SENJA

SENJA
Sebenarnya


__ADS_3

HAPPY READING


“Terimakasih Mas. Terimakasih banyak.”


Entah sudah berapa kali terimakasih Arga ucapkan kepada Atma atas keputusan yang baru diperdengarkannya. Resikonya tinggi, tetapi keberhasilannya belum pasti. Tapi mencoba adalah sebuah langkah pasti untuk tahu kemampuan diri.


“Kalau begitu kami pulang dulu. Assalamu alaikum,” pamit Atma setelah Arga melepaskan jabatannya.


“Waalaikum salam,” serempak Norma dan Arga.


Senja sempat menundukkan kepala sebagai tanda hormatnya kepada Norma dan Arga. Ia lantas memalingkan wajahnya di belakang boncengan kakaknya.


“Seakrab itu?”


Arga tak menjawab. Bahkan menoleh pun tidak. Arga bahkan beringsut ke salah satu sisi gerbang dan menyandarkan punggungnya di sana.


“Kamu tahu dia siapa?” Alih-alih menjawab pertanyaan Norma, Arga justru balik bertanya.


Norma menggeleng. “Dia warga juga kah?”


Arga mengangguk.


“Senja sekarang memang fokus pada pembentukan fisik. Atas arahan dari Mas Atma, ia mau Senja tidak terlalu cepat disahkan.”


Kok ada yang begini. Bukannya terlalu lama talihan itu sama sekali tak menyenangkan?


Arga dapat menebak apa yang sekarang dipikirkan Norma yang seakan menyimaknya. Namun ia tak peduli. Ia enggan menanggapi dan enggan memastikan. Biarlah Norma dengan kerumitannya yang jelas Arga hanya ingin membuatnya mengerti bahwa Senja itu berbeda.


“Tahun pertama target membentuk fisiknya dan mematangkan teknik bertanding. Baru nanti tahun kedua materi diberikan dengan semestinya,” jelas Arga.


“Dia umurnya berapa sih? Bukankan nanti dia kelas delapan ada pengesahan?”


Arga memainkan kontak motornya sambil menengadah menatap langit cerah di atasnya.


“Semula Mas Atma melarang Senja untuk ikut latihan. Ia tak mau adiknya ini salah niat dan justru terjerumus pada komunitas yang, ya tahu sendiri lah.”


Norma manggut-manggut..


“Dan pertemuan tak sengaja waktu itu membuat Mas Atma tahu bahwa aku adalah atlit yang juga ketua organisasi ini di sekolah. Ia baru mengijinkan Senja latihan jika memang prestasi menjadi tujuan adiknya ini. Dan akhirnya Senja pun komit untuk bergabung dengan kami.”


“Tapi kan…”


“Iya berat,” potong Arga cepat. “Tapi seseorang akan lebih bisa menghargai pencapaiannya jika itu perlu usaha dan susah payah untuk memperolehnya,” lanjut Arga.


Norma terbungkam dengan kalimat Arga. Memang juniornya ini tak nyinyir dan menyindir, tapi kenapa begitu mengena.


“Tapi dibalik alasan-alasan itu, aku merasa hanya ada satu alasan sebenarnya,” kata Arga setelah keduanya sempat diam beberapa saat lamanya.


“Apa?” tanya Norma penasaran.

__ADS_1


“Mas Atma tak mau adiknya jadi begajulan kalau terlalu terburu-buru disahkan.”


Spontan Norma mendongak. Wajahnya berubah seketika. Jadi tadi Arga hanya berbicara teoritis saja, kali ini kalimatnya benar-benar lurus mengenai Norma.


“Aku nggak begajulan, woy, woy..., Jangan pergi, Woy, elah!”


Norma benar-benar ingin memukul Arga sekarang. Usai bicara seenaknya, remaja jangkung ini malah seenaknya balik badan dan pergi meninggalkannya untuk masuk lagi melewati gerbang. Mau ikut ke dalam, sayangnya Norma tak punya urusan, jadilah disini ia ngedumel seorang diri.


Bukan hanya karena ucapan Arga, Norma juga ngedumel saat memikirkan bagaimana dia pulangnya. Arga tahu Norma tadi datang dengan temannya. Dan temannya pergi beserta kendaraannya. Namun Arga sama sekali tak peduli. Masih ada hal penting yang harus ia urusi saat ini.


Keesokan harinya.


Bel istirahat berbunyi nyaring. Itu tandanya pelajaran yang tengah berlangsung sudah saatnya untuk dihentikan. Semua siswa menyambut bahagia momen ini karena mereka bisa segera bergerak ke kantin untuk mengganjal perutnya yang mulai keroncongan.


“Senja mau ke kantin nggak?” tanya Ifa.


Senja menggeleng. “Nitip aja kali ya. Aku mau ngerjain PR sekarang,” jelas Senja.


“Kan masih ada nanti,” sahut Ayu yang duduk di depannya.


“Takut ketiduran kalau malam. Dah, aku nitip cilok aja ya. Nggak pedes,” ujar Senja sembari menyerahkan sejumlah uang kepada Ifa.


“Nggak pedes?!” kaget Ayu dan Ifa berbarengan.


Senja mengangguk yakin.


“Sejak kapan kamu nggak doyan pedes?” tanya Ifa keheranan.


Ifa bangkit dari tempatnya dan mengambil uang Senja yang ada di depannya.


“Minumnya apa?” tanya Ifa lagi.


Senja tak menjawab. Ia mengangkat botol berisi air putih yang sudah ia siapkan dari rumah. Ketiga sahabatnya pun paham dan mereka bertiga melenggang menuju kantin untuk membeli makanan.


Ifa sengaja kembali terlebih dulu karena kasihan pada Senja kalau tak punya waktu cukup untuk makan. Makanan yang ia beli pun turut ia bawa ke kelas sekarang. Kalau ia makan di kantin, takutnya Senja tak punya cukup waktu untuk makan karena bel keburu dibunyikan.


“Nih…” Ifa menyerahkan sebungkus cilok pada Senja.


“Makasih,” ujar Senja menerima titipannya. “Yang lain mana?” lanjut Senja.


“Yang lain masih di kantin,” jawab Ifa.


“Maaf ya sudah merepotkan,” ujar Senja sambil menerima sebungkus cilok pesanannya.


“Nggak kok.”


Senja memasukkan beberapa cilok ke dalam mulut sebelum kembali mengerjakan PRnya. Ifa juga asik dengan gorengan di tangannya hingga ia dan Senja tak sadar ada seseorang di depan pintu kelas mereka.


“Pantes di kantin nggak ada.”

__ADS_1


Ifa nyaris tersedak saat tiba-tiba ada suara berat itu menyapa begitu dekat dari tempatnya.


Senja juga terkejut, namun karena reaksi tak biasa Ifa, ia jadi punya waktu untuk menormalkan wajahnya. “Enggak Mas. Mau ngerjain PR dulu, takutnya kalau malam ketiduran,” jawab Senja dengan senyum terbaiknya. Ia lantas melanjutkan pekerjaannya.


Dalam diam Arga memperhatikan Senja. Dengan serius menjawab soal dihadapannya.


Ifa juga masih disana. Ia membuka botol dan minum dengan segera. Ia sudah biasa diacuhkan saat ada Arga di dekat Senja, jadi tak perlu bereaksi berlebihkan sepertinya.


“Kenapa Mas nyariin?” tanya Senja yang nampaknya baru selesai dengan soalnya.


Arga tak menjawab. Ia justru fokus dengan bungkusan di depan Senja. “Itu punya kamu?” tanya Arga memastikan.


“Iya Mas,” jujur Senja.


“Pedes?”


“Nggak kok, aku tadi minta mangnya nggak pake sambel,” jelas Ifa buru-buru.


Senja hanya tersenyum karena apa yang seharusnya ia katakan sudah Ifa wakilkan. Arga juga balas tersenyum karena kepatuhan siswanya ini.


“Ya ampun,” ujar Ifa sambil bangkit segera.


“Mau ke mana Fa?” tanya Senja yang menerka teman sebangkunya ia akan pergi dari sana.


“Ke tempat dimana bumi masih memberikan ruang untuk ditempati,” jawab Ifa sambil melenggang pergi.


“Iya kemana? Hey! Ihhh...”


Arga tersenyum melihat Ifa tak menghiraukan teriakan Senja. Ia tetap pergi meninggalkan mereka berdua.


“Oh iy, Mas Arga tadi mau ngapain?” ulang Senja karena merasa Arga belum menjawab pertanyaannya.


Seakan teringat akan hal yang hampir terlupakan, Arga segera mengeluarkan sesuatu yang ia bawa untuk ditunjukkan pada Senja.


“Apa ini Mas?” tanya Senja menerima selembar kertas yang baru saja Arga serahkan.


“Baca saja,” pinta Arga.


Sementara Senja tengah serius membaca selembar kertas yang Arga serahkan, pemuda ini meraih pensil yang ada di hadapan Senja. Ia mengambil buku Senja dan mulai menulis di sana. Dan keduanya pun sekarang diam


Dari kejauhan ada yang menatap tak suka melihat pemandangan yang tak diinginkannya.


Apa gadis dekil itu yang membuat kamu menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Pak Bayu. Padahal jika kamu menerima, aku tidak perlu susah-susah mencari alasan untuk lebih sering bersamamu.


“Gimana?” tanya Arga yang menurutnya Senja membaca terlalu lama. “Kamu bisa baca kan?” tanya Arga memastikan.


Senja mendengus. “Mana mungkin ada yang bisa masuk kelas unggulan tapi nggak bisa baca,” katus Senja karena merasa diremehkan.


Tangan Arga tiba-tiba tergerak untuk menyentuh hidung Senja. Senja tak marah, bahkan ia tersenyum dengan begitu lebarnya. Hal yang sama juga dilakukan Arga.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2