SENJA

SENJA
Terbalas


__ADS_3

^^^Momen cinta pertama kalian gimana dear.^^^


^^^Tersampaikan atau hanya terpendam?^^^


^^^-Happy reading-^^^


“Ini udah bener?” Tanya Arga saat mengecek formulir yang baru saja diisi Senja.


“Iya Kak…”


“Oke,” Arga membubuhkan stempel di atas tanda tangannya.


“Kakak kok nggak dipanggil Arbi aja, kan unik, belum ada yang punya?”


“Random banget sih pertanyaan kamu.”


“Hehehe….” Senja memamerkan deretan giginya yang tak begitu rapi. “Nggak tahu, pertanyaan itu lewat gitu aja di kepala abis lihat nama lengkap Kakak,” jujur Senja.


“Dan kamu kenapa juga lebih suka dipanggil Senja, padahal di rumah kan dipanggil Cahaya?” Arga kembali bertanya.


“Entahlah, aku nggak tahu.”


Begitulah mereka saat bersama. Topik yang tak penting pun bisa menjadi bahan obrolan yang asik untuk keduanya.


“Assalamu alaikum.”


“Waalaikum salam,” serempak Arga dan Senja.


“Eh ada Senja juga…” Angga melewati Senja dan berhenti di depan Arga untuk menyerahkan setumpuk formulir dari para pendaftar.


“Wah, ini yang join silat ya Kak. Banyak juga ya. Ada seleksinya juga jangan-jangan?” cicit Senja yang mengundang tawa geli kedua kakak kelas di hadapannya.


“Ada. Kita pakai mode seleksi alam, ya kan Mas?”


Arga mengangguk menanggapi Angga.


“Seleksi alam. Itu gimana? Semua yang ikut kudu di bawa ke hutan terus diadain seleksi di sana gitu kah?”


Arga tersenyum sedangkan Angga sudah menutupi mulutnya yang tertawa melihat kepolosan Senja.


“Kak Angga kok ketawa?”


Ternyata Senja masih melihat tawa itu meski Angga sudah menutupinya.


“Ehm, ehm, ekkkhhhemmm.” Angga berdehem untuk meredakan tawanya. “Mas Arga yang lebih ngerti soal ini.”


Senja mengalihkan pandangannya pada Arga. Dia memicingkan mata seakan menuntut jawaban.


Arga diam dan pura-pura tak melihat. Dia bahkan berlagak mengecek berkas-berkas para pendaftar.


“Kak…!” Senja menarik kertas yang berada di tangan Arga.


“Apa?”


“Kakak suka gitu deh…”


“Gitu gimana?” Tanya Arga sambil memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku.


“Ya gitu kalau ditanya….”


“Gitu gimana?” Arga merendah untuk mensejajarkan wajahnya dengan Senja. Kemudian ia mencubit hidung mungil Senja dengan gemas.


“E, e…, aku keluar dulu Mas.” Angga yang di sana salah tingkah sendiri melihat Arga dan Senja. Ia segera pergi saat keberadaannya seakan terlupakan di tengah keduanya.


Spontan Arga menegakkan tubuhnya dan tangannya meraih kertas sembarang yang ada di meja. Ya Tuhan, kenapa aku tadi lupa kalau di dalam masih ada Angga.


“Kaakkk….” Senja kembali merebut kertas yang berada di tangan Arga. Sepertinya ia sama sekali tak mengerti kecanggungan yang tengah Arga rasakan.


“A…,” tiba-tiba Arga gugup saat merasa Senja menatapnya begitu intens.


Sebenarnya bukan tatapan memuja atau sebagainya. Senja kini tengah menatap tajam Arga karena ia sedang menuntut penjelasan terkait seleksi alam yang tadi Angga katakan.

__ADS_1


Namun hal ini terasa luar biasa bagi Arga. Karena bagi Arga Senja begitu berbeda. Arga sadar jika ini karena adanya perasaan berbeda dari dirinya untuk Senja.


“Kak…” Senja meraih lengan Arga menarik-narik hingga tubuh Arga terguncang.


Arga meraih tangan Senja itu dan menggenggamnya. “Seleksi alam itu maksudnya adalah siapa yang sanggup bertahan dia lah yang bisa mencapai tujuan.” Jelas Arga sambil tetap memegang tangan Senja.


“Maksudnya Kak?” Tanya Senja.


“Siapa pun bisa ikut latihan, dengan syarat orang tua mereka mengizinkan, tapi dari semua itu hanya sebagian yang bisa bertahan sampai akhir.”


Senja mengangguk paham. “Aku bisa nggak ya?”


“Pasti bisa, asalkan kamu sabar dan sungguh-sungguh.”


“Itu yang cewek ada Kak?” Tanya Senja menunjuk setumpuk formulir yang tadi dibawa Angga.


“Bentar, aku cek ya…”


Arga mulai mengecek satu-persatu formulir itu. Dia memisahkan beberapa lembar di sebelah kiri.


“Gimana Kak?” Tanya Senja saat Arga sudah menyelesaikan pengecekannya.


“Ada 5 orang dari 56 pendaftar. Jadi kalau Ayah kamu udah tanda tangan jadinya 6.”


Senja tersenyum dengan mata berbinar. “Fuiiihhh, aku pikir bakal cewek sendiri, tapi Alhamdulillah ada temennya.”


“Nih,” Arga menyerahkan formulir yang tadi diisi Senja setelah dibubuhi stempel organisasi dan tanda tangannya.


Senja menerima kertas itu sebelum akhirnya dilipat dan dimasukkan ke dalam tas.


“Abis ini mau ke mana?” Tanya Arga karena melihat Senja mulai menggendong tas punggungnya.


“Pulang Kak, kemana lagi…”


“Sama siapa?”


“Sendiri lah. Nggak ada angkot yang jemput sampai gerbang, jadi kudu jalan sampai jalan raya.”


“Ya udah Kak, aku duluan ya…”


Arga hanya menatap Senja tanpa bersuara. Anterin nggak ya? Arga masih diam hingga Senja menghilang di balik pintu.


“Ck…” Arga berdecak kemudian melompat dari tempat duduknya dan berlari mengejar Senja.


Brugh!


Tepat di depan pintu, Arga merasa tubuhnya menabrak sesuatu dengan kuat.


Ralat, bukan sesuatu melainkan seseorang. Reflex Arga menahan pinggang orang itu saat melihatnya terpental dan hampir jatuh ke belakang.


“Senja kenapa tiba-tiba balik?” Arga membantu Senja menegakkan tubuhnya.


“Eeee…” Senja masih belum bisa menjawab saking terkejutnya. Aku kok deg-degan sih. Senja menepuk-nepuk pelan dadanya untuk meredakan sesak karena jantung yang tiba-tiba bekerja ekstra.


“Duduk bentar…” Arga menuntun Senja untuk masuk dan duduk di kursi yang berada tak jauh dari pintu.


Keduanya diam. Arga memperhatikan Senja yang dadanya masih nampak naik turun sambil menatap ke sembarang arah. Senja merasa begitu gugup jika harus langsung menatap Arga.


“Hmmm, pantesan pintu sekertariat sini kebuka.”


Drrkkk


Wahyu masuk begitu saja dan menarik sebuah kursi yang ada di sana.


“Lu pada ngapain dua-duaan di sini?”


“Ada perlu apa?” Arga balik bertanya pada Wahyu setelah sempat melirik Senja sebentar.


“Ya nggak ada, cuma mau ngecek aja, siapa tahu ada yang baru ke sini dan lupa ngunci pintu.”


Wahyu bangkit dan meraih tumpukan kertas di atas meja. “Banyak juga pendaftarnya.”

__ADS_1


“Iya,” jawab Arga singkat.


“Kak…”


Wahyu dan Arga serempak menoleh ke arah Senja. “Ada apa?” Tanya Arga.


“Aku mau pulang…” Senja bangkit dan meninggalkan keduanya.


Sekian detik Arga mematung.


Arga segera menyambar tasnya yang berada di atas meja. “Bawain motor aku.” Arga melempar kunci motornya pada Wahyu.


“Terus motor gue gimana?!” protes Wahyu yang gagal menerima lemparan itu.


Arga berhenti dan berbalik. “Sekalian kunciin ruangan ini.” Arga kemudian berlari mengejar Senja tanpa menghiraukan protes yang dilayangkan Wahyu sambil berteriak.


“Kamu kok kabur-kaburan sih…?” Tanya Arga saat sudah bisa menyusul Senja.


Senja menatap Arga yang berjalan di sampingnya kemudian menambah kecepatan langkahnya. Senja sepertinya lupa kalau kaki Arga bahkan lebih panjang dari kakinya, jadi tak masalah bagi Arga kalau hanya sedikit memanjangkan langkah.


“Hey…” Arga meraih tangan Senja dan memaksanya untuk berhenti. “Kamu kenapa sih. Mendadak balik abis itu bukannya ngomong malah diem, terus ini apa? Kamu malah kabur kayak ketakutan lihat aku. Emang ada yang salah ya sama aku?”


Melihat Arga yang tak biasa karena bicara sepanjang itu, membuat Senja mengulum senyum. Apa lagi setelah tersadar ternyata keduanya kini telah cukup jauh meninggalkan sekolah. “Motor Kakak dimana?”


“Hhggghhh…” Arga mencubit kedua pipi Senja dengan kecang karena berhasil membuatnya begitu geram.


“Aaaaaaa, ssaakkkiiiiitttttt…” Senja mengaduh. Namun hal ini tak menghentikan Arga yang terus mencubit kedua pipi Senja.


Senja merengut dan menggosok-gosok kedua pipinya yang terasa nyeri dan panas sekaligus setelah Arga melepaskan tangannya dari sana.


Arga menoel hidung Senja saat melihat gadis manis ini tersiksa akibat kelakuannya. “Bilang dulu kamu tadi kenapa?” Tanya Arga dengan mensejajarkan wajahnya dengan Senja.


“Emmmm.”


“Am em am em, jawab.” Kembali Arga menoel hidung mungil Senja.


“Aku…” Senja ragu untuk melanjutkan ucapannya.


“Jawab, atau aku cubit lagi.”


“AkuguguppasKakakmelukaku!”


“Ha?! Coba ulangi.”


“Aku gugup Kakak…” pasrah Senja.


“Terus…?” Arga mati-matian menahan lengkungan di kedua sudut bibirnya.


“Terus deg-degan, kenceng banget sampe sesek gitu rasanya, mau nafas juga berat…”


“Terus?” Arga kembali memandang wajah Senja dengan jarak begitu dekat.


“Sekarang deg-degan lagi kalau Kakak mandangin dengan jarak sedeket ini.” Senja menjauhkan wajahnya seketika.


Arga menegakkan tubuhnya dan tiba-tiba melompat-lompat seperti orang gila. Sempat terdengar suara desisan, namun tak jelas bunyi apa yang dikeluarkan.


“Kakak kenapa?” Tanya Senja saat Arga sudah berhenti melompat-lompat.


Arga menggeleng. “Ayo aku temenin jalan sampai kamu dapet angkot.”


“Jalan kaki?”


Arga mengangguk.


“Motor Kakak gimana?”


“Gampang.” Yang penting sekarang aku bisa sama kamu. Arga masih bersorak dalam hati, ia yakin kalau perasaan ini tersambut meski belum ada momen saling mengakui.


TBC


Jadian kagak jadian kagak jadian kagak.

__ADS_1


__ADS_2