sulit untuk dikontrol. Aku segera mengambil bantal dan menenggelamkan wajahku di sana. Sungguh aku bingung dengan apa yang terjadi pada diriku.


"Kamu naksir Kak Arga?" tanya Ucik.


"Ya ampun!!" pekik Ayu dan Ifa bersamaan sambil memegang pipinya dengan mulut menganga.


Naksir? Kalau naksir berarti suka dong. Masa sih aku suka? Bukannya tadi aku ketakutan berdua sama dia. Tapi untuk apa tingkah aneh ku barusan? Ah sudahlah aku benar-benar tak mengerti.


"Tadi gimana?" tanyaku pada mereka bertiga.


"Apanya yang gimana?" tanya Ifa dengan tatapan tajamnya.


"Ya masalah eskul kita," terangku.


"Jangan ngalihin pembicaraan, jelasin dulu kamu tadi kenapa?" ucap Ucik disertai pandangan penuh selidik dari Ayu dan Ifa.


"Emm...." aku tak tahu apa yang harus kukatakan, karena aku sendiri juga tak tahu apa yang terjadi pada diriku.


"Am em am em, awas loh nanti aku aduin sama kakak mu," ancam Ayu.


"Aku nggak ngerti...," pasrah ku.


"Nggak ngerti gimana?" ucap Ifa dengan nada penekanan penuh intimidasi.


"Aku nggak ngerti. Tiba-tiba deg-degan, kayak sesek gimana gitu, terus pengen ketawa, pengen teriak pengen loncat, aku nggak ngerti," terangku frustasi.


Mereka bertiga saling memandang satu sama lain, kemudian serempak menatap ke arahku.


"Hmfthwahahahaha!!!"


Tawa mereka pecah. Bahkan Ifa dan Ayu tampak memegangi perutnya hingga yang awalnya mereka berdiri kini berjongkok. Ucik yang biasanya datar tanpa ekspresi pun kini tertawa terpingkal-pingkal. Muka mereka merah dan nampak air mata di sudut matanya.


Aku hanya bisa menatap mereka heran. Apanya yang aneh, apanya yang lucu, kenapa mereka harus tertawa seperti itu.


"Senja, kamu, hwahahahaha....!" Ifa terus tertawa hingga tak mampu melanjutkan kata-katanya.


Sudahlah, terserah mereka. Ku tahan dulu rasa penasaran ini. Aku segera bangkit dan duduk di ranjang UKS ini. Aku mengecek hidungku, dan Alhamdulillah darah sudah tak mengalir lagi.


Aku bangkit hendak mengambil minum yang tadi Mbak Siti siapkan untukku. Aku melewati mereka yang masih asik dengan tawanya. Aku tak mengerti, benar-benar tak mengerti.


"Senja," aku menoleh kala Ucik memanggil namaku.


Ayu dan Ifa pun menghentikan tawanya mendengar nada serius yang diucapkan Ucik.


"Kamu lagi jatuh cinta," ucap Ucik kemudian.


Aku melongo, sejurus kemudian mereka kembali terpingkal-pingkal.


Mungkinkan aku jatuh cinta?


TBC


Alhamdulillah, done.


Makasih ya, yang udah mau mampir dan support.

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2