
^^^Hi dear.^^^
^^^Author lupa kalau hari ini yang katanya hari kasih sayang. ^^^
^^^Jadi sebegai tanda kasih buat temen-temen yang udah ngikutin kisah Senja, aku kasih up nih hari ini. ^^^
^^^Maafkan author yang belum bisa upload lebih sering, karena dunia nyata saya juga butuh diperjuangin, 😭^^^
^^^Intinya, happy reading... ^^^
“Assalamualaikum…!!” teriak Senja saat baru saja memasuki rumahnya.
“Wa’alaikum salam. Ceria banget sih kamu?” tanya Arti yang kini sedang bersantai sambil nonton tv.
“Iya dong.” Senja duduk di samping Arti dan ikut makan mangga yang ada di atas meja. “Manis Mbak.” Senja kembali mengambil mangga dan menyuapkan ke dalam mulutnya.
“Iya dong, meskipun lagi hamil, Mbak nggak doyan yang asem-asem.”
“Aya ganti baju dulu ya Mbak…” Senja kemudian bangkit menuju kamarnya.
Di dalam kamar ia melompat-lompat girang. Kemudian mendadak diam saat dirasa kelakuannya absurd.
“Astagfirulloh, aku apaan sih…” Senja merasa aneh dengan kelakuannya, namun semua itu seperti keluar begitu saja. Jantungnya berdebar kencang, dan wajahnya tertarik kencang mengajak Senja melukis sebuah senyuman.
“Kak Arga.”
Senja menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan meraih sebuah bantal untuk dipeluknya kencang. Ia berguling ke kanan dan ke kiri seperti tak terkendali.
Brugh!!
Sayang kesenangan terganggu saat tubuhnya harus terpelanting ke lantai. Namun bukannya mengaduh kesakitan, Senja justru tergeletak dengan nyaman dan tersenyum sendirian.
“Kok aku bawaannya pengen senyum terus ya?” gumamnya lagi.
Tok tok tok
“Ay, ganti bajunya kok lama banget sih?”
Senja langsung bangkit dan mengembalikan bantalnya di atas ranjang. “Iya Mbak bentar!” jawab sambil cepat-cepat mengganti bajunya.
Cklek!
Tak lama kemudian Senja terlihat keluar dari kamar.
Arti yang baru saja mengambil piring bekas mangga segera menghampiri Senja. “Ayo cepetan makan. Ayah sama mas Atma sudah pulang, jarang-jarang kan kita bisa makan siang barengan.”
“Iya kah? Padahal belum jam 12 loh…”
“Iya. Yuk sekalian bantuin ibu siap-siap.”
Arti mengajak Senja langsung ke belakang mengambil makanan yang sudah sejak tadi telah di siapkan.
“Biar Aya aja Mbak…” Senja mengambil alih setumpuk piring yang hendak diangkat Arti.
“Nah gitu dong…” kata ibu saat melihat Senja membantu menyiapkan makanan.
“Ya dong…” Senja tersenyum ceria dan kemudian berbalik ke belakang untuk melihat ada apa lagi yang bisa ia lakukan.
“Ay, ambilin centong Nak!” teriak ibu dari meja makan.
“Iya Bu!”
“Nih,” Arti menyodorkan sebuah centong pada Senja.
__ADS_1
“Sini aku bawain sambelnya Mbak.”
“Udah, kamu bawa itu aja, ini aku yang bawa.”
“Ada lagi nggak yang kudu dibawa?” Tanya Senja.
“Nggak, udah di meja semua.”
Senja dan Arti kemudian bergabung di meja makan. Momen seperti ini sangat jarang terjadi, pasalnya ayah dan Atma akan pulang menjelang sore karena biasanya ada keperluan lain setelah jam sekolah.
“Aya udah lama pulangnya?” Tanya Atma.
“Sekitar setengah jam yang lalu deh Mas,”jawab Senja sambil menuang nasi di piringnya.
“Masih sakit?”
Spontan semua menghentikan aktivitasnya kemudian menatap Atma dan Senja secara bergantian.
“Apa yang sakit?” panik ibu saat menadari ada lebam di sudut bibir Senja.
Atma menghela nafas. “Cahaya tadi kena pukul Bu di sekolah?”
“Kok bisa ?” serempak ibu dan Arti.
Ayah menghela nafas. “Apa yang terjadi sama kamu Nak?” Tanya ayah pada Senja.
“Ada kakak kelas yang mau berantem dan nggak sengaja kena Aya.”
“Ada Atma pas kejadian Yah,” kata Atma menimpali.
“Ya udah, ceritanya nanti, sekarang kita lanjut makan dulu.”
Setelah ayah berkata seperti itu, semua kembali fokus kepada makanannya. Senja sekarang tak pernah lagi minta disuapi. Dia juga sudah bisa mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sendiri. Kemajuan sekali bukan?
Setelah selesai makan, Senja bersama Arti beres-beres dan mencuci piring, sementara Atma dan ayah pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat dzuhur berjamaah.
Senja menggeleng. “Cuma ini Bu, sama bahu sebenarnya juga kena pukul juga sih, tapi nggak apa-apa kok.”
“Ya ampun, kok bisa sih Ay, terus ada nggak nolongin kamu?” Tanya Arti.
Senja menghela nafas. Ada ragu sebelum menyebutkan namanya.
“Kak Arga.” Akhirnya Senja menyebutkan satu nama.
“Arga!? Kok bisa?” Tanya Arti, sementara ibu hanya melihat dan tak berusaha tak berkomentar.
“Dia mau mukul Kak Arga, terus kena Aya.”
Ibu dan Arti dahinya mengernyit dan saling memandang.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikum salam…” serempak semuanya saat terdengar suara salam yang diyakini itu adalah ayah dan Atma.
Tak lama berselang, terdengar derap langkah menuju dapur tempat tiga wanita ini kini berada.
“Belum selesai ya?” Tanya Atma saat melihat beberapa perabot belum kembali ke tempatnya.
“Tinggal dikit Nak, tadi kita sholat dulu soalnya.”
“Oh, sama ayah ditunggu di ruang tengah,” kata Atma.
“Ibu sama Aya ke depan aja dulu, tinggal dikit ini, biar Arti yang selesaikan,” tawar Arti pada mertua dan adik iparnya.
__ADS_1
“Nggak apa-apa?” Tanya ibu.
“Nggak apa-apa Bu.”
“Kalau ada yang berat taruh aja, nanti biar ibu yang beresin.”
“Iya Bu…” Senja dan ibu kemudian menyusul ayah ke ruang tengah.
“Ada apa Yah?” Tanya ibu begitu duduk di samping ayah.
“Aya sini Nak,” panggil ayah agar Senja mendekat. “Masmu sudah cerita sama ayah.”
“Cerita apa Yah?” Tanya Senja. Entah mengapa ada perasaan tak tenang tiba-tiba menjalar di hatinya.
“Tentang kejadian di sekolah.”
Senja diam, namun jujur saja pikirannya bergerilya kemana-mana. Apa yang mas Atma ceritakan sama ayah. Bagaimana kalau ayah marah selama ini aku akrab dengan kak Arga.
“Senja serius pengen ikut pencak silat?”
Meskipun ayah menanyainya dengan suara rendah dan tatapan teduh, tetap saja Senja merasa takut, karena jenis olahraga ini didominasi oleh laki-laki.
Dan yaaa…. Tahu kan Senja tak boleh bergaul dengan laki-laki.
“Barang kali ada yang pengen kamu tunjukin dulu sama Ayah sebelum mulai latihan?” ayah kembali bertanya saat melihat putri bungsunya diam saja.
Senja mengangkat wajah yang sebelumnya menunduk. Ia memberanikan diri untuk menatap sang ayah tanpa ekspresi. Sepertinya ia tengah meyakinkan diri terkait apa yang baru saja didengar oleh telinganya dan dilihat oleh matanya.
“Formulir.”
Bersama dengan terucapnya kata itu, senyum di wajah Senja mendadak bersinar. Dengan wajah yang berbinar Senja segera melesat ke dalam kamar.
Ayah dan Atma terkekeh melihatnya.
“Ayah beneran ijinin Cahaya?” Tanya ibu.
“Ya selama Cahayanya mampu ya biarlah Bu. Beladiri kan juga penting buat perempuan, apa lagi jika suatu saat dia terpaksa sendirian. Siapa yang bakal ngejagain kalau bukan dirinya sendiri.”
“Iya juga sih.” Ibu yang semula kurang setuju kini menyerah pada akhirnya.
Arti kemudian datang dengan membawa sepiring penuh buah mangga.
“Kok, mangga lagi sih Dik, apa nggak ada buah lain?” protes Atma yang sudah bosan melihat buah mangga.
“Maunya dedek ini Mas, masa nggak boleh….”
“Kamu nggak bakal menang kalau sudah berhadapan dengan orang hamil…” bisik ayah kepada Atma namun masih bisa di dengar dengan jelas oleh semua.
“Emang kalian para ayah mau kalau anaknya ileran,” timpal ibu yang membimbing Arti untuk duduk di kursi yang sama dengannya.
Semua tertawa hingga akhirnya Senja datang dengan selembar kertas di tangannya. Dia kemudian menyodorkan selembar kertas itu pada ayah serta sebuah pulpen yang terselip di bawahnya.
“Ini diapain ini?” Tanya ayah saat menerima kertas yang diulurkan Senja.
“Tanda tangan Yah…” Senja terlalu bahagia hingga ia tak mampu banyak berkata.
Atma ikut melihat formulir yang tengah dibaca ayah. Ibu juga turut melakukan hal yang sama.
“Arbi Sumarga.” Atma mengernyit setelahnya.
Degh!
Senja mendadak gugup. Kenapa wajah Mas Atma kayak gitu? Batin Senja saat melihat dengan jelas perubahan wajah Atma setelah menyebutkan nama Arga.
__ADS_1
Arti menutup mulutnya sesaat setelah mendengar gumanan Atma. Kenapa harus Arga lagi?
TBC