
Seminggu setelah pertemuan makan malam.
"Mas Aryo sudah lama?" tanya Ina yang sudah rapi dan bersiap pergi bersama Aryo.
"Belum. Ini mau langsung berangkat apa gimana?" tanya Aryo.
"Langsung aja kali ya, keburu siang. Aku pamit Ibu ya."
Aryo mengangguk dan Ina pun masuk rumah untuk mencari Ibunya. Tak lama berselang, Ina keluar bersama Ibunya.
"Makasih ya Nak Aryo, sudah mau repot-repot nganter Ina."
"Nggak apa-apa Bu. Sebenarnya kalau Dik Ina mau bisa lo daftar di sekolah Aryo."
"Ehm," Ina berdehem untuk mengalihkan perhatian Ibunya dan Aryo. "Kita berangkat dulu ya."
Setelah berpamitan, akhirnya Ina dan Aryo pergi menuju sebuah sekolah menengah atas guna melakukan interview.
"Kenapa sih Dik kamu nggak di sekolah aku aja. Nanti kan gampang kalau..." Masa iya aku bilang kalau udah nikah.
"Kalau apa Mas?" tanya Ina.
"Eemmm..." Aryo mendadak gugup. "Eh kamu udah janjian kan?" tanya Aryo untuk mengalihkan pembicaraan.
"Iya Mas."
Saat tiba di sekolah, datanglah seorang laki-laki berperawakan sedang yang datang hampir bersamaan dan memarkirkan motornya di samping Aryo dan Ina.
"Umar?" ucap Ina saat orang itu membuka helmnya.
"Siapa Dik?" tanya Aryo.
Umar yang juga terkejut segera mengulurkan tangannya. "Saya Umar, teman kuliahnya Ina. Mas ini?"
Aryo menjabat tangan Umar. "Saya Aryo, saya..."
"Calon suamiku," potong Ina cepat yang mendapat tatapan terkejut dari Aryo.
Sementara itu Umar juga tak kalah terkejut. Jadi ini alasanmu nolak aku. Tanpa sadar Umar mengeratkan genggaman tangannya yang kini sedang menjabat tangan Aryo.
__ADS_1
"Mas, aku masuk dulu ya," ucap Ina yang disusul dengan terlepasnya jabatan tangan antara Aryo dan Umar.
Aryo menatap Ina yang berjalan menjauhinya.
"Saya juga masuk ya," kata Umar kepada Aryo.
"Silahkan..."
Aryo mengedarkan pandangan ke berbagai penjuru sisi. Dia mulai berjalan-jalan untuk sekedar mengusir bosan. Hingga akhirnya Ina nampak berjalan menghampirinya.
"Udah selesai?" tanya Aryo.
"Udah Mas, yuk cepet pulang," kata Ina yang nampak buru-buru. Saat itu juga mereka berjalan meninggalkan sekolah.
Saat itu Umar yang baru saja keluar berniat menyusul mereka, namun sayang keduanya sudah melewati gerbang tepat saat Umar menginjakkan kakinya di parkiran. Arwina, kamu nggak bisa ninggalin aku.
Di tengah perjalanan Aryo dan Ina. "Mas, boleh nggak berhenti di mana gitu? Ina mau ngomong."
"Emm, boleh deh." Entah mengapa saat itu juga Aryo mendadak berdebar-debar. Belum juga seminggu, apakah Ina akan menolak perjodohan ini?
Tibalah mereka di sebuah taman.
Ina menghela nafas. "Bagaimana Mas Aryo menanggapi perjodohan ini?"
Aryo meraih tangan Ina kemudian digenggamnya. "Dik, maafin saya. Sebenarnya ide perjodohan ini datangnya dari saya. Saya sudah tertarik dengan Dik Ina sejak lama, makanya saya meminta Ayah untuk menjodohkan kita. Apa kamu marah?"
Ina memandang Aryo dengan tatapan tak percaya.
"Dik, kamu berhak nolak sa..."
"Saya terima Mas," potong Ina cepat.
"Ha?!" Kini malah Aryo yang dibuat terkejut.
"Iya Mas." Ina membalas genggaman Aryo. "Tapi apa boleh Ina jujur?"
"Apa?" tanya Aryo. Ya Tuhan, apa yang mau dikatakan Ina?
"Apa Mas Aryo keberatan kalau memulai hubungan ini tanpa cinta?" Ina memandang Aryo yang diam sambil menatapnya. "Ina sebenarnya belum mencintai Mas."
__ADS_1
Senyum Aryo pudar.
"Tapi Ina yakin kalau Ayah sama Ibu pasti memilihkan yang terbaik untuk Ina." Lanjut Ina kemudian.
Aryo kembali mengembangkan senyumnya. "Dik, aku nggak bakal ngedesek kamu untuk segera menikah, aku bakal nunggu kamu, kamu tenang ya."
Mendengar ucapan itu Ina malah menggeleng. "Justru aku pengennya segera nikah Mas, aku pengen cinta itu tumbuh tanpa ada bayang-bayang dosa karena mencintai yang belum halal."
Aryo benar-benar bahagia mendengarnya. Aku benar-benar tak salah sudah menaruh hati padamu Arwina.
Dan setelah pembicaraan itu, Aryo dan Ina sepakat untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Mulai lamaran hingga persiapan pernikahan nyaris tak menemukan kendala yang berarti. Ina juga mengurungkan niatnya untuk mengajar di sekolah yang sepat dia datangi setelah tahu Umar juga mengajar di sana.
Lalu siapa Umar?
Umar adalah pria yang selama ini di samping Ina selama kuliah. Dia bukan pacar Ina, namun sempat beberapa kali menyatakan cintanya. Ina sudah menolaknya namun Umar bersikeras meskipun hanya dianggap teman, dia akan terus berada di samping Ina. Ia akan berhenti jika Ina sudah berhasil menemukan pendamping hidupnya.
Hingga akhirnya hati bahagia itu tiba. Semua larut dalam suka cita. Namun ada satu hal yang mengganjal di hati Ina, saat melihat Umar begitu akrab dengan Anton, adiknya. Anton memang lebih gampang akrab dengan orang dengan gayanya yang tengil dan sedikit urakan namun berotak cerdas. Berbeda dengan Atma, dia lebih pendiam dan santun meskipun sama cerdasnya dengan Sang Kakak.
Tiga bulan menikah Ina akhirnya hamil, petaka pun dimulai. Tanpa sepengetahuan Ina, Umar menemui Aryo dan mengatakan hal yang tak benar tentang dirinya dan Ina. Dia mengatakan bahwa dirinya dan Ina sudah lama menjalin hubungan saat sama-sama menjadi mahasiswa. Aryo tak percaya, karena setelah menikah dia masih mendapatkan Ina secara utuh.
Merasa gagal dengan rencana pertamanya, Umar kian gelap mata, dia menjebak Ina untuk bertemu dan mengambil foto tanpa sepengetahuan Ina melalui perantara Anton. Ia menghasut Anton dengan mengatakan bahwa sebenarnya Aryo telah dengan lancang merusak hubungannya dengan Ina, sehingga ia ingin bertemu untuk yang terakhir kali sebelum ia benar-benar pergi.
Umar kembali menemui Aryo dengan berbekal foto pertemuan diam-diam itu. Dengan kejamnya dia berkata bahwa anak yang dikandung Ina adalah buah cintanya, bukan anak Aryo. Kali ini sepertinya setan berhasil mempengaruhi Aryo untuk tak mempercayai wanita yang kini tengah mengandung buah hatinya. Padahal Ina sudah dalam posisi mengandung 6 bulan.
Pertengkaran hebat pun terjadi, berkahir dengan Aryo yang memulangkan Ina ke rumah orang tuanya. Keluarga Ina kecewa akan keputusan Aryo, karena mereka yakin Ina bukan orang yang demikian.
"Kan dari awal Anton udah nggak setuju sama perjodohan ini!" Anton yang memang temperamennya tinggi tak mampu lagi membendung emosinya. Ia bahkan nyaris menghajar Aryo jika tidak melihat Ibunya yang pingsan hingga bayi yang belum lama dilahirkannya nyaris jatuh dari pangkuan. Dan bayi itu adalah Cahaya Senja.
"Dari awal Anton emang lebih percaya sama Mas Umar daripada kamu ba**ngan. Pergi!"
Dan setelah itu kondisi Ina terus menurun, dia stress. Hingga memasuki usia kehamilan 8 bulan, Ina mendadak kejang hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Saat itu ia terdiagnosa mengalami pre-eklampsia. Setelah menjalani perawatan selama 3 hari Ina diperbolehkan pulang dengan catatan semua harus dikontrol dengan baik sesuai petunjuk dokter.
Namun seminggu kemudian Ina kembali ditemukan pingsan dan harus di larikan ke rumah sakit. Umar kebetulan di rumah sakit untuk menjenguk kerabat yang sedang sakit yang tak sengaja melihat Ina yang tak sadarkan diri turun dari ambulans. Dia panik, karena bagaimanapun juga dia yang turut andil akan hancurnya rumah tangga Ina, wanita yang selama ini sangat di cintainya. Dia merasa bersalah dan saat itu juga menghubungi Aryo. Dia tak banyak berkata, karena dia takut di salahkan akan kondisi Ina. Umar hanya berkata pada Aryo bahwa Ina dan bayinya sedang membutuhkan Aryo.
TBC
Alhamdulillah, selesai part ini.
Jangan lupa dukung author ya.
__ADS_1
Terimakasih.