SENJA

SENJA
Seorang Sahabat


__ADS_3

Angin yang bertiup kencang, butiran-butiran debu berhamburan, dedaunan berjatuhan, kemudian terciptalah hujan badai yang kencang. Didalam diriku, kini ada sebuah badai besar yang menerjang suluruh isi hati dan jiwa ku. Mengenang kepergian kedua orang tua ku. Dan menemukan cinta sejati didalam hatiku. Kedua perasaan ini seakan menjadi sebuah badai besar yang tengah menerpa diriku. Namun, ada kalanya saat-saat dimana diriku menemukan keajaiban dan petunjuk untuk menghentikan badai ini. Ada sebuah energi besar yang terpancar dari diri seseorang seakan memberiku isyarat bahwa akan ada sebuah kisah yang lebih indah dibandingkan kisah-kisah yang telah aku lalui saat ini. Dan diriku bertekat ingin mengetahui tentangkisah itu.


Episode kehidupanku yang selanjutnya telah dimulai. Pada episode sebelumnya aku telah menemukan sesuatu yang berharga dari diriku. Cinta, aku telah menemukannya. Ada sebuah getaran di hati yang bangkit dan terus mendorong diriku untuk mengejar cinta.


***


Hujan badai didalam diri kini semakin kuat. Membawaku terus terseret oleh arus cinta yang begitu deras. Kini langkah baru harus aku putuskan. Apakah diriku akan terus terjebak atau pergi meninggalkan badai ini. Tuhan memang tahu bagaimana cara memberikan sebuah kejutan disetiap episode kehidupan seseorang. Bagai sosok penyelamat, kali ini aku menemukan seseorang yang bisa membawa diriku keluar dari badai kencang ini. Seorang sahabat.


Setelah beberapa waktu diriku tinggal di panti asuhan, aku belum menyapa seorang pun dari sekian banyak anak-anak yang tinggal disini. Rasanya begitu berbeda, suasana yang tidak aku kenali. Sulit rasanya untuk berbaur dan menyesuaikan diri dengan lingkungan ini. Walau bagaimana pun ini adalah rumah ku yang sekarang, artinya juga keluarga ku yang sekarang. Memang aku mengakui, aku bukanlah tipe seseorang yang mudah bergaul dengan orang-orang baru. Sangat berbeda dengan adik ku. Dia bahkan sudah sangat akrab dengan beberapa anak disini. Padahal kami baru beberapa hari pindah ke sini.


Aku memutuskan untuk membuka diri. Mencari seseorang yang bisa aku ajak berbicara dan berbincang-bincang. Menanyakan keadaan lingkungan disekitar sini. Apa saja rutinitas disini. Apa yang harus dilakukan, dan tentunya sampai kapan kita harus menetap disini. Namun, sudah seharian aku berkeliling tetap saja tidak ada seorangpun yang bisa diajak bicara. Aku mulai putus asa. Dan memutuskan untuk mengerjakan sesuatu yang dapat menenangkan fikiran.


Disini ada sebuah pohon rindang tepat berada dibelakang aula. Suasananya damai dan cukup tenang. Ditambah dengan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Biasanya aku kesini untuk menenangkan diri dan kembali mengenang almarhum Ibu. Saat-saat bersamanya adalah hal terindah yang pernah aku lakukan. Sudah lama sekali semenjak kepergian Ibu aku sudah tidak bisa merasakan nya lagi. Semua itu telah menjadi kenangan.


Duduk dibawah pohon rindang, memegang sebuah buku novel HUJAN karangan Tere Liye, adalah hal yang sering aku lakukan. Seperti membaca dan mendalami isi sebuah novel sudah menjadi hobby ku. Menikmati suasana tenang dan berimajinasi di dunia novel. Namun hari ini ada sebuah peristiwa yang berbeda. Keheningan sesaat yang aku rasakan tiba-tiba terusik oleh ulah seseorang yang tidak aku kenali. Tetapi, setelah melihat wajahnya aku merasa sangat familiar dengan sosok ini.


Muhammad Arif


"Dorrrr!!!" Sambil memegang pundak ku.


"Astagfirullah!" ucapku kaget.


"Hahaha.... Bro lagi menghayal apa sih, serius bangeddd!!!"


"Ah kamu mah ngawur, aku tuh ya dari tadi lagi baca buku ga liat emang?"


"Hilih,hilihhhh, tampang udah kaya janda ditinggal suami gitu masih mau ngelak, wkwk."


"Bodo amat deh!!"


"Upss.. tenang brooo, jangan marah-marah lah ntar cepet tua lo, malah masi jomblo pula hahaha..."


"Kamu mah kalo ngomong sembarangan aja!"


"soryyy dehhh, udah lah brooo hidup itu yahh harus dinikmatin, jangan disia-siain ntar nyesel lohhh..." tuturnya sambil menunjukkan ekspresi sok serius.


"Iya deh iyaa... terserah kamu mau ngomong apa, lagian aku ga bikin hal-hal aneh gitu."


"Hahaha, mamat mau dilawan."


"Terserah eluu dehh!!!"


"Eh kalo diliat-liat nih ya, kamu teh si Ardan kan?"


"Emang..."


"Pantesssssss!!!"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aduhhhh, kamu itu kan ya tau ga, manusia paling cuek sejagad raya."


"Oh."


"Astagfirullah, kan bener!"


"Yaudah kalo kamu bilang aku gitu, apa boleh buat kan."


"Hehe, bisa aja kamu Dan..."


"ngomong-ngomong, kamu teh kenal aku dari mana?"


"Astagfirullahalazimmmmmm!!!!"


"siapa yang suruh ngucap?"


"(mengelus dada) Ya kenal lah mamanggggg!!!! kita tuh ya satu kelas, udah mau setahun malah, masa iya kamu ga tau T_T"


"Ah masa?"


"Makanya kalo di kelas tuh ya jangan liatin neng Ica muluuu! ntar kesambett loo...WKWK"


"Nih ya gewe kasi satu kalimat buat lo! SOK TAU BANGET!"


"Hmm..."


"Kenalin, Nama gewe Muhammad Arif, panggilannya mamat hehe."


"Udah tau nama aku kan, udahkan, oke."


"Heh penak waeee."


"Huhh ribet amat! Reza Ardana, panggil aja Ardan, udah kan? udahhhh."


"Wkwk oke-oke."


"Oke."


Allahuakbar, Allahuakbar.....


"Wahhh, udah adzan tuh, Jomm kita sholat!"


"iya iya..."


"Yok, ntar kamu bisa dehh cerita-cerita tentang neng Ica, hahaha.."

__ADS_1


"Mau sholat ga nih?"


"Gitu aja marahhh, yaudah hayu."


***


Begitulah, awal pertemuan ku dengan sahabat ku. Ia datang secara tiba-tiba kedalam hidupku. Bak sebuah lampu yang memiliki cahaya terang yang akan membantu ku melewati lorong kehidupan yang begitu gelap. Sejak saat itu, mamat menjadi sahabat sekaligus penasihat pribadi ku. Apapun permasalahan yang aku lalui dijalan kehidupanku akan aku diskusikan bersamanya. Dan akan mencoba mencari sebuah titik terang untuk melewatinya.


Aku sering menghabiskan waktu berjam-jam bersamanya. Hanya untuk bercerita dan mendengarkan ocehannya. Aku menceritakan tentang bagaimana diriku melewati perjalanan panjang dalam hidupku. Hingga aku sampai pada titik dimana diriku kini berdiri disini. Dia pernah berkata, Dia mengagumi ku. Konyol!!!


Namun aku tahu, perjuangan ku kali ini tidak akan sia-sia. Sudah sekian lama diriku menahan beban berat dihati. Setelah aku menemukan sosok mamat seolah beban itu telah menghilang. Walaupun terkadang perkataan blak-blakannya menyakitiku, aku tidak bisa menyangkalnya. Semua yang Ia katakan adalah kebenaran.


Suatu hari kami bertemu. Seperti biasanya, pertemuan dua sejoli yang bersahabat yang penuh dengan canda tawa. Kali ini mamat yang mendapat giliran untuk bercerita. Dia bercerita tentang bagaimana dirinya bisa sampai ditempat ini. Sekitar 5 tahun yang lalu. Hari itu keluarganya pergi ke suatu tempat. Namun, Takdir tuhan terkadang memang sangat pahit. Mereka mengalami kecelakaan ditengah perjalanan. Kedua orang tua nya meninggal ditempat kejadian. Dia hanya anak tunggal, tak ada keluarga yang bisa menampungnya. Dan akhirnya Dia sampai di tempat ini. Namun, ada satu hal yang membuatku kagum. Ekspresi yang dia tunjukkan bukan seperti seseorang yang sedang putus asa. Melainkan seperti seseorang yang memiliki semangat yang besar untuk terus menjalani kehidupan. Waktu terus berlanjut. Dan kehidupan pun akan terus berlanjut, bagaimana cara kita untuk terus diam. Sementara Dunia pun terus berputar hingga waktu terhenti. Jadi, teruslah belajar dari apa yang pernah kita lalui. Dan terus mencoba untuk kembali bangkit dan menjalani kehidupan ini.


Sosok Mamat telah menyadarkan ku. Membangunkan ku dari tidur panjang yang menyiksaku. Selama ini aku ingin bangkit, namun diriku terus menolak dan semakin mendorong ku jauh kedalam jurang. Diriku telah menemukan sebuah energi kehidupan yang baru. Sebuah energi yang akan aku gunakan untuk mengejar dan merangkai mimpi-mimpiku. Dan tentunya untuk menggapai bidadari ku. Terimakasih sahabat terbaikku Mamat.


Tuhan sebuah anugrah besar yang telah Engkau kirimkan kepada ku. Sebuah keajaiban yang telah lama aku tunggu. Doa-doaku, semuanya tiada yang sia-sia. Akan aku tunggu episode kehidupanku yang selanjutnya...


***


Keajaiban


Bagaikan sebuah permata


Yang tertimbun di bebatuan


Hanya dengan sebuah harapan


Diriku menginginkan mu


Wahai pencipta semesta


Yang mengabulkan seluruh doa-doa


Kini diriku menginginkannya


Sebuah keajaiban...


Yang kau miliki di balik singgahsana


Kirimkan ia padaku


Untuk melewati lorong-lorong


Dijalan kehidupan


Yang telah Engkau takdirkan

__ADS_1


__ADS_2