SENJA

SENJA
145


__ADS_3

Sesuai permintaan Langit, Senja sudah berada di kamar terbaik yang ada di rumah sakit tempat Aira melaksanakan jadwal prakteknya.


"Permisi,"


Aira dan dua orang perawat masuk ke dalam kamar Senja untuk melakukan pemeriksaan. Aira memberikan hasil lab darah Senja pada Langit.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Langit yang sama sekali tidak bisa membaca hasil lab ditangannya.


"Memang ada cairan berbahaya yang sudah masuk ke dalam tubuh Senja, beruntung itu hanya sedikit. Saya yakin tubuh Senja bisa mengatasinya, dia Ibu yang kuat." jelas Aira.


Langit bernafas lega, "Lalu bagimana dengan bayiku?" Tanya


Aira menatap dua asistennya yang sedang memeriksa kandungan Senja dengan beberapa alat yang mereka bawa.


Salah satu perawat memberikan sebuah catatan ke Aira, sejenak Aira membaca tulisan itu. "Sudah lebih baik dari pertama tadi datang. Semoga kedepannya semakin membaik."


"Terimakasih ya, Ra."


"Kami pergi dulu, Aku akan berada disini malam ini. Jika Senja sudah siuman tolong tekan tombol ini. Kami akan segera memeriksa kembali keadaannya." Aira menunjuk tombol merah di samping atas kepala Senja.


"Iya."


Aira dan Kedua asistennya beranjak meninggalkan kamar perawatan Senja.


Baru saja ia duduk, ponsel yang ia pinjam dari Kartika berdering. Ia hafal nomer yang muncul di layar ponselnya.


Langit sedikit menjauh dari Senja.


"Hallo, Ra."


"Kak, Lo pulang jam berapa?"


"Mana bisa gue pulang, Ra. Kak Senja sedang sakit, kalau gue pulang siapa yang jaga dia disini?"


"Trus gue bakal bergadang semalaman donk?"


"Minta temani Bu Ella dan asisten lainnya dulu. ya." Bujuk Langit.


Tak ada jawaban dari Clara, ia melihat layar ponselnya dan ternyata panggilan sudah terputus.


"Temani saja dia, Aku sudah terbiasa tidur tanpa kamu."


Suara itu membuat Langit terkejut, Ia menghampiri Senja.


"Gimana keadaan kamu, sayang?" Tanya Langit


Senja meraba perutnya dan bernafas lega. "Aku sudah merasa lebih baik. Kamu bisa pergi mas, aku tidak akan menahanmu."


"Gimana aku bisa ninggalin kamu dalam keadaan seperti ini?"


Senja tersenyum masam, "Apa aku harus sakit seperti ini dulu agar kamu selalu berada disampingku?" tanya Senja.


"Nja! Kamu sakit, hentikan perdebatan tak berguna ini."


"Bahkan sekarang kamu menganggap keluhanku tak berguna mas?"


Langit memilih diam dan menekan tombol darurat untuk memanggil Aira dan asistennya.


Tak lama menunggu Aira bersama dua asistennya tadi sudah datang. Aira bergegas memeriksa keadaan Senja.


"Apa yang masih kamu rasain sekarang, Nja?" tanya Aira setelah melakukan pemeriksaan.


"Perutku masih sakit, Ra. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa anakku baik-baik saja?" tanya Senja panik.


"Tenang, Jangan panik. Kamu harus stabil Nja." Aira menenangkan Senja lebih dulu, "Kamu minum sesuatu yang memicu kontraksi, Nja."


"Apa!"


"Tenang dulu, semua sudah teratasi. Kamu tidak perlu panik."


Senja mulai berfikir pasti ada orang yang sengaja ingin membuatnya keguguran. Ia menatap sinis ke arah Langit, Ia menuduh adik iparnya yang mungkin melakukannya.


"Aku sudah menyuruh Hengky menyelidikinya." Langit mencoba menjawab tatapan Senja.


"Kapan aku bisa pulang, Ra? Aku tidak bisa meninggalkan anakku sendirian dirumah." tanya Senja


"Tenang sayang, Clara yang menjaga anak-anak. Kamu tidak perlu khawatir." Ucap Langit.

__ADS_1


"Justru karena dia yang menjaga anak-anak membuat ku khawatir." Teriak Senja


"Nja! Tolong tenanglah, kamu harus memikirkan kandunganmu juga." Aira menenangkan Senja.


Senja memejamkan mata, Ia mencoba menghilangkan pikiran negative yang ada di kepalanya.


"Ra, pinjamkan aku hape mu." pinta Senja.


Aira mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Senja.


"Terimakasih." Senja mengambil ponsel itu dan menekan Beberap nomor di layar ponsel hingga berbunyi nada sambung.


"Zi, ini Senja." Ucapnya ketika telpon sudah tersambung, "Aku minta tolong pergilah kerumah dan jaga anak-anak. Aku hanya bisa mempercayakan mereka padamu."


"Baik, Mbak. Aku akan kesana sekarang."


"Makasih ya, Zi. Makasih banyak." Ucap Senja, lalu memutuskan sambungan telponnya dan mengembalikan ponsel Aira.


"Makasih ya, Ra." Ucap Senja.


"Sebaiknya kamu fokus dengan keadaanmu dulu. Jika semuanya membaik, besok siang aku akan mengijinkanmu pulang."


Senja mengangguk.


"Kami pergi dulu ya. Kalau ada apa-apa jangan lupa tekan tombol alarmnya."


"Terimakasih ya, Ra." Ucap Langit menatap kepergian Aira dan asistennya.


"Apa yang membuatmu tidak mempercayai Clara menjaga anak-anak, sayang? Apa kamu mencurigainya" tanya Langit


Senja diam, ia memalingkan wajahnya tak ingin bicara dengan Langit. Melihat hal itu Langit hanya bisa pasrah tak mau berdebat, Ia memilih untuk duduk saja menemani Senja.


**********


Pagi ini Langit pulang ke rumah untuk melihat kondisi anak-anaknya. Enna sudah di Rumah Sakit menemani Senja.


"Apa sudah ada hasil dari penyelidikan, Ky?" Tanya Langit ketika menemui Hengky di rumahnya.


"Polisi sudah mengambil sampel air dirumah ini, termasuk air minum yang ada diatas meja yang diminum Nona Senja sebelum ia pingsan, tapi tidak ada yang aneh disana. Polisi ingin meminta pecahan gelas Nona, tapi mbak-mbak yang bersihkan sudah memasukkan pecahannya di pembakaran sampah."


"Apa ada yang Lo curigai saat menyelidiki mereka?" Tanya Langit.


Langit memicingkan matanya, "Apa Lo nuduh Clara yang ngelakuin?"


Hengky diam.


"Jika benar begitu, lupakan. Lo tahu sendiri dia Pergi dengan kita sejak sore."


Langit meninggalkan Hengky dan pergi mencari anak-anaknya yang akan berangkat sekolah.


"Selamat pagi, anak-anak papa." Sapa Langit ketika melihat Sky dan Sora sedang sarapan ditemani Zia, Kartika dan Amel.


"Papa!!" Sky dan Sora turun dari kursi dan memeluk Langit.


"Gimana keadaan Mama, Pa?"


"Apa Mama baik-baik saja?"


Langit mengangguk, "Mama dan adek kalian baik-baik saja, sayang. Doakan mama lekas sehat dan bisa pulang, ya."


Sky dan Sora mengangguk


"Ayo lanjutin sarapannya, nanti telat lho ke sekolahnya."


Sky dan Sora kembali duduk dan melanjutkan sarapan mereka.


"Zi, Makasih ya sudah mau bantu jaga anak-anak." kata Langit. "Maaf harus merepotkanmu malam-malam."


"Saya senang bisa menjaga mereka, Pak." Jawab Zia.


"Kamu bisa kembali setelah ini, biar Kartika dan Amel saja yang menjaga mereka."


"Baik, Pak."


Langit menghampiri Kartika dan Amel. "Aku minta kalian tidak lengah mengawasi Sky dan Sora." pinta Langit.


"Baik, Pak." Jawab Kartika dan Amel.

__ADS_1


Langit kembali menghampiri Sky dan Sora, "Papa mandi dan ganti baju dulu ya sayang. Kalau papa belum selesai, kalian langsung berangkat saja ya. Jangan nunggu papa."


"Baik, Pa."


Langit mencium kening anaknya bergantian, lalu meninggalkan ruang makan menuju kamarnya dan segera membersihkan diri.


Usai ganti baju dan sudah rapi, Langit pergi ke kamar Clara untuk melihat keadaan adiknya. Ia melihat adiknya sedang meringkuk diatas tempat tidur.


"Lo gak tidur semalam, Ra?" Tanya Langit


Tak ada jawaban dari Clara.


"Ra, Lo harus tahu dong kalau kakak ipar lo lagi sakit. Mana mungkin gue tinggalin dia." Langit duduk di samping Clara.


Clara duduk dan menatap Langit. "Lo udah gak sayang lagi sama gue, kak. Sekarang perhatian lo lebih banyak buat Kak Senja dan anak-anak lo. Gue udah jadi yang kesekian buat lo."


"Hei hei, kok jadi gitu ya. Kakak sudah bersikap adil ke semua, termasuk ke Lo."


Clara masih terlihat marah.


"Udah, kita bicara lagi nanti. Kakak ada rapat penting pagi ini." Langit beranjak meninggalkan Clara yang masih kesal.


*************


Siang ini Senja senang sekali melihat Sky dan Sora menjenguknya.


"Mamaaaaa!!" Sky dan Sora menghampiri Senja.


"Mama senang lihat kalian disini? Kalian tidak apa-apa kan?" Tanya Senja


"Kami baik-baik saja, Ma." Jawab Sky.


"Mama kenapa bisa seperti ini? Apa karena Sora sudah menabrak mama?" tanya Sora.


Senja menggeleng, "Enggak dong sayang. Mama seperti ini karena mama minum sesuatu yang gak seharusnya mama minum."


"Hah!" Sora terkejut. "Apa karena mama minum air kemarin?" tanya Sora.


Senja heran mendengar pertanyaan Sora.


"Kemarin sore, Sora melihat tante Clara masukin sesuatu di dalam air itu."


Hal itu membuat terkejut Senja dan Enna yang ada di dalam ruangan.


"Apa tante Clara tahu Sora lihat dia?" tanya Senja khawatir.


Sora menggeleng, "Sora lagi sembunyi, kalau Sora keluar nanti Sky bisa nemuin Sora ma."


Senja menatap Enna khawatir. Ia takut Clara akan menyakiti anak-anaknya.


"Sky, Sora. Jangan beri tahu siapa-siapa tentang hal ini, ya?" pinta Senja


"Iya, Ma."


"Kalian harus selalu bersama tante Kartika dan tante Amel, ya."


Sky dan Sora mengangguk.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2