
^^^Halu-halu semua. ^^^
^^^Author kok mendadak pengen balik ka masa lalu dan bisa jadi Senja yang lengkap dengan Arga bersamanya. ^^^
^^^Manis banget deh kayaknya. 🥰 🥰 🥰 🥰 ^^^
^^^Ada yang samaan nggak? ^^^
^^^-Happy reading-^^^
“Aku balik ya…” pamit Arga setelah mengantarkan Senja hingga ke depan pintu kelasnya.
Senja mengangguk. “ Makasih Kak.”
“Sama-sama,” Arga merapikan anak rambut Senja. “ Masuk gih…”
Senja langsung berbalik dan menuju tempat duduknya. Hingga ia menjatuhkan pantatnya di atas kursi, ia masih belum mampu menyurutkan senyum di bibirnya.
“Udah deh, mending jujur aja sama kita. Kalian jadian kan?”
Ayu mengangguk menanggapi ucapan Ifa dengan menatap Senja.
“Enggak. Kita nggak boleh pacaran,” jujur Senja yang masih menyembunyikan wajahnya.
“Siapa yang nggak boleh, kakak sama orang tua kamu?”
Kini Senja mendongak karena Ucik yang baru saja bertanya.
Senja mendesah dan menyandarkan punggungnya. “Aku join pencak silat bukan semata kerena keberadaan Arga, tapi karena aku ingin berada di sana. Setelah aku masuk, aku bahkan baru tahu kalau anggota yang masih latihan dan belum di sahkan itu nggak boleh pacaran.”
“Jadi kamu dan kak Arga…” ucapan Ifa menggantung.
Senja lngsung menyambut dengan anggukan. “Kita nggak mungkin pacaran.”
“Memangnya kenapa kalau sampai pacaran?” tanya Ayu penasaran.
“Pertama, itu akan mengganggu kita, karena setelah ikut latihan, waktu dan pikiran kita akan tersita. Dalam pencak silat nggak hanya raga yang diolah, tapi jiwa juga.”
“Maksudnya?” kembali Ayu bertanya.
“Cuma itu yang Mas Arga bilang ke aku. Aku kan juga belum mulai latihan, dan katanya nanti aku bakal paham kalau udah mulai jalan.”
“Aku pikir kamu jadian karena kamu sekarang manggil dia mas, hehehe….”
“Enggak Fa, sebenarnya aku manggil mas nggak cuma sama mas Arga, tapi kak Rivan, kak Wahyu dan semua yang udah disahkan. Karena kalau kita udah masuk semua saudara. Yang udah disahkan adalah mas atau mbak, yang belum di sahkan adalah adik,” terang Senja.
“Terus tadi kenapa bisa ada kak Indra dan Tito di masjid?” tanya Ayu yang rasa penasarannya belum terjawab.
“Mereka juga siswa. Harusnya mereka disahkan tahun ini, tapi nggak tahu soalnya mereka lama mangkir latihan.”
__ADS_1
“Terus gimana mereka bisa lanjut lagi terus langsung akur gitu sama kak Arga. Padahal baru sabtu kemaren mereka hamper duel?” kembali Ayu bertanya. Sementara Ucik dan Ifa setia menjadi penonton wawancara.
Senja tersenyum mengingat bagaimana ia menyaksikan Arga yang berhasil membuat Indra dan Tito terkapar di stadion.
“Ellah, ditanya malah senyam-senyum,” cibir Ifa yang merasa tak sabar menanti Senja bercerita.
Senja masih berusaha menyembunyikan senyumnya. Ia terbayang-bayang bagaimana kerennya Arga saat melawan Tito dan Indra. Astaga, aku ini gimana sih? Masa iya lihat orang berantem dikira keren. “Ehm, ehm…” Senja berdehem berusaha mengembalikan konsentrasinya. “Mas Arga yang buat mereka balik.”
“Caranya?” tanya ketiganya serempak.
“Aku nggak tahu persisnya, yang jelas dia datang sendiri dan menemui mereka berdua.”
“Mereka berantem?” tanya Ayu.
Senja mengangguk.
“Kak Arga dikeroyok?” tanya Ifa.
Senja kembali mengangguk.
“Terus Kak Arga ngalahin mereka?” serempak Ayu dan Ifa.
Lagi-lagi Senja mengangguk.
“Ya ampun…, udah kayak badboy dalam novel tahu nggak…!!!” pekik Ayu.
“Tapi Kak Arga kan wajahnya kalem…” lanjut Ifa.
Ketiganya langsung menatap Ucik yang baru saja berkomentar.
Senja mengangguk setelahnya. “Aku pernah lihat mas Arga marah. Emang serem sih?”
“Pernah? Kapan?” tanya Ifa dan Ayu bersahutan.
“Ya belum lama ini…”
Ayu dan Ifa serempak melayangkan tatapan tak percaya. “Sesering apa sih kalian ketemu tanpa kita?” tanya Ifa setelahnya.
Senja menghela nafas. “Pulang persami dia nganter aku pulang.”
“Kok bisa?!” serempak ketiganya termasuk Ucik. Kali ini Ucik sudah berhasil dibuat penasaran.
Senja sedikit memundurkan kepalanya dari semburan pertanyaan ketiga sahabatnya. “Bisa. Waktu itu mas Atma nggak bisa jemput dan mbak Arti minta mas Arga nganter aku pulang.”
“Terus?” tanya Ucik cepat membuat Ifa dan Ayu sekelebat menatapnya heran.
“Di jalan kita di cegat sama Indra. Singkat cerita Indra mau mukul mas Arga, karena aku nggak tega, aku langsung ngehadang pukulannya dan akhirnya aku yang kena. Saat itu aku belum tahu kalau mas Arga nggak hanya bisa berantem, tapi bahkan dia jago bela diri.”
“Terus?!” tanya Ucik cepat bahkan ketika Ayu dan Ifa baru hendak membuka mulutnya.
__ADS_1
“Mas Arga kelihatan marah banget dan langsung ngehajar Indra. Nggak lama datang Rayi dan nggak tahu siapa lagi satunya. Mereka nyerang mas Arga barengan. Saat mas Arga fokus sama satu orang, yang satu lainnya segera bawa Indra pergi dari sana.”
“Terus?”
Kali ini hanya Ucik yang bertanya sementara Ayu dan Ifa diam saja.
“Terus tuh ya, kamu nanyanya kok cepet banget,” ujar Senja sambil terkekeh.
“Jangan salah, orang yang kelihatannya cuek dan nggak peduli itu begitu ngerasa penasaran, keponya ngalahin orang yang kelihatannya banyak bicara,” kata Ifa dengan menirukan gaya bicara Ucik saat mengomentari Arga.
Ucik yang merasa tersindir hanya bisa meringis saat ketiga sahabatnya menertawakan tingkah keponya yang tak biasa.
“Selamat siang anak-anak, assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh….” Sapa pak Umar saat baru saja memasuki kelas mereka.
“Wa’alaikum salam warahamatullahi wabarakatuh,” sepempak kelas VII f.
Mereka melayangkan tatapan heran saat mendapati pak Umar di kelasnya, pasalnya untuk pelajaran tambahan matematika, mereka akan diajar oleh pak Edi.
“Pak Edi hari ini berhalangan, jadi saya yang akan membimbing kalian untuk pelajaran tambahan. Karena saya harus mengajar kelas IX juga, jadi kalian kelasnya pindah ya.
“Jangan-jangan kelas IX c…” bisik Ifa pada Senja.
“Stt…” Senja menginterupsi Ifa agar segera diam.
Ifa mengatupkan mulutnya dan mengangguk.
“Sekarang kalian silahkan berkemas dan ikuti saya.”
Semua bersiap. Bohong sekali kalau Senja tak deg-degan. Ia deg-degan kalau-kalau kelasnya memang di gabung dengan kelas IX c. namun ia hanya bisa diam dan berlagak biasa saja. Pastilah ia akan malu jika orang lain sampai tahu isi hatinya.
Seluruh anak kelas VII f berjalan mengikuti pak Umar. Sekarang pak Umar pun sudah berbeda, tak ada tatapan sinis dan penuh intimidasi tanpa alasan pada Senja. Sehingga matematika tak lagi menjadi pelajaran yang menyeramkan bagi Senja.
Ada rasa lega saat pak Umar terus berjalan melewati pintu kelas Arga, namun di saat yang sama Senja merasa kehilangan kesempatan untuk berada di kelas yang sama dengan Arga.
Melihat ada rombongan anak kelas VII yang berjalan melewati kelasnya, hampir seluruh penghuni kelas IX c menatap ke sans, kecuali Arga. Dia lebih asik menggoreskan tintanya di lembar paling belakang buku tulisnya.
Brak!
“Duuhh, hati-hati dong…!”
Arga seakan menemukan dunianya. Ia langsung meletakkan pensilnya dan melesat menuju pintu kelasnya.
“Arga kenapa?” tanya Hari pada Bambang yang duduk sebangku dengan Arga.
Bambang menggeleng. “Nggak tahu, tadi perasaan dia cuek aja ada rombongan adek kelas yang lewat.”
“Masak iya dia mau ngecek pintu yang barusan kepentok?” tanya Hari heran.
“Tahu deh,” kata Bambang sambil menggidikkan bahu.
__ADS_1
TBC