
HAPPY READING
“Aku tinggal ya…” ujar Arga.
Beberapa saat Senja menatap Arga. Ia hanya menatap tanpa berkata. Sebelum selanjutnya menggelengkan kepala. Namun tiba-tiba matanya membulat, sebelum kepalanya dianggukkan cepat.
Tentu saja momen ini sangat berharga untuk Arga. Dimana ia bisa melihat sisi menggemaskan gadis kecil yang memporak-porandakan ketenangannya.
Arga tak bisa menahan sudut bibirnya yang ditarik dengan kuat. Ia lantas memajukan tubuhnya dan menyangga dagu dengan tangannya. Ia menjadikan dashboard motornya sebagai tumpuan untuk sikunya.
“Jadi gimana?” ulangnya dengan sengaja.
Senja terlihat gugup. “Eeee…”
Arga benar-benar tak mampu bertahan. Bibirnya yang semula samar melengkung, kini berubah menjadi senyum yang tercetak sempurna. Tangannya tak dapat ditahan untuk mengacak rambut Senja sebelum kemudian ia rapikan dengan pelan-pelan.
“Ya udah aku temani,” putus Arga setelah selesai merapikan rambut Senja.
Kali ini Senja mengangguk dan tak ada gerak ralat seperti sebelumnya. Arga lantas segera memutus kontak, karena terlalu lama beradu tatap dengan Senja, itu sama dengan bahasa. Ia harus ingat bahwa Senja masih terlalu kecil dan mungkin belum paham akan perasaan seperti dirinya.
Senja tertunduk sambil memainkan ujung tali ranselnya. Sementara Arga hanya diam sembari sesekali mencuri pandang.
Sudah hampir sepuluh menit keduanya diam, dan Arga benar benar tak tahan. *Kenapa jadi begini, padahal sebelumnya kita sudah biasa melempar canda. *
Tapi salah Arga juga sih ya. kenapa dia pake menjaga jarak segala. Meski tak boleh terlalu akrab dengan siswa yang dilatihnya, tapi kalau sekedar ngobrol tak masalahkan.
Tapi masalahnya aku tidak bisa kalau tidah terbawa perasaan. Kesal Arga.
Wah, sepertinya Arga mulai ngelunjak nih sama author, xexexe
“Ay…” panggil Arga.
“Iya,” sahut Senja cepat dengan wajah yang terangkat dari posisi semula.
Kini dua muda-mudi ini kembali beradu tatap tanpa suara apa lagi bicara.
__ADS_1
Hanya dengan begini Arga sudah berhasil dibuat berdebar-debar. Pandangannya menyapu seluruh bagian wajah Senja yang begitu sempurna di matanya. Alis tipis, mata sipit, hidung mungil, bibir tipis. Semua bak magnet yang membuat Arga begitu ingin mendekatkan wajahnya.
Namun Arga harus cepat-cepat sadar. Ini tidak boleh dan tak seharus ia lakukan. Ia menegakkan tubuhnya dan menghela nafas besar. Ia hembuskan kuat sambil melempar pandangan ke sembarang arah.
Kenapa aku begitu penasaran. Keinginanku begitu kuat untuk menciumnya. Ya Tuhaaannnn!!!
Beberapa kali Arga menghela nafas dan dihembuskan kuat-kuat. Sekuat tenaga ia menghalau pikiran yang macam-macam yang sliweran di kepalanya. Ia mengacak rambutnya sebelum meremat kedua tangan yang ia satukan.
“Mas Arga kenapa?” tanya Senja yang melihat dengan aneh kelakuan pelatihnya.
Petanyaan polos Senja ini berhasil menyadarkan Arga agar menghentikan tingkah absurdnya. Buru-buru ia memikirkan, jawaban yang seharusnya ia ucapkan.
“E, e, e. Aku cuma merasa rambutku berantakan, bohong Arga. Tak mungkin kan ia mengatakan yang sebenarnya. “Eh, itu Angkot ke arah rumah kamu kan?”
Senja segera menatap ke arah yang Arga tunjukkan. “Iya Mas,” ujar Senja bangkit seketika.
Segera Senja berdiri agar lebih mudah menyetop kendaraan yang akan membawanya pulang.
“Pulang duluan Mas,” pamit Senja sebelum angkot itu berhenti di depannya.
Arga hanya mengangguk dan merelakan Senja pergi. Mau bilang hati-hati tapi kok gengsi, mau melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan kok risi. Akhirnya Arga hanya mampu diam dan melihat Senja pergi.
“Henti!!!”
Senja melepaskan kunciannya dari Norma. Ia lantas membantu lawan sparingnya ini untuk berdiri. Rivan sebagai wasit lantas mempersilahkan keduanya untuk bersalaman.
Norma adalah anggota perguruan bersatus warga
yang sedang menjajal kemampuan siswa. Tak tahunya ia malah dengan mudah dilumpuhkan Senja yang beru beberapa bulan menjadi siswa.
“Dik, kalau lagi sparing itu jangan gradakan asal menang, tapi gunakan teknik yang benar,” ujar Norma nampak kesal. Ia berusaha menasehati, namun lebih seperti mencari pembelaan diri. “Nggak heran sih, karena masih tingkat pertama. Rajin-rajin latihan ya,” lanjut Norma setelah mengamati sabuk yang terikat di pinggang Senja.
“Baik Mbak,” jawab Senja singkat. Ia pasrah saja karena tak banyak perlawanan yang bisa siswa berikan.
Norma dan Senja segera menepi. Namun keduanya melangkah ke arah yang berbeda. Norma masih harus melanjutkan latihannya sementara Norma istirahat sambil menahan sakit hasil serangan Senja yang mampu ditangkisnya. Memang sakit di badan tak seberapa, tapi malu yang begitu terasa.
__ADS_1
Dari kejauhan Arga sekuat tenaga menahan diri. Norma mengingatkan Senja untuk menggunakan teknik yang benar. Padahal semua yang Senja lakukan sudah sangat bagus sebagai siswa tingkat pertama. Bahkan serangannya jauh lebih baik dari Norma yang statusnya warga. Sasaran banyak yang tepat dan tekniknya sudah lumayan. Hanya power saja yang kurang. Tak bisa dibayangkan jika Senja sudah terbentuk fisiknya dan power yang bagus disetiap serangannya. Pasti Norma bisa dibuat cidera.
Arga berjalan pelan hingga akhirnya terbawa langkah hingga dibelakang Senja. Ingin sekali bertanya, apa kamu baik-baik saja? Atau sekedar mengkonfirmasi bahwa yang dilakukan Senja sudah sangat baik sebelumnya. Tapi apa daya, dia tak boleh terlihat punya sikap yang berbeda terlebih mengingat dimana sekarang mereka berada.
“Udah istirahan Ga. Kamu turun gih buat ngasih materi kerohanian,” ujar Rivan yang menghampiri.
Arga menggeleng sambil bersilang dada. Ia menolak tawaran Rivan karena takut tak bisa menjaga wibawa saat berada di dekat Senja.
“Terus siape? Masa gua?” tanya Rivan yang kesal karena merasa Arga tak mau berbagi tugas dengannya kali ini
“Ya siapa lagi,” ujar Arga seenaknya.
“Capek Broh,” kilah Rivan. “Mulai doweran, materi, sampai sparing aku yang turun. Sementara kamu cuma lihat doang. Sekarang gantian dong,” bujuk Rivan.
“Aku aja boleh?”
Serempak Rivan dan Arga menunduk untuk melihat siapa yang bicara. Ternyata kini ada Norma yang nimbrung dengan mereka. Norma yang mungil serasa seperti kerdial kala berdiri diantara Arga dan Rivan yang menjulang tinggi.
“Mumpung ada siswa putrinya. Belum pernah ada kan yang kasih kerohanian warga putri?” ujar Norma lagi.
“Iya sih tapi…”
“Tapi apa Mas Arga. Karena aku warga luar. Tenang saja, perguruan kita dimana-mana sama kan ya,” ujar Norma sambil menatap Rivan untuk minta dukungan.
Arga menghela nafas. “Kalau begitu ayo…”
Karena feeling Arga yang tak tenang, ia tak membiarkan Norma turun langsung memberi materi kerohanian saat istirahat seperti ini seorang diri. Akhirnya ia putuskan untuk turun menemani.
Norma segera duduk bersila di depan dua shaf siswa yang istirahat sambil menyelonjorkan kakinya. Ia mereka lakukan karena berusaja melakukan aktivitas fisik yang keras saat latihan.
“Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ujar Norma mengucap salam setelah Arga persilahkan.
“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,” serempak semua siswa.
Tak lupa salam persaudaraan sebagaimana ciri khas perguruan mereka juga Norma lakukan.
__ADS_1
Norma menyapukan pandangannya, dan fokusnya tertuju pada siswa paling kanan di barisan depan.
Bersambung...