SENJA

SENJA
Masih Sakit


__ADS_3

Jumat pagi, di mana hari ini menjadi hari kedua Senja tidak sekolah.


Tok tok tok


"Assalamualaikum."


Suara salam itu berhasil membuat kelas VII f yang riuh mendadak sunyi.


"Wa'alaikum salam," semua serempak menjawab salam. Setelah itu kelas kembali menjadi sepi.


"Senjanya ada Dik?" tanya Rivan sang ketua OSIS.


Seisi kelas saling adu pandang. Sebelum akhirnya salah seorang dari mereka bersuara. "Senja kemarin nggak masuk Kak, sakit. Tapi nggak tahu hari ini dia udah masuk apa belum," jawab Ifa.


"Sakit? Udah berapa hari?" tanya Rivan.


"Dia nggak masuk satu hari kemarin," jawab Ifa lagi.


Rivan tampak mengernyit. Dia sepertinya tengah memikirkan sesuatu dengan serius. "Ya udah, aku permisi dulu ya. Assalamualaikum."


"Iya Kak, Wa'alaikum salam," jawab Ifa dan beberapa anak lainnya.


Rivan kemudian berbalik meninggalkan kelas Senja. Namun baru beberapa langkah, dia segera menghentikan langkahnya. Sepertinya dia tengah menimbang-nimbang sesuatu. Tak berselang lama, dia berbalik dan kembali berjalan ke kelas Senja. "Dik, ada yang tahu rumahnya Senja?" tanya Rivan.


"Kenapa nanyain Senja?"


Semua terdiam. Kini bukan lagi Ifa yang menjawab. Bukan Ucik, bukan Ayu, bukan pula salah satu teman sekelas Senja.


"Dia dapat tugas untuk acara besok Ga," kata Rivan menjelaskan.


"Tugas apa emang?" tanyanya lagi.


"Dia perwakilan kelas VII untuk sambutan persami besok," jawab Rivan.


Arga tak bereaksi mendengarnya. Ya, orang yang baru saja menanyakan keperluan Rivan dengan Senja itu adalah Arga. Dia yang awalnya hendak ke kelas tak sengaja melihat Rivan di depan kelas Senja. Sengaja ingin tahu apakah Senja hari ini sudah sekolah atau belum, ternyata malah mendengar langsung bahwa Rivan tengah mencari tahu tentang tempat tinggal Senja.


Sesaat setelah menjawab pertanyaan Arga, Rivan nampak terhenyak. "Sejak kapan lu kepo sama urusan orang?!" tanya Rivan tanpa mampu menyembunyikan keterkejutannya.


Tak tahu harus menjawab apa, itulah yang dirasakan Arga saat ini. Sementara itu 3 sahabat Senja hanya mampu mengulum senyum. Entah untuk apa senyum ini, untuk sebuah hal yang menurut mereka lucu atau mereka bahagia karena lagi-lagi sahabatnya mendapat perhatian lebih dari orang lain.


"Oh ya, tadi gimana Dik ada yang tahu rumahnya Senja nggak?" tanya Rivan kepada teman-teman Senja.


Alih-alih ada yang menjawab, mereka malah sibuk beradu pandang.


"Aku tahu."


Suara itu lagi-lagi berhasil mengejutkan semua orang dengan ekspresi yang sama pula. Ekspresi kompak itu adalah ekspresi terkejut mendapati kenyataan bahwa Arga tahu di mana rumah Senja, padahal tak ada seorangpun di kelas Senja yang mengetahui rumahnya.

__ADS_1


"Sumpah ya, aku kehabisan kata-kata ngeliat kamu hari ini. Ini beneran Arga teman aku kan?" tanya Rivan dengan wajah syoknya.


Runtuh sudah wibawa yang disandang Rivan biasanya. Dia harus mengeluarkan kata-kata tak penting dengan ekspresi cengo meninggalkan kesan cool yang selalu melekat pada dirinya selama ini.


"Dah lah, mau ke kelas gue, bentar lagi masuk, takut kena hukum ketua OSIS," ledek Arga pada Rivan sambil melangkah meninggalkan depan kelas Senja.


"Woy, urusan kita belum kelar!" teriak Rivan sambil berusaha menyusul Arga.


"Kak tunggu!"


Teriakan itu berhasil menghentikan langkah panjang Arga dan Rivan. Mereka berdua serempak memandang gadis kecil yang kini berhenti di ambang pintu kelas Senja.


"Ada apa Dik?" tanya Rivan.


"Kakak mau ke rumah Senja ya?" tanya Ayu.


Arga dan Rivan saling beradu pandang. Merasa tak kunjung mendapat jawaban, akhirnya Ayu memberanikan diri untuk berkata," salah satu dari kita kalau bisa pengen ikut Kak, ya sekalian mau....," ucapan Ayu menggantung. Perlukah dia mengatakan bahwa Indra menyuruh mereka mengantarkan sesuatu pada Senja. Mungkinkah mereka harus berlindung pada Rivan dari ancaman Indra?


"Mau apa?" tanya Arga tak sabar.


"Mau mengantarkan ini Kak," kata Ucik sambil mengangkat paperbag yang semula tersimpan di laci meja Ifa.


Ifa dan Ayu sontak membulatkan matanya tak percaya, mungkinkah Ucik akan mengadu perihal Indra.


"Kita patungan beli ini, tapi kita lupa kalau kita belum ada yang tahu rumahnya Senja."


"Ini isinya apa?"


Mampus, nggak tahu lagi isinya apa. Batin Ifa.


"Aaaa, ituu...." Ayu tergagap. Dalam keadaan terdesak seperti ini memang sepertinya otak Ayu tak dapat diajak berpikir dengan cepat.


"Rahasia dong Kak," sahut Ifa cepat.


Dan dengan tepat saat ini bel masuk berbunyi dengan nyaring.


"Ya udah, kita ke kelas dulu ya," pamit Rivan pada Ucik, Ayu, dan Ifa. "Nanti aku kabari next nya gimana," lanjut Rivan kemudian.


Ketiganya hanya mengangguk sebagai tanda setuju. Sementara itu Rivan segera menyusul Arga yang telah berjalan terlebih dahulu meninggalkannya.


"Ga, gimana ceritanya lu bisa tahu rumahnya Senja?" tanya Rivan penasaran.


"Emang penting ya?" sahut Arga cuek.


"Ya nggak juga sih, cuman heran aja. Nggak mungkin kan kamu secara kebetulan tahu rumahnya Senja?" kata Rivan.


"Iya emang karena enggak sengaja, terus mau gimana," kata Arga sambil membenahi dasinya yang belum terpasang dengan rapi.

__ADS_1


Sementara itu Rivan kini telah berhenti karena memang dia sudah sampai di depan kelasnya. "Ga, kamu mau kan nanti nemenin ke rumah Senja?" tanya Rivan kemudian.


"Udah ah mau kelas, sono kamu buruan masuk." Arga melanjutkan perjalanannya menuju kelas IX c.


"Ga!" teriak Rivan.


Arga hanya melambaikan tangan kanannya tanpa menoleh apalagi berbalik badan.


Arga POV


Aku terus berjalan menuju kelasku. Aku tak menjawab pertanyaan Rivan, bukannya aku tak mau tapi aku ragu. Bagaimana aku tak ragu setelah tahu bagaimana keluarga Senja begitu membatasinya berinteraksi dengan makhluk berupa manusia berjenis kelamin lelaki.


"Ga, kok baru dateng sih, kamu kan kudu ngumpulin tugas ini sebelum bel masuk," omel salah satu teman sekelasku.


"Ya ampun aku lupa. Emang yang lain ke mana?"


"Anak-anak mana mau ketemu Pak Umar pagi buta kayak gini," katanya sambil menyerahkan setumpuk tugas padaku.


"Ya udah sini."


"Mau dikemanain?" tanya temanku lagi.


"Mau dingumpulin," jawabku sambil berlari keluar kelas.


Untuk lebih cepat menjangkau ruang guru, aku melewati gedung kelas VIII. Di sana aku melihat ada beberapa anak yang tengah merokok secara diam-diam. Gila bener memang, ini masih pagi dan bel pun belum lama berbunyi, mereka berani-beraninya merokok di samping kelas.


"Ray, yang buat Senja udah?"


Apa Senja? Aku berhenti sejenak untuk dapat melihat siapa yang baru saja membicarakan Senja. Ada berapa Senja sih di sekolah ini? Kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali berurusan dengan Senja.


"Udah beres, cuma katanya mereka belum pada tahu rumahnya Senja, dan kayaknya hari ini doi juga belum masuk sekolah," kata salah satu dari mereka.


"Bos beneran lu naksir sama Senja," ucap salah seorang yang lain.


"Nggak ada urusannya sama kalian," jawab seseorang yang dipanggil bos itu.


Aku memicingkan mataku. Dia kan Indra?


TBC.


Alhamdulillah, done untuk part ini dear.


Makasih ya yang udah bersedia mampir.


Semoga suka sama ceritanya.


Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak kalian.

__ADS_1


Happy reading, love you all.


__ADS_2