SENJA

SENJA
Gara-gara Sita


__ADS_3

^^^Spam komen ya dear, biar author makin semangat ngehalu.^^^


^^^-Happy reading-^^^


"Senjaaaa...."


Senja tersenyum kala gadis yang kini menjadi pusat perhatian itu menyapanya.


"Boleh gabung?"


Sita segera menarik kursi dan duduk di samping Senja tanpa menunggu persetujuannya.


"Van, sini."


Sita menarik Rivan agar duduk di sampingnya.


"Kamu kok diem aja sih, udah tahu namaku kan?" tanya Sita.


"Udah Kak."


"Ya ampun, sama garingnya lagi kayak pacar kecil."


"Sita..." Rivan memperingati.


"Iya, iya. Arga maksudnya." Sita beralih memandang ketiga sahabat Senja. "Eh kenalin dong, nama aku Sita."


Ucik, Ifa, dan Ayu pun berkenalan dengan Sita.


Dari kejauhan nampak Arga yang datang bersama Wahyu. Kantin yang semula sepi mendadak gaduh kembali.


"Ga, lihat Ga." Wahyu membusungkan dada karena berhasil membuat para gadis kembali bernyawa.


"Apa?"


"Nggak lihat lu kalau semua mata tertuju pada kita."


Arga mengacuhkan Wahyu dan matanya sibuk mencari keberadaan kursi kosong yang mungkin mereka duduki. Saat itu matanya menangkap Sita yang tengah melambaikan tangan padanya. Dapat dilihatnya pula gadis kecil yang selalu ada di pikirannya akhir-akhir ini tengah menatap ke arahnya. Langkahnya memelan dan bahkan kini telah berhenti.


"Ya elah, pantesan diajak ngomong nggak nyahut, nggak tahunya malah ketinggalan di sono." Wahyu yang sudah berjalan di depan terpaksa kembali untuk menarik Arga menuju tempat Senja berada.


Senja sama sekali tak berekspresi saat pandangannya beradu dengan Arga. Sebenarnya untuk apa Kak Sita ke sini? Apa dia ingin memberi tahuku kalau dia pacarnya Kak Arga?


Jantung Senja berdegup kencang. Debaran itu kian kuat saat Arga kian mendekat. "Aku permisi dulu ya." Senja hendak pergi ketika Arga sudah dekat dengannya.


"Eh, eh, eh, mau ke mana sih?" buru-buru Sita menahan tangan Senja.


"Ngerasa aneh nggak?" bisik Ifa pada Ucik dan Ayu.


Keduanya mengangguk tapi tak ada satupun yang berani bersuara.


"Ga, sini." Sita bangkit dan mendorong Arga agar duduk di kursi yang semula ia tempati.


Arga menurut dan duduk di sana. Kini ia sedang duduk tepat di samping Senja. Semua yang di sana diam menyaksikan dua orang yang kerap menghabiskan waktu bersama dan saling membagi perhatian namun tanpa status pengikat.


Sita menepuk jidat kala Arga dan Senja sama-sama diam dan tak ada keinginan untuk membeli suara.


"Van, mereka emang biasa gini?"

__ADS_1


Rivan menggidikkan bahu.


Sita mendesah lelah. "Yang lagi makan boleh loh di lanjut,” kata Sita ramah.


Ketiga sahabat Senja mulai meraih makanan mereka. Hanya snack untuk menemani ngobrol karena awalnya mereka ke kantin hanya untuk es teh. Berbeda dengan Senja, ia hanya memainkan choki-choki yang Arga berikan tadi.


Maksud Kak Sita ini apa sih? Kak Arga juga ngapain lagi duduk di sini. Entah mengapa Senja merasa kecewa karena merasa di bohongi. Dua kali Sita datang diantara mereka. Kemarin ia masih bisa bersikap biasa saja, namun hari ini dia benar-benar tak sanggup melihat Arga dekat dengan dia.


"Van..." Sita kembali merengek pada Rivan.


Senja mendengus. Kak Sita kok gitu sih. Nemplok sana-sini.


"Tanggung jawab."


Sita cemberut karena Rivan sama sekali tak membantunya. Yakin deh, mereka betah banget diem-dieman.


"Kalian kenal udah lama?"


Krik krik


Tak ada satupun yang berniat menjawab Sita.


"Ngomong tu yang jelaaassssss..." Rivan meraih hidung Sita dan mencubitnya lama.


"Adduuuhh, sakiitttt." Sita merengut kesal dengan hidung yang merah.


"Ya kamu kalau disuruh diam ngomongnya bisa puluhan paragraf, tapi giliran disuruh ngomong malah nggak jelas bunyinya." Seakan belum puas Rivan kembali menoel hidung Sita.


"Hahhh." Suara helaan nafas Wahyu terdengar sangat jelas. "Kalian bisa bantu aku nggak?"


Senja dan ketiga sahabatnya saling beradu pandang. "Bantuan apa Kak?" tanya Ifa.


Senja bangkit bersama ketiga kawannya.


"Eh, Senja di sini aja ya, kamu ketinggian soalnya, hehehe." Sebenarnya ini hanya akal-akalan Wahyu saja agar Senja bisa ngobrol dengan Arga.


"Ya udah, aku ke kelas saja." Senja menggeser kursi yang menghalanginya kemudian berjalan meninggalkan mereka di sana.


Arga melihat Senja meninggalkan choki-choki yang tadi ia berikan. Arga segera menyambar coklat pasta itu dan bergegas menyusul Senja.


"Hahhh, akhirnyaaa...." Sita menhembuskan nafas lega. "Kalian duduk deh..."


"Loh katanya Kak Wahyu ada perlu?" tanya Ucik yang melihat Wahyu kembali duduk menuruti perintah Sita.


"Hehehe..." Wahyu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kalian duduk di sini dulu ya, nggak ada tugas kan?"


Tak ada lagi yang mengajukan protes setelah mendengar Rivan berbicara.


"Kalian lama kenal sama Senja?" tanya Sita.


"Ya semenjak masuk SMP Kak."


"Nggak usah formal gitu lah." Sita tersenyum kepada mereka bertiga. "Tahu nggak sejauh mana hubungan mereka?" tanya Sita lagi.


"Maksudnya?" tanya Ifa mewakili kedua sahabatnya.

__ADS_1


Sita menceritakan 2 kali pertemuannya dengan Senja dan juga persahabatannya dengan Rivan, Arga, dan Wahyu.


"Tapi sekarang aku udah jadian sama Rivan, jadi pacarku cuma Rivan bukan mereka bertiga lagi, hehehe."


Ucik cs manggut-manggut mendengar cerita Sita.


"Kita sih yakin sebenarnya Senja itu suka sama Kak Arga, cuma ya gitu."


"Gitu gimana?" Sita bertanya karena tak paham dengan maksud Ayu.


"Gimana ya, susah di jelasin," imbuh Ifa.


"Aku juga yakin Arga suka sama Senja, tapi ya itu. Yang aku nggak paham, dia nggak ngeh sama perasaannya atau dia nggak berani ngungkapin isi hatinya." Rivan berbicara tanpa menatap satupun orang di hadapannya.


"Jadi...?" Sita melempar pertanyaan pada semua yang di sana.


"Mereka sama-sama sulit dimengerti, hahaha..." Semua tertawa karena kekompakan argumen mereka.


Sementara itu kini Senja sedang berjalan bersama Arga. Keduanya berjalan tanpa arah yang jelas.


"Kamu kenapa diem?" tanya Arga.


"Emang kudu ngomong apa Kak?"


Arga tak mampu menjawab. Dia juga bingung apa yang harus dibicarakan dengan Senja. Ia hanya merasa sepi saat Senja diam seperti ini.


"Wah Arga, jadi ini pacar barunya?" Desi tiba-tiba muncul dan menanyakan hal yang tak ingin dibahas keduanya.


Arga tak menjawab dan membawa Senja untuk berjalan ke kelasnya.


"Kakak mau ngapain?"


"Nganter kamu?"


"Aku bisa sendiri Kak."


"Aku pengen ngomong sama kamu."


Senja diam. Mereka terus berjalan hingga kini mereka sedang berada di depan kelas Senja.


"Ngomongnya mau dimana?" tanya Senja yang melihat Arga masih diam saja.


"Di situ yuk."


Keduanya duduk di samping kelas Senja.


"Mau ngomong apa Kak?"


Arga menghela nafas. "Kamu marah sama aku?"


"Marah? Enggak tuh."


"Tapi kenapa kamu tadi pergi gitu aja dan sama sekali nggak ngomong sama aku saat di kantin?"


"Nggak ada yang nanya." Aku sebel ternyata kamu udah punya pacar Kak. Jujur Senja dalam hati.


"Apa karena Sita?"

__ADS_1


TBC


Kok aku belum rela namatin.


__ADS_2