
Seminggu sudah Anton di rumah. Hari ini adalah hari terakhirnya di rumah sebelum dia kembali merantau untuk bekerja. "Mas Anton besok beneran mau berangkat ya?" tanya Senja yang tiba-tiba masuk ke kamar Kakaknya begitu saja.
Anton menghentikan aktivitas beres-beres nya. Dia menepuk tempat disampingnya agar Senja duduk di sana. "Iya, besok pagi Mas berangkat," ucap Anton sambil memandang lekat adik kesayangannya.
Senja menghambur ke pelukan kakaknya dan menangis di sana.
"Udah, adiknya Mas Anton kok cengeng sih," kata Anton sambil mengusap lembut kepala adiknya.
"Bi.bi.biarin!" ucap Senja sambil terisak.
Anton tak lagi menjawab. Dia hanya memeluk erat adik kecilnya sambil sesekali mengusap lembut kepalanya.
"Anton," panggil Ayah dari ambang pintu.
Mendengar namanya dipanggil, Anton pun mendongakkan kepalanya. "Iya Yah."
"Sudah selesai siap-siapnya?" tanya Ayah.
"Kurang dikit Yah," ucap Anton sambil menunjukkan Senja yang kini memeluknya erat.
"Aya, Masnya beres-beres bukannya dibantu kok malah digangguin," tutur Ayah lembut.
"Bi...biarin, biar eng...eng... enggak kelar terus,terus eng...eng...eng, enggak jadi berangkat be...be...besok," ucap Senja susah payah di sela tangisnya.
Ayah menepuk bahu Anton sebelum pergi keluar kamar.
Malam ini, Senja benar-benar tak mau jauh dari Anton. Bahkan ia pun tidur di kamar kakaknya itu.
...***...
Malam pun pergi dan kini pagi telah datang. sarapan dengan formasi lengkap, inilah kondisi di kediaman keluarga Sam saat ini ini.
"Aya, makanya yang bener dong," kata Anton.
Senja mendongak sebentar untuk memandang kakaknya sebelum akhirnya kembali fokus mengaduk-aduk makanan di piringnya.
"Nambah lagi Nak," kata Ibu pada Anton.
"Sudah Bu, sudah kenyang," kata Anton sebelum akhirnya beranjak untuk menghampiri adik bungsunya. Anton menarik sebuah kursi dan duduk di samping Senja.
"Aaa...," kata Anton sambil menyodorkan sesuap nasi kepada Senja.
Senja pun membuka mulutnya. Perlahan dia mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Cukup lama, namun makanan itu belum juga ditelannya.
"Ngunyahnya lama bener sih," kata Anton lembut.
Senja nampak susah payah menelan makanannya. "Mas anterin Aya ya?"
Anton tak menjawab. Dia kembali menyuapkan sesendok nasi kepada Senja.
__ADS_1
"Mas," panggil Senja dengan mulut penuh.
"Bareng Mas aja ya," kata Atma.
"Maunya Mas Anton," lirih Senja.
Anton kembali menyuapkan sesendok nasi kepada Senja. "Mas bentar lagi juga mau berangkat Ay," kata Anton.
"Kan nggak jauh Mas, palingan nggak sampai setengah jam, Mas udah sampai di rumah lagi. Abis itu Mas kalau mau pergi ya pergi aja."
"Aya...!"
Senja ciut mendengar bentakan dari kakaknya. Bukan Anton kali ini yang bersuara, melainkan Atma. Saat Atma hendak kembali bersuara, gerakan tangan Ayah berhasil menginterupsinya untuk berhenti berbicara.
"Mas Anton mau berangkat Nak. Dia perlu mengecek beberapa bawaan biar nggak ada yang ketinggalan," kata Ayah Sam.
"Tapi kan..." ucapan Senja menggantung. Saat itu juga, luruh lah air mata yang sedari tadi dia tahan.
Tangan Anton terulur untuk mengelus puncak kepala sang adik. "Mas Anton janji, kali ini nggak akan lama. Kalau Aya kangen, kita bisa telepon atau video call," kata Anton lembut. "Aya ngertiin ya", lanjut Anton kemudian.
Senja hanya mengangguk, kemudian dia meraih piring yang dibawa Anton, dan berusaha menghabiskan makanannya dengan segera.
Kini tiba waktunya bagi Senja untuk berangkat sekolah. Dia berpamitan dengan orang tua dan kakak-kakaknya. "Mas Anton beneran mau berangkat ini?" tanya Senja.
Anton mengangguk dan memeluk adiknya. "Kamu baik-baik ya di rumah, nurut sama Ayah Ibu."
Senja mengangguk sebagai jawabannya.
Senja tak berusaha melepaskan diri. Dia hanya diam.
"Udah, berangkat gih, nanti ketinggalan angkot," kata Ibu.
"Ya udah, Aya berangkat. Assalamualaikum." Setelah itu dia berjalan menuju tempat dimana dia biasa menunggu angkot yang akan membawanya menuju sekolah.
Tak berselang lama angkot pun datang. Senja sudah tidak drama lagi saat mau naik angkot. Dia sudah mulai terbiasa dengan aktivitas ini. Di dalam angkot, dia duduk di samping jendela. Di sepanjang jalan, dia selalu menghadap ke luar jendela. Mas Anton sekarang pasti juga udah berangkat. Apa dia bakal ngilang kayak dulu lagi? Batin Senja.
Hingga tiba di sekolah pun dia tak banyak berbicara. Hal ini membuat ketiga sahabatnya heran.
"Sst, sst..."
Ucik dan Ayu memandang Senja kala Ifa menginterupsi mereka untuk melihat ke arah teman sebangkunya.
"Kenapa?" tanya Ayu pada Ifa dan Ucik tanpa suara.
Yang ditanya pun hanya mengedikkan bahunya sebagai tanda ketidaktahuan mereka.
"Senja?" panggil Ifa sembari menepuk bahu Senja.
"Hmm," Senja hanya berdehem sebagai jawabannya.
__ADS_1
"Kamu sakit?" tanya Ifa lagi.
Senja hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Bentar lagi bel masuk, kalau kamu nggak enak badan, aku antar ke UKS dulu deh," tawar Ifa lagi.
"Enggak kok. Aku nggak apa-apa," tolak Senja.
"Oke deh. Kalau ada apa-apa bilang sama kita," kata Ifa.
"Iya jangan lupa kalau kamu juga punya temen," timpal Ayu tiba-tiba.
"Makasih ya kalian," kata Senja sambil memutar badannya sedikit menghadap Ifa disampingnya serta Ucik dan Ayu dibelakangnya.bMereka pun akhirnya tersenyum dan tos bersama-sama.
"Eh, eh.., sst." Ayu menginterupsi ketiga temannya untuk melihat ke arah jendela.
Sontak ketiganya pun melakukannya. Ternyata ada Arga yang lewat di depan kelas VII f bersama beberapa kawannya. Namun bukan itu saja yang menarik perhatian ketiganya, melainkan pandangan Arga yang tertuju pada Senja.
"Ya ampun salting lagi itu Kakak!" pekik Ayu dengan suara tertahan.
"Tuh Kakak kayaknya sengaja deh lewat depan kelas kita cuma buat lihat kamu," kata Ifa sambil menaik turunkan alisnya saat berbicara pada Senja.
Senja hanya merengut dan memanyunkan bibirnya. Sedangkan Ucik dan Ayu terkikik mendengarnya. Mereka menggoda Senja bukan tanpa alasan, pasalnya Ifa menangkap basah bagaimana Arga menatap Senja, dan dia juga melihat bagaimana Arga segera membuang muka ketika Senja menoleh ke arah jendela.
Ketika mereka tengah asyik menggoda Senja, bel masuk pun nyaring berbunyi.
Hilang sudah tawa di wajah Senja.
"Senja, are you okay?" tanya Ayu saat tiba-tiba melihat perubahan wajah Senja.
Senja hanya tersenyum dan mengangguk.
"Tenang, Bapak Umar bukan monster kok," seloroh Ifa.
Mereka berempat pun tertawa dibuatnya.
"Assalamualaikum, selamat pagi anak-anak," sapa Pak Umar pada kelas VII f.
"Pagi Paaaakkkk," serempak kelas VII f.
"Ketua kelas tolong dipimpin berdoa," kata Pak Umar. Semoga hari ini baik-baik saja ya Allah. Jangan sampai aku kena apes lagi di jam matematika amin. Batin Senja.
Dan pelajaran pun berlanjut dengan normal.
TBC
Alhamdulillah, done juga part ini dear.
Yang udah mampir jangan lupa tinggalkan jejak ya.
__ADS_1
Kritik dan saran sangat diharapkan.
Terimakasih.