
Usai menjemput Sky dan Sora, Senja mengajak kedua anaknya untuk mampir mengantar makan siang papa mereka. Sky dan Sora berdecak kagum ketika sampai di gedung Actmedia.
Semua karyawan juga terlihat gemas dengan Sky dan Sora. Ada beberapa karyawan yang terkejut dan mencoba menebak-nebak apakah itu anak dari Bos mereka.
Senja mengajak Sky dan Sora untuk antri didepan Lift.
"Hai, Nja." Monic menepuk bahu Senja.
"Bu, Monic?"
Monic melihat dua anak kembar yang digandeng Senja. "Anak kamu?" Monic memastikan
Senja mengangguk.
"Hai sayang." Monic melambaikan tangan mereka.
Sky dan Sora hanya memberikan senyuman.
"Ganteng dan Cantik banget mereka. Memang csri bibit unggul itu penting, ya." Kata Monic.
"Bu Monic bisa aja." Senja tersipu malu.
"Nganter makan siang?" Monic melihat coolerbag yang dibawa Senja.
"Iya nih, bu."
Tring
Pintu lift terbuka.
"Nja!!!"
Ada Enna di dalam Lift, membuat Enna mengurungkan niatnya untuk keluar. Setelah semua orang sudah keluar dari lift, barulah Monic, Senja dan kedua anaknya masuk.
"Hallo Sky, Hallo Sora?" Sapa Enna.
"Hallo tante Enna."
Hanya Sora yang menjawab sapaan Enna, Sky hanya melirik jutek namun Enna sudah kebal dengan lirikan Sky.
"Kamu gak keluar, En?" Tanya Senja ketika lintu lift sudah tertutup.
"Enggak deh, ikut kamu aja. Kalo ada kamu kan pak Langit nganggurin suamiku." Jawab Enna.
"Dih, enaknya yang suaminya sekantor. Gak mikirin perasaan gue kalian." Kata Monic.
"Hehehe, kan bu Monic masih ada kesempatan ke Pak Marko." Enna mengelayutkan tangannya di lengan Monic.
"Hei, mas Marko kan udah punya Zia. Lupa kamu?" Senja mengingatkan Enna.
"Oiya!!"
"Yah, pupus lagi harapan gue nikah tahun ini." Keluh Monic.
"Tenang aja buk. Masih belum Lima puluh tahun, masih aman." Ucap Enna, menegarkan Monic.
"Nyari yang lain aja, Bu. Kan Ibu masih cantik." Senja menyemangati walau sambil menahan tawa.
"Susah tahu nyari yang ganteng-ganteng kaya suami kalian. Udah kesisa satu, eeeh udah keduluan orang." keluh Monic lagi.
"Kita bantu doa deh bu, biar cepet ketemu jodohnya." Enna mengepalkan kedua tangannya memberi semangat Monic.
__ADS_1
Tring.
Pintu Lift terbuka di lantai delapan, Monic melambaikan tangan dan keluar dari lift. Tak ada yang hendak masuk ke dalam lift, membuat pintu lift tertutup.
Senja dan Enna cekikikan membayangkan jika Marko akan menikahi Monic.
Tawa mereka seketika senyap ketika pintu lift mulai terbuka dan segera keluar lift. Ada Marko dan Anita berdiri di sana.
"Nja!! Untung kamu kesini. Zia mana?" Tanya Marko antusias.
"Di mobil, mas. Mau aku suruh naik?" Senja memberi penawaran.
"Iya deh." Jawab Marko, "An, kita tunda pertemuan habis makan siang aja ya. Nanggung nih." Pinta Marko ke Anita.
"Tapi pak, mereka sudah nunggu disana."
"Udahlah, gak apa." Marko meninggalkan Anita dan mengajak Senja, Enna, Sky dan Sora masuk ke ruangan Langit.
"Hallo Papa!!!" Marko membuka pintu ruangan Langit dengan sapaan ceria.
Langit dan Hengky yang sedang berbicara serius langsung kehilangan konsntrasi mendengar teriakan Marko.
Namun wajah mereka berubah senang ketika melihat beberapa orang di belakang Marko.
"Untung lo datang bawa dewa penolong? Kalo gak, Udah hilang nyawa Lo." Ucap Langit. Ia menutup pembicaraan dengan Hengky dan menghampiri kedua anaknya.
"Gimana nih hari pertama anak-anak papa di sekolah baru?" Langgit menggendong kedua anaknya dan mengajak duduk di Sofa.
"Seru Pa. Sekolahnya besar."
"Mainannya lebih banyak dari sekolah di Malang."
"Kolam renangnya lebih besar juga."
Sky dan Sora antusias menceritakan pengalaman mereka di sekolah baru.
"Hei hei, kalian mau kemana?" Marko menghentikan langkah Hengky dan Enna yang akan keluar ruangan.
"Mau makan siang, pak." Jawab Enna.
"Nggak nggak, gak ada seorang pun yang boleh keluar dari ruangan ini." Marko menarik tangan Hengky dan Enna untuk duduk di sofa.
Ia pergi ke meja Langit, menelpon pihak dapur untuk membewakan makan siang untuk semua orang yang ada di ruangan Langit.
Tak lama pintu ruangan Langit diketuk, Marko membukanya. Orang yang sudah ia tunggu-tunggu akhirnya datang.
Marko menarik tangan Zia dan duduk di sofa bersama yang lainnya. Membuat sofa diruangan Langit kini terisi penuh.
"Maaf tuan, saya berdiri saja." Zia merasa tidak pantas duduk diantara beberapa majikannya.
"Zia, duduk aja." Pinta Senja.
Walau berat akhirnya Zia menurut, ia duduk kembali di Sofa.
Langit menatap Marko agar segera menjelaskan apa maksud Marko mengumpulkan semua orang di ruangannya.
"Gini-gini, mumpung semuanya disini. Aku mau ngomongin masalah lamaran gue nih." Marko mengungkapkan keinginannya.
"Ituuuu lagiiii?" Hengky merasa ia akan membuang waktunya percuma.
"Heh, diem. Lo duduk disitu aja." Ancam Marko.
__ADS_1
"Jadwal Om Irawan kosong hari sabtu minggu besok, jadi dia bisa balik ke Indonesia. Nah, gue mau buat weekend besok jadi acara lamaran di rumah Zia. Gimana? Kalian setuju kan?" Tanya Marko dengan wajah penuh pemaksaan.
"Yang harusnya lo tanya itu bukan kita, tapi Zia dan keluarganya!" ucap Hengky.
"Oiya!" Marko baru tersadar. "Apa keluarga kamu bisa sayang?" Tanya Marko.
"Ciyee sayaaaang..." Goda Hengky dan Enna kompak membuat Zia tersipu malu.
"Keluarga saya hanya petani tuan, tidak susah mengatur jadwal." Jawab Zia.
"Zi, pak Marko kan udah jadi pacar kamu. Masa lima tahun ini kamu tetap panggil dia Tuan?" Tanya Enna.
Zia hanya tersipu malu.
"Gue berasa pacaran sepihak lima tahun ini." Keluh Marko, mendapat ejekan dari yang lainnya.
Petugas dapur datang membawakan beberapa makan siang. Mereka langsung menata rapi diatas meja. Usai semuanya tersedia, Petugas dapur meninggalkan ruangan Langit.
"Zi, Lo beneran mau nikah dengan manusia aneh ini?" Langit memastikan.
Marko mencibir mendengar pertanyaan Langit ke Zia.
"Apa anda tidak menyetujui hubungan kami pak?" Tanya Zia.
"Enggak, bukan gitu maksud gue. Gue cuma gak mau aja kalo udah nikah lo nyesel dapat suami aneh kaya dia." Jawab Langit.
"Saya sudah memantapkan hati, Pak." Zia menjawab pertanyaan Langit.
"Kami akan pergi menemui orang tua lo hari Sabtu. Pesen gue cuma satu, gak usah berlebihan mempersiapkan sesuatu. Gue gak mau kehadiran kami disana jadi beban buat keluarga lo." Kata Langit.
"Baik, Pak. Akan saya sampaikan pada keluarga saya."
Marko tersenyum senang mendengar Langit menyetujui rencananya.
"Ayo ayo, Makan. Gak usah Sungkan." Ucap Marko, seakan dia sedang menjadi tuan rumah.
"Dia gak sadar ini di ruangan siapa?" Bisik Hengky ke Enna.
Senja membuka Coolerbag dan menyiapkan makan siang untuk Langit. Tak lupa ia juga memberikan kotak makan siang yang sudah ia siapkan untuk Sky dan Sora juga.
Makan Siang kali ini berlangsung di ruangan Langit, dengan obrolan obrolan yang selalu menyudutkan Marko.
Walau sedikit canggung, Zia berusaha untuk bersikap santai karena kedepannya mereka semua akan sering kumpul bersama.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.